Meski Utari tidak lagi memiliki badan yang gemuk seperti saat baru lulus kuliah dahulu Utari tetap merutinkan olahraga pagi. Terlebih pola hidup sehat yang di terapkan oleh kedua Ibu dan Bapak Dosen di rumah yang kini di tinggalinya membuat Utari semakin mudah menjaga berat badannya.
Pagi ini Utari sedang melakukan lari pagi sebelum dia beraktifitas, 7 minggu berada di Korea Selatan membuat Utari melakukan list untuk setiap hari yang dia lakukan.
Seperti yang saat ini Utari lakukan, setelah melakukan lari pagi Utari akan pergi ke perpustakaan. Nanti setelah belajar Utari akan pergi mengajar di beberapa rumah tempat dia mengajar dan setelahnya barulah Utari mengajar di tempat les dan Utari pulang sebelum matahari terbenam.
Waktu cepat berlalu, hari ini Utari sudah tiba di rumah. Hari masih sore, Utari memasak makanan untuk makan malam karena sebentar lagi Hana dan Suaminya akan pulang.
"Tante, masak apa? Apa ada kue?" tanya si kecil Hyejin pada Utari.
"Ada sayang, Tante tadi memasak brownies cokelat. Sebentar Tante ambil dari lemari pendingin dahulu," kata Utari sgera mengambil kue yang masih utuh belum di potong sama sekali.
"Tante, kata Ibu kami akan pindah ke Singapura bulan depan? Berarti aku tidak bisa lagi makan masakan Tante yang enak-enak begini?" tanya Hyejin dengan raut sedih.
"Sayang, ketika liburan tibakan Tante akan mengunjungi Hyejin atau bisa sebaliknya. Eomma dan Appa Hyejin pasti akan pulang ke Korea begitu liburan tiba, jadi tidak masalah kita pasti akan berjumpa lagi," kata Utari seraya mengusap kepala Hyejin.
"Iya tapi lama Ajummha, sedangkan di sana pasti Eomma akan lebih sibuk bekerja dan aku akan sering di tinggalkan di tempat penitipan anak atau tidak di tempat les seperti sebelum Ajummha ada di sini," kata Hyejin dengan raut wajah sedih.
"Honey, listen to me! Ayah dan Ibu kamu kerja buat kamu jugakan? Jadi Hyejin ngak boleh sedih, karena Ibu dan Ayah Hyejin bekerja keras agar Hyejin bahagia. Sekarang mungkin Hyejin belum mengerti tapi ketika nanti Hyejin sudah dewasa Hyejin akan mengerti kenapa Ibu dan Ayah Hyejin sibuk bekerja," kata Utari yang sedikit kebingungan bagaimana menjelaskannya.
Hyejin hanya menganggukkan kepalanya seraya brownies buatan Utari.
Saat Utari sedang duduk berdua dengan Hyejin di depan ruangan televisi ada pesan masuk dari Kim Hana.
Hana
Utari, aku dan suamiku sepertinya tidak akan pulang malam ini. Kami sepulang bekerja pergi ke kampung halaman ku untuk menemui Ibu dan Ayahku juga kedua mertuaku. Kami akan pulang besok sore, aku titip Hyejin bersamamu ya.
Pesan dari Kim Hana langsung mendapat senyuman sumringah dari Utari.
Utari
Jangan cemaskan Hyejin Kak, dia aman bersamaku. Nikmati waktu Kakak dan suami bersama kedua orang tua Kakak dan mertua Kakak.
Setelah mengatakan itu Utari menghangatkan masakan yang telah di masaknya tadi sore.
"Hyejin ah, ayo kita makan malam. Ibu dan Ayahmu akan bermalam di tempat Kakek dan Nenek, mungkin besok baru pulang," kata Utari.
"Baiklah Tante," kata Hyejin yang langsung menghampiri Utari yang ada di meja makan dengan keaadaan semua masakan sudah di hangatkan dan bisa langsung di makan.
Hyejin makan dengan lahap masakan yang di masak oleh Utari. Setelah makan malam, Hyejin mengerjakan tugas sekolah dengan bantuan Utari. Hingga pukul 10 malam, barulah Hyejin tertidur. Utari menghela nafas dan tersenyum, menyelimuti Hyejin dan meletakkan buku dongeng milik Hyejin di rak buku.
Utari kembali ke kamarnya, setiba di kamar Utari duduk di ranjangnya dan membuka galeri foto di mana ada foto sang Ibu yang sedang tersenyum duduk di ayunan.
"Bu, Utari kangen. Do'akan Utari agar segera bisa di terima bekerja dan segera lanjut S2 di sini, agar Utari bisa jemput Ibu dari sana untuk tinggal bersama dengan Utari.
2 bulan kemudian
Butuh waktu dan proses yang lumayan panjang yang di lalui Utari. Hingga hari ini adalah hari ke 15 dia mengajar di Universitas X. Bukan hanya mengajar Utari juga seorang Mahasiswi S2 di kampus yang berbeda.
Ya semuanya tidak semulus yang di duga, Utari lulus sebagai Dosen di sana namun di terima di Universitas XY sebagai Mahasiswi. Ya atas saran Kim Hana, Utari mengikuti 3 test beasiswa dari Universitas yang berbeda. Sibuk sudah pasti, tapi Utari tidak ingin berkecil hati dan terlalu banyak mengeluh. Utari ingin menjalaninya dengan tenang.
Sudah seminggu Utari tidak menelpon sang Ibu. Entah bagaimana kabar Ibunya di sana, biasanya Utari yang menelpon lebih awal hanya saja seminggu belakangan Utari cukup koalahan dalam mengemban pekerjaan dan juga perkuliahan. Terlebih Utari di sana menggantikan posisi Hana sebagai Dosen tetap dan memiliki banyak kelas yang di emban sekali gus.
To Ibu
Assalamu'alaikum. Ibu apa kabar?
Telepon masuk dari nomer sang Ibu, kebetulan Utari tengah duduk di meja belajarnya dengan laptop terbuka lengkap dengan segelas teh hangat. Utari langsung menjawab panggilan video yang di lakukan sang Ibu.
"Assalamu'alaikum Utari!" kata Ibu di seberang sana.
"Walaikumussalam Ibu, apa kabar?" tanya Utari pada sang Ibu.
"Alhamdulillah, Nak. Ibu dalam keadaan baik dan sehat. Bagaimana kerjaan lancar?" tanya Ibu kembali.
"Alhamdulillah lancar Ibu, Ibu ngak jualan lagi kan?" tanya Utari.
"Ibu masih jualan Nak, badan Ibu pegel-pegel kalau ngak ada aktifitas! Apalagi kalau di rumah aja berat badan Ibu bisa makin naik, nanti Ibu susah berjalan," kata Ibu pada Utari.
Utari hanya tersenyum mendengar perkataan sang Ibu.
"Sekarang Ibu lagi apa?" tanya Utari pada sang Ibu.
"Ini Ibu baru pulang dari sholat isya, sekarangkan baru jam 8 malam Nak," kata Ibu pada Utari.
"Oh iya waktunya hanya berbeda hanya 2 jam saja. Oh iya Bu, Utari mau menagih janji sama Ibu," kata Utari menatap serius pada sang Bunda.
"Janji apa Sayangnya Ibu?" tanya Ibu pada Utari.
"Utarikan sudah bekerja di sini selama 2 minggu sebagai Dosen. Utari juga sekarang sedang melanjuykan S2 di sini, sesuai dengan janji Utari ingin mengajak Ibu tinggal bersama Utari di sini. Mengenai surat dan paspor segala yang berurusan dengan surat menyurat sebenarnya sudah Utari selesaikan sebelum Utari ke sini. Jadi Ibu tinggal berangkat aja lagi," kata Utari seraya tersenyum.
"Tapi Nak, bukannya Ibu tidak mau. Tapi kamu juga baru bekerja dan tinggal di rumah Kim Hana, Ibu takutnya nanti kamu malah harus berhutang sana-sini hanya utuk membawa Ibu ke sana?" kata Ibu dengan suara lirih.
"Ibu, mengenai rumah yang akan kita tinggali. Utari sudah membeli rumah temannya Kak Hana di karenakan orangnya butuh uang cepat, jadi Utari menggunakan uang pinjaman sebagai pekerja di sini dan itu rumah kita pribadi. Memang tidak besar hanya punya 3 kamar saja, jadi lumayan bisa untuk kita berteduh. Mengenai ongkos Ibu jangan khawatir, Utari mendapat biaya pulang pergi Indonesia-Korea dari kampus untuk pengurusan berkas sebagai Mahasiswi pasca sarjana yang baru masuk," kata Utari.
"Ibu senang mendengarnya Nak, baiklah Ibu akan bicarakan pada Maknin. Mengenai barang-barang kita di kota X ini, kapan Ibu akan berangkat Nak?" tanya Ibu pada Utari.
"Dua minggu lagi bagaimana?" tanya Utari pada Ibunya.
"Baiklah 2 minggu lagi, setidaknya Ibu bisa bernafas dulu untuk mengirimkan barang-barang kita ke kampung halaman," kata Ibu pada Utari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments