Hari dan waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba. Tepat jam sembilang pagi, seorang pria tinggi perawakannya dengan stelan jas hitam. Duduk diruang tengah.
Semua keluarga besar! baik kak ipar, dan suaminya. Adik kandung ayah mertua dan istrinya. Bahkan bu Anjani. Sudah duduk berjejer didepan dengan senyum mengembang di bibir mereka, hanya bu Anjani yang. Tatapannya datar tanpa senyum.
Tapi tidak untuk istriku. Saat ini dia masih setia duduk dikamar bersama denganku." Sayang! Kamu gak keluar? Semua keluarga sudah menunggu. Tinggal kamu loh." jelasku
"Menurut mas. Apakah aku harus gabung dengan mereka"? Aku hanya mengangguk kepala, tanda bahwa aku sangat setujuh.
"Dinda! Keluar, semua orang sudah menunggu diruang tengah. Kamu mala keasyikan dengan suami kamu di kamar, dasar! Cepat ditungguin ibu!" belum juga Dinda! Keluar, suara bariton kak ipar sudah menggelegar di depan pintu. Aku berpikir sejenak, katanya keluarga terhormat tapi gak memiliki etika dan didikan yang baik.
Dinda, keluar dan meninggalkan aku sendirian di kamar. Gak enak kalau aku keluar, untuk apa juga, mereka tidak menganggap aku ada. Takutnya kalau aku keluar, pikir mereka aku juga mau dapat warisan hahahaha.
Saat Dinda keluar, aku berdiri di belakang pintu. ingin mendengar apa yang mereka bicarakan. Dan benar saja bu Anjani! langsung buka suara" Dinda! Sebelum pak Dendy baca surat wasiat dari ayah. Ibu mau kamu jawab persyaratan yang sudah ibu katakan semalam!" titah bu Anjani dengan suara datar tapi penuh penekanan.
"Hmmm....maaf bu! Jawaban Dinda, Masih sama seperti semalam. Gak ada yang beruba dari jawaban itu!" hatiku terenyuh ketika mendengar jawaban istriku. Ternyata dia tetap pengang pada perkataan dan komitmennya. Padahal bisa saja dia mengusir aku dari sini dan mendapatkan warisan. Tapi tak ia lakukan.
"Baiklah! Kalau memang itu keputusan yang sudah kamu ambil, ibu tidak maksa! Tapi itu artinya kamu bukan bagian dari keluarga ini!"
"Hala....jangan harap kamu dapat warisan ayah. Aku harap kamu gak dapat bagian!" ujar Dea kak kedua Dinda.
"Haha....kak tenang saja, mau saya dikasih atau gaknya tetap sama gak dapat apa-apa. Jadi untuk apa aku berharap kalau ujung-ujungnya aku kecewa."
"Diam!....Saat ini aku tidak ingin mendengar perdebatan" bentak bu Anjani menghentikan perdebatan antara Dinda dan Dea.
Pria yang mengenakan stelan jas dengan rapih. Sudah bergabung disana juga dari tadi angkat bicara Dia adalah Dendi, pengacara sekaligus orang kepercayaan Ayah mertua. Yang akan menyampaikan surat wasiat dari ayah mertua.
"Aku tidak akan lama basa basi. Disini wasiat dari Tuan Evan! yang sudah sejak lama tersimpan. Wasiat tersebut adalah harta warisan dan siapa yang akan mendapatkan bagian!" jelas Dendy.
Pria tersebut bergeser dan membenarkan posisi duduknya, sebelum membaca surat wasiat. Ia memengang selembar kerta yang ada di tangannya.
"Disini tertulis wasiat dari Tuan Evan! bahwa yang mendapatkan Warisan paling banyak adalah Dea dan Alexsa. Putri pertama dan putri kedua, aset berupa enam unit apartemen, lima unit hotel, enam restoran, empat butik dan yang terakhir perusahaan diserahkan ke tangan nyonya Anjani dengan aset yang masih tersisa."
"Soal wasiat untuk putri bungsu Tuan Evan yaitu Nona Dinda maaf! Tidak ada tertulis nama nona didalam surat wasiat"
Kata pak Dandy! kepada Istriku, tapi istriku tetap tenang dan tersenyum. Tapi aku tahu, senyum istriku adalah senyum terluka." Tidak masalah pak Dendy! Asal surat wasiat itu benar adanya, yang diwasiatkan oleh ayah saya. Saya hanya takut kalau ada oknum lain yang sudah memutar balikan wasiat itu. Tapi demi Allah dan Demi almarhum ayah aku iklas." jelas istriku
"Dinda! Wajar jika kamu tidak dapat apapun, sebab tidak ada yang dibanggakan dari dirimu. Jadi ayah itu tahu siapa yang pantas mendapatkan warisan dan siapa yang gak pantas." jelas Alexsa
"Betul. Kamu hanya istri seorang pria miskin yang merepotkan selama ini. Lihat aku dan Dea. Kami berdua adalah anak ayah yang paling sukses, kami memiliki Pencapaian masing-masing yang dapat membuat ayah dan ibu bangga sedangkan kamu?"
"Tidak ada. Pencapaianmu hanya dapat menikah dengan rakyat jelata yang bisanya hanya nguli. Hahahaha!" Alexsa tertawa terbahak-bahak di ujung kalimat yang diucapkannya, turut ikut serta yang lain.
Aku mengintip cari Cela pintu, melihat Istriku duduk dengan tenang ditengah-tengah keluarga besarnya, aku tahu saat ini hatinya hancur. Tapi demi menunjukan kekeluarga besarnya, dia menguatkan dirinya.
Aku salut sama istriku! Dia perempuan yang paling kuat. Dan juga pemberani, berani melawan keluarga besarnya. Terutama ibu Anjani.
"Karena kamu bukan bagian dari keluarga ini. Kamu bisa pergi dengan suami kamu yang miskin itu dari rumah ini, biar aku mau lihat tidur dimana kamu."
"Ya tidur di pinggir jalanlah pasti" jelas Dea
" Cukup!.......Aku juga gak butuh harta atau bagian apapun dari keluarga ini. Jadi kalian tak perlu risaukan aku, karena aku dan suamiku akan pergi dari sini. Ingat! Kami tinggal disini itu karena permintaa ayah. Tapi sekarang ayah sudah gak ada, untuk apa aku hidup disini. Dan untuk mu ibu anggap saja. Dinda sudah mati jangan perna berpikir kalau aku akan kembali kerumah ini." Bentak Dinda membuat bu Anjani kaget.
Aku salut sama keberanian Dinda. Istriku, kali ini aku baru melihat Dinda menentang sang ibu. Selama kami menikah Dinda tidak pernah sekalipun melawan bu Anjani.
"Oh. Jadi sekarang kamu mulai membangkang , ya. Ok baiklah tidak masalah itung-itung bonus untuk kamu. Karena gak dapat apa-apa. Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu, jika tidak ada seorangpun keluar dari rumah ini tanpa perintah dari aku. Karena kamu tidak dapat hak waris, dari ayah kamu tidak masalah kamu diijinkan tinggal disini. Tapi biarkan suami kamu yang miskin itu pergi dan mencari uang untukmu.
"Tidak....aku tidak mau. Jika suamiku keluar dari rumah ini, aku sebagai istrinya juga harus ikut kemanapun ia pergi."
Karena aku mendengar perdebatan antaran Dinda dan bu Anjani, aku takut terjadi sesuatu terhadap Dinda sehingga aku memutuskan untuk keluar. Menemui istriku.
Tapi baru saja langkah kaki sampai di pintu. Alexsa, menatap aku dengan tatapan ngejek.
"Hay, Dava! Kenapa kamu berdiri disitu apakah kamu mau mendapatkan warisan juga? Dinda saja tidak dapat apalagi kamu yang hanya benalu dirumah ini."
Seketika aku mendapatkan perhatian dari semua orang yang ada di ruang tengah. Karena pertanyaan Alexsa
"Boleh, kalau kamu ingin mendapatkan harta warisan. Tapi Kamu serta istrimu harus bertelanjang bulat, baru merangkak dan cium setiap kaki kami semua yang ada di ruangan ini, karena hanya itu yang pantas untuk rakyat jelata seperti kalian." ujar saudara ipar yang bernama Kenedy suami dari Alexsa. Lagi-lagi semua orang ikut tertawa termasuk bu Anjani.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 458 Episodes
Comments
Abdul Hakim
masa semua keluarga begitu serakahnya,
2025-03-04
0
S H 10
Sok sombong amat dehh..
2025-01-21
0
Dessy Lisberita
thoor bener"deh bahasa nya kaka gitu bukan kak
2023-11-30
1