Bab 2

"Yuhuu … selamat pagi yang cerah My Hubby" Leha menyapa poster juga foto Neymar. Ia bangun dengan sumringah, setelah mendapatkan izin dari sang Abah, ia merasa bebannya terangkat semua. Ia mengambil handuk.

"Bentar! Gue dulu, mules!" Udin menarik bahu Leha dan mendorongnya keluar kamar mandi.

BRAK!

Ia menutup pintu tepat di depan wajah Leha.

"Sialaan Lu!" Maki Leha.

"Maap Ha, gak tahan! Brrott,Brooot,JEDOS!"

"Buset dah! Itu bom nuklir nagasaki ape!" tawa kencang terdengar dari dalam kamar mandi.

"Lu makan apa dah! Baunya naujubillah!" Leha menjauh, ia duduk kursi meja makan yang tak jauh dari pintu kamar mandi.

Krek!

"Nasi uduk lu maren! Gak ikhlas nih si Abah!" Udin meringis, ia membungkuk karena perutnya masih melilit ya sebelas duabelas lah dengan dompetnya yang sering kosong.

"Dah bau ape nih?" Abah Hamid datang, ia membawa secangkir kopi hitam. Dengan tangan menutupi hidungnya.

"Bah gak ikhlas yak, mules ini gegara nasi uduk maren!" Cerocos Udin.

"Apah lu nuduh-nuduh?!" Abah tak terima. Karena Udin yang menghabiskan semua semur jengkol dan menyisakan nasi uduknya saja.

"Lu kuras entuh semur jengkol dower Mpok Jana, rasain lu, panas panas dah tuh bo kong!" Abah Hamid tergelak kencang ia pergi ke teras. Tempat favorit buat Abah sarapan.

"Abah lu tuh! Dasar gemblong!" Ejek lirihnya.

"BAAAAHHH UDIN NGATAIN ABAH GEMBLONG!" setelah berteriak Leha berlari ke kamarnya, menunda mandinya, ia tak mau mati gara-gara gas beracun si Udin.

"Bocah kurang ajar! Kemana lu" Abah Hamid masuk lagi dengan berlari pelan  sambil membawa sapu lidi.

Udin yang tahu kebiasaan Abah, langsung ngacir dan berteriak "Ampuuunn Baaaahh Gemblong Enak kok"

***

"Gimana? Gimana?" Leha antusias saat melihat Udin datang. Setelah beberapa hari lalu Leha telah mentransfer uang tabungannya pada Udin.

"Beres" decakan terdengar dari bibir Leha.

"Beras beres aja kata lu, gue perlu bukti."  Leha mengernyitkan dahinya.

"Udeh lu tahunya beres aje! Nanti seminggu lagi kita berangkat. Semua udeh gue urus, kan lo udah nyiapin noh paspor, nah kita tinggal cus berangkat aje" jawab panjang Udin yang mendapatkan balasan senyuman lebar dari Leha.

"Semua Rena, sepupu gua yang urus dan beres" kata Udin penuh keyakinan.

"Bener dah Rena the best."

Leha sudah mempersiapkan keperluannya, bahkan ia sudah mempunyai paspor setahun lalu, dan semua berkat bantuan Rena. Ia pun sedikit-sedikit belajar bahasa inggris. 

Maunya langsung bahasa portugis biar bisa ngobrol dengan Neymar, namun ia berpikir lagi, jika ia di luar negri setidaknya bisa bahasa inggris dulu, jadi Leha mempelajari bahasa inggris. Belajar dari Utube bayar pakai kuota.

Seminggu kemudian,

"Mpok nitip Abah ya" Leha memberi amplop pada Mpok Jana untuk kebutuhan makan sang Abah,

"Lu tenang aja Ha, lu pulang Abah lu tambah gembul tuh perutnya" ejek Mpok Jana, Anak dari Uwak Hasbih, sepupu Leha.

Leha menatap Abahnya hanya diam, sedari kemarin tidak bersemangat dan lesu. Matanya memerah saat tadi subuh saat berpapasan untuk berwudhu.

Dan sekarang Abahnya hanya diam, termenung di kursi mobil. Menunggu Leha berpamitan dengan Mpok Jana. Mereka menggunakan mobil pick up Mang Kusdi, suami Mpok Jana. Yang biasa digunakan untuk mengangkut sayur ke pasar.

"Leha pamit ya Mpok," Leha mencium tangan kakak sepupunya itu.

"Iya Ha, ati-ati lu disana, sehat terus ya Ha, Din, jagain enih sepupu gua, jangan sampe lecet, gua gibeng lu kalo sampe kenapa-napa ini sepupu gua!" Teriak macam toak masjid, Mpok Jana menodongkan tangannya ke arah Udin.

"Iye Mpok kagak lecet dah ah!" Udin memasukkan koper-koper mereka. Dan perjalanan ke bandara senyuman Leha tidak luntur.

Pukul 9 pagi, mereka telah berada di bandara. Perpisahan Abah Hamid dan Leha berjalan dramatis. Kucuran tangisan yang Abah Hamid pendam sedari tadi pun ambyar saat Udin memaksa Leha memasuki bandara.

"Ha, lu harus baek-baek ya, jangan sakit, kalo ada apa-apa langsung telpon Abah," 

Abah memeluk Leha erat. Leha juga ikutan terdiam, air matanya ikut mengalir deras. Ini pertama kalinya ia akan berjauhan dengan Abahnya. Mengapa berat, tapi keinginan untuk bertemu Neymar sangat besar.

"Din … " Udin menarik tubuh Abah dan memeluk lelaki tua cengeng itu erat, "Siap Bah, Udin sayang banget Abah, tambahin ongkos Udin Bah" toyoran didapat si Udin.

"Lu tuh gak ada segen-segennya sama gue, Udah ini, jagain anak bontot Abah Din, ini amanah" Udin kegirangan ia menerima amplop yang diberikan Abah Hamid.

Leha pun mendapat amplop, "Baik-baik Ya bontot" Abah mengelus kepala Leha sayang.

"Pamit Bah, Mang" Leha masuk bersama Udin. Mang Kusdi ikut mengangguk, setelah ikut memberi petuah pada Udin.

***

"Koper lu taro dimari, entar ada yang bawain, ke pesawat" Udin meletakkan koper-koper dirinya dan Leha di dekat toilet.

"Kita langsung masuk aja ke pesawatnya," kembali Udin yang telah bersiap, Leha hanya membawa tas ransel kulitnya. Ia menurut karena ini pertama kalinya ia naik pesawat.

"Din ini kagak di cek dulu sama, siapa tuh, mbak-mbak di loket gitu, tiketnya?" Leha bingung, dengan Udin yang mengatakan bisa langsung masuk pesawat dimana yang ia tonton di Utube berbeda.

"Kan Gua bilang semua beres-res Lu tinggal masuk, duduk dan ketemu Neymar"

Udin menarik tangan Leha, yang langsung tersenyum membayangkan dirinya bertemu Neymarnya sebentar lagi. Rasa gugup melingkupi Leha.

Udin melihat keadaan sekitar, dirasa sepi ia kembali menarik tangan Leha. Dengan Id Card yang diberi Rena ia bisa leluasa masuk dalam tempat pesawat pribadi berada.

Pesawat yang tampak kecil di antara pesawat lain itu terlihat. Udin bergegas menaiki tangganya dan mendorong tubuh Leha yang masih membayangkan Neymar.

Kalau sudah menyangkut Neymar, Leha memiliki dunianya sendiri. Dan akan lama menghalunya gadis itu.

"Kita sampek" Udin menepuk bahu Leha yang sadar dengan sekitar ia sudah berada dalam pesawat yang luar biasa mewahnya.

"Ini beneran Din?" Leha terperanjat, ia masuk lebih dalam. Menyentuh kursi kulit yang empuk.

Hanya ada 4 buah kursi yang saling berhadapan dua di kiri dan dua di kanan . Dan di belakangnya ada mini bar, dengan banyak botol berjejer, gelas-gelas dengan tangkai tinggi mengkilap.

Benar-benar mewah. Leha mendapati sebuah ruangan di paling belakang pesawat, sebuah kamar, udara dingin berhembus, dengan kamar mandi dengan shower. Dengan ranjang besar, dengan seprei dan selimut putih, tampak nyaman, Sungguh elegan.

Leha sedari tadi terkagum dengan isi pesawat yang akan membawanya ke Qatar. Ia kembali menemui Udin.

"Din! Ini beneran kayak dale man hotel Din! Bener-bener mewah"

"Ah, ape lu! Ngagetin gua aja! Ya semua berkat sepupu gua, si Rena, bosnya tajir sama baek banget, kita boleh nebeng" ucap Udin dengan gugupnya, menuju Qatar sebentar lagi, Leha pun sama gugupnya.

"Udah sini duduk, kita cobain dulu kursinya" Udin menarik Leha duduk di kursi depannya.

"Lha empuk bener Din, kursi orang kaya" Leha melompat-lompat dalam duduknya. 

"Lha iya biar gak tepos itu bemper" ucap Udin, "Ini lu minum dulu" ia memberi sebuah botol minuman jeruk.

"Wedeeh … minumannya jus jeruk Din, bukan aer putih, sini" Leha meraih satu botol dan meneguknya, 

"Yaelah Din, orang kaya gak mau rugi juga yak ternyata, rasanya kecut pait, apa di blender sekulit-kulit ama bijinya yak, Hmm … tapi seger, adem mak gleser di kerongkongan gua" Leha meringis setelah meneguk beberapa kali jus jeruk pada botol.

"Masa pait, lu halu jelas-jelas ini kecut manis, bener ini di blender sekulit ampe bijinya," Udin memandangi botol miliknya dan kemudian meletakkan di meja.

"Din lo tahu gak di belakang ada kasurnya, guede, terus empuk, emang gak papa yak kita nebeng dimari?" Leha memang senang tapi ini terlalu "berkat anak Sholeha" sekali.

Eh namanyakan Sholeha, ini mungkin nasibnya sedang mujur. Dan Leha bersyukur, ia diberi nama Sholeha.

"Yuk gua liatin kamarnya" Leha beranjak dari tempatnya dan kembali masuk dalam kamar, 

"lu liat Din, itu kasur pengen bet gua jajal" ucapnya.

"Ya sono jajal aje, pan dimari lu bayar" Udin mendorong bahu Leha,

"Kagak ngapa kan yak?" Leha berjalan ke ranjang, dan mencoba menekan-nekan kasurnya, Udin kembali ke tempat duduk dan mengambil minuman yang dia bawa, lalu membereskan dan memasukkan dalam tas selempangnya,

Ia menatap kamar yang Leha tempati, ia menelan ludahnya, menghela nafas panjang,

"Bener empuk Din" Leha tak hanya menekan, ia sudah duduk dan bergelung dibawah selimut tebal.

"Enak bener Din, wangiiiiii, kok gua jadi ngantuk yak" Dan Leha pun terlelap. Hembusan nafasnya teratur. Leha nyenyak. Udin mengintip dengan raut tak bisa dijelaskan. 

"Maapin gua Ha" kemudian ia keluar dari pesawat dan mendorong koper-koper mereka keluar bandara.

***

"Bagaimana persiapannya?"

"Oke Bunda"

"Bunda sama yang lain juga sudah di bandara"

"Baik Bunda, Pak Dio sudah konfirmasi, target sudah masuk dalam pesawat"

"Baik Copy!"

***

"Silahkan naik, Bos telah tertidur" pilot pesawat. Rombongan yang memakai atribut ulang tahun heboh itu mengendap masuk ke dalam pesawat Isak.

"Semuanya perlahan, hitungan ketiga kita dobrak pintunya" ucap berbisik wanita yang masih terlihat cantik walau sudah tak muda lagi.

"Nalen! Dobrak!" Perintahnya. Dengan bisikan kencang

"Lho kok Nalen Bun?" Pemuda yang mirip dengan Isak protes.

"Ya siapa masa Bunda?" Ujarnya masih dengan berbisik

"Ayah nggak mau nanti encok!" Tolak sang Ayah.

"Ck! Selalu diriku yang dikorbankan Tuhan adil kahini?!" Adunya.

PLETAK!

"AW!" Teriak pemuda itu. Mengusap jitakan sang Bunda.

"SSSTTTT…" suara mereka yang keras menggema di ruangan pesawat.

Di dalam kamar, Isak hanya mendengar keributan tak jelas. Ia kembali tertidur dan mengeratkan pelukannya pada guling empuk juga hangat.

Ia menyurukkan kepalanya lebih dekat pada benda empuk didepannya. Nyaman.

"Cepetan! Keburu leleh lilinnya!" Sang adik yang sibuk dengan kue berlilin mengomel.

Decakan terdengar, "Satu, Dua, Tigaaaaa"

BRAK!

"HAPPY BIRTHDAY BOY!"

"KEJUTAN!"

"KEJUTAAAAANNNN~"

Ctar! Ctar!

Ctar!

Ctar! Ctar!

"AAAAARH"

"AMPUN, AMPUNI SAYA KOMPENI! SAYA BERSEDIA JADI GUNDIK KALIAN!" Jeritan memekik terdengar.

Ctar!

Mereka tercengang melihat seorang gadis  berantakan terduduk dengan tangan terangkat, dengan seorang lelaki menggelendot erat pada tubuh gadis itu.

Wajah si lelaki menyuruk pada samping dada sang gadis. Ia suka benda empuk dan hangat itu.

"Ish geli" ucap sang gadis serak, mata si lelaki menyipit melihat si gadis.

"Siapa kau?" Juga serak, mereka saling tatap dengan pandangan menyipit.

"ISAAC LEWI IBRAHIM II!" Suara menggelegar membangunkan kedua orang itu.

Tbc.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!