"Sebagai langkah pertama perkenalkan saya Isaac Lewi Ibrahim II, kau panggil Isak, jangan Lewi, sampai disini paham?"
Leha hanya mengangguk.
"Kau?"
"Saya Sholeha Badrun, biasa dipanggil Leha, kesini mau ketemu Neymar, sama sahabat saya si Udin, sepupu Rena"
Leha terdiam. Mengapa dirinya jadi ikutan formal? Sudahlah, yang penting bisa nonton Neymar, juga bisa pulang. Leha hanya perlu bersandiwara bukan, itu mah masalah gampil untuknya.
"Oke Leha. Sekarang kita harus tampil mesra jika di depan kedua orang tua saya, didepan keluarga dan di depan umum, ingat!" Leha mendengar dengan seksama. Ia hanya mengangguk.
"Kau mengerti? Jawab dengan mulutmu!" Hardik Isak yang membuat Leha menelan saliva nya susah payah.
"Iy, iya pak" jawab Leha seperti ia sedang di plonco oleh senior.
"Iya apa?!" Lagi suara tinggi Isak.
"MENGERTI BAPAK!"
Leha latah ikut meninggikan suaranya. Isak refleks menutup mulut Leha yang berteriak. Mereka masih ada di dalam kamar pesawat.
"Jangan kencang-kencang"
Isak berucap di depan wajah Leha. Tentu saja. Gadis di depannya menjadi tidak fokus. Memandang Isak dengan muka pengennya.
Aroma maskulin, Bola mata indah, dan bulu mata lentik yang membuat jiwa kewanitaan Leha cemburu.
Leha terpesona. Ia melihat dengan seksama apapun yang berada pada wajah Isak. Seperti filter sosial medianya, didalam bola matanya seakan ada animasi berbentuk love yang berkedut.
Hidung mancung bener dah, itu perosotan tk khairul huda kalik! Batin Leha.
Lalu netranya bergulir menatap bibir Isak yang kecupable, warna merah dengan nafas yang wangi mint.
Kembali matanya Ia larikan pada bola mata Isak yang juga manatapnya dalam.
Leha mengangkat tangannya dan menarik bekapan Isak perlahan merenggangkan bekapannya.
"Pak, Kapan kita keluar? Mereka nanti mikirnya macem-macem kalau kita nggak cepet keluar dari sini."
Isak berdehem, ia menjauhkan diri, apa yang dipikirkannya tadi? Isak merapikan pakaiannya. Lalu kembali berdehem lagi.
"Kita keluar."
Isak membuka pintu kamar. Isak mengulurkan tangan. Leha melihat uluran tangan Isak pun bingung.
Ia melihat pada dirinya. Ia pun ikut menengadahkan tangan. Ia melihat ikat rambutnya melingkar di pergelangan tangan.
Apa ini yang lelaki itu minta? Dahinya mengernyit. Ia dibuat heran. Berkali ia melihat bergantian antara ikat rambut dan Isak. Tapi Leha mengulurkan tangannya. Ia memberi ikat rambut itu pada Isak.
Lelaki yang diberi ikatan rambut itu pun ikut melongo.
"Ini untuk apa?"
"Lho, bapak tadi bukannya minta itu?" Leha menunjuk ikatan rambut warna bendera brasil ditangan Isak.
Lelaki itu berdecak.
"Ulurkan tanganmu" ucapnya.
Leha menurut dan tangan Isak masuk dalam sela-sela jemari Leha lalu menggenggamnya erat.
"Begini, Ayo kita mulai!"
Cengok namun Leha ikut keluar kamar karena tarikan tangan Isak. Leja menatap tangan dengan otot seksi yang menyembul itu menggenggam tangannya.
NYAK TANGAN LEHA NGGAK PERAWAN! Jerit batin gadis nista itu.
"Maaf Lama" ucap Isak.
"Oh kalian sudah selesai? Sini bergabung dengan kami"
Semua kepala menengok pada mereka. Isak memutar bola matanya malas, ibunya selalu saja menyindir dirinya. Leha merasa sangat gugup. Isak bisa merasakan kegugupan gadis itu.
Tangan Isak meremas pelan, mengingatkan bahwa ada lelaki itu bersama dirinya. Leha melirik Isak. Ia mengambil nafas dan menghembuskannya kasar.
"Maaf bu, saya Leha, saya kekasih bapak Isak" ucap Leha tegas.
Semua mata tertuju pada Leha tak kecuali Isak yang ikut terbengong.
Plak plak plak
"Bagus! Saya suka ketegasanmu, benar kalian ada hubungan" Nami memuji keberanian Leha, Leha mengangguk tegas.
"Benar bu"
"Kamu orang indonesia?"
"Iya bu, bapak saya betawi, ibu saya, arab saudi, saya besar di jakarta,"
"Baiklah … Sayang, kita akan melamar anak orang, kita kembali ke Indonesia segera!"
Keputusan wanita di depannya, Leha menengok cepat ke arah Isak yang menatapnya murka. Ia rasakan genggamannya menguat.
Mampus! Gaswat! Dia dalam masalah.
"Tidak sekarang honey, kita harus datang ke acara pembukaan itu." Timpal suami.
"Tapi ini masalah keluarga! lebih penting sayang"
Keukeuh si wanita paruh baya yang terlibat sangat cantik itu. Ia menyilangkan tangannya dan melengos tak ingin melihat sang suami. Ia kesal.
"Iya, benar penting … gimana kalau selama di Qatar kamu pendekatan dengan menantumu? Aku pun ingin mengenal calon menantuku juga, Bagaimana?"
Usulan suaminya, ia memperhatikan istrinya. Dari gelagat sang istri ia tahu wanita itu akan menyetujui idenya.
"Oke, Leha, mulai sekarang panggil saya Bunda, dan ini ayah dari kekasihmu, nanti kamu temenin Bunda belanja ya?"
Si suami hanya mengangguk dengan senyum manis di bibir. Setidaknya ia berhasil membuat istrinya ikut dalam perjamuan penting itu.
"Iya, bu, eh Bunda"
Leha melirik Isak takut-takut, sedangkan yang dilirik, menatapnya dingin.
Isak tak habis pikir, mengapa semua jadi bertambah runyam. Ia kembali menatap lurus gadis itu. Semua rencana yang ia susun berantakan.
"Leha sudah berapa lama kau berhubungan dengan anakku itu"
"Sudah enam bulah Bun,"
"Enam bulan? dan abang nggak mengenalkan ke Bunda? Si abang ini bener-bener, maunya langsung nikah?" Pernyataan bukan pertanyaan, Leha harus mencari alasan.
"Kami masih sama-sama menjajaki Bun, walau akan mengarah kesana"
Leha berdehem lirih. Ia mendapat sorotan tajam dari Isak. Refleks Leha melipat bibirnya. Seakan ada lem tak kasat mata dibubuhkan Isak pada mulutnya.
"Hai kakak ipar, aku Sara, dan ini Bang Nalen, kita adik Bang Isak"
Wanita dengan rambut hitam panjang bergelombang, dan berponi itu melambai di depan Leha.
"Cantiknya"
Leha berguman dan ia tak sadar telah mengucapkan gumanannya.
"Ahay, Terima kasih, aku suka kamu, panggil Sara aja ya kakak ipar, kita seumuran kayaknya,"
"Aku dukung Bun kalo mereka cepet nikah, biar aku nggak ngasih pelangkah ke Bang Isak yang mahal pula pelangkahnya, Setidaknya pelangkahku hilang satu" ucap Sara merengut.
Leha melarikan matanya ke tempat lain manun malah bersimborok dengan mata lain yang menatapnya nyalang dan memperingati.
Mata itu begitu gelap. Menatapnya seolah Leha ketahuan mencuri.
Astajim apa lagi ini?! Runtuk Leha dalam hati.
"Sayang sebelum temani aku belanja ya? Sekalian kita pendekatan dengan mantu kita"
Nami merengkuh lengan suaminya. Mereka pasangan lama namun tetap romantis. Melihat itu rasa iri hati Leha meronta. Semoga jodohnya menyayanginya hingga tua seperti pasangan di depannya ini.
Lelaki paruh baya itu menatap asistennya yang menggelengkan kepala dengan wajah meminta maaf canggung, Jadwalnya padat dan tidak bisa dirubah.
"Maaf sayang bagaimana jika kalian bertiga saja? Hmm … girl day out?" Usul sang suami, ayah Isak. Isaac Lewi Ibrahim I, kita panggil saja, Isak senior.
Kok ya namanya sama, cuma beda nomor aja, ribet jadi orang kaya, omel Leha dalam hati saat membaca nama yang harus ia hapal. Perintah dari Isak.
"Setuju Bun, kita cari gaun, yang cantik, siapa tahu kita bisa menggaet satu dua lelaki pemain bola" Sara menaik-naikan alisnya pada Bundanya.
"Aw!" Jitakan diberikan Isak kepada sang adik yang genit itu.
"Inget bentar lagi Nikah" Isak memandang tajam adik perempuannya yang sudah menyengir.
"Kan cuci mata sebelum di segel"
"Pake kacamata kuda juga Sar"
"Bener, kakak ipar memang tahu aja, gala dinner sama pemain bola, siapa yang nggak cuci mata ka— ehem"
Antusiasnya berhenti saat menemukan mata Isak yang memperingatkannya.
"Iya deh Bunda ngalah aja,"
Bisa dilihat ada kekecewaan disana, tapi tak bertahan lama, Nami dan Sara memberondong banyak pertanyaan untuk Leha.
Dari bagaimana bisa mereka bertemu hingga sudah sejauh apa hubungan mereka. Ada pula pertanyaan memalukan namun entah kekuatan dari mana, Leha bisa lancar menjawab pertanyaan itu.
Lelah. Leha seakan di paksa mengerjakan esai, untuk masuk S2 luar negeri. Leha diharuskan menjabarkan semuanya. Juga dengan indah banyak improvisasi yang Leha ceritakan.
Ya tentu saja membuat Isak menahan geram pada wanita yang terus saja meliriknya takut-takut.
Nalen memperhatikan semuanya, ucapan wanita itu, gerak geriknya saat ditanya, ada sesuatu yang janggal antara wanita itu dengan kakaknya,
6 bulan? Ia selama ini tak pernah melihat Isak berkencan. Jika bertemu Rena hanya mengatakan kakaknya itu sibuk rapat, jika Isak susah ditemui.
Apa rapat hanya menjadi alasan Isak menemui wanita itu. Dan mengapa selera Isak sangat berbeda. Dari para kumpulan mantannya.
Leha tak ada seujung kuku mendekati kriteria pacar Isak. Nalen tidak suka jika Leha-Leha ini hanya memanfaatkan kakaknya saja. Juga ia sudah memiliki kakak ipar yang lebih cocok untuk Isak ketimbang wanita berisik di depannya ini.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments