"Assalamu'alaikum," salam Utari begitu sampai di rumah lama tapi penuh kenangan dengan sang Oma kesayangan.
Oma yang menemaninya tumbuh hingga di bangku sekolah menengah pertama. Oma yang selalu pasang badan saat ada yang jail padanya, Oma yang selalu pasang badan untuknya ketika ada orang-orang luar yang mengatakan hal yang tidak-tidak tentangnya.
"Walaikumussalam, masyaallah orang Korea ini sampe lupa pulang ke rumah. Ini sudah 6 tahun Tari," kata Maknin dan istrinya yang menyambut kepulangan Utari dan Ibunya.
Utari mengulurkan tangannya untuk bersalim dengan Maknin dan istri maknin.
"Udah jangan di hakimi dulu, tinggal di negara orang bukan perkara mudah. Utari pasti juga letih sekali karena kata Kakak tadi Utari dari pesawat langsung ambil travel untuk pulang," kata Istri maknin.
"Yaudah ayo masuk," kata Ibu memapah Utari yang merasa sedikit pusing karena keletihan.
"Ngak papa Ibu, Tari baik-baik aja," kata Tari lalu berjalan ke dalam membawa kopernya dan juga tas yang lumayan besar.
Tiba di dalam rumah, Utari langsung duduk tersandar. Lalu Utari melihat jam tangannya, ini sudah waktunya sholat dhuha. Utari berjalan ke arah belakang.
"Mau kemana Tari?" tanya Maknin pada keponakannya yang sedari tiba di rumah belum banyak bicara.
"Mau sholat dhuha dulu Maknin, nanti kalau di tunda malah ngak jadi sholat," kata Utari yang hanya di angguki oleh Maknin dan yang lainnya.
Maknin sebenarnya agak takut mengajak keponakannya itu berbicara, hal ini bukan tanpa alasan. Utari memang jarang menelpon padanya, Utari lebih sering bertukar kirim pesan dengan putrinya Fatmala. Mala sekarang sudah kelas 1 SMP, keingin tahuannya yang tinggi membuatnya mudah dekat dengan Utari.
"Utari banyak berubah ya kak?" tanya Maknin pada Ibu Utari.
"Ngak juga, dia sebenarnya masih sama dengan Utari kita yang dulu. Hanya saja kalau lagi capek ya gitu ngak banyak omong pengennya langsung tidur. Di rumah juga begitu, apalagi kalau pulangnya ampe malam. Makan ngak siap mandi langsung tidur," kata Ibu pada Maknin yang di angguki oleh Maknin dan Istrinya.
"Oh iya, ini ada mukenah dan beberapa baju koko dan juga sejadah. Kemarin waktu mau beli pakaian Utari takut nanti salah beli ukuran jadi cuman beli mainan rmtas dan juga sejadah. Yang lain akan ngumpul di sini besok bukan? Buat berdo'a pulang dari berziarah ke makam?" tanya Ibu pada sepasang suami istri itu.
"Iya kak, besok semuanya ngumpul di sini. Apalagi tahu ada yang pulang dari jauh. Utari glowing banget ya sekarang kak," kata istri dari Maknin.
"Ya mungkin efek cuaca, di sanakan negara empat musim. Loh kok Utari lama sekali ya?" tanya Ibu bingung.
Ibu berjalan ke arah kamar Utari dan ternyata sang anak sudah terlelap di atas sejadahnya.
"Tari, bangun Nak. Ngak baik tidur saat matahari naik begini," kata Ibu.
Utari yang memang mudah terganggu jika kondisi tidurnya tidak dalam keadaan baik maka dengan cepat terbangun dari tidurnya.
"Astagfirullah, kepala Utari sedikit pusing Bu," kata Utari pada sang Ibu.
"Yaudah kita makan dulu yuk, itu Tante Maknin sudah masak. Nanti kalau udah rame keluarga yang datang malah kamunya yang ngak kepikiran buat makan," kata Ibu pada Utari.
"Iya Bu," Utari merapikan mukenahnya dan merapikan hijab dan gamisnya lalu berjalan bersama sang Ibu keluar.
"Makan dulu Tari, ini Ante udah masak," kata Tante Maknin pada Utari.
"Aduh jadi repot-repot Tante jadinya, akukan jadi enak," kata Utari dengan senyuman khasnya.
"Aku makan ya Nte, Maknin yok semuanya makan dulu," kata Utari karena kebetulan di sana ada sepupu tiri yaitu anak tiri Maknin.
"Ini siapa namanya?" tanya Utari pada anak Maknin yang sepertinya tidak jauh berbeda usianya dengan Utari.
"Kenanga Kak," kata Kenanga memperkenalkan dirinya.
"Masyaallah nama yang indah, yok makan dulu," lata Utari dan dia langsung mengambil nasi sedikt dan juga lauknya.
Acara makan sudah selesai saat ini Utari ke belakang rumah melihat kondisi rumah tempat dia di besarkan. Saksi bisu Utari yang dulunya hanya anak orang tidak punya. Tidak banyak yang berubah dari rumah tempat dia dan Neneknya tinggal dahulu.
"Masih sama seperti yang dulu, Tari. Ngak banyak yang berubah," kata Maknin pada Utari.
"Justru itu kenangan tentang Oma semakin basah di sini. Dulu semasa kecil sama Oma, aku berkebun singkong, dan di sini di buat sebaris untuk tomat kecil-kecil. Lalu di sini di buat dua baris tanaman kacang panjang dan juga sebaris satunya lagi cabe merah," kata Utari membayangkan masa kecilnya yang menyenangkan.
"Di sana Maknin buatkan kandang ayam, sedangkan di balik sana tempat ayam bertelur. Baru bisa makan ayam kalau ayamnya udah bisa di sembelih dan makan.telur udah kayak hari spesial karena jarang sekali bisa makan ayam dan telur," kata Utari memandang halaman yang sepertinya baru saja di beri racun rumput itu. Karena rumputnya belum mati sepenuhnya.
"Setiap pulang sekolag suntuk, pergi kebelakang rumah cuman buat lihat kebun yang membuat suasana hati menenangkan," kata Utari.
"Hmmm," kata Maknin yang menanggapi tatapan Utari yang memandang jauh di sekeliling.
"Maknin, aku pinjam motor boleh?" tanya Utari pada Adik Ibunya itu.
"Utari bisa bawa motor?" tanya Maknin.
"Alhamdulullillah bisa Maknin," kata Utari.
"Mau kemana emangnya? Masih ingat jalan sekitar sini?" tanya Maknin oada keponakannya itu.
"Masih Maknin, cuma mau lihat sekitar sini saja," kata Utari.
"Yaudah, hati-hati!" peringat Maknin yang di angguki oleh Utari.
Utari berkeliling, tapi dia menggunakan masker dan sarung tangan. Sehinggantidak ada yang tahu jika itu dia, terlebih Utari sudah lama tidak pulang ke kampung halaman tentu saja dia terlihat asing bagi orang-orang di sana.
Malam rupanya enggan menunggu, hari ini adalah hari yang oanjang bagi Utari karena dia harus membuka mulutnya selalu untuk berbicara dan juga tersenyum lebar. Demi Allah, Utari bukan orang yang seramah itu, berat Honey.
Tapi karena jarang pulang kayak Bang Toyib maka dari itu Utari pertahanin dah itu wajah-wajah ramahnya.
Malam harinya hanya ada Ibu, Maknin, Tante, Fatmala dan Kenanga.
"Maknin, Ibu bilang mau merenovasi rumah sekalian membuat surat rumah," kata Utari memulai pembicaraan.
"Iya, karena kamu sendiri yang bilang Dek jika orang-orang banyak menggeser-geser perkarangan. Jadi ada baiknya kita buat surat tanahnya," kata Ibu.
"Inikan memang haknya Tari sama Kakak, aku sih ngikut aja. Malah aku lebih senang kalau Kakak dan Utari tinggal menetap di sini," kata Maknin.
"Kalau itu aku belum kepikiran dalam wakru dekat Maknin, maksudku ada baiknya rumah nenek dan lahan yang di belakang kita buat sertifikatnya. Di sisi lain rumah bisa di renovasi, aku berharap Maknin dan sekeluarga bisa tinggal di sini sebelum Ibu dan aku pulang walau ngak tahu kapan," kata Utari cengengesan.
"Maknin dengar Utari di sana sudah beli rumah ya?" tanya Maknin.
"Bukan rumah juga tepatnya apartment, Maknin. Ya lumayanlah, buat berteduh," kata Utari.
"Berapa kamar ruangannya Utari?" tanya Maknin pada sang keponakan.
"Alhamdulillah 4 kamar Maknin," kata Utari.
"Wah boleh tu kapan-kapan Maknin dan Tante ke sana?" tanya Maknin.
"Inysyaallah pintunrumah Tari di sana terbuka lebar untuk Maknin dan Tante," kata Utari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments