"LEHAAA!"
"MANA LEHA?"
"Bunda?" Leha memperlihatkan dirinya. Nami berlari ke arahnya.
"Leha lihat ini?" Nami memperlihatkan ponselnya pada Leha.
Ia melihat video dirinya yang sedang menarikan tarian kemenangan Neymar. Dan Neymar nontonnya.
"Sama ini"
Nami tak sabar, ia membuka pesan yang ada pada akun toktoknya. Ya Nami memiliki akun toktok. Leha yang membuatkan untuk Nami.
Isinya kumpulan video tentang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga yang tinggal di luar negeri. Banyak juga yang mengikuti Nami.
"Neymar mengajak kita makan malam Leha!"
"Ayah sudah selidiki, benar ini Neymar yang mengundang kita"
"Lehaaaa kamu bisa bertemu idolamu sayang"
Nami memeluk Leha yang masih di awang-awang.
Apa yang dikatakan wanita cantik di depannya ini? Ia bisa bertemu dengan suaminya? MY Neymarnya? Hah? Leha masih mengumpulkan kesadarannya yang tercecer akibat terkejut dengan berita yang Nami bawa.
***
Leha telah siap dengan dandanannya. Keluarga Ibrahim hanya Nami, Ibrahim juga Leha saja yang ikut
Kedua wanita itu telah bersiap.
"Leha kau sangat cantik sayang"
Nami mematut dirinya dan Leha di cermin yang sama.
"Bun itu siapa?"
Leha tak mengenali dirinya sendiri. Ia mengunakan gaun berwarna krem pastel indah yang menjuntai, kulit putih mulusnya menyatu dengan gaun itu. gaun yang memperlihatkan siluet tubuhnya terbentuk ramping dan cantik.
Dandanan sederhananya menambah kecantikan Leha. Rambut kecoklatannya dikepang agak berantakan. Sangat manis.
Leha layaknya peri efl yang keluar dari buku dongeng. Berbeda sekali dengan biasanya.
Nami menarik Leha, "Abang lihat ini pacarmu cantik kan?"
Isak yang sedang minum melirik dan menyemburkan airnya. Ia terbatuk.
"Ya ampun bang sampe keselek gitu. Terpesona banget kayaknya sama pacarnya"
Leha tersipu, ia menatap Isak malu-malu,
"Kambing didandani juga cantik" ketus Nalen.
"Kamu mau sama kambing didandani?" Tanya Leha kecut.
"Ya enggaklah!"
"Terus kenapa kamu bilang gitu, Bang Len?" Nami kesal dengan anak kedua nya itu. Kenapa ketus sekali.
"Ya perumpamaan Bunda,"
"Dasar kamu itu kalau iri sama Abangmu itu ya kamu bawa pacarmu, sini kenalin sama Bunda."
"Tapi Bunda nggak mau ya, sama perempuan yang kamu bawa waktu ke restoran, siapa namanya Nasi?"
"Nancy Bunda"
"Nah si Nancy-nancy itu, Bunda nggak suka ya,"
"Bunda bukannya pernah minta tolong sama dia buat tiket piala dunia waktu itu?"
Isak menatap bundanya. Ini pengalihan dirinya agar tidak terus menatap Leha.
"Nggak ada ya, Bunda minta sama dia, Bunda dapetnya langsung dari Fifa. Terus katanya ketemu siapa ya itu namanya … emmm … si penanggung jawabnya … lupa Bunda"
"Gilbert?"
"Nah Gilbert"
"Memangnya kamu nggak ketemu Gilbert bang waktu itu?"
"Ketemu, tapi yang awal nemui abang bukan Gilbertnya, tapi si Nancy-Nancy itu, Abang kira bunda akrab"
"Duh nggak ya bang, mana mau perempuan muda kayak dia, bergaul sama perempuan tua kayak bunda"
"Aku Bunda, aku mau kemana-mana sama Bunda"
Leha mengangkat tanganya tinggi.
"Aw … manisnya pacar kamu, Bang, Bunda bawa dulu ya pacaranya mau ketemu cowok ganteng dulu kita. Jangan cemburu ya"
"Nggak"
"Dasar jangan cariin ya kalau nanti pacarnya nggak pulang-pulang" goda Nami.
"Udah sana, keburu telat"
"Ya udah Ayo Leha, tanganmu dingin banget"
"Bun aku grogi"
"Tenang ada Bunda" Nami merangkul Leha.
***
Acara makan malam berjalan lancar, Leha bisa berfoto, membuat Video bersama Neymar menarikan Winning Dance milik lelaki itu. Bahkan Nami dan Ibrahim ikut menari. Mereka memposting video itu pada akun Neymar juga Fifa.
Dan kembali Leha menjadi viral di kancah persepakbolaan.
Leha terpanah dengan lelaki itu. Mata keabuan, bulu mata lentik, juga senyuman manisnya, ah … Leha tidak bisa merasa kesenangan yang begitu besar.
Namun ia merasa ada yang kurang. Ada yang terlupakan. Namun Leha tidak tahu apa yang kurang itu.
Pukul sebelas malam. Seorang lelaki duduk di sofa dengan gusar. Kakinya terus saja bergerak. Televisi nya menyala, namun pikirannya melalang buana jauh.
Ia menatap pintu apartemennya. Kembali menatap jam dinding. Mengambil remote televisi ia mencoba fokus pada tontonannya.
Tapi tetap kepalanya selalu menengok pada jam dinding juga pintu. Meraih ponsel. Ada nomor yang sedari tadi ia tatap. Ada pesan yang ia buka. Menunggu kabar. Ia menggeser untuk melihat apa ada pesan baru.
"BANG!"
"SINIIN REMOTENYA!"
Nalen melihat Isak. Ia terganggu dengan kelakuan si abang yang gundah bercampur gusar.
"Kok Bunda belum pulang?"
"Bukannya makan malam sudah selesai sedari tadi kan Len?"
Diam-diam Isak me-stalking media sosial Leha, Nami juga Neymar. Ia pantau makan malam mereka. Ia melihat Leha yang tersipu malu, dan membuatnya mengeraskan rahang tanpa sadar.
"Memangnya di Qatar ada macet?"
"Telpon aja pacarmu itu bang, tanya dimana? Kapan balik? Kok repot"
Nalen berada di apartemen lelaki itu.
"Kenapa jadi Leha? Orang lagi cemas sama Bunda! Bunda, Nalen!"
"Ck! Bunda segala dibawa-bawa!"
Nalen mengutak atik ponselnya, terdengar dering panggilan yang membuat matanya bertubrukan dengan mata Isak.
"Ya Bang Nalen ada apa? Kangen Bunda?" Nami bersuara dari ponsel Nalen yang di loudspeaker oleh Nalen.
"Bun dimana? Ada yang galau katanya bunda nggak pulang-pulang udah malem gitu"
Nalen meletakkan ponselnya di meja.
"Siapa itu bang? Tumben nanyain Bunda?"
"Bun, ayo filmnya mau mulai"
"Udah ya Bang Len, Bunda lagi nonton midnight jangan ganggu lagi"
Klik!
"Tuh! Mereka lagi nonton sekarang abang bisa tenang"
"Sedari tadi abang tenang kok emang abang panik? Nggak?" Setelah berkata begitu Isak melipir ke kamarnya.
"Dasar gak ngaku! Jaman udah 2023 masih aja gengsi!"
Isak meremas rambutnya, ia tak mengerti mengapa ia merasa gamang. Tidak! Ia hanya terbawa perasaan. Iya benar ia terbawa perasaan. Hati Isak membenarkan jika ia hanya terbawa suasana.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments