Sehabis disholatkan. Jenazah ayah mertua! Kami langsung menghantarkan ke tempat peristirahatan terakhir, mobil mewah beriringan menghantarkan ayah mertua kepemakaman . Hari ini adalah hari paling terburuk dalam hidup aku dan istriku. Kehilangan seorang mertua yang baik hati, membuat hati ku, sesak!"
Setelah selesai melakukan pemakanan! Karena semuanya berjalan dengan lancar. Kami segera pulang kerumah.
Di ruang tengah semua keluarga besar berkumpul, termasuk saudara dari almarhum ayah mertua. Padahal baru saja Ayah mertua dimakamkan, tapi sudah ada perdebatan antara bu Anjani! Kedua kak Dinda dan juga Adik kandung dari ayah Evan. soal pembagian hak waris.
Aku bersama Dinda hanya diam, karena waktu ayah mertua masih ada saja . Aku dan istri tidak di anggap, apalagi Ayah mertua sudah meninggal!
Bu mertua diam dengan tatapan datar memandang ke arah aku dan istri. Entah apa yang mau ia katakan, tapi perasaanku mengatakan. Kalau ada yang tidak beres.
"Dinda! Besok adalah pembagian warisan, jadi ibu kasih kamu pilihan, kamu memilih tetap tinggal disini dan mendapatkan warisan! tapi kamu harus cerai dengan rakyat jelata ini! atau kamu angkat kaki dari rumah tanpa membawa apapun!" sentak bu Anjani.
"Deg....."
Dinda terdiam. Ia memikirkan jawaban apa yang harus ia lontarkan untuk sang ibu. Dengan keberaniannya ia menjawab pertanyaan bu Anjani " Ibu! Bisa tidak jangan bahas masala itu, kita baru kehilangan ayah, masih dalam suasanan duka! Kalau soal warisan Dinda yakin ayah sudah membuat surat wasiat untuk semua anak dan istrinya. Namun jika Dinda tidak dapat apa-apa dari wasiat itu Dinda iklas bu"
Aku terkejut dengan jawaban istriku, entah dapat keberanian dari mana. Bisa menjawab ibu mertua dengan lugas! Tapi dari tatapannya aku tahu. Istriku terluka.
"Hahah....lihat tuh kak Anjani! Anak gadis kamu, sudah tidak punya kehormatan lagi terhadap kamu. Dia sudah berani menjawab kamu" sentak Gibran adik ipar bu mertua.
"Hay, Dinda! Dapat keberanian dari mana? Sampai bisa melawan ibu. Oh aku tahu, pasti ajaran suami kamu yang miskin ini bukan? Ya tidak heran, jika memeliki perilaku buruk. Namanya juga rakyat jelata. Yang kurang didikan, biasa tamatan SMA yang kerja nguli!"
"Sudah! Aku tidak ingin mendengar keributan hari ini, Dinda! Masih ada waktu ibu berikan sampai besok pagi untuk kamu berpikir." bu Anjani menyudahi perdebatan antara kedua anaknya dan adik iparnya, dengan membentak.
Aku memutuskan merangkul Dinda dan masuk kedalam kamar, mata istriku terlihat masih sembab karena kebanyak menangis.
Aku langsung membaringkan tubuh Dinda diatas ranjang."Sayang istirahat ya, jangan menangis terus nanti kamu sakit!"
Dinda hanya memandang aku dengan tatapan iba, entah apa yang dia pikirkan yang jelas saat ini hatinya sangat sakit. Dinda sebagai anak bungsu hidupnya beruba setelah kami menikah.
"Mas! Janji sama aku, mas tidak akan meninggalkan aku dalam keadaan apapun!" ujar Dinda tiba-tiba.
Aku langsung memeluknya dan mengecup keningnya" Sayang! Mas janji tidak akan meninggalkan kamu, jadi kamu tenang ,ya. Tidak usa kuatir"
"Makasih mas!"
"Sayang! Apa keputusan kamu terhadap permintaan ibu, Apa kamu memilih untuk tetap tinggal disini dan meninggalkan mas"?
"Mas! Percaya sama aku, besok mas akan tahu. Jawaban apa yang akan aku berikan untuk ibu dan yang lain".
"Iya sayang, mas percaya sama kamu"
Waktu, berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah malam, penantian kami untuk kepulangan ayah mertua sirna seketika. Karena sekarang Ayah mertua sudah bahagia disorga. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya, untuk bisa mendapatkan banyak uang agar bisa membahagiakan istri tercintaku.
Kalau aku mau! aku tinggal bawah istri pulang ke rumah orang tua tapi itu tidak mungkin. Aku masih menyimpan sakit hati terhadap ayah ku.
Disaat aku menoleh kearah istriku. Ternyata dia sudah terlelap, mungkin karena kecapean, ia menangis seharian atas kepergian ayah mertua. Dan mendapatkan hinaan demi hinaan dari ibu mertua dan para ipar.
Sesaat aku tersenyum getir, ulu hati ini seperti ditusuk ribuan jarum." sayang maafin mas, karena mas kamu menderita."
Aku mengecup puncak kepala Dinda! Pada akhirnya aku juga turut terlelap disampingnya, sambil memeluknya begitu erat, seoalah aku takut kehilangan dia.
Aku mengeliat dari tidurku, ternyata aku tidak mendapati Dinda disamping. Ah mungkin ada di kamar mandi karena aku dengar bunyi air berasal dari sana . Aku duduk bersandar diranjang, tidak lama Dinda keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang terlihat lebih segar dan fres. Karena istriku sudah mandi.
"Wah! Kamu sudah mandi sayang? masih jam segini tumben?" tanya ku heran karena tidak biasa jam segini istriku mandi.
"Iya mas Dinda sengaja! Karena hari ini pembacaan wasiat dari ayah, aku sudah siap jika aku tidak mendapatkan apapun"
"Memang kamu tidak keberatan sayang, kalau kamu tidak dapat warisan? karena perasaan mas tidak enak dengan keluarga kamu sayang, terutama ibu. Maaf kalau mas Lancang karena perasaan mas mengatakan kalau surat wasiat dari ayah sudah di ruba"?
"Mas! Aku sudah bilang, harta dunia tidak dibawah mati, buktinya ayah sudah bekerja keras mengumpulkan semua harta itu, tapi lihat. Apa ayah dimakamkan dengan semua hartanya, gak mas! Mala harta itu ditinggalkan oleh ayah hanya membuat keluarga sanak saudara, kak dan ibu memperebutkan dan sebentar lagi mereka perang saudara."
"Mas! Aku bahagia dengan keadaanku seperti ini, asal mas janji sama aku, tidak meninggalkan aku. Karena sekarang yang aku miliki hanya kamu mas, keluargaku hanya memikirkan harta, harta dan harta! nomor satu dalam hidup mereka. Bagi mereka tidak punya harta tidak dihargai. Dikeluarga ku harta dan thata nomor satu Tapi keluarga, saudara atau anak itu adalah nomor kesekian"
Aku sangat terharu dengan perkataan istriku, memang dia berasal dari keluarga terpandang. Tapi dia memiliki pikiran yang sangat dewasa. Dan tidak serakah dengan harta dunia.
"Tapi bukankah! selama ini kamu bahagia sayang? dengan semua kemewahan yang kamu dapat"?
"Hahah, kebahagiaan? Kebahagiaan mana yang mas maksud? Mas pikir selama ini aku hidup bergelimpangan harta dari orang tua jadi aku bahagia?, gak mas! Aku sama sekali gak merasakan kebahagia, hidup ditengah-tengah keluarga yang banyak aturan dan tidak mengahargai orang kecil. Apalagi ibu dan kedua kak ku. Keegoisan dan kecongkakan itu sudah mendarah danging dalam tubuh mereka"
"Ya Tuhan! Ternyata aku gak salah memiliki istri seperti Dinda sudah cantik, baik dan berpikir dewasa." mas janji hidup kamu bahagia bersama mas"
"Makasih sayang! Kamu sudah hadir dalam hidupku, mas bersyukur bisa memilikimu sayang, kamu wanita yang kuat dan luar biasa hebatnya"
Dinda, memang memiliki sifat berbedah dari kedua kaknya. Karena sifat Dinda menurun dari Tuan Evan, memang ,Tuan Evan orangnya lembut dan suka membantu rakyat kecil, berbedah dengan istrinya. Yang sombong dan congkak. Jadi sifat kedua kak Dinda menurun dari sang ibu.
Setelah Dinda bersiap, aku pesan makan dan kami sarapan dikamar, karena ibu mertua tidak mengijinkan kami sarapan bersama di meja, katanya aku dan Dinda gak pantas bergabung makan dengan keluarga yang terhormat seperti mereka.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 458 Episodes
Comments
Abdul Hakim
ceritanya hampir semua sama, mertuanya gila harta.... tapi ga ada yg bikin adem itu keluarga...
2025-03-04
0
S H 10
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
2025-01-21
0
Praised94
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Facepalm//Facepalm/
2023-10-18
1