Bab 16

Suara bising kendaraan bermotor menemani Leha sarapan. Warung Mpok Jana, adalah tempat sarapannya kali ini. Ia sangat rindu nasi uduk, bubur ayam, lontong sayur sarapan yang selalu ia makan sejak kecil.  

Sudah seminggu Leha pulang dari Jepang. Dengan banyak oleh-oleh dari negeri sakura itu.

Dengan hati senang ia membagikan oleh-olehnya untuk keluarga Mpok Jana. Juga beberapa tetangga.

Abahnya sempat bingung bukannya anaknya nonton bola di Qatar kenapa oleh-olehnya makanan negeri penjajah.

Leha menguap lebar, kekenyangan ditambah semilir angin di bawah pohon membuat matanya memberat. Yang awalnya ia duduk santuy sudah menjadi rebahan di kursi bambu lapuk.

Hari ini, kembali ia akan menyatroni tempat-tempat favorit Udin berkeliaran. Ia memiliki janji dengan Saipul, teman Udin juga teman Leha. Untuk kembali menemani Leha mencari Udin.

"Woi, Ha!"

Sosok hitam dengan rambut keriting menghampiri Leha. Namanya Saipul Duloh. Mantan preman pasar. Saipul menyengir lebar. Ia menggeser tubuh Leha dan duduk dengan menarik-narik kerah kaosnya. Gerah.

Ia terlambat dan datang dengan berlari. Saipul tak ingin mendapatkan dampratan dari mulut Leha.

Sosok tinggi besar juga berwajah garang dengan tato menghiasi tangan dan kakinya itu melirik Leha yang masih rebahan tak merespon sapaannya.

Ada satu tato yang tak jelas gambarnya. Itu adalah bekas tato nama mantan. Ia dengan sengaja membakarnya sendiri. Karena putus cinta. Nekat atau bodoh?

Untung saat itu ia bertemu dengan Leha dan Udin yang menyelamatkannya. Mantan yang sekarang menjadi istrinya.

"Ngaret lu! Janji jam lapan, molor dah sampe jam berapa ini bang!!!"

"Itu … "

"Kagak ada alesan!"

Saipul tak lagi berbicara. Namun lelaki itu menadahkan tangannya pada Leha.

Leha memiringkan tubuhnya, ia menopang kepalanya menyamping menatap Saipul, malas.

"Mana oleh-oleh gue?" Masih tidak tahu malu, Leha mendengus. Saipul mencari kesekeliling Leha.

"Ini yak?" Ia melihat sesuatu teronggok tak biasa di bawah kolong kursi bambu itu. Kantong kresek hitam besar, ia raih.

"Hmm …"

"Wuaduh banyak Ha? Buat gue semua yak inih?"

"Ambil dah bang buat Nayla sama Aldo" 

Nayla dan Aldo adalah Anak Saipul. Bocah kembar dengan rambut keriting yang semakin hari semakin ceriwis dan menggemaskan.

"Beneran ini? Astaga, makasi ya gusti, ada aja rejeki duo gembul" ucap Saipul bersyukur.

Lelaki mantan preman itu, memeluk kresek hitam. Karena didalam kresek itu bukan hanya ada oleh-oleh tapi juga susu dan pampers.

"Nyok, kita ke kosan Mpok Marni, kate si Parjo liat si Udin keluar masuk dari sono" 

"Kagak ngibulkan si Parjo?"

"Kagak! Udah mending cepat keburu kabur tuh bocah gemblung."

"Tapi mampir bentar yak ke kontrakan gueh mau narok oleh-oleh lu, pan searah"

Leha memacu motornya. Ia membonceng si Saipul. Berhenti dikosan Saipul, Leha menyapa Diana, istri Saipul, dan lanjut menuju kosan Marni tak jauh dari kontrakan Saipul.

Leha mendapati sosok yang ia kenali masuk ke dalam kosan. "Tuh bang orangnye!" Seru Leha. Amarahnya membubung tinggi mendapati Udin yang masuk dalam kosan dengan senyum mengembang.

Rasanya ia ingin mengejar sahabat yang tega padanya itu. Sangking murkanya Leha melajukan motornya dengan ugal-ugalan.

"Bentar Ha, berenti dulu lu! Jangan asal lompat aje lu! Gile nih bocah!" Sewot Saipul. Ia was-was di boncengan.

Dan benar saja. Baru berhenti Leha langsung melompat dari motornya, melangkah cepat menyusul Udin. Tak lagi memikirkan motornya.

"Sedeng!" Maki Saipul. Untung saja lelaki itu sigap. Tangannya meraih stang motor dan kakinya memijak kuat pada aspal. Menahan agar motor Leha tidak jatuh.

BRAK!

Mendengar gebrakan pintu. Saipul dengan cepat memarkirkan motor Leha. Lalu ia menyusul wanita yang sedang mereog didalam salah satu kamar kosan.

"Leha?"

Leha merangsek masuk. Ia melihat Udin yang terkejut. Disana juga ada satu lagi orang yang tidak Leha pedulikan keberadaanya.

Yang dimatanya sekarang hanya Udin dan rasa kesal yang meledak. Melihat si sahabat jahanam. Menipu dan mengambil uangnya.

"Dasar lu sodara macam apa yang nipu sodaranya sendiri!"

"Bener-bener lu ya Din!"

"Maapin gueh Ha!"

"Maap Ha!"

"Lu udah gueh anggep sodara Din, tapi kenapa lu bisa nipu gueh?"

"Abah gueh udah nganggep lu anak Din, tega bener lu! Nggak abis pikir guah Din!"

"Ma-maap Ha, gue bakal ganti duit lu Ha! Bener sumpah, gue cuma minjem doang"

"Maap-maap seenak lu kalo ngomong maap!"

Nafas Leha memburu. Ia mengambil bantal kapuk padat disekitar Udin dan memukul lelaki itu keras-keras.

"Jangan, Mbak!" Seruan wanita merangsek antara Leha dan Udin. Ia melindungi Udin dari tabokan bantal kapuk itu.

"Ratu, kamu nggak apa? Sakit nggak?"

Udin meneliti tubuh si Ratu. Leha mendengus. Melihat pasangan di depannya. Ia harus memberi pelajaran pada Udin.

"Siapa lu? Minggir!"

"Nih laki kudu ditabok palanya biar sadar! Bawa kabur duit gue! Tega ngirim gue ke luar negeri sendirian. Kagak punya ati ini orang suka tipu-tipu! Padahal udah gue anggep abang sendiri!" 

Tatapan Leha menajam. Kembali Leha ayunkan bantal kapuk pada Udin.

"Ini salahku!" Ucap Ratu sendu, yang mampu menghentikan tabokan bantal padat itu pada Udin. Udin dan Ratu saling berpandangan.

Leha menatap drama didepannya ini tak suka. Apa lagi ini? Siapa pula ini cewek! Dahi Leha mengernyit dengan tampang tak santai.

Sedangkan Saipul sedari tadi hanya menjadi penonton. Menonton drama sitkom.

"Ribut-ribut ape enih di kosan gue???"

Tbc.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!