Setelah selesai bicara, Dinda digiring ke kamar mandi seperti penjahat yang akan digiring kek sel tahanan, tidak tanggung- tanggung setelah sampai di depan kamar mandi Dinda didorong dengan kasar masuk kedalam kamar mandi, Lexza dan Dea meninggalkan Dinda begitu saja tanpa rasa iba dan kuwatir sedikitpun terhadap adik bungsunya itu. Bahkan mereka berdua tertawa puas melihat Dinda tersiksa
Setelah mereka pergi disitulah Dinda menangis sejadih-jadinya, menumpahkan air matanya dan meluapkan sakitnya dengan menagis histeris, tapi untung Maya tahu Lexza membuang kunci kamar mandinya dimana.
Pas semua penghuni rumah pergi ke pekerjaan masing-masing, diam-diam Maya mengambil kunci itu. Dan membuka pintu kamar mandi setelah Dinda keluar Maya nyuruh ganti pakian dan biarkan Dinda keluar lewat tembok belakang agar pengawal tidak bisa melihatnya. Karena kebetulan tembok belakan tidak jauh dari jalan raya jadi gampang cari kendaraan tak lupa juga Maya membekali Dinda dengan uang satu juta tapi Dinda menolak karena katanya ia masih punya uang.
"Nona maaf aku baru membuka pintu kamar mandi karena aku tunggu semuanya pergi dulu supaya nona bisa bebas, tapi sebelum nona pergi lebih baik nona ganti pakian dulu, soalnya pakian nona yang ini sudah basah"
"Makasih banyak ya Maya kamu sangat baik sama aku, kalau bukan karena kamu munggkin aku akan terkurung disini entah berapa lama, aku akan ingat jasa baikmu" Dinda langsung memeluk Maya dan menangis Dinda bersyukur karena masih ada yang berbaik hati dirumah ini untuk menolongnya padahal dia bukan siapa-siapa. Karena Dinda tidak tahu kalau Maya adalah orang suruhan keluarga Adinata.
Tidak masalah nona, oya ini uang untuk nona pengang sebagai bekal siapa tahu nona lapar diluar sana, dan satu lagi ini alamat rumah, saran saya mendingan nona segerah kesana supaya Tuan Dava tidak panik mencari nona karena setelah nona pergi saya akan telpon Tuan Dava"
"Ha...apa kamu bilang Tuan Dava? Dan kamu kenal suamiku May"?
"Kita tidak punya banyak waktu sekarang nona, saya mohon nona segerah pergi dari sini, nanti nona akan tahu siapa Tuan Dava sebenarnya, nona cepat pergi dari sini dan segerah datangi alamat rumah ini."
"Makasih May, tapi May, aku mohon setelah aku pergi mendingan kamu juga keluar dari sini aku takut kamu nanti di siksa sama seperti aku" jelas Dinda kuwatir dengan Maya.
"Nona tenang saja, aku baik-baik saja disini dan setelah tugas saya selesai saya juga akan pergi dari sini, asal saya pastikan nona sudah selamat, sekarang cepat pergi saya takut nanti Tuan Gibran keburu pulang."
"Tunnggu dulu May, aku keluar lewat mana? Tidak mungkinkan aku keluar lewat gerbang depan bisa-bisa aku di tahan dan tidak jadi aku pergi.
" Tenang nona, memangnya nona lupa masih ada tembok belakang yang tidak di jaga, saya akan bantu nona keluar lewat sana."
Setelah mereka mencari cara akhirnya Maya meloloskan Dinda, Dinda ikuti instrusi dari Maya ia pergi mencari alamat yang di tujuh ternyata lumayan jauh juga atau karena macek banget makannya memakan waktu cukup lama.
Dinda sampai didepan gerbang mewa tinggi berapa meter, tapi kalau dari luar itu masih kelihatan istana mega didalamnya membuat Dinda ragu jangan-jangan Maya kerjain ia lagi pikirnya, dan juga sepih kayak tidak ada orang penjaga juga sepertinya tidak ada, Dinda mau berbalik badan dan pergi karena takut salah alamat, tiba-tiba gerbang tinggi itu terbukan. Keluarlah dua orang pria tinggi besar dengan tatapan mata nyalang menatap Dinda membuat Dinda ketakutan.
Dinda yang gugup segera bergegas pergi namun kalah cepat salah satu pria itu mencegahnya. Dan dengan ramah pria itu bertanya.
"Nona anda mencari siapa?"
"Maaf pak, apakah benar ini alamat rumah mas Dava"? Jelas Dinda membuat kedua pengawal itu saling pandang.
"Maaf nona ini siapanya Tuan muda kami"
"Ha....Tu..Tuan mu, muda, maksud apa ya pak"
" Maksud saya rumah ini, adalah rumah kediaman orang tua dari Tuan Muda Dava yang telah pergi dari rumah enam tahun lalu dan sampai sekarang belum juga kembali pulang.
"Ya Tuhan jadi ternyata mas Dava membohongi aku, dia berbohong kalau dia miskin dan tidak punya apa-apa ternyata mas Dava orang kaya."
"Maaf pak, orang tua dari Tuan Dava Ada, kalau ada boleh saya ketemu dengan mereka."
"Maaf nona saat ini Tuan besar Dan Nyonya tidak bisa ditemui"
"Memang kenapa ya pak, saya istrinya Tuan Dava"
"Ha...yang benar nona" tanya mereka berdua kompak.
"Iya benar pak, saya Dinda Andinita. Saya istri dari Tuan muda Dava, bolehkah saya ketemu dengan Tuan dan Nyonya besar?"
"Maaf nona muda, saat ini nyonya besar ada dirumah sakit, jadi Tuan besar juga ada disana, kalau nona muda mau temui boleh kerumah sakit"
"Baik pak makasih, ah dirumah sakit mana ya pak"?
" Dirumah sakit embun Fatima."
Setelah Dinda mengantongi alamat lengkap rumah sakit Dinda langsung bergegas pergi, padahal, tadi Tuan Adinata sudah menelpon untuk mencari Dinda tapi kenapa kedua orang itu seperti amnesia ya seharusnya mereka telpon Erik atau Tuan Adinata untuk membritahu kalau Dinda datang kesana, astaga mungkin karena faktor umur.
Dinda dengan taksi pergi kerumah sakit setempat baru saja mobil melaju meninggalkan rumah keluarga Adinata kedua penagawal itu kanget dan ingat dengan telpon dari Tuan Andinata saol mencari mantunya yaitu istrinya Tuan muda mereka.
"Apa.....astaga mampus kita kenapa kita meloloskan nona muda pergi lagi bukannya sekarang nona itu yang dicari oleh Tuan besar astaga mati kita berdua. Cepat telpon Tuan besar menyampaikan kalau nona muda tadi datang kesini mencari Tuan muda dan dalam. Perjalanan menuju kerumah sakit, jangan sampan kita dalam masalah"
Pukk......kenapa tadi kamu tidak bilang sih kan aku tidak tahu kalau Tuan muda telpon tadi"
"Ya aku juga lupa, soalnya nona muda cantik sekali, eh tapi tunggu dulu tadi kamu perhatikan gak kondisi nona muda. Kayak prihatin sekali wajahnya dan lengannya sepertiny baru dipukul dan pipinya terluka."
"Astaga mata peak gak lihat tadi banyak luka di tubuh nona muda sampai masih ada darah begitu kasian sekali nona muda semoga ia bertahan sampai di rumah sakit."
Akhirnya salah satu pengawal memberanikan diri untuk menelpon Tuan Adinata.
Tak lama orang itu telpon langsung angkat oleh Tuan Adinata.
"Hallo Tuan ada kabar baik"
"Iya kabar baik apa, cepat katakan"
"Tadi istrinya Tuan muda Dava kesini Tuan? tapi dibadan penuh luka dan kami lupa kalau tadi Tuan yang menyuruh semua pengawal mencarinya padahal jelas-jelas tadi nona muda mengakui kalau Tuan Dava adalah suaminya. Maafkan kami Tuan"
"Apa.....Jadi tadi mantu saya kesana? Terus dimana sekarang? Tahan dia disana jangan biarkan dia pergi saya kana menyuruh salah satu pengawal datang menjemputnya untuk bawah kerumah sakit"
"It..itu di..dia Tuan, kami lupa jadi pada saat dia minta alamat rumah sakit kami langsung berikan jadi nona dalam perjalanan ke rumah sakit dimana nyonya dirawat Tuan ampuni Kami Tuan"
"Apa ....jadi kalian biarkan mantu saya pergi sendiri dengan kondisi seperti itu astaga kalian cerobo sekali ha" bentak Tuan Adinata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 458 Episodes
Comments
S H 10
adehh.. makin parah niee..
2025-01-21
0
Nyai Romlah
belepotan
2024-04-03
2
jang
👍👍👍
2024-01-22
0