Aku tidak peduli, mau buat acara besar atau tidaknya itu tidak penting. Yang penting aku bahagia dan suamiku menyayangiku!
Hari-hari aku dan suamiku lewati dengan banyak hinaan! dan caci maki dari saudaraku, bukan hanya mereka. Ibu ku turut andil dalam hal itu, bahkan saudara ipar sekalipun! tak ada satupun yang menghargai aku. Dan suamiku
Setelah aku menikah dengan mas Dava. Tidak ada hargaku dirumah ini. Aku seperti keset kaki yang selalu di injak-injak, itu berlaku. Kalau ayah tidak ada dirumah, karena kalau ayah ada dirumah, tidak ada satu orang pun yang berani berkata kasar kepada aku dan mas Dava. Apalagi hinaan.
Tapi kalau ayah ada tugas keluar negeri. Itu kehidupan aku didalam rumah seperti neraka. Tidak ada kedamaian sedikitpun. Bahkan dengan teganya ibu menjadikan aku sebagai pembantu dirumah sendiri. Kadang aku berpikir sebenarnya aku anak ibu atau bukan, karna perlakuan ibu kepada kedua kak ku sangat jauh berbedah bak Tuan putri dan dayang-dayangnya.
Kadang aku sedih dan menangis dikamar tapi mas Dava, dengan lembut ia selalu memberikan kekuatan kepadaku.
Suatu hari, aku menyuruh mas Dava pergi meninggalkan aku saja. Tapi mala dia gak mau.
"Mas, jika mas sudah tidak sanggup tinggal disini. Boleh mas pergi meninggalkan aku. Mas lihat sendiri gimana keluargaku memperlakukan kita, kalau ayah tidak ada disini! Kita seperti pembantu " jelasku
Yang paling sakit adalah, ibu tidak mengijinkan kami berdua makan bersama keluarga di meja makan.
"Haha sayang! Ingat, kamu adalah tanggung jawabku, aku sudah berjanji pada ayah, kalau aku akan menjaga dan melindungimu. Jadi apapun yang terjadi, mas tidak akan pergi meninggalkan kamu" jelas mas Dava
Padahal, selama mas Dava Disini. Sudah banyak hinaan yang diterimah. Tapi mas Dava mala diam dan tetap tersenyum. Aku salut dengan kesabarannya.
Singkat cerita, satu bulan telah berlalu. Paginya aku bagun dari tidurku, dan hendak kekamar mandi. Tapi tiba-tiba perutku bergejolak dan mual-mual ditambah lagi kepalaku pusing sekali.
Muekkkk....muekkkk!
Aku segera berlari kekamar mandi, dan memuntahkan semua isi perutku, ternyata mas Dava menyusulku ke kamar mandi. Ia sangat khawatir dengan kondisiku.
"Sayang, kamu kenapa. Kamu sakit? Yuk kita kedokter." ujar mas Dava terlihat panik, aku tahu dia sangat mengkhawatirkan aku. Sampai panik begitu.
"Mas, tidak usa panik, aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya masuk angin. Sebentar nanti aku bilang sama ayah untuk hubungi dokter pribadi! Jadi tidak usa ke dokter"
"Oh ,ok sayang! Kalau begitu yuk kekamar dulu biar mas ambilkan air hangat"
"Ya Allah. Perhatian kecil begini aja, buat aku bahagia. Ternyata kebahagiaan itu, tidak harus memiliki banyak harta, tapi dimana kita di hargai dan di perhatikan disitu juga kita mendapatkan kebahagiaan,"
Jujur selama ini aku hidup ditengah-tengah keluarga, yang bergelimang harta! tapi tidak ku dapati sedikitpun kebahagiaan didalamnya. Karena selama ini yang mereka bahas adalah kekayaan dan pencapaian mereka masing-masing. Jarang sekali kami sebagai saudara bercanda ria, itu jauh dari kehidup keharmonisan dalam keluarga kami.
Aku dibesarkan dari kecil sudah bergelimang harta, tapi aku tidak gila harta, mala aku lebih senang hidup normal seperti orang-orang pada umumnya. Yang beraktifitas diluar dan banyak teman. Namun hal itu tak kudapatkan karena pergerakanku selalu dibatasi oleh ibu.
Mas Dava! Menuntun aku masuk kedalam kamar dan membaringkan aku diatas ranjang, lalu ia mengambil air hangat dan menyodorkan ke mulutku untuk minum.
"Sayang! Kamu tenang aja ya, tadi mas sudah bicara dengan ayah, jadi sebentar lagi dokter datang."
Dan benar saja tidak sampai setegah jam pintu kamar di ketuk, mas Dava gegas membukakan pintu, ternyata ada ayah dan dokter berdiri di luar.
"Silakan masuh dokter, ayah." mas Dava mempersilahkan ayah dan dokter masuk.
"Nak, apa yang sakit? kamu baring aja biar dokter periksa dulu" jelas ayah sangat lembut suaranya. Aku hanya nurut saja, tanpa melawan.
Setelah lima menit dokter periksa, ia tersenyum" Jangan khwatir Tuan Evan! Nona Dinda tidak apa-apa, ini hal biasa yang Sering dialami oleh wanita yang hamil mudah"
Ha....apa dibilang dokter tadi, hamil muda!..... Jadi ternyata aku hamil? Ya Allah bahagianya aku mendengarnya.
Mas Dava dan ayah juga tidak kalah terkejut..
"Yang benar dokter, istri saya hamil"?
"Iya Tuan Dava, Nona Dinda hamil"
Aku melihat mas Dava sujud syukur! sangking bahagiannya, aku melirik mata ini ke ayah ternyata, ayah senyum bahagia. Sedangkan kedua kak ku dan ibu tidak terlihat sama sekali entah kemana mereka aku juga tidak peduli.
Akhirnya dokter pamit pergi, ayah mendekat dan mengelus kepalaku" Nak, jaga cucu ayah dengan baik ya, suatu saat nanti kalau ayah sudah tiada, biarlah ia yang menjadi penguatmu."
"Ayah, jangan bicara begitu, ayah selalu dalam lindungan Allah" jelasku. Ayah berpaling dan menatap mas Dava.
"Dan untuk kamu Dava jaga istrimu dengan baik. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan kandungannya. Hamil tiga minggu ini masih sangat renta. Ayah titip Dinda sama kamu ".
"Iya ayah, Dava akan menjaga Dinda dengan baik"
Satu minggu berlalu begitu saja, tapi tak sekalipun baik ibu maupun kak kak tanya tentang kabarku, bahkan ayah juga sudah berangkat keluar negeri. Namun suatu siang aku mendengar teriakan ibu dari depan memanggil. Ternyata ibu baru tahu kalau aku hamil
Setelah ibu dan kedua kak ku mendengar kalau aku hamil, ibu begitu marah. Sampai membentak aku dan mas Dava.
"He...Dinda kok bisa, kamu cepat hamil? Kenapa kamu tidak menunda saja dulu kehamilan kamu. Lihat kedua kak kamu, sudah hampir tiga tahun menikah mereka belum mau punya anak, ini kamu baru juga satu bulan lebih sudah kebobolan." bentak ibu.
"Iya nih, lagian kegatalan sih, makanya baru juga nikah sudah hamil, kamu juga laki-laki miskin. tidak punya uang tapi kebelet banget punya anak" sambung kak Dea mengundang gelak tawa semua orang yang ada, sedangkan ayah sudah berangkat keluar negeri karena ada pertemuan penting disana.
Kali ini aku tidak mau lagi diam, aku harus berani melawan mereka, agar mereka tidak semena-mena sama kami.
"Memangnya kenapa bu, kalau aku hamil, itu tandanya aku dan suamiku subur bu dan ini rejeki dari Allah kenapa aku harus menolak. Bisa jadikan kak Dea dan kak Alexsa belum hamil karena tidak subur. Lagian apa salahnya aku hamil bu. Ini juga cucu pertama ibu loh." ujarku dengsn senyum tulus.
"He...kurang ajar jangan ucapanmu, aku dan suamiku subur, hanya saja kami yang mau menunda, lancang sekali mulutmu." benta Kak Dea
"Ck... Itu bukan cucuku, karena aku tidak mau punya cucu dari rakyat jelata, mendingan kamu gugurkan aja tuh" Bentak ibu.
"Deg....." jujur aku benar-benar tidak percaya dengan perkataan ibu kandung yang ada didepan mataku ini. Hatiku seperti tertusuk ribuan jarum. Begitu tersayat-sayat.
"Hmm kali ini Alexsa setuju dengan pendapat ibu" kebetulan Ayah tidak ada jadi ini kesempatan.
Jahat memang, saudara dan ibu sama saja, sama-sama jahat.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 458 Episodes
Comments
S H 10
/Scare//Scare//Scare//Scare//Scare//Scare/
2025-01-21
0
Magnol Max
lebih banyak yg w skip ketimbang w baca../Shame//Shame//Shame//Awkward/
2024-09-01
1
Bajul Sayuto
author ANJING BABI GOBLOK
2024-07-19
1