Nami mengajak Leha untuk berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan. Sekalian Leha ingin membeli nomor Qatar, pasalnya setelah ia menginjakkan kakinya di Qatar sekalipun ia belum menghubungi Abahnya.
Ponsel Leha tidak bisa tersambung dengan nomor si abah. Ia tidak mengerti bagaimana cara membeli nomor disini. Lagipula ia tak membawa apapun kecuali ponselnya. Uangnya pun ada di tas yang ada di kopernya. Yang Udin bawa kabur.
Mau memaki si sahabat pun ia lupa, kejadian yang Udin ciptakan membuatnya cukup sibuk untuk bertahan di bawah tekanan si kang php, padahal ia juga seorang korban disini. Bukan hanya Isak. Tapi lelaki itu tidak peduli.
Ia diharuskan menuruti apapun keinginan Isak, karena ini negara asing untuk Leha, ia tak ingin membuat kang php itu semakin murka padanya.
Nasip baik Isak tak membuangnya, Leha membesarkan hatinya, Eh, di buang di taman depan rumah keluarga Ibrahim aja ia akan tersesat. Yang ada ia harus menurut pada kang php.
Walau gedeg beutul diri ini, batin Leha.
Agar ia pulang utuh, bukannya tinggal nama. Duh kok mikir serem bener, Leha merinding sendiri jadinya.
Nami melihat wajah murung juga lesu Leha.
"Leha kenapa? Ada yang kurang?"
Mereka membawa banyak sekali paper bag, berisi berbagai pakaian, tas dan sepatu untuk Leha. Kedua tangan Leha penuh dengan belanjaan yang Nami pilih dan belikan.
"Enggak Bun, Leha cuma bingung mau ngehubungi Abah tapi ponsel Leha nggak bisa nyambung? Apa harus ganti nomor ya?"
Yang Nami tahu Leha dipaksa ikut oleh Isak untuk menonton piala dunia, ia ingin memberi kejutan di hari ulang tahunnya untuk Leha. Jadi Leha hanya membawa ponselnya saja.
Ini cerita yang Isak karang saat Nami bertanya kenapa Leha alasan wanita itu tidak membawa kopernya.
Dan Nami yang sudah kegirangan Isak membawa calonnya sama sekali tidak curiga, ia malah sangat senang, ternyata anaknya terbukti lurus bukan belok.
Leha berkutat pada ponselnya yang menyala tapi tak bisa menghubungi siapa-siapa itu. Lalu ia memasukkan ponselnya ke tas milik Sara, yang wanita itu berikan pada Leha.
"Kamu mau beli ponsel? Ayo Bunda beliin" ucap Nami yang menyeret Leha ke toko ponsel.
"Engg— "
Leha menggeleng, ia akan menolak namun terhenti dengan kedatangan Isak yang menjemput mereka.
"Bunda … ayo bun, Abang masih mau ketemu temen bun, katanya mau makan siang, sudah ditunggu Ayah di restoran"
Langkah Nami berhenti. Ia manatap sang anak sulung.
"Tunggu Bunda mau beliin Leha ponsel dulu bang,"
"Ponsel?"
Isak menatap Leha menyelidik, wanita ini mau memanfaatkannya? Leha yang ditatap beringsut di belakang tubuh Nami.
"Abaaang … kenapa natap pacarnya begitu!"
Nami meraup wajah Isak. Lelaki itu berdecih.
"Udah nanti abang yang urus, ayo Bun kita berangkat, ini waktu, susah nyari parkir"
Nami tidak keras kepala, ia memang terlambat dan beberapa kali suaminya menelponnya, menanyakan keberadaannya.
Dan disinilah Leha, sebuah restauran khas timur tengah, di mejanya terdapat satu nampan besar nasi, daging, sayur melimpah yang baru saja di tuang daei kuali besar.
Kepulan dan aroma menggoda perut Leha. Ia meneguk ludahnya, tak sabar untuk menyantap. Tapi ia bingung. Mulai dari mana.
"Leha ayo dimakan? Atau mau makan yang lain?"
Keluarga Ibrahim memperlakukannya dengan sangat baik. Apalagi Nami, ia merasa memiliki seorang ibu, awalnya ia merasa canggung.
Namun diperhatikan dan diperlakukan hangat membuat hati Leha ikut menghangat.
Leha menggeleng.
"Ini banyak sekali bun, kita cuma makan berempat?"
"Tidak sayang, Nalen akan menyusul, Sara juga … Nah itu mereka"
Nalen datang dengan wanita, begitupun dengan Sara yang datang dengan tunangannya.
"Bun"
"Bun"
Sara dan tunangannya, mengambil tempat di sebelah Isak senior.
"Maaf telat parkirnya susah, kita dapetnya agak jauh,"
"Bang itu temen mu nggak di kenalin?" Ucap Nami, melihat wanita yang ada di belakang Nalen. Wanita dengan dandanan tebal itu melongok, tersenyum pada Nalen.
"Aah … Bun kenalin ini Nancy Gunawan, anaknya Rahmat Gunawan"
Ia mengernyit mengapa wanita ini mengikutinya masuk restoran. Mau tidak mau ia mengenalkan wanita itu.
"Nancy tante" ucap genit wanita itu. Ia memandang Isak dengan tatapan yang menggoda.
"Oh iya silahkan duduk"
Ramah yang formalitas dari Nami. Ia menatap anak tengahnya dengan garang. Nalen yang ditatap mengangkat bahunya. Ia tidak mengundangnya. Wanita ini saja yang mengikutinya. Mereka hanya berpapasan di depan restoran.
Melihat Isak ada di dalam restoran wanita itu menyapa Nalen dan tanpa kata mengikuti Nalen kedalam.
"Pak Isak apa kabar?"
Sapa Nancy yang mengambil kursi di sebelah Isak.
"Baik" jawab datar Isak.
"Pak Ibrahim maaf mengganggu, dan terima kasih boleh bergabung"
"Silakan, panggil Om saja, papamu apa kabar Nancy?"
Sama seperti sang istri ramah tama formalitas.
"Baik om, papa juga pasti seneng banget ketemu Om dan Isak"
"Bun, ssstt … Bun … sstt ssstt "
"Udah boleh makan?"
Leha berbisik.
"Boleh sayang, Bunda ambilin ya"
Nami tersenyum cantik, ia berdiri, mengambilkan suaminya, lalu ke Leha. Leha melihat Nami yang melayani suaminya, ikut berdiri ia mengulurkan tangan ke piring Isak.
Lelaki itu mengernyitkan dahinya, ia mengikuti alur yang Leha ciptakan, dan mulai menawari makanan yang ada di meja untuk di masukkan dalam piring Isak.
Obrolan berlanjut, Nancy bertanya tentang Leha, ia terkejut jika Leha adalah calon mantu keluarga Ibrahim. Tampang Nancy mendadak kecut. Ia memandang sengit pada Leha. Dan menganggap wanita itu tak ada.
Bahkan ia sengaja menyenggol, menumpahkan dan selalu merecoki Isak hingga lelaki itu jengah dan meminta Leha bertukar tempat duduk.
Tentu saja sasaran Nancy tertuju pada Leha ia membisikan kata-kata hinaan yang ia pikir hanya terdengar oleh Leha. Ia tak tahu jika Nalen dan Isak bisa mendengarkannya.
Dan bagusnya Leha tak menanggapi omongan Nancy dengan kasar. Bagaimana pun Leha pikir, ejekan Nancy yang mengatakan ia wanita kampung dan tak pantas jadi kekasih Isak itu benar adanya.
Namun yang membuat sudut bibir Isak dan Nalen tertarik ke atas adalah bisikan Leha pada Nancy.
"Benar Mbak, tapi kenyataannya … saya pacar Bang Is, bukan Embaknya"
Telak dan mari kita sebut Leha si pemberani.
Nami pun risih dengan Nancy. Terlihat sekali jika wanita ini ingin mencari perhatian pada anak sulungnya. Padahal Ia tahu anak sulungnya memiliki kekasih yang duduk di sebelahnya.
***
Jpret! Jpret! Jpret!
Jpret! Jpret! Jpret!
"Gandengan semalam ya mas?
"Sudah serius ini ya?"
"Makan malam keluarga? Acara apa mas? Tunangan ya?"
"Mas Isak itu pacarnya ya?"
"Kenalkan dong mas pacarnya?"
"Itu pacarnya yang semalam ya mas?"
"Mas Isak itu pacarnya viral mas"
"Mbaknya pacarnya mas Isak ya?"
"Mbak boleh kenalan?"
Jepret! Jepret! Jepret!
Isak dan keluarga baru keluar restoran saat ingin menuju parkiran banyak wartawan yang menghadang mereka.
Suasana sangat kacau, mereka tidak bisa masuk keluar dari barikade wartawan yang mengepung mereka. Dan memutuskan kembali masuk ke dalam restoran.
Leha diseret masuk kembali oleh Isak. Sedangkan yang lainnya sudah lebih dulu masuk ke tempat lebih aman.
Ia tak bodoh, ia mendengar beberapa wartawan bertanya dengan bahasa inggris yang dapat Leha mengerti. Leha berpikir. Wartawan asing dan indonesia tak berbeda.
Mereka sangat agresif saat memburu berita terpanas.
Pihak keamanan restoran hanya bisa menahan wartawan untuk tidak masuk dalam restoran.
Pihak restoran menggiring masuk keluarga Ibrahim ke dalam ruang privasi.
"Ada apa ini?"
Isak Senior, atau Bapak Ibrahim. Mengernyit, ia begitu bingung mengapa wartawan menghadang mereka.
Tak lama, seorang pria dengan pakaian rapi, menghampiri mereka.
"Ini tuan, berita viral dan menghebohkan"
Lelaki itu memperlihatkan tabletnya. Di sana Ibrahim baru menyadari, sumber dari berita dan membuat lelaki paru baya itu tersenyum.
"Ada apa ini Tomi? Yah kenapa? Malah senyum-senyum?"
"Ini lho bun, yang buat heboh"
Nami mengernyit, ia masih dibuat panik. Rentetan pertanyaan wartawan menghujaninya. Membuatnya tak nyaman.
Ia menatap tab pemberian suaminya. Membaca headline membuat tawa renyah Nami terdengar.
"Ya ampun bang! Ternyata bukan Bunda aja yang ngira kamu belok!"
Nalen yang melihat Ayahnya menyerahkan tablet ke Bundanya segera berinisiatif untuk ikut mencari tahu dengan berselancar di dunia maya.
"Membawa gadis dalam acara gala dinner menghapuskan orientasi yang selama ini dirumorkan" gelak tawa membanjir.
Melihat itu Isak juga Sara mengikuti, menunggu ayahnya terlalu lama.
"Kenapa harus yang itu beritanya!"
"Menyembunyikan kekasih didalam mobil dan ditutupi jas, Isaac lewi Ibrahim ll menerobos pintu tol"
Terpampang disana gambar mobil ferrari sf9 hitam miliknya, juga ada dirinya dan Leha yang ia tutupi jas.
"Hah! Sejak kapan?" Isak mulai memijat pelipisnya.
Leha mengintip ponsel Isak.
"Bapak kita viral terkenal. Bapak Leha nggak tahu bapak seterkenal ini," ucap Leha kegirangan melihat headline-headline yang Isak geser satu demi satu.
"Wanita gila!" Dengus Nancy.
Banyak foto mereka bertebaran di portal online dengan berbagai sudut. Dan banyak pula terpampang foto Isak sebesar halaman utama sebuah tabloid juga foto Leha yang ditutup matanya dengan stabilo hitam.
"Astagah bang, liat ini Leha macam pelaku kriminal!"
Bukannya sedih, Leha malah tertawa ngakak. Membuat setiap orang yang tadinya panik, ikut melihat gambar dan mulai tertawa.
"Ini lagi? Wanita bersorak! Rumor bahwa Isak Lewi, kaum pelangi tak benar!"
Baca Leha kencang, tawa kembali memenuhi ruangan, Isak hanya menatap nyalang wanita dengan mulut besarnya ini.
Di sana bahkan terpampang tampang tidur dan menganga Leha disamping Isak yang mengemudi.
Astaga! Secanggih apa mereka mengikuti Isak. Bahkan ini diambil dari sudut atas. Mereka menggunakan drone?
"Kau tahu ilermu mengotori kursi mobil dan jasku" bisik Isak menggoda Leha.
"Bohong!" Pekik Leha.
Semua orang menatapnya tak terkecuali Nancy yang ikut terjebak dalam restoran.
"Ahahaha … Bang Is, mah gituuu … suka banget goda-goda!"
Leha memukul lengan Isak keras. Dan memanja-manjakan diri. Isak meringis tapi ia tak bisa membentak Leha, pukulan wanita itu tak tanggung-tanggung. Sakit.
"Jadi Bagaimana kita bisa keluar?!" Tanya Nancy kesal. Ia menatap Leha yang selalu dekat dengan lelaki incarannya, Isak. Semakin membuatnya murka.
"Ada pintu belakang, tempat restoran menurunkan barang-barang, kita bisa memasukkan mobil kedalam dan keluar dari sini"
Mereka menggunakan bantuan para pegawai restoran untuk membawa masuk mobil mereka. Dan mereka berhasil kabur. Naas bagi Nalen yang harus mengantarkan Nancy pulang.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments