Bab 19

Leha membersihkan bagiannya. Saat awal datang, sekitar dua mingguan lalu, ia telah bertemu dengan Bu Narti juga Mbak Wanda, kepala OB di Lewi Corp.

Penerimaan Leha begitu cepat, karena ia harus menggantikan karyawan yang cuti melahirkan dan keluar. Mbak Wanda menerangkan mana saja tugas Leha.

Ia satu tim dengan Sari juga Enda, bertugas untuk membersihkan ruangan lantai H.

"Selesai Ha," Sapa Enda yang juga baru selesai membersihkan ruangan sebelah. Pemuda dengan poni lempar itu berjalan disebelah Leha. Ia mencentang kertas miliknya.

"Iya Bang" Leha mendorong alat tempur miliknya. 

"Laper!" Teriak Sari yang keluar dari toilet. 

"Makan dimana kita Ha?"

Sari merangkul pundak Leha. Leha hanya mengedikkan bahunya. Sari seumuran dengannya, Walau ia telah dua minggu bekerja, namun ia hanya tahu beberapa tempat makan yang sering ia kunjungi.

"Udah jam berapa sih?"

"Jam 12 lewat 15" Enda menyambar.

"Makan dimana kita bang? pengen makan yang seger-seger"

"Bakso pak kumis? Soto bu Sri? atau ke Rujak pak gendut?"

Enda memberi pilihan yang ia ingat saja. 

"Apalagi yang seger selain itu?"

"Soto mie, pengkolan ujung aja, lagi pengen, kayaknya seger banget nggak sih?" Seorang wanita ikut nimbrung. Dewi.

"Wah boleh juga! Ngidam mbak?"

"Iya nih, bawaan bayi"

"Mbak Dewi, mau ikut kesana atau di bungkusin aja?"

"Makan langsung kesana ajalah, nanti kalau bungkus malah nggak aku sentuh"

Resepsionis yang Leha temui saat pertama ia datang ke kantor ini. Wanita cantik itu baru setahun menikah. Dan sedang mengandung 5 bulan. Wajahnya tampak berseri merona khas ibu hamil cantik.

Mereka ber-enam, bertambah dua lagi personil yang ingin ikut makan siang. Ujang dan Nilam. Tempatnya tidak jauh dari kantor. mereka berjalan bersama.

Ditempat, ternyata ada beberapa teman sesama karyawan Lewi yang juga makan disana. Dan segerombolan para menggosip, yang heboh mengobrol. Leha tahu dari Sari dan Nilam.

"Mas Edna! Ujang! Sini gabung sama kita aja" teriak salah satu gerombolan penggosip genit itu.

Jam makan siang. Jangan harap ada bangku warung yang kosong. Tapi ada satu meja yang baru saja di tinggalkan.

"Udah ketebak, ngincarnya siapa," bisik Sari pada Leha. Ia menatap sebal dengan gerombolan itu. Yang juga menatap Sari tak suka.

"Itu kosong, ayo mbak Dewi, rejeki bayi nih kayaknya,"

Leha menarik lengan Dewi pelan. Sari dan Nilam mengikuti Leha. Begitu juga dengan Enda menolak ajakan Rahmi, yang tadi menawarinya bergabung.

Wajahnya wanita itu langsung cemberut saat Ujang juga lebih memilih duduk di meja Leha.

Kelompok itu mulai melirik tak suka pada meja Leha. Bukan hanya Rahmi tapi semua yang berada di meja itu. Leha menatap mereka.

"Anak baru ... "

Duileh macam bocah sekolah aja, musuh satu orang jadi musuh satu kelompok. Pikir Leha. Ia tak peduli jika ia jadi bahan gibah, lagi pula mereka bekerja di bagian yang berbeda dengannya.

Mangkuk soto mie panas berada di depannya. Isinya penuh menunpuk. Ia tak tahu jika begitu melimpahnya.

"keliatan endulkan??" Sari menaik-naikkan alisnya.

"Ah segeeerrr"

Sari menyusrup kuah soto miliknya. Yang sama isinya menggunung. Leha pesan sama persis seperti milik Sari dan Nilam, mereka meminta tambahan risol bihun dalam soto mienya.

Dan benar, Leha menyukai makanan pedas. Ia menambah banyak sambal juga kucuran jeruk nipis. Leha makan dengan lahap. Dewi yang melihatnya ikut makan dengan lahap.

"Untung aku ikut kalian. Lihat Leha selahap tadi jadi ikut ngiler. Ikutan lahap jug akhirnya. Dan ini pertama kalinya aku makan sampai habis. Sejak kehamilan"

"Kayaknya aku bakal sering makan bareng kalian" Ucap Dewi dengan mengelus perutnya.

***

Leha menyiapkan minuman yang Rena pesan. Beberapa minggu bekerja di Lewi Corp. Leha belum sekalipun bertemu dengan Isak.

Menurutnya itu lebih bagus. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu dengan Isak. Kalau bisa Ia tak ingin bertemu dengan Isak. Tapi tak mungkin, mereka satu kantor. Dan semakin tak mungkin, karena Leha bertugas membersihkan ruangan Isak.

Leha membawa baki menuju lantai Isak. Peluhnya turun dari pelipis. Bagaimana, bagaimana dan bagaimana, dalam hatinya gelisah. Ia melihat Sari berjalan dengan senyum cerianya.

"Sar, tolongin, Sar, ini kasih ke ruangan bos Isak"

Leha langsung meletakkan  baki ditangan Sari yang bingung. Ia menatap Leha yang gelisah.

"Mules! Gue mules!" Ucap Leha ia pun kabur menuju kamar mandi.

Berkali Leha menghindar dan selalu saja ada penolong, seperti Sari. Memang semesta mendukung dirinya agar tidak bertemu dengan Isak.

Sore tiba, Leha mengenakan jaket hijau kebanggaannya. Kebiasaan serabutannya dulu. Ia melakukan 3 hingga 4 pekerjaan, salah satunya ojol.

Dan masih Leha lakoni hingga saat ini. Leha baru mencari penumpang saat pagi berangkat kantor dan pulang seperti sekarang.

Ia membuka layanan ojolnya, tak berapa lama, Leha mendapat orderan. Jam pulang kerja banyak dari kalangan kantoran yang membutuhkan ojol. Lebih murah dan sat set sat set menembus kemacetan ibukota yang tak bisa lagi masuk logika.

"Wah orang kantor nih." Ucap Leha.

Ia menjelajahkan pandangannya mencari siapa penumpangnya. Leha mengetik pesan kepada penumpangnya bahwa ia telah berada ditempat.

Ia menemukan sosok yang tak ingin ia temui di kantor, selama ini semesta mendukungnya, apa kali ini tidak lagi? Leha memutar tubuhnya membelakangi Isak. Bersiap kabur.

"Bukan dia pasti!" Ucap Leha bak robot.

Ia melihat ke arah ponselnya dan nama Isaac Ibrahim tertera pada akun penumpang yang ia terima orderannya, Bodohnya Leha, ia familiar namun tak menduga juga itu Isak.

Leha mendengar langkah kaki seseorang mendekat. Leha ingin kabur tapi kakinya seperti terpaku.

"Sholeha?"

Sapaan yang mau tak mau membuat dirinya berbalik. Cengiran ia perlihatkan pada Isak yang menatapnya terkejut.

"Kamu—"

Perkataan Isak terpotong dengan bunyi ponsel Leha. Nada dering winning dance milik Neymar **. Parado no bailão, mengalun kencang.

"Ya bah?"

Leha mengangkat dan bergeser selangkah menjauh. Ia melirik wajah Isak yang tak ramah. Tak mendengar apa yang Abahnya katakan di seberang sana Leha menutup sambungannya.

"Nanti dulu Bah bentar lagi Leha sampai rumah"

"Bapak Isaac Ibrahim? Ini helmnya"

Isak tak langsung mengambil helm itu. Ia menatap lama Leha. Ia melipat tangannya didada.

Layaknya seorang guru yang sedang memarahi anak muridnya yang ketahuan mencontek. Leha hanya menunduk tak ingin menatap tatapan sengit Isak.

"Kenapa kamu disini?" 

"Kamu sekarang jadi ojol?"

"Tunggu … "

Isak lebih mendekat. Ia menarik kerah baju seragam OB milik Leha.

"Kamu kerja disini?"

Ada nada tinggi. Lalu Isak mendengus. Ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan Leha.

Kembali musik parado no bailão terdengar, Ponsel Leha kembali berdering. Leha melihat Abahnya menghubungi. Cepat Leha matikan.

"Iya pak, nyambi jadi ojol, ini Pak helmnya."

Leha hanya bisa menyengir lebar, ia mengulurkan helm berwarna hijau, ia ingin cepat pergi dari kecanggungan ini.

"Saya cancel"

Isak kembali berkutat pada ponselnya.

"Bagus!" Jawab Leha kencang. Kemudian ia menutup mulutnya. Mendapatkan lirikan tajam dan menyipit dari Isak.

"Nggak jadi, mana Helmnya?"

Isak merampas helm yang Leha pakai. Lalu memakainya. Leha terbengong ditempatnya.

"Saya nggak mau pake yang bekas banyak orang, saya pakai punyamu aja!" Ucap datar Isak. Sangat menyebalkan.

"Ayo"

Leha seperti robot, tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. ia mengikuti apa yang Isak ucapkan. Leha membonceng Isak, mereka memasuki area macet.

"Kamu mau nipu penumpang ya?"

"Hah?"

Leha mengendara dengan kesal. Sedari tadi Isak mengajaknya berbicara. Tapi suara lelaki itu pelan. Leha tak mendengar apa yang lelaki itu ucapkan.

"Kamu nipu penumpangmu!" ucapan Isak dengan nada lebih tinggi.

"Nggak pak! Bapak jangan fitnah, fitnah lebih kejam dari kelaparan pak!" Jawab Leha dengan berteriak.

"Ini buktinya, foto akunmu beda dengan aslinya"

Isak ikut berteriak sambil menatap akun ojol milik Leha.

"Yaah kan namanya juga sekalian cari jodoh pak" 

Leha memelankan suaranya saat berkata "Cari Jodoh" Ia malu, memang fotonya pada akun ojol, ia poles sedemikian rupa agar menjadi lebih glowing shimmering splendid, Terima kasih pada si Beno, kang fotocopy pengkolan sebelah.

"Hah! Sekalian apa?"

"Cari jodoh" bisik Leha pelan.

"APAA?" 

"Car—"

"Nggak kedengeran, kalau ngomong itu kencengan!"

"CARI JODOH PAK!" 

"SEKALIAN CARI JODOH, LEHA!"

"BIAR CEPET ADA YANG KAWININ!"

Leha berteriak di saat berhenti menunggu lampu merah. Semua hening. Ia tak sadar banyak pengendara disampingnya yang ikut terkejut, sebagian terkekeh, sebagian melihat kasihan, Mendengar teriakannya.

Dan ponsel Leha kembali berdering kencang lagu yang sama. Dan cepat mengembalikan kesadaran Leha. Ia berteriak di antara banyaknya pengendara yang menunggu lampu merah.

Duh Gusti malu hamba! Batin Leha.

"Sama Bapak mau nggak neng?"

Kerlingan dari si pengendara depannya, membuat Leha bergidik. Ia beringsut mundur tanpa sadar.

"Sabar mbak, jodoh nggak kemana, tapi memang perlu dikejar, semangat!"

Seorang ibu-ibu yang berada disampingnya menepuk bahunya. Prihatin. Leha hanya mengangguk dengan cengiran seadanya.

Untung lampu lalu lintas dengan cepat berubah hijau.

"Mbak ini nomer saya, bisa sleepcall, saya juga suka bola"

Seorang pemuda menyelipkan kertas pada jemari Leha. Sebelum Leha menancap kencang kendaraannya.

"Kamu buat saya malu!" Desis Isak di dekat helm Leha.

"Bapa—"

Kembali Leha mendapatkan panggilan dari si Abah.

"Mending kamu angkat ponselmu itu! Berisik!" 

Leha menghela nafasnya, ia tak tahu kenapa Isak semakin cerewet. Apa ia datang bulan? Galak dan ketus padanya.

Leha menepi. Mereka turun, dan Leha mengangkat ponselnya.

"Iya Bah? Kenapa?"

"Pulang sekarang! Sekalian bawa ntu calon mantu abah yang di video! Sekarang!"

"Hah!"

Panggilan diputus sepihak. Leha dibuat bingung dengan semua kejadian hari ini.

"Video?"

Leha melihat pesan yang abahnya kirim. Matanya membulat. Ia mendengar desa han malas dari sampingnya. Leha menatap bergantian dari ponsel ke Isak. Dari Isak ke ponsel. Lelaki itu mengernyit. sebaris senyum tertarik dari bibir Leha.

"PAK PAKE!"

Leha dengan kasar memakaikan helm ke kepala Isak. Ia menarik Isak duduk di motor. Lalu dengan kencang Leha melajukan beatnya kesetanan.

"LEHA! APA-APAAN KAMU!"

Isak memeluk kencang pinggang Leha, seumur hidup, baru beberapa kali saja ia naik motor. Dan si wanita gila di depannya ini melajukan kendaraannya bak dikejar musuh.

"KALAU MAU MATI JANGAN AJAK-AJAK SAYA!"

"BAPAK! SAYA MINTA SYARAT KEDUA SAYA SEKARANG!"

"LEHAAAA … SAYA TUNTUT KAMU KALAU SAYA KENAPA-KENAPA!"

"WAAAAAHHHH …" 

Tbc.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!