Bab 12

Ancaman Isak bukan hanya isapan jempol, ia telah memesankan Leha tiket ke indonesia untuk seminggu lagi.

Ia masih belum bisa move on. Rasanya ia tidak terima Brasil tidak masuk 8 besar. Nami dan Sara langsung mengajak Leha berlibur.

Dengan gercep ibu Isak itu telah memesankan tiket mereka sekeluarga beserta Leha untuk merayakan pesta tahun baru di Jepang. Menyusul Rena dan suaminya.

Nami mengajak berbelanja. Untuk keperluan berlibur. Di salah satu pusat perbelanjaan. Banyak yang mengenali Leha karena viralnya di piala dunia.

Leha mendadak menjadi selebritis. Orang menghampiri dirinya. Sampai-sampai pusat perbelanjaan memutar Lagu Winning Dance Neymar.

Nami juga mendadak menjadi seorang manajer untuk Leha. Mengarahkan dan menerjemahkan apa yang penggemar Leha omongkan. Nami antusias. Ini sesuatu yang menyenangkan pikirnya.

Setiap Leha bertemu orang yang juga mendukung brasil, mereka akan mengharu biru karena kekalahan si kuning hijau itu. 

Entah mengapa kesedihan Leha berangsur membaik. Lalu mereka akan membuat video dengannya menarikan tarian kemenangan Neymar. Dan mereka upload ke toktok mereka.

Suasana menjadi tidak kondusif. Banyak pengunjung menjadi berkerumun, Leha dan Nami tak bisa menghindar.

Isak mendapatkan telpon dari sang ayah. Mendadak dirinya ikut migren. Mereka menjemput Leha dan ibunya. Dan mengerahkan banyak bodyguard.

Tak berselang lama. Barisan bodyguard membelah kerumunan. Dan menyelamatkan Nami dan Leha.

"Bunda nggak nyangka, Bakal kayak gitu mereka antusias sama kamu Leha."

Nami tidak marah dan kesal. Ia malah takjub dengan antusias para penggemar bola yang ingin berfoto dan membuat video dengan Leha.

"Bunda?"

Langkah kaki menderap terdengar, Isak dan pak Ibrahim datang tergesah.

"Bunda nggak apa-apa?" Isak meneliti tubuh ibunya. Diputarnya sang ibu kekiri dan kanan. Ia melihat ada gurat kemerahan di tangan sang ibu. Luka baru. Wajah Isak mengeras.

"Nggak apa-apa. Cuma tadi mereka terlalu antusias mau ketemu Leha."

Mendengar nama Leha disebut. Ia mencari si sumber masalah. Amarah Isak meninggi. 

"Kau! Saya bilangkan jangan membuat ulah!" 

Bentak Isak membuat hati Leha mencelos, ia hanya bisa menunduk dan meminta maaf.

"Abang! Kok begitu sama pacarnya!"

Nami pun tak menyangka Isak bisa membentak Leha sebegitunya.

"Bunda Maaf" ucap Leha lirih.

"Oh nggak papa sayang, kita nggak tahu ternyata antusias mereka sebesar itu untuk ketemu kamu"

Nami menepuk pelan punggung Leha.

Nalen ikut datang, ia berlari mendengar kabar sang bunda di keroyok di Mall.

"Ini dia si sumber masalah"

DEG!

"Nalen kok ngomong gitu ke calon iparmu!" Ucap Nami. Wanita itu memukul pelan Nalen.

"Bunda ini luka baru?"

Nalen tak menggubris perkataan sang Ibu. Ia melihat baret merah di lengan ibunya. Membuat Leha semakin bersalah. Niat Nami ingin menghibur dirinya menjadi petaka.

"Maaf Bun, maaf Pak Ibrahim, Maaf Bang Isak, Maaf Nalen, ini Leha yang salah"

"Bagus kalau kau sadar"

"Nalen!"

Leha beranjak dari tempatnya dan membungkuk berkali-kali ke empat orang didepannya bergantian. Nalen masih saja ketus.

Sedari awal ia tak suka dengan kehadiran Leha. Menjadikan kejadian ini peluang untuk mendepaknya pergi dari keluarganya.

Sama seperti Nancy, Nalen pun menganggap Leha ingin uang dari keluarganya.

"Maaf, maaf, maaf"

"Leha, Leha sini"

Nami menarik Leha dan memeluk wanita yang hampir menangis itu. Ia menepuk dan matanya menyorot marah ke tiga lelaki di depannya.

Kemarahan kedua anaknya itu tak masuk akal. Terlalu berlebihan. Karena sejak awal ini kesalahan Nami. Yang tidak langsung pulang malah mengundang banyak pengunjung untuk mendekat.

Mereka keluar pusat perbelanjaan dengan dikelilingi oleh para bodyguard juga awak media yang juga datang.

Kembali jepretan demi jepretan, kilat-kilat kamera seperti melahap mereka.

"Minggir!"

"Minggir! Ucap tegas bodyguard.

Salah satu wartawan menarik tangan Leha, tubuh Leha limbung dan menabrak kumpulan orang didepannya.

Leha ditarik oleh satu bodyguard wanita dengan kasar. Leha diperlakukan semena-mena. Ia menunduk dan berlindung dari kejaran kamera. Leha mendapat cakar juga cubitan.

Nami melihat itu menyentak tangan bodyguard wanita itu dan menatapnya penuh kemarah. Bodyguard itu tersentak. Ia tak menyadari.

"Jangan kasar ya sama anak saya!" Nami merangkulnya. Membawa Leha pergi.

Leha berbeda mobil dengan Nalen dan orang tua Isak. Wajah Leha sendu dalam. 

Sesampai di parkiran mobil, Isak menyeret Leha. Dan mendorong tubuh Leha masuk kedalam mobil sport miliknya. Lalu menutup pintu. Isak tak ikut masuk. Dan pergi begitu saja meninggalkan Leha sendiri di mobilnya.

Isak mencari atasan dari bodyguard. Juga meminta kepada Dio, sopir dan juga orang kepercayaannya untuk mengambil semua cctv yang merekam kejadian.

Tak lama Isak kembali. Ia sudah duduk di kursi kemudi. Wajahnya murka. Leha melirik dan menunduk.

"Maaf" ucapnya mencicit.

"Diam! Kita bicara setelah sampai di apartemen!" Geramnya.

Isak melepas kaca mata dan memijat tulang hidungnya di antara kedua alisnya. Leha kembali terdiam.

Sampai di apartemen Isak. Lelaki itu masih mendiamkan Leha. Dan masuk ke kamarnya. Leha pun masuk dalam kamarnya. Ia berjalan gontai ke meja rias dan terduduk disana.

Rambutnya berantakan. Saat ia merapikan rambutnya ia merasakan ada sudut-sudut tubuhnya yang perih.

Pada wajahnya terdapat garis kemerahan. Ia menghela nafas. Leha tidak menangis. 

Matanya entah mengapa tidak sebanjir saat ia tak terima dengan kekalahan Brasil.

Berjalan gontai ke kamar mandi. Ia melihat lebam kemerahan di lengan, juga ada lebam di pinggangnya. Ia tak ingat mendapatkannya dimana.

***

Lelaki itu telah segar. Dan kemarahannya sudah sedikit meredah. Ia keluar kamar, sepi. Ia menatap pintu Leha. Isak duduk di ruang televisi. Tapi matanya terus menatap pintu Leha.

Ia duduk di sofa dengan berpura-pura mengerjakan pekerjaannya. Menunggu si rakus itu kelaparan dan meminta di beri makan.

Isak enggan untuk mengetuk pintu Leha. Ia tahu ia keterlaluan. Egonya tak mengizinkan ia meminta maaf.

Ego, otak dan hatinya sedang bertarung hebat. Kakinya tak bisa berhenti bergerak. Rasa bersalah tapi gengsi untuk meminta maaf.

"Kenapa tak keluar!"

Isak menunggu Leha keluar dan meminta makan padanya.

Tak tahan akhirnya lelaki itu beranjak dari sofa dan mengetuk ragu pintu Leha. Ia mengetuk pelan. Biasanya dengan cepat wanita itu membukanya.

"Leha"

Diketuk lagi pintu itu,

"Saya akan membeli makanan"

Tak terdengar pergerakan dalam kamar wanita itu.

"Leha?"

Kekuatiran merasuki dirinya. Bagaimana jika wanita itu pingsan di dalam kamarnya. Tanpa pikir panjang Isak membuka kamar Leha. Namun kamar itu kosong. Ia bergerak menuju kamar mandi, juga kosong.

"Kemana dia?"

Isak berkeliling dalam apartemen tapi tak mendapati sosok Leha. Isak bergegas menyambar jaketnya dan mengambil kunci mobil. Ia sibuk dengan ponselnya.

Menyambung tetapi sedari tadi wanita itu tidak menjawabnya.

"Ck!"

"Kemana kamu ha!"

Isak sibuk mengenakan jaketnya.

Tit tut tit tut

KLIK!

CKLEK!

Sosok wanita berhoodie dan kacamata hitam miring, masuk, ia membawa banyak kantong belanjaan. Di kanan kiri tangannya penuh. Ponselnya berada di dagu wanita itu. 

Matanya bertatapan langsung dengan manik mata hitam yang memandangnya tajam. Ada kerutan dalam pada dahi lelaki itu. 

"Kau lapar?" Ucap Leha.

Tanpa kata lelaki itu menubruk tubuhnya. 

"Harusnya kau izin jika ingin keluar!"

Leha dapat merasakan debaran pada dadanya. Atau pada dada Isak?

Leha kaku dalam pelukan Isak. Mereka berdiri di posisi itu cukup lama. Saat perut Leha kembali konser.

Isak melepas Leha. Canggung. Isak tak menyangka dirinya akan bertindak seperti bukan dirinya.

"Ehemm"

Leha membersihkan tenggorokannya mengembalikan kesadarannya.

"Aku sudah membeli makanan, Kau mau kemana Bang?"

Melihat tampilan Isak dengan jaket dan piyama tidur juga mengenakan sandal yang berbeda. Jaketnya pun tak dikancing rapi.

Mau kemana lelaki ini, seperti terburu-buru.

"Tidak. Tadi mau beli makan, tapi kau sudah membelinya ya tidak jadi."

Dengan canggung Isak melepas sendal juga jaketnya. Leha hanya mengangguk dan menuju meja makan. Meletakkan semua kantong-kantong itu disana.

"Banyak sekali, kau memborong?" Tanya Isak. Leha mengeluarkan beberapa makanan. Ia membelinya di sebuah restoran kebab.

Ternyata di bawah apartemen Isak ada pusat perbelanjaan yang tidak terlalu besar namun ada toko asia disana. Dan ia kalap.

"Aku ke toko asia dan kalap."

Leha menikmati makan malamnya. Ia membeli semua ini dengan uang yang Nami beri padanya.

"Aku ingin memasak makanan indonesia, kangen. Aku masukin aja apa yang aku mau taunya waktu bayar baru sadar beli banyak banget"

"Aku juga mau masakin Bunda"

Isak mendengar semua cerita Leha, wanita itu senang mendapati toko asia. Isak menyuapkan makanan lagi ke mulutnya.

Leha juga bercerita bagaimana ia berdiri lama di depan kasir restoran karena tidak mengerti tulisan pada menu restoran itu. 

Namun ada satu karyawan baik hati, bernama Alsya, ia berkata bahasa inggris dan membeli semua yang wanita itu rekomendasikan.

"Kau akan kembali ke indonesia jadi buat apa kau beli banyak-banyak barang yang akan kau temui di sana?"

"Saya kira kamu membeli oleh-oleh"

DEG!

Leha lupa, sebentar lagi ia akan pulang ke Indonesia, berarti berakhir juga masa pacaran pura-puranya dengan Isak.

Juga berakhir juga kedekatannya dengan Nami dan Sara. Itu yang paling ia sesalkan. Nami. Leha merasakan kasih sayang seorang ibu dari Nami.

Nami yang sering memeluknya, menenangkannya juga menghiburnya. Ada rasa tak rela melepas kasih sayang Nami. 

Tapi siapalah Leha, Dia hanya wanita yang datang dari antah beranta dan membohongi satu keluarga yang baik hati padanya.

Senyap, hanya suara kecapan yang terdengar. Isak mendongak tak mendengar suara dari Leha. Netra wanita itu mendadak sayu. Isak menangkap itu.

Lelaki itu resah, rasa bersalah melingkupi hatinya, ingin meminta maaf, mulutnya sudah akan terbuka saat bel apartemennya terdengar.

Isak beranjak ke depan pintu akan membuka namun pintu itu sudah terbuka. Seseorang mendorongnya masuk.

"LEHAAA!"

"MANA LEHA?!"

Tbc.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!