Leha merapikan penampilannya di depan cermin, ia tampil sporty, kaos dalaman lengan panjang dipadu dengan kaos bola Brasil. Wig keriting badut berwarna senada bendera Brasil. Tinggal menunggu hari-H.
ia pun telah mencuri vuvuzela milik Isak. Ia tiup vuvuzela di kamarnya diam-diam, selama Isak tidak berada di apartemen.
Dan tentu ia tidak akan membawa terompet legendaris itu. Leha tak mau kena tilang, tidak boleh masuk ke stadion.
Antusias Leha tidak kalah dengan penonton yang lain. Ia juga sangat semangat menonton Neymarnya bertanding.
Awalnya Isak hanya akan mengantar hingga depan Lusail Iconic Stadium saja, Isak bukan pecinta bola. Ia tak begitu peduli tentang piala dunia.
Lelaki itu hanya membeli tiket untuk Leha. Dan akan menjemput Leha jika pertandingan selesai. Isak membelikannya tiga tiket pertandingan klub brasil di grup G.
Teringat lagi dengan si Udin kutu kampret itu. Uang tabungannya ludes, tak tahu rimbanya. Nanti jika ia sudah berada di Indonesia. Ia akan cari si sahabat lat nat dan pembuat onar itu, pasti, Leha akan buat perhitungan.
Nami mengetahui jika Leha pergi menonton bola sendirian. Dengan kuasanya wanita cantik itu memerintahkan si sulung untuk menemani Leha.
"Bun aku cuma pesen satu tiket buat Leha. Kalau nyari tiket saat ini ya pasti nggak ada."
Elak Isak. Mendengar debatan Isak, Leha memutar bola matanya, malas.
"Kamu tenang aja! Ada Bunda, semua, beres" ucap Nami.
"Bun aku nggak mau ya kalau Bunda beli dari calo, mahal Bun dan nggak masuk diakal! Belum lagi nanti kalo ternyata cuma tipu-tipu!"
"Halah alasan! Kang php!" Cibir Leha sepelan mungkin.
Kuping Isak terlalu peka, ia bisa mendengar cibiran Leha, lelaki itu menyipitkan matanya menatap Leha, Mata keduanya bersiborok, dengan acuh namun sengaja, Leha melemparkan pandangannya ke arah lain.
Keputusan akhir, Isak harus menemani Leha hingga pertandingan selesai. Final. Ketuk palu.
***
Hari ini pertandingan Brasil melawan Serbia,
Leha telah siap, memakai pakaian yang nyaman, dengan pipi yang sudah ditoreh cat gambar bendera negara Brasil.
Leha berdiri dengan tangan dipinggang. Senyuman sumringah menghiasi wajahnya. Wig kribo dengan warna kuning hijau, juga kacamata berbentuk bintang dengan warna khas bendera brasil.
Tentu saja tidak akan dikenali. Ia sudah menyiapkan semua kamuflase. Agar ia bisa membaur dengan yang lainnya tanpa adanya wartawan yang mengintai.
Begitu juga Isak dengan topi hijau tua dan kacamata hitamnya. Ia menolak saat Leha memberinya kacamata bintang dan wig rambut kribo milik Leha.
Namun ia tak menolak saat Leha menyodorkan syal, lelaki itu memakainya dengan tampang datar.
Mereka berdua berada di depan Lusail Iconic Stadium. Tentu saja sedari apartemen Leha sudah banyak berselfie ria. Leha menarik syal Isak dan berselfie ria.
"Yahooooo Qataaarrr …"
"World cuuuupppp … "
"MY NEYMAAAARRR!!!!"
Juga membuat video di akun toktoknya. Banyak juga yang melihat videonya.
Leha mengambil video dengan Isak yang menjadi fokus, lalu kamera mengikut mereka memutar. Memperlihatkan stadion tempat pertandingan hari pertama Grup G.
Apalagi dengan dampak viral dirinya. Follower merangkap haters pun bertambah. Cacian dan makian Leha terima dengan lapang dada.
Dari memperlihatkan tiket, tanggalan yang ia coret, juga ootd yang digunakan untuk menonton. Semuanya Leha abadikan dalam akun tok-toknya. Sekali seumur hidup ia bertemu sang idola. Menghirup udara yang sama.
Leha berjalan cepat di gerbang ticketing. Ia tak sabar ingin mendapatkan kursinya cepat.
"Bang mana tiketmu bang?"
"Siniin biar cepet, Abang nempel sama aku ya?"
Leha yang antusias menarik lengan Isak. Ia tak peduli dengan yang lain ia ingin mendapatkan kursinya cepat.
Leha akan masuk di jalur antrian, langkahnya terhenti. Ia hampir terjungkal, masalahnya yang membuat Leha hampir terjungkal adalah Isak yang menghentikan langkahnya mendadak.
"Bang ishhh!" Makinya yang ia samarkan.
Ia melihat Isak melangkah berlawanan dengannya. Leha tidak bisa membiarkan Isak kabur. Nami sudah mewanti-wanti Leha harus mendapatkan selfie bersama Isak duduk di kursi stadium.
Jangan menantang tekad seorang Leha. Ia harus masuk dan melihat pertandingan suaminya. Semangatnya berkobar! Batin Leha.
Ia menyingsingkan lengan panjangnya. melangkah menuju Isak yang berjalan santai menjauhi antrean yang semakin mengular.
Ini tidak bisa dibiarkan lelaki ini ingin merusak rencana leha! Ia menangkap lengan Isak. Ia menarik kencang Isak masuk dalam antrean.
Sudut bibir Isak melengkung. Ia memperkuat tancapan kakinya ke lantai. Menahan tarikan Leha.
"Bang ayo masuk!"
Leha menarik kuat tapi Isak dengan tubuh bongsornya tidak sedikitpun bergerak.
"Bang Is! Aku aduin Bunda!"
"Aduin aja!"
"Issshh … "
"Ayo kalau bisa"
Leha ditantang ya dijabani. Dengan gerakan cepat leha menarik syal Isak hingga tubuh Isak menunduk tepat di depan wajah Leha.
DEG!
Sangat dekat. Hingga hidung mancung Isak bersentuhan dengan hidung mancung kedalam milik Leha. Jantung Isak berdebar.
Leha mengeluarkan jurusnya, cara anak kucing minta dikasihani.
"Bang isak … ayoooo … "
Mata Leha berkaca, lalu mengedip perlahan, Isak melebar netranya. Jurus baru kah? Ia tergerak sedikit tapi masih bisa menahannya.
Dan Leha menarik lelaki itu tapi tak berhasil.
Leha mencoba jurus gelitik tangan seribu.
Ia mencoba menggelitik pinggang tapi tidak bereaksi. Gelitikan Leha pindah ke perut, juga tidak, ke punggung pun nihil. Coba ke leher.
Dengan cepat Isak menangkap tangan Leha. Senyum terbit dari bibir Leha. Isak menatap dengan perasaan yang was-was. Ia memiliki firasat tak enak.
Leha melepas syal yang Isak kenakan. Ia memiliki jurus satu lagi.
Dengan dekapan.
Leha melompat ke tubuh Isak, lelaki itu refleks menangkap tubuh Leha. Leha mendekap erat Isak.
Kepala Leha menghadap pada leher Isak. Ia tahu kelemahan lelaki itu. Leher dan telinga. Leha menghembuskan nafas panasnya. Ia merasakan tubuh Isak menegang.
Tangannya mulai bergerak. Ia membelai tengkuk Isak.
"Leha" gumam lirih.
Perlahan telunjuk Leha membuat alur naik turun dengan perlahan pada tengkuk Isak. Nafas lelaki itu memberat.
"Leha" ucapnya lirih seperti de sahan
"Ya Lewi" jawab Leha dengan bisikan.
DEG! DEG! DEG!
Tubuh Isak menegang. Lelaki itu memeluk Leha erat. Lalu dengan kasar mendorong tubuh wanita itu menjauh. Hingga wig rambut keriting badut tersangkut pada jam tangan Isak dan tertarik dari kepala Leha.
Isak dengan cepat menutupi kepalanya dengan wig milik Leha. Tanganya yang memegang wig menutupi wajahnya. Leha masih bisa menatap mata Isak yang tertutupi lengan tangannya.
Leha tampak terkejut. Rambut wanita itu acak kadut, helaian rambut menutup wajahnya karena Isak melepas paksa Wig Leha. Kacamata bintangnya ikut miring. Mulutnya menganga lebar.
Apa yang terjadi?
Aneh!
Debaran kencang siapa yang ia rasakan saat berpelukan tadi? dirinya atau Lelaki di depannya itu? Mata tajam Isak menatap lurus Leha.
Leha jelas merasa tertolak. Perasaannya campur aduk. Ia memperhatikan lelaki itu yang juga mematung dengan lengan menutupi kepala lelaki itu.
Leha memperhatikan gerakan nafas lelaki itu yang memburu. Mata Leha menjelajah ke bagian telinga Isak.
Telinganya sangat merah. Leha mendekat. Ia mengulurkan tangan. Ingin menyentuhnya.
"Bang?"
Namun Isak memundurkan dirinya. Dengan berani Leha terus maju, ia mengulurkan tangannya, perlahan Leha menarik wig keriting badut, betapa terkejutnya Leha mendapati wajah merah padam Isak.
Merahnya hingga ke kuping bahkan menjalar kelehernya. Isak menghindari tatapan Leha. Namun perempuan itu kekeh menurunkan tangan Isak yang menutupi wajahnya. Ia ingin melihat.
Entah dorongan dari mana Leha dengan berani mengecup bibir dengan tampang kikuk Isak.
"Lewi"
"TUAN ISAAC!"
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments