Bab 10

"Tuan Isaac" 

Keduanya menengok ke sumber suara. Seorang wanita yang pernah Leha lihat saat makan di restoran, berjalan angkuh ke arah mereka.

"Apa kabar Tuan Isak?" Sapanya dengan senyum ramah, sangat ramah.

Alis Isak bertaut. Wajah memerahnya berangsur normal. Begitu pun debaran jantungnya.

"Siapa?" Tanyanya.

"Saya Nancy Gunawan. Kita pernah bertemu di restoran juga beberapa kali di perjamuan kantor."

"Hmm"

Wanita itu memperhatikan penampilan Leha dan mencibirnya. Sangat berbeda dengan dirinya yang trendi. Dari atas hingga bawah,  ia mengenakan barang brand terkenal.

Nancy tertawa mencibir, ia merasa menang dari kekasih Isak itu.

"Saya diminta tolong tante untuk mengantar mu keruangan yang tante sewa, Ayo"

Isak tak tahu jika ibunya akrab dengan Nancy-Nancy ini.

Nancy menyenggol keras bahu Leha, menggesernya jauh, agar ia bisa lebih dekat dengan Isak. Harusnya ini pekerjaan temannya, ia memohon agar dirinya saja yang menjemput Isak.

Ia tak tahu jika si kutil pengganggu juga ikut dengan Isak. Kembali Nancy memandang Leha sinis.

Lelaki itu sama sekali tak menanggapi obrolan Nancy namun sepertinya wanita dempul itu tak memiliki rem pada mulutnya. Ia terus saja berbicara.

Nancy tentu saja tak akan melewatkan kesempatan bisa berdekatan dengan Isak. 

"Ah, begitu"

Itu tanggapan Isak jika dirasa perlu, lagipula pikirannya masih berada pada kejadian beberapa menit yang lalu. Dan sedikit banyak ia berterima kasih dengan kemunculan Nancy.

Isak merasa lega bisa lolos dari Leha. Wanita itu semakin berani padanya, Bagaimana bisa? Dadanya berdegup tak karuan hanya karena wanita heboh seperti Leha.

Nancy mengarahkan mereka pada sebuah mobil golf, tentu saja Leha kedapatan duduk di kursi belakang menghadap keluar.

Leha tak bisa diam, ia tak mengira bisa menaiki mobil golf, ini pertama kali dalam hidupnya. Ia berselfie ria. Mengabadikan banyak momen.

"Bang! Liat sini!"

Kamera Leha arahkan pada wajah Isak namun lelaki itu tak menanggapinya. Isak menghindari Leha. Tapi tetap, Leha menjepretnya dan mengirim updatean pada Nima. Tawa ejekan keluar dari bibir Nancy.

"Kampung!" Ucap lirih,

Leha tak mendengarnya. Wanita itu sibuk dengan kamera ponselnya. Ia terkagum dengan taman yang berhambur bunga warna-warni. 

Isak melirik kaca spion tengah. Lagi. Memperhatikan tingkah Leha.

Teringat Rena, sekertarisnya itu telah meminta maaf  padanya, semua karena ulah Udin, sepupu Rena. Rena telah berbicara pada Leha. Saat kejadian, ia langsung menghubungi Rena. Karena Leha menyebut nama Rena terlibat.

Isak pun tak menyalahkan sekretarisnya itu. Ia juga yang lengah. Rena saat ini tengah berada di Jepang, berlibur akhir tahun bersama suaminya, Raka, yang juga sahabat Isak.

Rena tak bisa menghubungi Udin. Ia sama seperti Leha, sekembalinya ke Indonesia, ia akan memberi pelajaran pada si biang kerok.

"Jagain Leha bang, dia cewek baik-baik"

Isak mengingat perkataan Rena untuk menjaga Leha, ia kembali melirik kaca spion tengah, melihat kepala dengan wig keriting yang sibuk berfoto ria.

"Cih!"

"Isak kenapa?"

Isak melengos malas membuka suaranya pada Nancy yang bermulut yang tak memiliki rem.

Mereka sampai di sebuah lobby. Seorang pekerja membawa mereka menuju tempat yang Nima sewa.

Isak berjalan berdampingan dengan Nancy. Sedangkan Leha mengikuti dibelakangnya. Dengan rambut keritingnya berwarna cerah yang mencolok.

Banyak ornamen piala dunia. Dan sampai mereka pada sebuah pintu besar bertulisan Private Suite berwarna emas.

"Tuan Isaac, Saya Gilbert Hollman, penanggung jawab di Private Suite, kebanggan bisa berkenalan dengan Anda,Tuan Isak, Selamat menonton Tuan"

Gilbert, teman dari Nancy, ia tetap harus menyambut kedatangan Isak, ia mengulurkan tangannya, Isak menerima  uluran tangannya. Mereka saling berjabat tangan. Formalitas.

"Terima kasih Tuan Gilbert, senang berkenalan dengan anda"

Nancy mengedipkan matanya pada Gilbert dan lelaki itu mengangguk lalu pamit pergi. 

Leha curiga tapi kecurigaan lenyap saat Leha melihat sudut ruangan.

Makanan!

Leha melipir ke arah donat juga kue-kue manis.

Isah pun menjelajahi ruangan privat itu. Ia kira tak akan seramai ini. Ternyata ruangan berkapasitas  kurang lebih 40 an orang itu. Kecil tapi mewah

Ruangan mirip kamar hotel dengan sofa mewah dan dua meja untuk makan, bukan hanya itu, di dalam disediakan berbagai hidangan besar seperti lobster dan sushi terhidang.

Leha berdecak kagum dengan makanan yang disediakan. Ia menatap dengan lapar. 

Melirik ke kanan matanya menangkap pemandangan langsung mengarah ke lapangan bola yang hijau membentang.

"WOOOAAAHH … BANG! INI EMEZING!"

Leha langsung berlari ke dinding kaca itu. Menempelkan jidatnya ke kaca dan menimbulkan noda minyak pada kaca kinclong itu.

Leha menjauh dan seorang yang berdiri di dekatnya membuka handle pintu. Mempersilahkan Leha menuju tribun. Leha jelas terkejut ia tak menyadari kaca itu adalah pintu. Ia berlari ke tempat Isak berdiri.

"BANG! BANG! ITU … LIHAT! KITA BISA KE TRIBUN!"

"BANhmmn—"

Isak membekap mulut Leha.

"Berisik!"

"Kau lihat mereka terganggu!"

"Bisa tenang!"

Leha menatapi beberapa orang yang melihat kepadanya, ia pun mengangguk cepat. Dengan memperlihatkan jari tanda damai.

Isak melepaskan bekapannya. Dan Leha menarik dua jari Isak. Untuk keluar dan mencoba duduk di tribun paling depan.

"Astagah nikmat mana yang kau dustakan … jepret, jepret!"

"Isak, aku tak tahu kau suka bola? Kalau aku tahu dari awal aku akan mengajakmu" suara Nancy di lembut-lembutkan. Ia duduk di sebelah Isak. Memulai pembicaraan.

"Kau tahu kita satu sekolah dulu" ucap Nancy. Isak hanya fokus pada ponselnya, yang terus berdenting. Kiriman foto-foto dari Leha.

"Kau tahu, aku bertemu Welther kemarin, kau dulu cukup akrab dengannya kau ingat kan"

"Hmm … " sesekali Isak melirik Leha.

Leha memotret semuanya, ia membuat video dengan rasa haru.

Pertandingan dimulai.

Leha fokus pada pertandingan. Ia memantau aksi sang idola. Dan mulai bersunggut marah saat tim lawan selalu menghalangi idolanya untuk mendapat bola. Di babak pertama tidak ada gol dari kedua tim. Pluit tanda berakhirnya babak awal terdengar.

Perut Leha berbunyi. Ia beranjak dan mengambil beberapa kue-kue manis. Untuk membuat moodnya tak ikut lesu.

"Bang makan dulu"

Isak melihat banyaknya makanan manis yang Leha ambil.

"Kau makan semua itu?" Nancy melihat dua piring Leha yang semua berisi makanan manis. Ia kembali mencibir.

"Pantas lemak dimana-mana" ejeknya.

"Bang is juga nggak mau? Sini sini Leha tampung, ini enak banget"

"Dasar! Ini jelas enak, makanan kelas atas." Nancy tak akan sefrontal itu mengatai kekasih Isak di depan Isak.

"Pantes enak"

Piring Leha kosong, ia menenggak air botolan, tangannya mengulur, meraih piring Isak yang belum tersentuh. Namun tangan Isak menepis tangan Leha dan menahan piringnya.

"Mau apa?" Ucap Isak tajam.

"Mau makan" ucap polos Leha.

"Ini punya Saya!"

"Katanya nggak mau"

"Siapa yang bilang?"

Mereka saling tarik menarik piring.

"Bang Is ambil lagi kek"

"Nggak!"

Tangan Leha basah, air mineral yang ada di tangannya tumpah akibat sengitnya mereka saling tarik menarik piring, Leha menandaskan sisa airnya dan merekas botolnya. Mata Leha menyipit.

"Baaang!"

"Nggak!"

"Isak ini ambil punyaku" Nancy ikut masuk dalam perdebatan.

"Nggak"

Isak melebarkan tatapannya pada Leha. Dengan gerakan mata pula, lelaki itu memerintahkan Leha melepas piringnya. 

Nancy melihat itu menjadi kesal dan jenggah pada perdebatan mereka. Ia pun pergi dari sana. Gondok.

Dengan merengut Leha melepaskan tangannya. Ia merasa kalau dirinya juga Isak sangat kekanakan, tapi tetap, ia tak rela, Leha menghentakkan kakinya, ia beranjak untuk mengambil lagi kue manis, ia masih lapar.

Isak menyeringai senang atas kemenangannya, tapi tak sengaja Leha menginjak tumpahan air. Licin, Leha terpeleset.

Leha jatuh tepat ke arah Isak namun kali ini refleks Isak tak seperti sebelumnya. Leha jatuh menimpanya.

"Aaak"

GREB!

CUP!

Wajah Isak dan Leha menempel. Leha memejamkan matanya, ia bisa merasakan, sesuatu yang kenyal dan hangat menempel padanya. Isak sedikit oleng. Ia perlu pegangang.

GREB!

Leha tersentak, ia membuka matanya. Leha mendapati sorot mata yang juga sama terkejutnya.

DAR!

DAR!

DAR!

Suara riuh rendah petasan,  tepukan tangan juga ucapan selamat menggema di stadion menyadarkan mereka. Isak mendorong Leha menjauh. Tubuh Isak ditepuk beberapa orang ikut merayakan dan menyelamatinya.

Mereka yang menonton mengira Isak sedang melamar Leha dan diterima. Belum lagi pemberitaan tentang viralnya mereka berdua. Semua ikut berbahagia. Leha dan Isak masih linglung dengan keadaan.

Mereka tak menyadari sorot kamera menangkap momen mereka dan gambar mereka terpampang di layar besar yang berada di seberang kursi mereka.

Leha menatap tajam Isak.

"Bang Is, tadi remes bo kong Leha!"

"Saya nggak sengaja!"

Isak meneguk liurnya, Isak sadar. Dan sekarang perlahan rona merah menjalar hingga kupingnya.

Isak salah tingkah.

Dan mereka belum menyadari satu hal yang teramat fatal. Tayangan itu live dan ditayangkan ke berbagai belahan dunia. Termasuk Indonesia.

Tbc.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!