Kali ini aku tidak akan main-main dengan mereka, aku mau melihat seperti apa resaksi mereka, setelah aku kirim vudeo itu aku memyuruh kak Lexza untuk membukanya.
"Hay kak ipar! coba dong buka hpnya biar lihat apa yang aku kirim tadi, siapa tahu itu berguna untuk keluarga serakah seperti kalian." bentakku untuk apalagi menghormati mereka, mereka aja tidak perna tuh..menghormati aku.
"He..kurang ajar apa yang kamu kirim ke hp istriku tidak ada sopan santun ya" titah Tahir suaminya Lexza. Mungkin dia pikir aku laki-laki mes**m jadi kirim foto atau video yang tidak sen*no mungkin.
Lexza buru-buru membukan hpnya aku melihatnya membuka mulut dan matanya melotot dengan sempurna, mungkin dia tidak menyangka dan kanget aku bisa memiliki video itu. Karna aku melihat dia begitu terkejut aku langsung bertanya.
"Bagaimana kak ipar, kalau seandainya aku sebarkan video itu, apa kalian masih yakin harta dan martabat kalian bertahan? atau bagaimana kak ipar Tahir kalau nanti video ini di ketahui publik apakah jabatan anda sebagai dewan masih disanjung? sedangkan didalam video itu anda salah satu pelaku yang menganiyaya istriku"?
Aku menoleh dan menatap ibu Anjani, aku melihatnya tengang tapi tetap aja ia memasang wajah datar" ibu Anjani bagaimana kalau aku viralkan video ini, aku mau lihat sampai kapan popularitas dan harga diri anda bisa bertahan. Atau bisa jadi ini awal dari kehancuran kalian bagaimana? Oh masih ada satu lagi, hai kak ipar Kenedy bagaimana kalau video ini viral? apakah masih ada masyarakat yang mempercayai seorang calon presiden yang berani menganiyaya adik iparnya sendiri?. Jika kalian masih berani berlaku kasar sama istriku aku pastikan karir dan pekerjaan kalian tamat."
Semua orang yang diruang tengah terkejut dengan ancaman yang aku lontarkan, karena selama ini, aku tidak perna berkata kasar apalagi menentang mereka, karena aku belum punya skil yang kuat sebagai ancama dan menjatuhkan mereka.
Tapi kali ini aku tidak akan main-main. Aku melihat wajah ketakutan mereka membuat aku sedikit puas..kenapa aku bilang hanya sedikit karena aku belum ketemu dengan istriku.
Jadi ini kesempatan untuk aku mengancam mereka. Aku menatap satu persatu" bagaimana tangapan kalian semua keluarga terhormat, mau kalian bawah istriku kehadapan aku atau detik ini juga aku viralkan video ini dan tamat riwayat kalian semua. Ancamku tidak main-main namun tanpa aku duga mereka berteriak serempak. Kayak lomba paduan suara aja.
"Jangan Dava...jangan lakukan itu, ok baiklah kami akan mencari Dinda tapi janji jangan sebarkan video itu, atau mendingan tidak perlu simpan video itu kamu hapus aja, percaya sama aku, aku akan mencari Dinda."
Suara bariton Kenedy dan Tahir mengema, sedangkan yang lain termasuk bu Anjani terlihat syok, mungkin mereka pikir aku bodoh jadi bisa dikelabui, enak aja disuruh hapus videonya. Aku yakin kalau aku benaran hapus ada kesempatan untuk mereka kembali bertindak semena-mena
"Haahah.....jangan anda pikir aku bodoh ya, jadi anda bisa membohongiku, aku tidak sebodoh itu, anda pikir dengan adanya aku hapus video ini dari sini jadi tidak ada bukti lagi. He Tuan Tahir...aku ini banyak file untuk menyimpan hal penting seperti ini. Jadi kalau aku hapus dari hppun juga tidak masalah karena masih ada yang lain, aku tahu siapa kalian jadi aku tidak akan terkecok dengan omong kosong kalian, sekarang kalian mau pergi cari istriku atau kalian tahu akibatnya."
Mampus kamu ibu mertua akan aku membuatmu bertekuk lutut di kakiku. Tapi tidak untuk sekarang, ini masih awal, apalagi ayah mertua sudah meninggal jadi untuk apalagi menghargai manusia biadab yang tidak punya attitude seperti kalian. Dan kalian tidak punya hati sama sekali sampai menyiksa Dinda.
"Hay bu mertua, aku tahu ibu sangat menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan. Dan ibu juga kalau diluaran sana ibu selalu disanjung sebagai ibu yang baik dan sangat menyayangi anak-anak nya."
" Tapi itu hanya diluar kalau didalam sifat ibu tidak menunjukan sebagai ibu yang baik. Kalau semua publik tahu sifat asli ibu dan tindakan ibu terhadap anak bungsun ibu gimana ya, apakah ibu masih dipandang ibu yang baik ataukah ibu akan dikatain ibu yang paling buruk hahaaha...aku tidak bisa bayangkan betapa malu dan jatuhnya ibu dihadapan orang banyak" ujar ku tambah manas-manasin ibu mertua.
"Diam kamu Dava! Kamu tidak tahu di untung ya, jangan mentang-mentang kamu sudah keluar dari sini jadi kamu semena-mena sama saya, ingat saya ini masih mertuamu jadi jaga attitude kamu terhadapa saya dan semua kak ipar kamu" bentak ibu mertua, bukannya membuat aku takut tapi justru membuat aku merasa lucu.
"Ha...mertua?...hallo...sejak kapan ya, seorang ibu Anjani yang terhormat ini mengakui aku sebagai menantu? Hahah mimpi apa aku ya, lelucon dari mana yang aku dapat hari ini, bukankah selama ini ibu tidak pernah menganggap aku itu ada, apalagi sebagai menantu dirumah ini, selama aku hidup disini aku selalu dijadikan bahan ejekan dan bahan tertawaan kalian, atau jangan-jangan ibu salah minum obat tadi"
"Ck...memang dia tidak pantas menjadi mantumu kak Anjani jadi untuk apa kak mengangapnya menantu dirumah ini hanya sebagai benalu." jelas paman Gibran
"Diam kamu Gibran..kamu juga sama saja, tidak ada gunanya dirumah ini entah apa kerjaanmu selama ini, jangan kamu pikir kamu adik dari suamiku jadi suka-suka kamu bicara disini" bentak ibu Anjani membuat paman Gibran terkejut, mungkin ia tidak menyangka kalau bu Anjani bisa berkata kasar padanya, aku ingin tertawa tapi biar aja aku melihat wajahnya langsung asam.
"Paman Gibran...maaf tadi aku sempat manggil Tuan tapi setelah aku pikir-pikir panggilan itu tidak pantas untuk anda paman, masih mendingan aku panggil paman dari pada aku panggil parasit kan tidak bagus didengar yups...sory paman"
"Jadi begini ya tadi paman juga lihatkan video itukan? kalau disitu juga wajah paman jelas-jelas tertangkap kamera kalau paman juga turut andil dalam menyiksa Dinda, bagaimana kalau aku laporkan anda kepolisi, atas tindakan kekerasan terhadapa istriku, kalau itu terjadi berarti bukan hanya Anda paman! tapi seluruh penghuni rumah ini tak terkecuwali. Jadi bagaimana paman, bu Anjani kak ipar Lexza dan yang lain?"
Wajah paman Gibran langsung beruba pucat. Bukan hanya dia tapi semua yang ada dalam rumah ini juga ikut terkekut dengan perkataanku, biar ajalah mampus, aku mau lihat sampai dimana mereka merendahkan aku. Dasar tukang membual
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 458 Episodes
Comments
S H 10
hahaha kok pucat donk..
2025-01-21
0
Novel Hunter
ceritanya bagus..tp bahasanya hancur..
2024-06-14
1
Eka Sanjaya
ribet banyak cingcong
2024-04-17
0