Undangan Pernikahan

Pagi ini Utari kembali melakukan aktifitas seperti biasa, apalagi kalau bukan mengajar di Universitas X. Utari berjalan cepat ke arah kelas tempat dia mengajar dan ada beberapa mahasiswi dan mahasiswa yang berlari cepat takut terlambat masuk ke dalam kelasnya. Ya peraturan kelas Utari adalah, jangan ada yang masuk melalui belakangnya. Bisa di artikan Utari tidak menerima keterlambatan sama sekali.

Utari menampilkan powerpoint yang telah di siapkannya, setelah menjelaskan sekilas materi yang di sampaikannya. Utari memilih duduk di kursinya lalu menyuruh para mahasiswanya untuk melakukan presentasi.

"Baik! Kelompok penyaji silahkan tampilkan hasil dari kelompoknya!" kata Utari yang sudah siap dengan buku catatannya dan juga buku nilai yang di bawanya.

"Baiklah, saya rasa hari ini cukup sampai di sini! Pastikan kelompok selanjutnya menampilkan presentasi lebih siap lagi. Jangan mau kalah dengan kelkmpok sekarang!" kata Utari lalu setelah menutup kelasnya Utari meninggalkan kelasnya.

Pada saat di ruangannya Utari di hampiri oleh rekan satu pekerjaannya Gong Taekwang.

"Utari, kau tahu bagaimana mengerjakan ini?" tanya Taekwang bertanya perkara grammar.

"Tolong bantu aku ya? Aku sudah lihat youtube dan cari teori beserta contohnya tapi masih bingung," kata Taekwang dengan wajah memelas.

Utari mengambil pensilnya dan menjelaskan pada Taewkang dengan cara singkat dan mudah di pahami.

"Coba kau kerjakan soal berikutnya, polanya masih sama hanya tinggal di cocokkan saja," kata Utari pada Taekwang.

Taekwang mengaanggukkan kepalanya dan meulai mengerjakan soalnya dengan cara yang di tunjukkan oleh Utari.

"Thank you Tari-ah, saranghae!" kata Taekwang memberikan finger lovenya yang langsung di tangkap Utari dan di buangnya ke depan lalu Taekwang memasang wajah tersakiti dan berakhir mereka tertawa bersama.

Lalu tiba-tiba, Lee Ahreum datang menghampiri Utari.

"Tari-ah, bagaimana nanti setelah pulang dari pekerjaan kita ke mall bersama?" tanya Ahreum.

"Kau tidak ada kelas setelah jam mengejar bukan?" tanya Ahreum lagi.

"Tidak aku kosing setelah jam mengajar dan juga tidak ada mata kuliah hari ini," kata Utari saat melihat jadwal mengejar dan jadwal kuliahnya.

"Baiklah ayo kita pergi bersama hari ini," kata Utari kembali dan di iyakan dengan dua jempol lemes oleh Ahreum.

"Kau kenapa? Bukannya dirimu yang mengajak keluar kenapa malah lemas sendiri.

"Aku mengantuk dan bosan Tari-ah. You know? I need healing today!" kata Ahreum dengan wajah seolah ingin menangis.

"Apa aku boleh ikut bersamamu?" tanya Taekwang yang tiba-tiba sudah di belakang mereka berdua.

"Tentu saja boleh, kita akan habiskan waktu berakhir pekan ini dengan senang-senang!" kata Ahreum dan di sambut sorak gembira Taekwang sedangkan Utari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setelahnya mereka kembali ke bangku masing-masing.

Lalu Utari mendapat pesan dari kakak seniornya di tempat mengajar dulu. Ya Rezalah, orangnya.

Foto yang di kirimkan adalah foto undangan pernikahan.

Utari yang semangat langsung mengirim vn pada Reza.

"Ya Allah, akhirnya ya Bang! Selamat akan menempuh hidup baru bersama dengan Olivia! Tapi aku ngak bisa datang Bang, aku kan baru saja bekerja! Lagi pula ongkos pulang pergi mehong Bang, aku ngak sesultan itu." kata Utari dengan suara sedihnya.

Reza

Hei cinguya! Aku tidak menyuruhmu datang tapi pastikan kadonya datang! Aku menunggu kadumu untukku dan Olivia wkwkwk

Begitulah pesan yang di kirim oleh salah seorang yang berperan penting bagi kehidupannya. Karena Allah menjawab do'anya ingin melanjutkan S2 melalui informasi dari Reza dan Hana.

Me

Pasti atuh Bang, tenang aja aku ngak akan lupa. Sampaikan salam rinduku pada Olivia dan bilang pada Olivia jangan banyak pikiran sebelum hari H.

Setelah mengatakan itu Utari memilih menyandarkan tubuhnya di kursinya.

"Ya Allah aku tidak iri pada mereka yang punya pasangan dan punya keturunan, karena perkara dua hal ini sepenuhnya aku berpasrah padamu Ya Allah. Tapi aku masih ingin membahagiakan Ibuku, aku ingin bisa segera pergi umroh bersama dengan Ibu," kata Utari tanpa terasa air mata Utari berjatuhan, dia rindu pada sang Ibunda tercinta.

Utari menengadahkan kepalanta agar ridak ada air mata yang keluar.

Siang sudah lelah bertugas sekarang di gantikan dengan gelapnya malam. Dengan gamis sederhananya di lengkapi hijab lebar berwarna abu-abu Utari duduk di bangku taman dekat sungai Han.

Utari memandangi gelapnya malam di kota Seoul yang di lengkapi kemerlap lampu-lampu kota yang terlihat kecil. Sesekali Utari menyesap teh hangatnya, tanpa terasa Utari membayang jauh ke depan. Meski kini impian yang selama ini dia bayangkan telah di dalam genggaman tapi Utari masih tetap takut.

"Ya Allah, aku berlindung padamu untuk semua rasa takutku," kata Utari seraya menatap gelapnya malam.

Air mata Utari jatuh tanpa bisa dia kendalikan, bertenang di kesunyian membuat pikiran Utari kemana-mana.

Utari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Utari langsung mengambil taksi untuk pulang ke kediamannya.

Di taksi Utari hanya memandangi jalanan yang dulu indahnya selalu dia bayangkan. Tapi sekarang bisa langsung dia rasakan, lagi-lagi Utari menangis. Entah mengapa suasana hatinya mendadak melow hari ini, keinginannya terlalu banyak sedangkan sujudnya terburu-buru dan beribadah hanya semaunya tapi Utari meminta semuanya. Utari merasa kurang ajara, tapi Utari juga merindukan bisa bercurahkan isi hati di atas sejadah.

Setelah Utari sampai di rumah Utari melaksanakan sholat witir sebelum tidur dan menangis di dalam do'anya mencurahkan semua kegundahannya hingga berakhir Utari tertidur dengan mukenah yang di kenakannya.

Seolah pagi tidak sabar ingin bertugas dan tidak pernah lelah apalagi meminta libur begitu juga hari ini. Pagi dengan cuaca yang sedikit kurang baik, yaitu hujan lebat melingkupi kota.

Utari sudah rapi dengan setelan kerjanya hingga ponsel wanita muda itu berdering.

"Tari-ah! Aku sudah di bawah! Sekarang hari hujan lebat jadi aku menjemputmu! Ingat aku tidak menerima penolakan" kata Choi Byuhyun selaku teman sekantornya yang sering minta bantuan padanya.

"Ah jadi merepotkan, tapi tidak akan menolak kali ini Tuan! Karena aku juga harus segera sampai di kampus! Baiklah tunggu aku, aku berjalan ke bawah!" kata Utari begitu dia selesai memastikan rumah sudah aman dan menutup pintu dengan baik.

Utari berjalan cepat menuju lift untuk bisa sampai segera ke bawah. Hari ini adalah hari yang padat, Utari ada kelas dari jam 10 hingga jam 8 malam. Ya Utari mengambil 2 kelas malam saat mengajar.

Jangan tanyakan apakah capek jawabnya tentu saja capek. Jangankan bekerja, nafas aja capekkan? Udah deh, dunia emang tempatnya capek! Padahal sudah pasti akan di tinggalkan, heran tapi ya begitulah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!