Pernah merasa rencan tidak berjalan sesuai impian? Itu juga yang di rasakan oleh Utari sekarang. Boro-boro jadi seorang Dokter ataupun kuliah kedokteran Utari malah berakhir kuliah keguruan di kampus swasta sambil berdagang.
"Apakah menyenangkan?" Awalnya Utari bahkan tidak bisa menerima hal itu. Utari fokus mengerjakan bisnis multilevel marketting yang di ikutinya.
Tapi lagi-lagi Utari tersandung ekspektasi. Jika banyak orang yang kaya melalui bisnis multilevel marketting namun tidak begitu dengan Utari. Kaya ngak hutang malah di mana-mana, itulah awal mula Utari berhenti dari multi level marketting dan mulai berdagang makanan.
Entah bagaimana harus mengatakannya Utari bahkan tidak bisa memasak, untungnya sang Ibunda tercinta sangat mahir memasak hingga Utari menjual dagangan sang Ibundanya semasa dia kuliah.
Saat ini usia Utari sudah 24 tahun. Utari baru saja lulus kuliah S1. Apakah Utari kuliah hingga 6 tahun? Tidak, tentu saja tidak Utari itu pemalas mana mau dia serajin itu. Utari lulus dari kampusnya 3,5 tahun. Lalu kenapa bisa usia 24 tahun baru lulus kuliah S1?
Itu di karenakan Utari menunda kuliah hingga 2 tahun, apakah berat menunda kuliah? Di bilang berat tidak juga, di bilang ringan tentu saja tidak juga.
"Ya Allah, apa aku bisa sukses? Aku bahkan tidak punya keahlian apapun," kata Utari seraya menatap layar ponselnya dan mengeluh.
"Teman-teman sudah punya pekerjaan, tapi kalau jadi guru honorer jujur saja aku ngak sanggup. Pengeluaran terlalu banyak, masa sedari aku kecil hingga setua ini harus dari orang tua terus? Dari akunya kapan?" tanya Utari bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Ngak! Aku ngak bisa gini terus-terusan. Aku harus take apapun pekerjaannya agar punya penghasilan. Yok balik kemoto lama, kalau ngak bisa bantu banyak minimal bantu dikit. Setidaknya dari aku bisa byar kontrakan, nanti pelan-pelan tapi pasti bisa beli rumah, bisa beli kedaraan dan umroh bareng Ibu. Bukankah rezeki Allah itu maha luas? Lantas mengapa aku takut, karena aku punya Allahuakbar! Allah maha besar!" kata Utari.
Dengan tekatnya Utari mulai berselancar di dunia maya berburu pekerjaan. Utari menemukan banyak lowongan hanya saja di tempat yang jauh, di tilai dari gajinya juga lumayan.
"Baiklah, ayo kita coba daftar minimal satu setiap harinya!" kata Utari, bukan tanpa alasan Utari ingin mendaftar 1 saja setiap harinya. Utari sedang belajar berjualan online selain itu Utari masih berdagang keliling untung menambah pemasukan harian.
Ya meski rasanya malu karena sudah bergelar sarjana masih berjualan keliling tapi Utari bisa apa? Dari pada diam di rumah dan tidak melakukan apapun lebih baik dia melakukan sesuatu bukan.
1 bulan kemudian
Pekerjaan yang di lamar ternyata belum membuahkan hasil. Tapi dagangan yang Utari jual melalui online sudah mulai ada hasil. Ya dagangan itu adalah daster khas mak-mak, baju tidur, gamis, hijab dan sepatu. Itulah yang Utari jual di online. Utari sudah memulai bisnis ini 6 bulan yang lalu, sebenarnya di bulan kedua sudah ada hasil hanya saja hasilnya itu kayak orang khilaf untuk kesalahan fatal, kalau ngak salah cuma 2 kali pemesanan dan Utari hanya dapat keuntungan 50.000 rupiah makanya Utari merasa muak sendiri.
"Utari, gimana tadi dagangannya habis ngak?" tanya Ibu begitu sampai di rumah.
"Alhamdulillah abis Bu," kata Utari.
"Alhamdulillah, oh iya gimana lamaran pekerjaan sudah ada yang keterima?" tanya Ibu.
"Belum Ibu, kalaupun ada itu kerja tokonyang sebenarnya ngak butuh ijazah S1. Gajinya juga cuma 40 ribu sehari kerja 12 jam, mending aku jualan aja tiap hari Ibu. Lumayan uangnya, badan juga ngak capek-capek amat," kata Utari.
"Ya sudah kamu yang sabar, mungkin memang belum rezeki kita. Tapi kamu jangan putus asa," kata Ibu.
"Iya Bu," kata Utari.
Tanpa Ibu ketahui bulan lalu keuntungan bersjh dagangan Utari di online lumayan banyak. Ngak sampe bisa beli motor tapi cukuplah untuk beli cilok yaitu 3jt rupiah. Kenapa Utari tidak mengatakan pada Ibu, sengaja Utari ingin kasih Ibu kejutan.
Melihat hasil dagang online lumayan banyak hingga 3 jt hasil bersihnya, itu membuat Utari kian semangat. Tidak cukup sampai di sana, Utari juga mencari celah di mana dia bisa mendapat uang tambahan lainnya dengan membuat channel youtube.
"Bu, Utari pamit keluar dulu. Utari ada janji ketemu sama kawan dekat sini," kata Utari pada sang Ibu.
"Iya tapi kamu hati-hati," kata Ibu.
"Iya Ibu, assalamu'alaikum," kata Utari dan beranjak pergi.
Di luar Utari bertemu dengan Rafika dan Sintia.
"Weh! Guru bahasa inggris kita sudah tiba," kata Sintia menyambut gembira dan juga di smabut tawa oleh Rafika.
"Belum! Belum jadi guru! Ini aja aku luntang-lantung cari kerjaan," kata Utari duduk dan langsung meletakkan kepalanya di atas meja.
"Udah dinginin dulu kepalanya, tuh sesuai dengan yang kamu minta capcin," kata Rafika.
"Gini sebenarnya aku mau ngundang kalian berdua ke acara bahagia aku dan Dion," kata Sintia membuka pembicaraan.
"Wah apa nih! Bau-baunya ada pembicaraan yang serius ini," kata Utari yang paling semangat.
"Iya Utari, kita berdua akan bertunangan minggu depan. Hari jum'at malam, kamu dan Rafika wajib hadir! Pokoknya aku tidak terima alasan sibuk jaga malam, jaga pagi di rumah sakit. Aku juga ngak terima alasan lagi bokek karena belum dapat kerjaan. Aku tahu ya Utari kamu walaupun kelihatan nganggur tapi sebenarnya ngak nganggur!" kata Sintia dengan raut wajah kesalnya.
"Iya sayangku, tapikan hasilnya juga ngak seberapa. Baru bulan lalu hasilnya lumayan, iyupun sudah jelas mau di budayakan ke arah mana," kata Utari lemas sendiri.
"Ngak papa, bukannya kamu selalu bilang. Ingat kata Jin Oppa, meski jalanku tidak secepat orang lain tapi aku ingin berjanji pada diriku sendiri jika aku pasti melangkah walau perlahan," kata Sintia.
"Masih suka Kpop juga?" tanya Rafika.
"Belum berhenti dia masih Utari yang lama yang kita kenal," kata Sintia.
"Masyaallah Utari, kita ini bukan pagi anak remaja. Kita sudah terlalu tua untuk mengidolaka para idol seperti BTS!" kata Rafika dengan wajah antara geram dan juga gimana gitu.
"Sayangnya aku juga sudah terlalu tua untuk belum punya penghasilan tetap dan belum bisa bahagiain Ibuku. Aku memang suka BTS, tapi bukan berlebihan. Aku hanya berfikir kita masih di langit yang sama dan harapanku tidak terlalu mustahil aku hanya ingin bisa menjadi berarti untuk Ibuku. Apa itu salah?" tanya Utari dengan wajah tidak kalah kesalnya.
"Udah jangan pada berantem, kita ngumpulkan sesekali. Mending kita seru-seruan aja!" kata Sintia.
"Aku mau cepat pulang, nanti aku shif malam jaga di rumah sakit. Emangnya Utari yang masih pengangguran dan ngak ada kerjaan!" kata Rafika yang bethasil membuat Utari tidak sanggup berkata, karena memang benar adanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments