"Woi lu kebangetan banget! Betah banget di negri orang ampe lupa negri sendiri!" omel seseorang dari seberang sana.
"Anak gua udah mau tiga dan parahnya lo masih menggunakan slogan, I'm sorry i'm anti romantic. Sayang kalau kamu gitu terus kapan aku bisa bantu kamu lahiran?" teriak orang do seberang sana.
"Slow Baby! Santai Fika, baru nelpon udah marah-marah aja. Hati-hati lagi hamil tua loh, gua ngak mau di salahin sama Bang Khairil gara-gara anaknya lahir prematur karna lo marah ama gua," kata Utari di sela tawanya.
"Ketawa lo Setan!" teriak Fika kembali.
"Alhamdulillah i'm steel human, for today and tomorrow until i dead," kata Utari pada sang sahabat.
"Aaaaaaa! Gua kangen ama lu ***! Kapan pulang ke Indo?" tanya Fika pada sahabatnya itu.
"Do'ain aja ya, semoga tahun ini gua bisa pulang ke tanah air. Ibu juga udah kepengen pulang, sekalian aku mau lihat anak-anak kamu dan Sintia. Denger-dengar kamu dan Sintia sekarang sama-sama hamil tua ya?" tanya Utari pada Rafika.
"Iya, Sintia hamil anak ke 4 kalau aku anak ke 3. Kami lomba, siapa yang paling banyak anak. Makanya kamu cepetan nikah biar bisa nyusul, punya suami dan Baby itu menyenangkan lih Utari. Apalagi di perhatikan oleh suami penuh kasih sayang, uohhhh. Serunya itu loh," kata Rafika pada Utari.
"Do'ain aja, gua juga pengen secepatnya. Ini aku lagi nunggu kapan Yoongi Oppa menemui Ibuku buat ngelamar aku!" kata Utari seraya cekikkikan.
"Ya Allah, kami udah jadi Tante dari anak-anakku. Yok bangun jangan halu lagi! Jangan haluin Yoongi mulu, makanya kamu ngak kunjung nikah!" kata Rafika.
"Serius aku udah omongin ini sama Yoongi Oppa, jadi aku ngak bercanda Fika," kata Utari sambil tertawa.
"Iya deh, yang waras ngalah. Kasian nanti kalau ngak ngalah malah ikutan gila, Nak kamu jangan kayak si Onta ya! Ingat kamu harus waras ngak boleh halu kalau udah lahir nanti. Cukup Onta aja yang ngak waras, kamu jangan ikut-ikutan Onta," kata Rafika.
"Woi sejak kapan anaklu manggil gua Onta! Wah kebangetan lu! Kambing emang ini emak-emak!" kata Utari membalas perkataan Rafika.
"Embekkkkk! Ah ngak bakat gua. Emang lu yang paling pas, soalnyakan Dosen bahasa inggris. Gua ngak bisa bilang aunty berat say jadi Onta aja biar keren gitu," kata Rafika yang membuat Utari senyum-senyum sendiri.
Malam ini Utari dan Ibu pulang dari taraweh dari masjid. Utari yidak langsung mengajak Ibundanya pulang. Utari mengajak Ibunya berkeliling sebentar sekalian mencari jajanan di pinggir jalan.
"Oh iya Ibu, kita insyaallah bisa pulang lebaran ini. Tapi ngak bisa berangkat sebelum lebaran. Kira bisanya berangkat setelah 2 hari lebaran, Utari mendapat cuti 2 minggu. Jadi selama dua minggu kita bisa berkumpul di kampung halaman sekaligus silahturahmi dengan keluarga-keluarga di kampung," kata Utari pada sang Ibu.
"Jadi kita bisa berangkat saat akhir pekan jadi waktu kita berdua benar-benar bisa dua minggu di sana," kata Utari pada Ibunya.
"Alhamdulillah, Ibu bahagia akhirnya bisa pulang ke kampung halaman walau sebentar." kata Ibu dengan raut wajah bahagia.
"Maaf ya gara-gara Utari kerja di sini Ibu jadi jarang pulang kampung. Bukannya Utari ngak boleh Ibu tinggal di kampung tapi Utari ngak mau jauh-jauh dari Ibu. Cuma Ibu yang Utari punya, Ibu tahu sendiri kalau Utari ngak punya saudara kandung. Bahkan Ayahpun Utari ngak tahu bagaimana kabarnya," kata Utari dengan pandangan berkaca.
Ibu hanya bisa mengusap punggung sang anak agar tenang. Ibu tahu benar jika hari-hari yang Utari lewati bukanlah hari yang mudah. Sejak kuliah S1 hingga bisa menyelesaikan S2 dan sekarang masih mengajar dan bisa membuka bisnis sendiri seraya mengajar. Jujur saja itu bukan perjalanan yang mudah.
"Bu mau makan di sana ngak? Seafood nya enak, Utari udah pernah coba. Mau ngak?" tanya Utari tapi sudah berhenti di depan warung Seafood itu.
"Ayo," kata Ibu pada Utari.
"Utari-Utari, nanya tapi kamunya udah memutuskan. Bener-bener ngak berubah," kata Ibu dalam hati seraya tersenyum menatap Utari yang membukakan pintu untuknya.
Utari dan Ibu memasuki warung seafood yang tadi di tunjukkan oleh Utari.
Keduanya memesan makanan yang sama, sedangkan Utari memesan tambahan teh es.
"Malam-malam begini kamu malah minum es. Ngak baik Nak, besok kamukan ada jadwal ngajar," kata Ibu pada Utari ketika sang anak udah memesan minuman es.
"Lagi pengen yang seger-seger Bu. Boleh ya sekali-sekali," kata Utari memasang wajah memelas pada sang Ibu yang membuat Ibunya hanya bisa menghela nafas panjang.
"Baiklah, tapi jangan sering-sering ya," kata Ibu pada Utari.
"Iya Ibuku sayang," kata Utari pada sang Ibu.
Keduanya makan dengan hikmat, sesekali Ibu menanyakan beberapa hal pada Utari.
Hingga tiba seseorang yang mengahampiri meja Utari dan ibu.
"Selamat malam Ibu Dosen," kata Pria yang berdiri di samping kursi tempat Utari duduk.
"Ha Joon Oppa?" kata Utari menyapa ketika melihat rupa siapa yang menyapanya.
"Wah ini sudah lama sekali kita tidak berjumpa ya? Bagaimana kabarnya? Btw apa aku boleh duduk di sini?" tanya Ha Joon meminta persetujuan.
"Boleh! Boleh silahkan duduk Ha Joon Oppa. Oh iya perkenalkan ini Ibuku," kata Utari menunjuk pada Ibunya.
"Oh Tuhan, kau keterlaluan Adik! Kau bahkan tidak mengatakan jika ada calon mertuaku di sini!" kata Lee Ha Joon seraya menyalami Ibu tapi Ibu menangkupkan tangannya di dada.
"Oh sorry Mom, I'm forget!" kata Ha Joon dengan senyuman syarat rasa bersalah di wajahnya.
" Iya tidak apa, Nak. Silahkan duduk, kata Utari masakan seafood di sini sangat enak dan dia ngotot ingin makan di sini," kata Ibu dan di tanggapi dengan senyuman oleh Utari.
"Masih mengajar di Universitas X?" tanya Ha Joon setelah dia memilih makanan untuk di pesannya.
"Masih Oppa, bagaimana dengan mu Oppa?" tanya Utari.
"Ya begitulah, jadi kuli hahahah" kata Ha Joon tidak kuasa menahan tawanya.
"Bersyukur Oppa, tidak semua orang bisa merasakan bekerja di tempat yang bagus sepertimu. Walaupun sekarang masih kuli bisnis orang semoga besok punya bisnis sendiri," kata Utari.
"Aamiin, kalau punya bisnis sendiri udah di aminin nih Yang. Punya kamunya kapan?" tanya Ha Joon.
"Oppa, ada Ibu ku di sini. Jangan bercanda kelewatan Oppa, kita terlalu banyak perbedaan Oppa. Terlebih kita se amin tapi tidak seiman," kata Utari dengan nada sedikit berbeda dan Ibu menyadarinya.
Apakah ada sesuatu yang Ibu tidak tahu?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments