Sepanjang perjalanan aku menuju ke keluarga besar Winata, aku sudah siapkan dengan segala resiko yang akan terjadi. Aku lakukan demi istriku, karena mereka yang duluan yang mengusik kehidupanku jadi aku tidak akan tinggal diam.
Setelah sampai di tempat yang sudah aku dan pak Erik sepakati. Aku diturunkan disana dan jalan kaki menuju kerumah keluarga besar Winata. Sedangkan pak Erik ikut dari belakangku tapi agak sedikit jaga jarak.
Saat aku sampai di depan pintu gerbang. Penjaga pintu gerbang keluarga Winata langsung membukakan pintu untukku. Aku membuang senyum pada mereka karena mereka tidak melakukan kesalahan apapun terhadapku.
Kaki ini melangkah dengan cepat, saat sampai di depan pintu utama, kebetulan sekali pintu tidak ditutup jadi dari luar aku bisa melihat siapa saja yang didalam. Aku langsung masuk begitu saja tanpa pake embel-embel salam.
Pas aku sampai di ruang tengah semua mata tertujuh padaku dengan ekspresi yang berbeda-beda, ada terkejut, ada menatap sinis dan ada juga yang tengang termasuk bu Anjani dan kedua kaknya Dinda, namun seketika mereka meruba wajah terkejut menjadi amarah. Aku binggung entah apa salahku.
"Hahaha....akhirnya si miskin pulang juga ibu, entah apalagi yang mau dia ambil disini" bentak Dea kak kedua Dinda.
"Iya bu, lihat rakyat jelata kembali kesini tidak ada malunya, tidak ada juga sopan santun sama sekali masuk ke kekuasaan keluarga Winata tapi masuk tanpa salam" sambung Lexza mendungan tawa semua isi ruangan ini.
Ibu mertua menatap tajam ke arahku dan menyebikan bibirnya ngejek..." He....laki-laki miskin ngapain lagi kamu kesini. Mau datang mencuri disini" bentak bu Anjani.
"Maaf bu! aku kesini mau jemput Dinda! Aku mau bawah dia pergi." ujar ku enteng.
Seketika kedua kaknya Dinda membuka mulut dengan lebar dan mata membulat sempurna, bola matanya hampir saja keluar dari tempatnya entah apa yang membuat mereka terkejut. Aku juga tidak tahu.
"Dava..jangan mempermalukan diri kamu sendiri, jangan sok deh..bilang mau jemput Dinda segala bukankah kamu sudah menculik Dinda, Dinda tidak ada disini dia pergi dari rumah ini" ujar kenedy
"Ha...Dinda tidak ada disini memangnya Dinda kemana bu?" Aku sengaja mengalihkan pandanganku menatap bu Anjani aku mau tahu apa jawabannya. Dari tadi aku melihat ibu mertuaku ini hanya memasang wajah datar terus pantas aja makin tua, padahalan kalau aku lihat umur bu Anjani dan umur ibu tidak bedah jauh justru ibu lebih tua berapa tahu tapi ibu lebih terlihat awet muda.
"Dasar menantu sialan miskin kamu, memangnya aku penjaga istrimu ha...jadi kamu bertanya sama aku, istri kamu itu sudah pergi dari rumah dengan laki-laki lain, Dinda sudah tidak tahan mungkin hidup dengan laki-laki miskin seperti kamu makanya dia pergi"
"Haahha....Dinda pergi karena tidak tahan hidup denganku? atau Dinda pergi karena tidak tahan hidup dengan keluarga biadab seperti kalian ha..selama ini Anda ibu mertua yang selalu bilang kalau aku rakyat miskin tidak punya etika dan sopan santun, tapi apa perna ibu Anjani yang terhormat memiliki etika dan sopan santun....hanya ibu yang berhati iblis yang menelantarkan anaknya, aku mau lihat jika kalau media menemukan istriku diluaran sana terus di wawancarai. Aku pengen istriku berkata jujur dengan kehidupan keluarga Winata ini seperti apa popularitasnya."
"prak......jaga ucapan sialanmu... Jangan mengajari aku soal etika dan sopan santun..kamu itu sama saja dengan istri kamu itu! sama-sama tidak berguna di keluarga besar Winata yang terhormat ini" bentak bu Anjanin
"Haahha....bu sadar..Dinda itu anak kandung ibu bukan anak orang lain , atau jangan-jangan Dinda bukan anak ibu. Makanya ibu tidak menyayanginya
"Diam....." bentaknya lagi
Karana bu Anjani tidak terimah dengan perkataanku ia melayangkan satu tanparan di pipiku tapi itu tidak seberapa sakitnya dibandingkan sakit hatiku.
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan menyesal, aku atau kalian semua? Ingat akan ku tandai muka kalian satu persatu, sampai kapan kesombongan kalian bertahan. Aku kesini mau jemput istriku jadi aku minta sekarang juga serahkan istriku atau kalian semua tahu akibatnya! ibu Anjani yang terhormat, aku tidak main-main dengan ucapan aku."
"Haahah....bu lihat...lihat bu, laki-laki miskin yang dipilih oleh Dinda berlagak dia mengancam, dasar omong kosong. Kamu mau ngancam? Punya nyali juga" titah Lexza.
"Iya kak Anjani mennantu kak ini, punya nyali juga...dia pikir kita takut dengan ancaman recehnya." sambung Gibran adik kandung ayah mertua, langsung mengundang tawa semua orang yang ada di ruangan itu.
Aku tidak takut sekarang jadi aku harus melawan mereka. Aku menantang mereka satu persatu mau lihat sampai dimana kehebatan mereka.
"Tuan Gibran yang terhormat, selama ini aku sangat menghormati Tuan, bukan karena anda punya akil tapi karena anda adalah adik dari almarhum ayah mertua. Tapi sekarang tidak ada gunanya lagi untuk aku menghormati anda. Sebenarnya status kita disini sama, sama-sama numpang , hanya saja aku sebagai mantu dan anda sebagai adik dari ayah mertua. Memangnya anda punya skil apa disini? Sama sekali tidak ada. Pekerjaan aja tidak ada, aku tahu apa tujuan anda bertahan disini karena ingin merebut harta keluarga Winata. Anda lebih dari parasit ditempat ini jadi tidak perlu meneriakin aku Tuan Gibran!"
"He..kurang ajar jaga mulut busukmu itu ya..dasar omong kosong..kak jangan percaya menantu miskin ini, dia hanya mau memecah belah keluarga besar kita".
"Sekarang aku minta serahkan Dinda istriku, atau reputasi kalian saat ini juga akan hancur" bentakku karena aku sudah malas melihat omong kosong mereka disini."
Brakkk....." sudah berapa kali aku bilang kalau Dinda istri kamu itu pergi dari rumah dengan seorang laki-laki" ibu Anjani mengebarak meja yang ada di hadapannya membuat semua orang berjingkak.
"He...bu Anjani yang terhormat dari tadi aku sudah nanya baik-baik dimana istriku, tapi memang dasar kalian keluarga yang tidak memiliki attitude dan merasa paling terhormat disini, kalian pikir aku tidak tahu apa yang sudah kalian lakukan terhadap istriku, hey....ibu mertua yang terhormat dimana etika anda, bukankah anda sudah tahu kalau Dinda sudah punya suami, kenapa anda mau menjualnya kelaki-laki yang menurut anda kaya raya dan bisa mengangkat popularitas anda"?
"Dan setelah istriku menolak akhirnya kalian yang katanya keluarga terhormat itu menyiksa Dinda istriku. Bahkan bukan hanya sampai disitu kalian belum puas dan mengurungnya di kamar mandi, bagaimana bu Anjani apakah aku salah bicara? Jangan kalian pikir aku tidak disini jadi aku tahu, ingat aku berikan waktu satu jam, jika dalam satu jam kalian tidak menemukan Dinda dan kembalikan padaku, aku pastikan saat ini juga hidup kalian akan hancur!"
Perkataanku mereka pikir hanya lelucon jadi mereka semua tertawa terbahak-bahak...tapi untung aku punya nomor hp Lexza jadi dalam sekejap mata aku mengirim video itu kepadanya.
******
Selamat kasih sayang untuk pembaca setia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 458 Episodes
Comments
S H 10
Langsung Sikat Dava..
2025-01-21
0
jang
minn lnjut
2024-01-22
2
Ajo jatah
anjing lemot Ki MC nya anjing bikin emosi aja ni pant3k
2023-11-18
0