Aku tahu bukan hanya hatiku yang sakit. Tapi mas Dava selaku ayah dari anakku juga merasakan hal yang sama. Seketika bulir bening lolos tanpa perintah.
"Ya Allah apakah ini keluargaku yang sesungguhnya . Aku merasa seperti anak tiri yang tidak pernah di harapkan dirumah ini, hampir mirip kisahku dengan film ratapan anak tiri. Tapi bedanya aku ini anak kandung, tapi kok diperlakukan melebihi anak tiri aku dirumah ini, hanya karena alasan aku nikah dengan mas Dava yang berasal dari keluarga miskin dan tidak tahu asal-usulnya.
Aku mengangkat kepalaku dan menatap mereka dengan tatapan emosi.
"bu, aku juga tidak memaksa ibu. Untuk mengakui anak aku sebagai cucu ibu. Jadi ingat bu sampai kapanpun aku tidak akan menggugurkannya.
Dan untukmu kak, semoga seumur hidup kamu tidak dikasih anak biar suamimu selingkuh untuk mendapatkan anak dari wanita lain, biar mampus kamu."
Setelah selesai aku berkata demikian aku berusaha bangkit dari tempat duduk ku dan ingin segera ke kamar karena kebetulan mas Dava sakit perutnya jadi ia keburu masuk kekamar mandi.
Tapi sayangnya aku baru saja melangkah tanganku dicekal oleh Aleksa. Aku kena tamparan satu kali dipipi belum sampai disitu, ibu dengan cepat bangkit dari duduknya dan mendorong aku dengan kuat. Karena aku kaget jadi keseimbanganku tidak seimbang akhirnya aku jatuh tersungkur dilantai,
"Argh.....aduh...sakit....mas Dava....sakit....tolong," aku mengadu sakit tapi jangankan ditolong kasian aja tidak. Mereka mala merasa ini lelucon, mereka tertawa terbahak-bahak melihat aku tidak berdaya. memang mereka bukan manusia tapi iblis. Aku tahu ibu dan Alexsa sengaja agar aku keguguran.
Tiba-tiba aku merasa basa dibawah kakiku. Betapa terkejutnya aku melihat darah yang mengalir dibawah kaki. Aku merasa seluruh tubuhku lemas dan tidak bertenaga, samar-samar aku mendengar suara teriakan mas Dava.
"Dinda sayang.....kamu kenapa sayang...." ujarnya selepas itu aku gak ingat apa-apa lagi.
Pas aku sadar..."loh aku dimana?" tanyaku binggung
"Dinda sayang...akhirnya kamu sadar juga bikin mas panik aja. Mendingan kamu istirahat dulu ya, jangan banyak gerak" titah mas Dava lembut sambil membelai rambutku, rasanya nyaman sekali ada di samping laki-laki yang baru satu bulan lebih menjadi suamiku.
"Mas...kenapa kita disini ada apa?" tanyaku karena aku melihat mata sendu suamiku, sepertinya ia berusaha menyembunyikan sesuatu dariku.
"Sayang...sekali ini saja dengarin mas boleh? Istirahatlah badan kamu masih lemas."
Aku menurut saja dan tertidur kembali.
Keesokan harinya aku mengeliat, ternyata aku mendapati mas Dava tidur di sampingku. Aku berusaha untuk tidak membangunkannya, namun ternyata sia-sia mas Dava membuka matanya.
"Sayang, kamu sudah bangun. Mau kemana?"
"Aku mau ke kamar mandi mas" ujarku. Mas Dava dengan sigap bangkit dari duduknya dan memapah aku kekamar mandi.
"Loh..kok perutku sakit, Ya Tuhan aku baru sadar bukankah kemarin sore aku di dorong sama ibu. Dan aku terjatuhnya? Tidak ini tidak mungkin aku kegugurankan, aku belum tanya sama mas Dava aku tunggu setelah keluar dari kamar mandi. Saat sampai di tempat tidur. Aku menatap manik mata suamiku.
"Mas...jujur sama aku, kenapa perutku sakit sekali, aku keguguran ya mas"? Tanyaku
"Sayang..dengarkan mas, jangan sedih ya, ini takdir anak kita sudah bahagia di surga. Jadi kamu tetap semangat, ibu dengan Alexsa sengaja mendorongmu untuk menggugurkan kandungan kamu sayang. Tapi ingat jangan benci mereka, biarkan karma yang akan bekerja."
Aku mendengar penuturan mas Dava. Aku menangis sejadi-jadinya. Biarpun mas Dava sudah berikan peringatan kepadaku, agar aku tidak membenci mereka tapi hati kecil ini sangat sakit. Dan aku tahu mas Dava juga merasakan hal yang sama tapi ia tidak mau terlihat lemah.
"Aku bersumpah, akan aku balas perbuatanmu ibu dan juga anakmu Alexsa kita lihat saja nanti."
"Mas, maafin aku ya, aku tidak becus jadi istri dan ibu yang bisa menjaga anak kita, maafin aku mas." Ujarku sambil menangis, tapi dengan lembut mas Dava merangkulku dan memberi aku kekuatan.
"Isss, kata siapa kamu istri dan ibu yang tidak becus. Kamu ibu dan istri yang sangat sempurna, tapi ini sudah takdir jadi jangan salahkan diri sendiri, mas sangat mencintaimu. Sekarang kamu istirahat ya ini sudah siang mas mau keluar sebentar."
Selama empat hari aku dirumah sakit, tidak sekalipun ibu atau kedua kak ku datang menjenguk aku, bahkan hanya sekedar tanya kabar lewat telpon saja tidak pernah. Kalau aku ditanya sakit gak hati ini, tentu saja sakit bahkan tidak bisa aku ungkapkan hanya dengan kata-kata.
Sebenarnya aku pengen cepat pulang tapi dokter belum ijinkan entah kenapa. Setelah mas Dava pergi tidak lama pintu ruanganku di ketuk dan langsung di terbuka.
Tapi yang membuat aku heran adalah, masuk seorang perempuan parubaya yang terlihat umurnya tidak jauh bedah dari ibu, tapi lebih cantikan dan lebih fres perempuan ini. Kalau ibu mungkin karena arogan dan congkak makanya muka terlihat tua. Padahal umur masih empat puluh lebih.
Aku menaikan kedua alisku karena perempuan itu masuk langsung melempar senyum manis dan terlihat sangat tulus kepadaku, tapi yang membuat aku binggung, kok kayak perna lihat dimana ya. Muka gak asing gitu.
"Siang nak." ia langsung menyapaku
"Siang bu, maaf ibu siapa ya" tanyaku Bukannya menjawab tapi ia mala bicara sendiri
"Ternyata Dava pintar milih istri ya, tidak hanya cantik tapi juga baik hati"
"Deg....." siapa ini kenapa dia tahu nama mas Dava, apa ini keluar mas Dava.
"Makasih bu, tapi sekali lagi maaf boleh tahu ibu siapa."
"Aku ibu Zia! Ibu kandung Dava, maaf ibu ketemu kamu disini, tapi ibu tidak bisa lama ini buahnya di makan ya, dan titip pesan untuk Dava. Tolong bujuk dia pulang kerumah, ibu dan ayah rindu sekalian kamu juga harus ikut, ibu menunggu kepulangan kalian berdua."
"Deg...." kenapa hal sebesar ini, mas Dava menyembunyikan dariku.
Asli aku benar-benar terkejut, mendengar penuturan ibu Zia, karena selama ini mas Dava sama sekali tidak perna cerita kalau orang tuanya masih hidup. Membuat aku penasaran karena sepertinya aku perna lihat orangnya dimana ya.
"Bu maaf kalau aku lancang. Tapi aku sepertinya perna lihat ibu dimana ya, wajah ibu tidak asing, oh iya hampir mirip dengan istri orang terkaya nomor satu dinegara ini, iya benar aku tidak salah. Tapi setahu aku namanya Aprilia apa gitu pokoknya masih ada lagi namanya" ujarku membuat perempuan paru baya itu tertawa lepas.
"Kamu ini lucu ternyata ya, kamu mungkin salah lihat orang, tolong sampaikan salamku ya nak sama Dava. pokoknya ibu menunggu kalian." titahnya dengan lembut sambil mengelus kepalaku membuat aku rasanya nyaman sekali.
"Ya Allah, seandainya ini ibuku mungkin aku sangat bahagia, tapi sayangnya itu tidak mungkin. Hanya karena harta dan takhta ia berani melakukan kejahatan terhadapku sampai aku kehilangan anakku.
Akhirnya, perempuan paru baya itu pergi.
Singkat Cerita. Akhirnya aku dibawah pulang oleh mas Dava kerumah. Tapi pas kami sampai dirumah, mala aku dan mas Dava di hujani dengan hinaan. Aku sudah bertekat untuk keluar dari rumah ini, setelah ayah besok pulang dari luar negeri.
Tapi sayangnya, bukan ayah yang pulang melaikan jasadnya. Hari yang paling menyedihkan buat aku. Tapi apapun itu aku Iklas, dan sampai pembagian harta. Aku sudah menduga sejak awal bahwa aku tidak akan dapat apa-apa. Dan benar saja. Namaku tidak terdaftar di wasiat ayah.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 458 Episodes
Comments
S H 10
Sabar aja dulu Dinda..
2025-01-21
0
Adhy Jie Tho
auto eror 🤣😄🤣😄🤣
2024-08-03
1
uchiha gaming
alur cerita nya maju mundur ny ke panjangan, agak kesel baca ny .
2023-12-11
2