"Ya Allah, itu beneran Nak?" tanya Ibu pada Utari.
"Alhamdulillah iya Bu, seperti yang selama ini Ibu bilang jangan pernah putus asa. Karena rezeki Allah maha luas. Utqri juga ngak nyangka penjualan selama 4 bulan terakhir bisa tembus angka 24 juta dan itu keutungan bersih di luar modal," kata Utari.
Mendengar kata sang Anak, Ibu melakukan sujud syukur. Sungguh dia tidak menyangka jika Utari punya penghasilan lebih dari ponselnya. Air mata Ibu tidak mampu di tahan lagi olehnya.
"Ini juga berkat do'a Ibu juga, terima kasih selama ini telah sabar menghadapi Tari. Tari yang lambat mendapat pekerjaan, Ibu juga harus menanggung malu karena setelah Utari mendapat gelar S.pd Utari masih berdagang. Maafin Utari yang belum bisa kasih yang terbaik untuk Ibu," kata Utari dengan wajah menahan tangis.
"Eh jangan menangis Sayang, kamu sudah melakukan yang terbaik yang kamu bisa. Ibu bangga sama kamu," kata Ibu pada Utari.
Setelah itu keduanya tergugu dalam tangisan karena akhirnya lepas dari jeratan hutang saat Utari kuliah dulu. Sebenarnya bukan karena biaya kuliah yang besar tapi karena biaya hidup yang tinggi dan pemasukan yang timpang karena itu Ibu dan Utari terlilit hutang yang begitu besarnya.
"Ibu, Utari tidur lebih awal ya. Utari takut nanti tidak terbangun di sepertiga malam," kata Utari saat menyadari jika hari sudah menunjukkan pukul 10.30 malam.
"Yaudah tidur aja, Ibu mau bikin lontong buat dagangan besok. Mengenai hutang dengan Pak Solamet besok kita akan membayarnya bersama sekaligus meminta tanda tangan di surat pernyataan yang telah kita sediakan," kata Ibu pada Utari.
Ya Pak Solamet meminta Utari membuat surat hitam di atas putih setiap akan membayarkan hutang padanya. Agar jelas berapa yang tersisa dan tidak ada kesalah pahaman di antara mereka.
5 Bulan telah berlalu
Kabar buruk yang harus Utari terima adalah dia tidak di terima bekerja di perusahaan asing di Korea sana. Utari juga tidak mau mengajar sebagai tenaga honorer, karena mendengar dari kabar burung gajinya sangat kecil tapi kerjanya setengah mati. Jadinya Utari memilih mengajar less di lembaga dan juga membuka less sendiri. Tidak sampai di sana, Utari mengikuti seleksi untuk mengajar di beberapa sekolah swasta ternama.
Nasib baiknya Utari di terima mengajar di sekolah SMA swasta favorit. Utari mengajar kelas 10 dan kelas 12. Utari mengajar di 6 kelas, karena Utari harus mengajar les di lembaga tempatnya bekerja dan juga harus mengerjakan part timenya.
Lelah, sudah pasti. Tapi tekat Utari untuk menjadi kaya dan bisa membahagiakan Ibundanya tidak pernah pudar.
"Guys, malam ini main yuk!" kata Fika melalui vn di grup wa di mana yang berada di falamnya adalah Utari dan Sintia.
"Aduh aku ngak bisa, sekarangkan lagi hamil muda jadi Mas Dion protektif banget. Bahkan kemana-mana harus sama dia," kata Sintia.
"Yaudah bawa laki lu aja kali Sin, biar kita rame! Aku rencananya juga mau kenalin seseorang sama kalian," kata Rafika melalu vn kembali.
"Utari!"
"Utari!"
"Utari, ngambeknya jangan lama-lama. Kita kangen nih, mau main bareng," kata Sintia.
"Iya Utari kamu harusnya jadiin perkataan aku itu cambukan bukan malah menghindar habis-habisan dari kita berdua," kata Rafika dalam vn.
Utari yang menonaktifkan centang biru tentu saja dia sudah mendengar apa yang di kirimkan oleh teman-temannya. Tapi demi Allah, Utari ngak kuat main. Hari-harinya makin keras karena program yang di buatnya sendiri.
"Utari!" sekali lagi vn dari Rafika Utari acuhkan. Bukan tanpa alasan, demi Allah Utari merasa sangat letih dan ingin segera tidur.
Pagi menyingsing, Utari yang memang morning person sudah duduk di depan laptopnya dan tidak ketinggalan teh hangat yang menemaninya.
"Mau sarapan apa Utari?" tanya Ibu menghampiri anak satu-satunya itu yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Terserah aja Ibu, asal Ibu yang masak pasti semuanya pasti enak," sahut Utari tanpa melihat ke arah sang Ibu.
"Gimana kalau kita beli gado-gado aja di warung sebelah? Tapi harganya cukup mahal, Ibu Guru ada uang ngak?" tanya Ibu.
"Insyaallah ada Ibu," Utari mengeluarkan uang selembaran berwarna merah dan bergambar Soekarno-Hatta.
"Yaudah Ibu pergi keluar dulu," kata Ibu.
Saat Ibu pergi keluar Utari mengeluarkan kado yang dia asingkan untuk sang Ibu. Kado itu terlihat lumayan besar.
Tidak butuh waktu lama Ibu sudah tiba di rumah.
"Utari, ayo ambil piring dan gelas. Kita sarapan lagi," kata Ibu pada Utari.
Utari langsung bangkit dan mengambil piring, gelas dan air untuk mereka makan bersama.
"Gado-gadonya enak,, tapi mahal! Andai suatu hari kita bisa punya warung makan seperti itu, trus di atasnya ada tempat tinggal pasti seru sekali," kata Ibu seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Berdo'a saja Ibu, semoga Utari di mudahkan dalam mencari uang dan juga bisa segera belikan Ibu rumah seperti yang tari impikan selama ini," kata Utari.
"Nak, Ibu sebenarnya ngak menuntut banyak. Yang paling penting adalah hidup kamu baik-baik saja dan kamu ngak susah kayak Ibu unyuk mencari uang. Cukup Ibu yang mencari uang dengan cara kasar, Ibu ngak mau anak Ibu juga kerja kasar untuk cari uang," kata Ibu menatap anaknya dalam saat Utari ingin menangis.
Setelah selesai makan Ibu menghidupkan televisi untuk penghilang rasa sepi dan juga perut yang dalam keadaan penuh, seenggaknya Utari dan Ibu perlu menurunkan makanan yang tadi di makan ke dalam perut supaya ngak lompat dari tempatnya.
"Ibu ini ada hadiah kecil buat, Ibu. Maaf ya Utari ngak bisa ngasih banyak, untuk saat ini itu dulu yang bisa Utari kasih," kata Utari pada Ibunya.
"Wah, boleh Ibu buka Nak?" tanya Ibu pada Utari.
"Ya boleh Bu, ayo di buka. Lihat isinya ada apa, jangan-jangan isinya Lee Minho," kata Utari dan setelahnya keduanya tertawa.
Saat Ibu membuka kadonya, yang di temukan Ibu adalah banyak sekali daster-daster rumahan dan itu sekitar 7 helai, lalu ada gamis buat jalan 4 helai dan ada sepatu serta sepatu hak tinggi untuk pergi ke pesta. Satu hal yang paling membuat Ibu kaget adalah amplop yang ternyata berisi uang tunai sebanyak 5 juta rupiah.
"Uang sebanyak ini buat apa sama Ibu Nak?" tanya Ibu pada Utari.
"Buat Ibu belanja, beli baju atau buat Ibu beli gamis lagi. Terserah itu semua buat Ibu, selamat ulang tahun Ibuku tersayang," kata Utari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments