Setelah pergi kepergian Andy, aku termenung. Memikirkan setiap kataan dan kalimat yang Andy lontarkan barusan, apa benar aku sudah melakukan banyak kesalahan. Tapi kalau di pikir-pikir memang benar. Apa yang dikatakan Andy tadi. Karena kisah kami berdua hampir mirip.
Ah...aku lupakan dulu masalah ini sementara waktu. Sekarang aku harus fokus kerja. Agar aku bisa cari tempat tinggal sementara untuk aku dan istriku tinggal. Karena aku kuwatir kalau istriku tetap tinggal di rumah besar itu. Kasian Dinda! Pasti dia dirumah itu mengalami banyak tekanan.
Aku bangkit dari duduk dan gegas kekamar mandi. Bersihkan dulu tubuh ini sebelum berangkat kerja, agar lebih segar walaupun kerja di tempat yang kotor. Bukan dalam arti tidak perlu mandi.
Seuasai aku mandi, ternyata aku mendapati andy juga sudah bersiap untuk berjalan ke proyek. Ndi..".kamu sudah mau berangkat. Tungguin aku biar kita bareng aja" ujarku Karena mes tidak jauh dari proyek jadi jalan kaki juga bisa.
Karena semenjak aku pergi meninggalkan kemewahan, aku belajar menjadi rakyat biasa!
Andy juga nurut aja, Dan ia menungguku tapi entah kenapa tiba-tiba tidak enak perasaanku. Pikiranku langsung tertuju kepada istriku, yang saat ini ada di rumah keluarga besarnya.
Setelah selesai aku bersiap, aku dan Andy jalan kaki ke proyek. Namun lagi-lagi langkah ini terhenti saat melihat pak Erik kembali lagi. dari jauh ia sudah melihatku dan langsung menghampiriku. Hmmm kesal jadinya.
Karena andy juga melihatnya ia langsung bertanya" Eh Dev...itu loh orang yang kemarin datang mencarimu, ternyata dia datang lagi."
"Humm entahlah Ndi..ada urusan apa orang ini. Menganggu aja, padahal kita mau kerja."
"Saranku Dav, kamu temui dia. Kalau ada masalah selesaikan dengan kepala dingin."jelas Andy. Andy ini setiap perkataan yang keluar dari mulutnya selalu bermakna dan tepat sasaran.
Karena aku melihat pak Erik! sudah didepan mata. Jadi aku tidak bisa mengelak lagi mau berbalik juga tangan aku mala di cekal oleh Andy. Ia mau aku selesaikan masalah dengan baik. Katanya sebagai laki-laki yang bertanggung jawab. Jangan suka lari dari masalah.
"Dav mau kemana kamu, jangan lari dari masalah. Jika kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Selesaikan."
"Tuan Muda Dava......." panggil pak Erik membuat mata Andy membulat sempurna ia kanget, pak Erik! Memanggil aku dengan sebutan itu, mala Andy belum pergi lagi.
Aduh kenapa harus ada Andy sih disini ketahuankan jadinya. Jadi tidak bisa aku salahin dia juga sih, tadi aku yang minta dia tungguin aku.
"Mau apalagi pak Erik kesini, bukankah saya sudah bilang sama bapak. Kalau saya tidak akan pulang."
"Tuan! Tolong bantu saya Tuan, sekarang nyonya besar sakit. Ia selalu memanggil nama Tuan muda!"
"Pulanglah pak Erik! Dan katakan kepada nyonya anda kalau aku tidak bisa pulang, aku sudah punya istri." tekanku.
"Pesan nyonya dan Tuan besar. Tuan muda pulang Sekalian bawah Nona, Tuan! mereka juga mau lihat mantu mereka."
"Tidak....aku ti..."
"Dava......" belum selesai aku berucap. Suara bariton seseorang yang sangat aku kenal dan aku rindukan mengema di telingaku.
"Deg......" Ya Tuhan ternyata pak Erik bohongi aku kalau ibu sakit. Aku menatap pak Erim dengan tatapan intimidasi tapi pak Erik hanya bergeming.
Sedangkan Andy yang masih berdiri disampingku, makin dibuat terkejut. Kemungkinan ia kenal ibu, karena selama ini ibu dan ayah selalu viral di dimana-mana, sedangkan aku. Ibu dan ayah takut! Kalau aku dicelakain oleh pesaing bisnis ayah. Jadi aku gak dipublikasihkan. Kemuka publik Makanya aku gak dikenali banyak orang.
"Da...Dav...ja..jadi i..ini ibu kamu Dav? Berarti kamu anak orang kaya nomor satu di negara ini." Andy langsung mundur kebelakang menjauh dariku, mungkin karena ia mulai minder tapi dengan sigap aku rangkul Andy.
"Mau lari kemana kamu."
Sedangkan ibu...gegas melangkah mendekatiku dan langsung memelukku. Namun entah kenapa aku sama sekali tidak membalas pelukan ibu.
Tapi yang membuat aku terkejut dan sekaligus panik, pelukan hangat yang aku rindukan itu tidak tahan lama. Ibu mala melorot kebawah dan terjatuh tepat dikakiku, belum selesai kepanikanku, aku melihat darah keluar dari mulut ibu. Aku langsung panik dan sekuat tenaga aku mengendong ibu, dibantu oleh Andy dan pak Erik. Kami langsung menuju ke rumah sakit.
" Ibu sadar bu, sadar...Dava ada disini bu, bukankah ibu kangen sama Dava! bangun bu.." tiba-tiba teringat kembali kata-kata yang di sampaikan Andy. Membuat aku makin panik aku takut terjadi sesuatu sama ibu.
"Ibu bagunnnnn!......jangan tinggalkan Dava bu!....."Aku menangis milihat wajah ibu begitu pucat karena kepala ibu aku baringkan di atas pangkuankun sepanjang perjalanan aku tak berhenti berdoa semoga ibu sehat kembali.
"Pak Erik....tolong cepatan sedikit mobilnya," Karena aku takut terjadi sesuatu sama ibu aku menyuruh pak Erik untuk cepat.
"Maaf Tuan muda ini agak sedikit macet."
aku melihat pak Erik keluarkan hpnya dan langsung telpon seseorang.
"Tolong kalian melewati kami untuk memberikan jalan di depan! nyonya sakit berat, kita harus sengera cepat sampai di rumah sakit"
Ternyata yang pak Erik telpon adalah pengawal ibu. Aku lihat ada satu mobil empat orang didalam, dua orang turun dari mobil dan menghalau kendaraan yang lewat, untuk memberikan jalan jadi ternyata berhasil kami melewati kemacetan itu.
Tapi hatiku sakit melihat kondisi ibu begini. Sangking paniknya aku lupa kalau Andy juga ikut. Aku gak sadar ternyata Andy juga dari tadi turut ikut. Dan dia sedari tadi perhatikan aku. "Dav kamu sabar nyonya pasti baik-baik saja, asal kamu mau kembali kerumah bawah istrimu, aku yakin orang tua kamu pasti tahu sesuatu tentang rumah tanggah kamu. Makanya ibu kamu sampai begini."
Kenapa setiap kali Andy berikan saran selalu tepat. Apa lagi ayah banyak orang kepercayaan jadi gampang sekali cari tahu sesutu. Atau jangan-jangan ada mata-mata di rumah Dinda.
Tak lama kami sampai dirumah sakit ternyata dokter dan suster sudah tunggu didepan loby pasti ini kerjaan anak buah ayah. Lagian ini rumah sakit ayah juga jadi semua dokter dan suster kenal ibu dan ayah, kalau aku jarang.
Dokter berikan penanganan yang terbaik untuk ibuku. "Baik Tuan muda tenang dulu ya."
Dokter dan suster langsung membawah ibu kedalam rang IGD tapi kami gak diijinkan.
Aku benar-benar takut kehilangan ibu, maafkan aku bu, aku janji apapun yang ibu minta akan aku turuti asal ibu sehat. Tolong bu jangan tinggalkan Dava" aku menatap pak Erik yang ada di sampingku. Bersama Andy.
"Pak sejak kapan ibu sakit, kenapa pak Erik tidak pernah membritahuku pak, ini sudah parah pak penyakit ibu. Kenapa gak diobati sama ayaj sih."
"Maaf Tuan muda! Bukannya Tuan besar tidak bisa mengobati Nyonya, hanya saja nyonya selalu menolak! Nyonya hanya mau berobat kecuwali Tuan muda ada."
"Deg....." seperti tertusuk seribu belati diulu hati ini mendengar penuturan pak Erik, begitu besarkah rindu ibu terhadapku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 458 Episodes
Comments
S H 10
Astaga.. /Whimper//Whimper//Whimper//Whimper//Whimper/
2025-01-21
0
OI
demi ego nyiksa org tua, anda bnr2 anak yg berbakti hahahah
2024-10-02
0
Selvanus Sengiang
sebagai anak apa lgi diposisi yg salah sebaiknya jgn terlalu ego
2024-07-13
1