Bab 11

Canggung. Satu kata. Mereka duduk diam dengan mata yang kosong.

Leha melirik kesal pada Isak. Ia tak mengira akan ada kejadian seperti ini. Sudah hancur reputasinya di depan idolanya.

Bagaimana tidak. Ia baru tahu kamera di lapangan menyorot mereka berdua yang berciuman. Bahkan mereka salah paham, pada Isak yang melamar Leha.

"Ya Ampun rasanya mau nangis!" Ucap Leha.

"Dia pasti salah paham."

"Kenapa juga Bang is, nggak biarkan aku jatuh! Gak usah nolong!" Kesal Leha.

"Harusnya saya yang bilang begitu! Hancur reputasi saya!" Tajam Isak.

Leha tak mengubris Isak. Ia sibuk dengan ponselnya. Melihat banyaknya pesan dan juga telpon masuk.

Wajah Leha pias.

"Bang! Ini … "

Leha memperlihatkan chat Nami pada Isak. Mata lelaki itu merogoh kantong dan cepat membuka ponselnya.

Ia melihat isi chat Nalen. Isak melemas. Sudah. Habis. Dirinya.

Dalam Chat Nami, ibunya utu sangat bahagia.

"Bang Is!" Pekik Leha pada Isak yang pasrah. Ia menatap tajam Isak.

"Live bang? Live? Ini tayangan Live?" racaunya. Ia menarik pakaian Isak kasar. Tangan Leha mencubit gemas Isak.

"Aw!"

"Aw! Aw!"

Isak meringis, ia memegang tangan Leha yang mencubit perut liatnya. Perih.

"Ssss … Iya Live kenapa?"

Lelaki itu mengusap bekas cubitan Leha yang panas itu.

"Abah! Gimana kalau Abah Hamid Badrun nonton ini Bang! Bisa digorok Leha!"

Ia menarik-narik pakaian Isak. Lalu meletakkan kepalanya yang kosong ke dada Isak.

"Hamid Badrun?"

"Abah Leha bang! Mertua abang!"

Pletak!

Jitakan Leha rasakan di dahinya.

"Duh, sakit tahu banga suka banget KDRT!"

Ucapan Leha melebarkan mata Isak ganas. Wanita itu menyengir dengan tanda jari andalannya, pis.

 

Sorot kamera lapangan masih mengawasi keduannya, dan menangkap momen mesra pasangan itu. Dan mereka akan menayangkannya di layar besar.

Tidak tahu saja keduanya sedang berperang saling menyalahkan.

Cacing di perut Leha kembali berulah. Ia melihat jam tangannya. Waktu tinggal lima menit lagi dan babak kedua akan segera berlangsung.

Ia melihat Isak menjejalkan makanan manis yang Leha bawa pada mulutnya. Leha masuk kembali ke dalam ruang santai dan mengambil makanan untuk dirinya.

Ia melihat Nancy dengan tatapan sengit padanya. Ia sedang lelah hati. Dan tidak sedang ingin membuat masalah.

"Kampung!"

"Jangan kira kau bisa terus bersama Isak. Kau cuma mainannya."

"Tak mungkin selera Isak menjadi jatuh,"

Leha menjauh. Tak memperdulikan Nancy. Menghindar lebih baik.

"Mau jadi cinderella huh, memalukan!"

"Sampah, Udik dan Kampungan, wanita pengincar harta memang akan melakukan segala cara bahkan membuka kaki pun mereka rela, apalagi yang diincar keluarga Ibrahim" 

"Dasar kere! Kau tak pantas berada disini! Sampah sepertimu pantasnya kembali ke kampung sana!"

Tangan Leha mengepal keras. Cukup!

"Mbak orang kaya?"

"Jelas!"

"Tapi nggak ada adab dan bad attitude! Sama aja miskin mbak!" Ucap Leha. 

Leha diam bukan berarti ia takut. Ia tidak ingin mencari masalah dan menyusahkan Isak dan keluarganya. Nami dan keluarga Isak yang lain sangat baik padanya.

"Kau!"

"Mbak kalau semua orang kaya seperti embak, saya nggak mau jadi orang kaya"

"Dasar kurang ajar!!"

"Kau hanya wanita miskin! Beraninya!"

Tangan Nancy terangkat siap melayang ke wajah Leha yang menatap tajam dirinya.

"Begini ternyata kelakuan orang kaya, mbak banyak yang melihat kita"

Leha dengan berani mendekat dan berbisik pada Nancy, Wanita ular itu merasa dipermalukan.

"Awas kau! Isak akan membuangmu! Karena kau bukan Tabita Dania!"

Setelah mengatakan itu Nancy pergi. Leha mengeraskan rahangnya. Ia kembali mengisi piringnya dengan beberapa pastry. Tangannya meraih dua botol air mineral.

"Ini Bang"

Isak menerima botol minum. Ia menenggak habis. Leha meletakkan piring baru berisi penuh makanan dipangkuannya.

Wanita itu menikmati makannya. Menyumpal pastry demi pastry asin ke mulutnya. Ia mengambil satu pastry berbentuk bunga. Dan melahapnya.

Rasa manis kacang gurih dengan sedikit aroma mawar memenuhi mulutnya ditambah kulit pastry yang asin. Nikmat.

"Itu enak?" Isak melihat pastry yang tersisa di piring Leha. Wanita itu mengangguk dengan pipi gembulnya. Ia menyodorkan piringnya pada Isak. Menawarkan sisa pastrynya.

"Aaaa"

Isak membuka mulutnya. Tampang Leha dibuat bingung. Alisnya menyatu. Dengan gerakan kepala, Isak meminta Leha menyuapinya.

Leha mengambil pastry dipiringnya dan menyuapi Isak. Wanita itu masih menatap lelaki yang mengunyah dengan wajah sumringah.

"Isi apa?"

"Tuna"

"Aaa" 

Lagi Leha menyuapi lelaki itu. Terus saja Isak membuka mulutnya.

"Habis"

"Ambil lagi sana"

Isak menyambar botol minum milik Leha dan meneguknya tandas. Leha kesal. Namun ia tetap pergi mengambil sepiring lagi pastry. Dan Leha melihat ada puding dengan banyak warna dan menggelitik mulutnya untuk merasakan kelembutan segarnya.

Leha membawa dua piring penuh makanan. Ia berjalan perlahan agar bisa menyeimbangkan tubuhnya.

Druk!

"Duh!"

"Maaf! Maaf! kamu tak apa? Eh … Sorry, are you okay, Miss?"

Seorang lelaki jalan tergesa tak sengaja menyenggol pundak Leha. Gerakan cepat lelaki itu menangkap piring puding yang Leha bawa.

"Oh, Nggak papa"

Pluit pertandingan terdengar, bergegas Leha mengambil piring yang ada di tangan lelaki itu. Dan melangkah ke tempatnya. Ia tak mau meninggalkan sedikitpun aksi Neymarnya.

"Daru! Ayo"

Seorang teman Lelaki yang tak sengaja menabrak Leha menepuk pundaknya yang terpaku melihat kepergian Leha.

"Daru, kebiasaan! Sudah berapa lama kau tinggal disini, mau satu tahun, man! Dan kau tak lupa bahasa ibumu!"

"Ya 32 tahun aku hidup dengan bahasa ibuku, dan di apartemen isinya anak sebangsa ya jangan salahkan"

"Wanita itu menjawabku dengan bahasa"

"Shitt! Kita telat!"

Temannya itu tak mendengar gumanan Daru-Daru itu. Mereka duduk di ujung karena hanya kursi itu yang kosong.

Babak kedua, dimulai. Leha fokus pada Neymar nya. Pertandingan masih 0-0. Namun pada menit ke 62, gol pertama untuk Brasil, Gol yang di dapatkan dari tendangan impresif seorang Brace Richarlison.

"WOHOOO … SO COOL BRACE!" Teriak Leha.

"WELL DONE BRACE!"

Leha bertepuk tangan kencang. Kamera menyorot wanita dengan rambut keriting badut berwarna hijau kuning juga kacamata bintang.

Tentu saja Leha bersorak paling kencang. Ia pun memutar lagu dengan melakukan tarian kemenangan milik Neymar walau bukan idolanya itu yang membuat gol.

Sorotan kamera masih mencari kemesraan Leha dan Isak. Tentu kehebohan Leha di pertontonkan pada layar besar di depannya.

Leha melupakan kejadian memalukan sebelumnya. Ia saat ini sedang merasakan euforia bersama para pecinta bola khususnya tim Brasil.

Mereka merayakan gol pertama tim idola meraka. Kamera terus menyoroti Leha.

Lelaki yang tadi menabrak Leha menatap layar besar. Senyuman mengembang melihat tingkah Leha.

Ia menengok ke arah kanannya, diantara orang yang sorak sorai dan menari, netranya terpaku pada satu wanita dengan senyuaman manisnya, Leha.

Sudut bibirnya terus tertarik melihat tingkah memalukan Leha. Wanita yang menarik gumannya.

***

Kembali dimenit ke 72, Brasil mencetak satu gol lagi. Dan lagi-lagi sumbangan dari Brace.

"BANG IS … GOL LAGI BANG!!!" Teriak Leha. Ia menarik syal Isak yang tidak terlalu antusias. Leha berjingkrak-jingkrak dan meneriakkan nama Neymar.

Isak pasrah. Sorotan kamera tertuju lagi padanya dan Leha. Leha menari dengan semangat dan antusias bahkan mc bola menyebutnya Queen Winning Dancing.

Tidak lagi dengan menggunakan ponselnya. Kini stadion menyalakan keras musik tarian kemenangan ala Neymar.

Bukan hanya Leha tapi para pendukung tim Brasil ikut menari bersama. Ketika pluit tanda berakhirnya pertandingan dimenangkan oleh Brasil 2-0.

"Eu parado no bailão (foi no bailão)"

"Ela com o popozão, E o popozão no chão"

"O popozão no chão, E o popozão no chão"

"Eu parado no bailão (foi no bailão)"

"Ela com o popozão, E o popozão no chão"

"O popozão no chão, E o popozão no chão"

***

Ketukan terdengar dari luar kamarnya. Leha masih beta di bawah selimut menangisi kekalahan Brasil.

"Kalau tidak kau buka, saya tidak akan membelikanmu tiket pulang ke indonesia!" Ancam Isak.

Dengan kesal Leha menendang selimut tebalnya. Ia bersungut. Matanya bengkak besar. Suaranya habis karena terlalu banyak ia menangis.

Ia membuka kasar pintu kamar. Hampir saja wajah Isal terantuk keras. Namun Isak bosa menghindar.

"Hampa?" Ketusnya.

Leha berusaha memelototkan matanya marah tapi bengkak membuat matanya seperti para geisha, mata sipit wajah pucat dengan hidung memerah.

Isak menghela nafasnya berat.

"Makan! kau harus move on! Nasi sudah jadi bubur benyek, gak bisa lagi jadi butiran"

"Kau berdoalah agar piala dunia selanjutnya idolamu itu menang, ya kalau masih kuat, dan nggak pensiun dini!"

"Huwaaaaa … nyheri hati inhi bhaaaang …. "

Tangisan Leha macam syair dangdut. Ia menjatuhkan diri pada pelukan Isak. Ia menarik depan pakaian lelaki yang pasrah dengan semua kelakuan ajaibnya itu,

SROOOOTTTT …

Leha membuang ingusnya dipakaian Isak. Gigi lelaki itu bergeletuk!

"LEHAAAAA!"

"KEMASI SEMUA PAKAIANMU! SEKARANG JUGA!!!"

"Eh … " 

Tbc.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!