Aku memeluk ayah dengan bengitu erat. Rasanya tidak ingin melepaskan pelukan ini, apalagi saat ini hatiku memang benar-benar hancur, entah kemana perginya istriku sampai sekarang belum ada kabar baik dari anak buah pak Erik.
Ditambah dengan ibu saat ini masih dalam keadaan kritis, membuat perasaanku kacau. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya berharap ibu cepat sadar dan Dinda cepat ketemu, aku janji akan bawah Dinda pulang kerumah ayah dan ibu, setelah itu baru aku belikan dia rumah dan mobil yang dia mau. Karena ini adalah tekadku, aku akan membalas perbuatan keluarga istriku itu.
Hampir tiga puluh menit aku berpelukan dengan ayah, aku pikir ayah pasti marah sama aku tapi justru pikkran aku salah, ayah justru merangkul aku dan menyuruh aku pulang ke rumah bersama Dinda. Karena katanya ayah sudah menyediakan rumah baru untuk kami berdua.
Ya Tuhan, betapa bahagianya aku, mendengar perkataan ayah. Ternyata aku yang tidak tahu diri hanya mengikuti keegoisan aku saja.
"Nak..mana mantu ayah? Setelah dari sini cepat jemput dia dan bawah kerumah, karena ayah sama ibu sudah beli rumah baru untuk kalian berdua."
"Jangan biarkan istrimu tinggal di keluarga biadab itu, ayah takut istri kamu kenapa-kenapa" tegas ayah bicara. Ternyata ayah belum tahu kalau saat ini aku juga tidak tahu dimanaDinda sekarang , aku memikirkan itu saja kepalaku oleng.
Aku harus cerita sama ayah soal Dinda siapa tahu ayah kirim lagi para pengawal yang banyak untuk mencari Dinda.
Setelah kami berdua duduk tenang, barulah aku bicara.
"Ayah..boleh Dava minta bantuan ayah? Saat ini Dava butuh pertolongan dari ayah".
"Apa yang gak perna ayah lakukan untuk kamu nak, apa yang ada pada ayah saat ini, adalah milik kamu. Jadi apapun yang kamu minta ayah pasti berikan asal itu bukan hal yang jahat."
"Tidak ayah...ini bukan hal jahat, ini soal istriku ayah"
"Istri kamu kenapa rupanya nak ceritalah."
"Istriku di siksa dan kurung sama keluarganya ayah. Tapi untung dia berhasil kabur dan sampai sekarang Dava tidak tahu dia dimana ayah! Dava binggung."
"Apa....istri kamu di siksa! bagaimana bisa nak!" ayah begitu terkejut mendengar kalau Dinda disiksa dan hilang, terlihat sekali di wajah ayah langsung merah dan penuh amara."
"Ternyata keluarga Winata mau main-main sama saya, akan saya hancurkan kalian! berani sekali, belum cukup kalian menghina dan menindas anakku dengan mantuku bahkan kalian juga yang membuat saya kehilangan cucu pertama. Sekarang kalian justru berani menyiksa mantuku."
Ya Tuhan....jadi selama ini ayah sudah tahu aku diperlakukan seperti apa di keluarga itu. Aku pikir selama ini ayah dengan ibu gak peduli sama aku tapi ternyata aku salah. Justru mereka yang memikirkanku, Maafkan aku bu, ayah."
Ayah langsung mengambil hpnya dan menelpon seseorang, aku tahu itu pasti pengawal ayah.
"Hallo.....tolong perintahkan semua anak buah kamu, dan pengawal untuk berpencar mencari Dinda mantu saya! Sampai ketemu dan setegah jam lagi saya akan menerima telpon."
"Siap Tuan."
Aku dengar ayah memberikan perintah kepada pengawalnya dengan tegas, memang ayah orangnya sangat tegas. Tapi juga murah hati, aku salut dan bangga memiliki orang tua yang baik seperti ayah dan ibuku.
Setelah selesai telpon ayah menoleh dan menatapku." kamu tenang aja, istrimu pasti baik-baik saja ayah yakin dia pasti mencarimu nak. Semoga pengawal ayah cepat menemukan istri kamu"
"Iya ayah, oh ya ayah! bagaimana mungkin sakit ibu separah ini, kenapa ibu gak berobat ayah. Kasian ibu yah. Ibu berbaring lemas didilam ruang IGD." ujarku senduh
"Dav!....bukannya ayah tidak peduli terhadap ibu, tapi ibu tidak mau dibawah berobat sama ayah, setiap kali ayah mengajak ibumu, ibu kamu selalu menolak dan bilang kalau kamu akan pulang dan membawahnya ke rumah sakit "jelas ayah.
Aku melihat mata ayah mulai berembun pasti ayah juga merasa terpukul dengan kondisi ibu seperti itu.
Tapi pas aku mendengar penuturan ayah, rasanya hancur berkeping-keping hati ini. Aku sangat merasa bersalah terhadap ibu, ini semua terjadi karena aku. Coba aku tidak egois waktu itu , dan mau pulang kerumah mungkin ibu tidak berada di tempat ini.
Aku, ayah, Andy dan pak Erik masih setia duduk di depan ruangan ibu, tiba-tiba seorang dokter datang sembari berkata" Tuan..jika Tuan mau menjenguk nyonya sudah bisa, yang penting jangan banyak orang satu-satu aja masuk."
"Baik dokter" pinta ayah.
Setelah dokter pergi ayah menatapku, mungkin ayah bisa membaca pikiranku, kalau saat ini aku sangat mengkuwatirkan ibu.
"Nak..kalau kamu mau masuk, kamu duluan saja nanti gilaran kamu keluar barulah ayah masuk, pergilah lihat ibumu karena ayah yakin jika ibu kamu sadar pasti orang yang pertama kali dicari adalah kamu anaknya bukan ayah, bukan karena ibumu gak sayang sama ayah. Tapi karena ia sangat merindukanmu."
Rasanya hati ini tercabik-cabik...aku anak yang tidak tahu diri dan sudah durhaka terhadap ibu. Dan ayah tapi pas ketemu sama mereka justru dalam kondisi seperti ini. Aku dengarkan perkataan ayah. Dan aku masuk menjenguk ibu. Setelah aku pakai baju steril baru aku menemui ibu.
Sakit sekali hati ini melihat ibu terbaring lemas diatas ranjang rumah sakit tubuhnya di penuhi alat..rasanya aku tidak kuat melihat itu, kenapa bukan aku yang ada disitu yang mengantikan posisi ibu.
Tidak terasa air mataku lolos keluar. Aku melangkah mendekati ibu hanya bunyi alat-alat yang aku dengar, aku duduk disamping ibu dan menangis rasanya pedih banget, ku gegam tangan ibu.
"Bu..bangun bun...bukankah ibu merindukan Dava? Bangun dan peluk Dava lagi. Bicaralah bu dengan Dava jangan diam. Bu Dava janji sama ibu Dava akan melakukan apapun itu yang ibu minta....apapun...asal ibu sembuh! Dava sangat merindukan ibu..ibu tahu menantu kesayangan ibu hilang Dava juga binggung kemana lagi harus mencarinya bu. Bangu bu biar bantu cari."
"Sekarang hanya ibu ayah dan Dinda harapan Dava. Terus kalau ibu tidak mau bagun siapa lagi yang jadi teman curhat Dava bu. Dinda juga belum pulang, pokoknya Dava janji apapun yang ibu minta Dava akan melakukannya"
Aku sudah panjang lebar bicara dengan ibu, tapi tidak ada perubahan sedikitpun, kondisinya masih sama, hatiku mencolos melihat ibu yang melahirkan ku terbaring lemas tidak berdaya, entah sampai kapan ibu sadar dari masa kritisnya, tapi tadi sebelum aku masuk kata dokter semoga ibu secepatnya sadar. Dan itu harapkan kami bersama semoga ibu cepat sadar, dan Dinda istriku juga cepat di temukan agar kami bisa berkumpul bersama lagi seperti semula dan aku akan membawahnya kerumah ayah,ibu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 458 Episodes
Comments
S H 10
adehh.. 😭😭😭😭😭😭😭
2025-01-21
0
Selvanus Sengiang
menjadi inspirasi buat anak-anak
2024-07-13
1
♛★★★★★★SAINTSWORD★❃★★★★★★★★
sebenarnya aku paling benci kalo novel yg membuat seorang ibu menangis apalagi sampai sakit
2024-04-26
1