Namanya Isaac Lewi Ibrahim II anak pertama dari Isaac Lewi Ibrahim I dan Nami Ibrahim. Ia memiliki adik, Nalendra Ibrahim dan Misyarah Ibrahim. Nalen juga seperti dirinya, jomblo ngenes, berbeda dengan Sarah ia sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah.
Ibunya, Nami Ibrahim selalu gencar mencecar dirinya di usia ke 35 yang sebentar lagi akan menuju 36 tahun ini, seharusnya ia telah memiliki 5 atau 6 orang anak yang lucu, montok dan ginuk-ginuk.
Isak hanya menatap sang Ibu dengan wajah tersenyum yang dipaksakan. Dalam hati Isak bergumam, kucing apa? Banyak sekali anaknya! Lalu dengan perlahan mengalihkan perhatian si ibu.
"Bapak, Fifa mengundang anda dalam pembukaan piala dunia" ucap sang sekertaris, Rena Samanta Delino, cantik, pintar istri dari Raka Delino. Sahabat Isak.
"Bukannya Nalen yang pergi?" Ucap Isak sibuk dengan laptopnya.
Rapat adalah nama tengah pria itu. Selalu sibuk adalah caranya untuk melupakan hal yang menyakitkan, sang cinta pertama, dulu itu alasan mengapa ia selalu menyibukan diri, namun sekarang menjadi suatu kebiasaan.
"Bapak Nalen juga diundang, kalian sekeluarga diundang, jadi bagaimana bapak? Hadir atau tidak?"
"Bagaimana dengan jadwalnya?"
"Bisa bapak, saya akan memadatkan jadwal milik bapak sekalian untuk cuti akhir tahun" ucap Rena dengan menggeser tab di tangannya.
"Lalu diakhir minggu, kita ada rapat dengan Marlin Corp, kita visit di singapura, sebelum keberangkatan ke Qatar" jelas Rena, sekretaris yang sangat cekatan, dan sangat membantu meringankan pekerjaan Isak.
Dulu sebelum Raka menikahinya, ibunya sempat menjodohkan mereka berdua. Namun Rena hanya menganggap dirinya bos juga kakak saja, ia pun begitu, menganggap Rena sebagai adik yang manis.
Sama sekali tidak ada perasaan lebih, dan banyaknya ia menolak perjodohan, sang ibu mengira si anak mbelok, alias suka dengan belalai.
Mendapat sangkaan seperti itu dari ibunya tidak membuat Isak risih. Ia hanya mengingatkan sang Ibu tentang cinta pertama yang tak bisa ia miliki hingga akhir hayat.
Dan Ibunya akan terdiam dan mengelus sang putra lalu memeluknya, "Abang masih nggak bisa lupa Bun?" Kilasan yang membuat Isak menghela nafasnya.
"Siapkan penerbanganku"
"Baik Bapak" Rena keluar ruangan Isak.
***
Seminggu yang melelahkan, pemadatan jadwal yang membuatnya mati berdiri menurut Isak, tak mengapa, saat cuti nanti ia akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dengan cara tidur panjang.
Isak berjalan menuju pintu masuk bandara, ia tak melewati pintu biasa, ia memiliki akses khusus untuk mereka yang memiliki pesawat pribadi.
"Jam 10 kita akan sampai dan akan langsung bertemu dengan Marlin Corp, Dan semoga diskusi kali ini tak akan seriweh kemaren Bang!" ucap Rena yang mengatur jadwal Isak.
Mereka telah berada didalam pesawat. Rena duduk di depan Isak, mereka tak menyadari ada seonggok daging yang meringkuk nyenyak di kasurnya.
"Iya semoga, aku sudah pusing jika nanti Raka memberondong dengan banyak panggilan dan pertanyaan, mengapa menyandera istrinya begitu lama" keluh Isak,
Mata Rena memutar malas, Isak membalik kertas pada berkas yang akan menjadi bahan di rapat dengan perusahaan Marlin Corp.
"Aku pun bingung mengapa si dingin itu menjadi seberingas sekarang" Rena lirih.
"Apa?" Isak menaikkan alisnya menatap sekertarisnya. Lurus. Tajam.
"Ah nggak, masalah rumah tangga, bagi yang belum berpengalaman tak bisa ikutan, ups!" Rena pun beranjak dari kursinya ia kabur kekamar mandi yang berada di depan kamar.
Bahkan sang sekretaris pun suka sekali ikut menyindir dirinya. Ada apa sebenarnya dengan kejombloannya, mengapa semua orang tampak risau, padahal ia sendiri tak peduli.
Yang penting ia tak seperti si adik, Nalen, yang suka menebar benih kemanapun, ia tak memungkiri, ia juga mengandalkan jasa profesional, tapi satu yang ia jaga, ia tidak menebar benihnya sembarangan.
"Selamat cuti bapak" ucap Rena di tengah kelelahan pada wajah sang sekretaris.
Rapat yang mereka prediksi hanya memakan waktu setengah hari molor menjadi sehari semalam penuh.
Mereka baru keluar ruangan pukul 9 malam, dan tentu, di lobby sudah menunggu suami Rena dengan mata nyalang menatap Isak.
"Bisa jangan memonopoli istri orang! Sayang, kangen" Ucap Raka, sinis pada Isak dan berubah manis pada Rena yang sudah ia tarik masuk dalam pelukannya.
"Dia kerja, ya wajar, gue gaji gede" Isak malas melihat Raka yang menjadi seperti bayi versi jumbo.
"Lo tinggal dipakein popok, persis bayi lu!" Ejek Isak.
"Bodo amat, gak terganggu dengan kecemburuan jomblo bangkotan," Terus memeluk erat Rena yang tersenyum geli, melihat pertengkaran sang suami vs si bos yang macam bocah sd.
"Ayo sayang kita bulan madu lagi, tinggalkan saja jomblo tua itu dengan kesepiannya" ia mengecup bibir Rena dan menyeret sang istri menjauh.
"Bapak, nanti pak Dio akan mengantar bapak ke bandara." Teriak Rena, kepala Isak mengangguk dengan tangan yang melambai mengusir sekretarisnya itu pergi.
"Bapak kita langsung?" Supir yang Rena bicarakan sudah menunggunya di luar lobby perusahaan Marlin Corp. Tubuhnya sangat lelah. Ia benar-benar hanya butuh ranjang empuknya saja hari ini.
"Iya pak"
***
Isak jalan menuju pesawatnya yang telah bersiap membawanya ke Qatar. Ia masuk dan bertemu dengan co-pilot dari pesawatnya, kebiasaan dari dahulu, Isak tak suka adanya pramugari dalam penerbangannya.
Isak melepas jasnya, bergegas menyegarkan tubuhnya dari rasa lengket agar tidurnya semakin nyenyak.
Lelaki itu keluar dengan hanya mengenakan handuk, ia menggosok rambut basahnya dengan handuk kering, namun kantuk menghantam dirinya, dan menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Isak tertidur cepat.
Tangannya menarik selimut tebal sembarangan agar menutupi dirinya dari hembusan pendingin ruangan yang cukup dingin.
Sosok gadis terlihat saat Isak menarik selimut, di sebelahnya dengan rambut yang awut-awutan juga baju berantakan, ia adalah Leha.
Leha merasa risih dengan celana panjangnya, ia bangun dan melepasnya dengan mata masih terpejam dan melemparkan kesembarangan arah, ia hanya menggunakan celana da lamnya saja.
Pun dengan kemeja transparan kebesaran yang ia kenakan ikut berantakan.
Ia kembali masuk dalam selimut karena udara dingin yang mengenai kulitnya, Leha bergidik dalam kantuk dan kembali meringkuk mencari kehangatan. Tangannya menyentuh sesuatu yang hangat.
Ia mendapat guling hangat dengan wangi sabun yang amat ia sukai, ia merapatkan dirinya, kakinya merangkul guling itu erat, hidung juga bibirnya menciumi aroma sabun yang wangi dan memabukkan. Dan kembali semakin membuatnya mengantuk.
***
Leha duduk bersimpuh diatas kasur. Ia dikelilingi oleh sosok-sosok malaikat, wajah layaknya dewa-dewi yunani. Jangan bilang ia berada di syuargah!
Pesawatnya jatuh kah? Oh tidak! Leha mencubit pahanya, sakit dan memerah, ia tidak bermimpi.
Ia melirik pada seorang yang menutupi dirinya dengan jubah handuk -yang tidak diikat- Leha bisa melihat ukiran perut rata hasil olahraga teratur, kecoklatan dan menggiurkan.
Matanya masih fokus pada roti sobek itu, Saat sang pemilik tubuh menyadari tatapan lapar Leha, kemudian menutup rapat aset pemandangan Leha.
Tak bisa melihat pemandangan seksi itu lagi, Leha pun berdecak, kesal.
Tidak sengaja matanya bertemu dengan mata dingin yang menatap dirinya tajam. Ia pun melemparkan tatapannya ke arah lain, dan merutuki kebodohannya.
Astagah, Leha, eling neng! Kau dimana sekarang!
Leha memutar ulang ingatannya, ia akan ke Qatar, ia masuk ke dalam pesawat, bersama sang sahabat si Udin, merayakan kegembiraan lalu ia mengantuk dan tertidur di ranjang empuk dan mereka sekarang di pertengahan jalan menuju negara itu.
Pertanyaannya kemana si Udin? Leha mengamati ruangan dan tak ada menemukannya, ia menatap cela pintu keluar, pasti Udin ada di luar.
"Hhh" helaan nafas terdengar dari samping telinganya, Leha kembali melirik dan mendapat tatapan tajam.
"Bang! Jangan mengelak!" Wanita dengan wajah cantik namun tak muda lagi itu bertolak pinggang. Ia menatap lelaki di sebelah Leha garang.
"Bun aku nggak tahu siapa dia?" Ujar lelaki se-lirih hembusan angin . Leha melihat kelelahan pada wajah tampan itu.
"Bu Maaf say—" Leha mencoba membantu si lelaki tampan itu.
"Tak apa nak, Anak saya akan bertanggung jawab, Bang, bunda ingin kalian menikah!" Keputusan yang membuat semua orang melongo. Begitu juga Leha.
Leha berdiri diatas ranjang, lembar selimut meluruh dari tubuhnya, Leha tak sadar dengan tindakannya yang cepat itu, ia mendekat pada si ibu lelaki tampan itu. "Bukan, Bu, Kam—"
"Semua lelaki keluar!" Suara tinggi wanita itu, membuat Leha menghentikan dirinya, tak berkutik. Handuk jubah menyelimuti punggungnya "Tutupi tubuhmu!"
Leha menatap tubuhnya, shock, dengan cepat merapatkan handuk jubahnya, ia tak tahu jika ia hampir tel anjang. Duduk dengan wajah memerah malu.
"Bang! Sana pakai baju mu!" Isak yang sedari tadi terdiam, ia mengikuti perintah sang ibu.
Isak mengambil kaos oblong juga celana panjang santai. Sebelum keluar ia melirik Leha yang masih menunduk dengan rambut acak-acakan.
"Sudah sana!" Ia mendorong anaknya.
"Bunda mau ngapain?" Tanyanya penasaran dengan mata memicing curiga.
"Keluar dulu Bang! Ish susah bener kalau di bilangin" Wanita itu mendorong Isak.
"Kamu bersih-bersih dulu ya, saya tunggu di luar" Leha mengangguk, tak berapa lama Wanita itu keluar ternyata anaknya yang ia pergoki tidur bersama wanita itu menunggu dirinya.
"Takut banget Bang pacarnya Bunda apa-apain" Wanita yang menyebut dirinya bunda itu, membuat anaknya berdecak. Senyuman bundanya yang membuatnya berdecak.
Sang Bunda pasti memiliki rencana tersembunyi. Dan ini tak akan baik untuk dirinya.
Setelah wanita cantik itu keluar kamar, Leha bergegas meloncat ke tempat celana panjangnya berada. Ia mengenakan dengan cepat.
Keluar kamar, ia ingin kekamar mandi matanya bersimborok dengan Lelaki yang dipergoki seranjang dengannya, Astaga, mirip headline koran merah hijau saja. Tatapan lelaki itu tajam, menghunus sanubarinya.
Cepat Leha mencuci wajahnya, merapikan rambutnya, melihat adakah belek dan iler di pipinya. Setidaknya ia tak boleh kucel di depan para dewa-dewi yunani itu.
Ia keluar dengan perlahan, Leha menunduk, ia menyampirkan rambutnya ke telinga, ia gugup.
ia mendongak menatap satu persatu lalu menuduk lagi, lalu mendongak seperti mencari sesuatu.
"Sini duduk dengan kami" Ucap wanita paruh baya yang cantik itu. Leha perlahan mendekat. Seperti pesakitan yang akan dihukum gantung. Yang Leha rasakan.
Leha duduk di kursi empuk namun terasa bergerigi tajam. Ia tak nyaman. Ia masih menunduk.
"Hai kau tak usah takut" ucap wanita itu, namun terdengar dengusan di sekeliling Leha. Wanita itu melirik tajam pada sang pendengus.
"Perkenalkan saya Nami Ibrahim, ibu dari Lelaki yang menidurimu—"
"Buun—"
"Sstttt … jangan memotong! Kau tersangka disini!" ucap Nami galak. Nalen si anak ketiga ikut merapatkan bibirnya, jika si ibu sudah seperti ini, maka mereka harus diam dan menurut.
"Bu in—"
"Panggil Bunda, kamu tak perlu cemas secepatnya anak saya akan menikahimu, Oh iya siapa namamu sayang?"
Tangan Leha terasa hangat, Nami menangkup tangan Leha. Mata Leha membesar. Ia bisa menatap mata jernih penuh kasih sayang disana.
"Leha bu, eh … Bun,Bunda" Entah rasanya hatinya menghangat dan haru. Inikah rasanya memanggil sosok seorang ibu.
"Oh sayang tak apa, semua akan baik-baik saja. Anakku akan bertanggung jawab." Leha menggeleng cepat. Matanya berkaca, ia menunduk dalam, rasa senang dan juga sendu menyeruak.
Ia teringat Abahnya, dengan gerakan sedikit menyentak ia kembali ke kamar, mengambil tasnya.
Ia kembali keluar, dan lelaki itu menangkap tangannya, dengan ponsel yang akan dihidupkan
"kita berada di pesawat, tidak boleh" ucap Isak. Memperingati.
"Maaf" Leha menunduk.
Ia menarik Leha dan mendudukan wanita itu di atas ranjang. "Kita buat kesepakatan!" Ucap lelaki itu memecahkan keheningan.
"Kesepakatan?"
"Kita pura-pura pacaran dan Saya akan memberimu apapun." Isak memegang kedua bahu Leha, menunggu respon Leha. Leha tampak berpikir. Lama.
"Baik! Aku punya tiga syarat permintaan" Leha telah yakin dengan keputusannya.
"Apa?"
"Permintaan pertama, Tiket piala dunia dan tiket ke indonesia."
Ia tak tahu namun hanya itu yang ada di otaknya saat ini. Tidak menemukan sosok Udin membuatnya tak berpikir panjang, kemana si Udin berada? Apa jangan-jangan tertinggal? Leha bingung juga sendirian. Ia tak mau sendirian di negara yang asing untuknya.
Dengan pikiran itu Leha menyetujui kesepakatan yang diajukan oleh lelaki tampan di depannya ini, Sudah Ha, dia memang tampan tapi tak.setampan Neymarmu! Leha memperingati dirinya sendiri.
"Sepakat! Dan kau berpura-pura menjadi pacar Saya?" Mata Leha membeliak, ia tak menyangka persyaratannya akan dikabulkan dengan mudah.
"Benarkah?" Anggukan Isak membuat khayalan dengan Neymarnya kembali berjaya. "My Neymar aku datang" bisiknya,
"Lalu permintaan kedua dan ketiga?"
"Aku simpan dulu untuk nanti" Ucapnya.
Kembali mereka terdiam. Mereka bergelut dengan pikiran masing-masing, tentu kalian tahu, Leha membayangkan bertemu Neymar berselfie ria, dan membuat video di media sosial. Sedangkan Isak meneguhkan hati semoga keputusan yang ia ambil ini benar.
"Okeh siapkan sandiwara kita, keluar dari sini, kita dihadapkan oleh keluarga besar," Leha mengangguk kaku, Ini cara Isak mengulur waktu, ia tak ingin menikah, apalagi dengan orang yang tidak ia kenal.
Ia telah menelpon Rena, dan bertanya, ini ada sangkut pautnya dengan sepupu Rena. Isak belum tahu bagaimana kejadian sebenarnya. Namun ia juga tidak ingin merusak citranya di depan keluarga besarnya.
Dengan ia bersandiwara pacaran, setidaknya masalah akan cepat selesai, dan nanti bilang mereka ternyata tak sejalan dan mereka putus saat di indonesia. Dan tak ada pernikahan. Selesai. Pikiran cepat dan jenius. Isak tersenyum sumringah.
"Sebagai langkah pertama perkenalkan Saya Isaac Lewii Ibrahim II, kau panggil Isak, jangan Lewi, sampai disini paham?"
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments