Kantong kertas dengan logo apel kroak diletakkan pada tangan Leha yang sibuk memainkan ponsel tak bergunanya.
"Pake itu! Bekasku!"
Mata Leha melebar. Cepat melihat ke dalam kantong kertas itu. Didalamnya ada sebuah ponsel. Tanpa kardus. Hanya ponsel.
Walaupun begitu ini versi terbaru ponsel apel kroak. Membayangkan mempunyai ponsel dengan merek ini saja, Leha tidak berani.
"Makasih Bapa— eh, maksudnya Bang Is, nanti Leha balikin"
Binaran mata Leha terpancar kebahagiaan, ia dengan cepat menekan nomor Abah dan tersambung. Isak menatap sengit pada Leha, ia tidak setuju dengan panggilan itu.
"HALO"
"HALO!"
"ABAH!"
"ABAH! ENIH LEHA BAH!"
Leha sangking senangnya ia tak sadar tempat, Terlalu senang, akhirnya ia bisa mendengar suara Abahnya tercinta. Tangis haru keduannya bersahutan lewat telpon.
Leha mendapati tampang kang php datar disana. Ia pun melipir ke kamarnya. Sekarang ia berada di apartemen Isak.
Setelah insiden wartawan yang mengerumuni mereka di restoran. Nami mendapatkan kabar dari pengurus rumah, ada beberapa wartawan di depan rumahnya.
Ibrahim memutuskan tinggal di penthouse miliknya, sedangkan Sara menginap di apartemen tunangannya. Sedangkan Isak kembali ke apartemennya. Mereka masih dalam kawasan yang sama hanya berbeda gedung.
"Abaaaahh Leha kangeeennn" ucapnya dengan meneteskan air mata. Leha sesegukkan.
"Nak bontot abah napa baru nelpon! Sehat disana? Seneng lu ninggal abah lu! Kangen pan lu? Huwaaaa … "
Si abah tak kalah dramannya. Tangisan Leha semakin menjadi. Isak yang ada di ruang televisi bahkan bisa mendengarnya. Alis lelaki itu bertemu. Bukannya semua kamar di apartemennya kedap suara ya?
"Mana si Udin sini abah mau ngomong!"
Tangis haru Leha mereda, ia jadi gelagapan. Ia tak mau si Abah mengetahui dirinya ditipu oleh sahabat kutu kupretnya.
"Eh … anu Bah, U-Udin, Udin … mencret! Iya mencret Bah!"
"Hah! Kenape die? Yaudeh kasih aje telpon lu ke si Udin di Wc."
"Ben-bentar Bah, Le-Leha panggilin. U-Udiiinn, Diiiinn telpon Diinn"
Mata Leha menjelajah, ia meletakkan ponselnya dibawah bantal, mencari sesuatu, tiba-tiba ide datang menghampirinya, membuka pintu, Leha mengintip, ia melihat target, dengan secepat kilat ia menyambar tab milik Isak.
"Pinjem"
Lalu ia kabur dan mengunci pintu. Leha meraih ponsel dan masuk ke kamar mandi, Leha merasa diburu, ia membuka Utub, dan memasukkan keyword, bunyi orang mencret terpentut pentut.
Dan Leha mengklik salah satu video. Suara kentut dengan mencret membuat Leha mual. Namun untuk memuluskan kebohongannya Leha bertahan
Walau kamar mandi milik Isak ini wangi tapi ia tak bisa mengontrol bayangan yang otaknya buat. Leha menutup hidung dan merasa muntah.
Isak mengejar Leha, terlambat Leha telah mengunci pintunya, Lelaki itu menggedor kencang pintu kamar Leha.
"Leha!"
"LEHA! KEMBALIKAN!"
"HEI! LEHA!"
"LEHA!"
Wanita itu menulikan telinganya, ia kembali meletakkan ponselnya bawah bantal kemudian membuka pintu, ia menyengir, menemukan Isak dengan wajah bersungut marah.
Leha menyerahkan Tabnya yang Isak ambil dengan kasar. Lelaki itu pun kembali ke sofanya.
Leha kembali menutup pintunya, ia masih ingin mengobrol dengan si Abah dan obrolan mereka selesai dua jam selanjutnya.
Pukul 8, perut Leha mulai berdendang, ia keluar kamarnya. Mengintip. Ia melihat Isak tak beranjak dari tempatnya.
Leha keluar mengendap, perlahan seperti para ninja, yang tak disadari. Perasaan bersalah mendatanginya.
Lelaki itu masih fokus pada tab dan pekerjaannya. Leha tak tahu jika Isak menggunakan kacamata.
"Pak Bapak?"
"Oi Pak, Bapak?"
Isak tak menanggapi.
Sejak kapan aku nikah dengan ibunya! Batin hati Isak.
"Bapak?"
"Bang?"
Isak merespon, melirik sebentar pada Leha. Leha memanggilnya sekali lagi, sekarang ia coba dibuat agak manja.
"Baaaang?"
"Maaf Bang Is, Leha salah"
Isak meletakkan Tabnya. Ia menaikkan kacamatanya. Rambut lelaki itu tersapu kacamata, hingga memperlihatkan jidatnya. membuatnya nampak lebih muda.
"Baru tahu kacamata yang dinaiki macam bando bisa nambah tingkat kegantengan" guman Leha tersihir tampang Isak.
Suara perut Leha terdengar kencang.
"Mandangin saya nggak akan buat perutmu kenyang"
Cengiran Leha melebar.
"Duh Bang Is! Peka banget!"
"Bukan peka! Tapi perutmu yang sedari tadi bunyi-bunyi itu buat sakit kuping saya!"
"Ah … Bang Is, bisa aja! Perut dangdutan itu bukan buat sakit kuping, Bang! Tapi mengajak geol geol"
Leha cekikikan, ia masih fokus pada tampang Isak.
"Abang imut benget sih, kalo marah tambah imutnya"
Entah darimana datangnya gombalan itu, mungkin dari perut Leha yang berontak, bukan diajak makan, malah diajak ngegombalin si kang php.
"Oh iya, Bang Ismut, Isak Imut, ini Leha balikin henpon nya makasih ya"
Kernyitan dalam Isak perlihatkan. Panggilan apalagi itu? Ismut? Sinting! Ucap Isak dalam hati.
Leha mengeluarkan ponsel Isak dari kantong celana, sebelum memberikan pada Isak Leha mengelap layar ponsel lelaki itu menggunakan kaosnya.
Meminjam bersih, mengembalikan juga bersih.
"Pakai aja, selama disini ponselmu yang itu tidak akan berguna"
"Hah! Beneran Bang ismut, ini buat Leha?"
"Ha, panggil saya dengan panggilan yang biasanya saja, nggak usah pake improvisasi!"
"Bang Ismut?"
Isak menggeleng dengan melotot.
Duh bang ati ati itu mata keluar ngegelinding, lebar bener dah, ngeri-ngeri sedep yak, batin Leha.
"Kang php? Eh … Bapak, maksudnya Bapak?"
"Sejak kapan saya nikah sama ibukmu!"
"Lha iya juga yak, Ibuk Leha mah udah jadi tengkorak, Bapak ada-ada aja nih!"
Isak tidak bermaksud, namun wanita itu malah tergelak.
"Suka lucu si bapak! Tapi gak tau sikon! ck!ck!"
Leha menggeleng. Isak dibuat tak bisa berkata,
Yang ngelucu siapa? Yang ketawa juga siapa? Hati Isak kesal.
"Bang Is?"
"Iya itu lebih baik!"
"Bang Is, Lapeeerrr …."
Perutnya berdendang hingga rasanya melilit.
"Baaaang makaaan" rengek Leha. Entah sejak kapan Leha menjadi berani pada Isak.
Suara bel, mendiamkan Leha. Senyum sumringah, lalu ia berlari ke pintu. Ia pikir Isak telah memesan makanan untuk mereka.
"LEHAAA … " Seruan cempreng dari luar memanggil namanya, dengan tas kertas besar di acungkan di depan wajah Leha. Sara dan Nami.
"Bunda!"
"Adik Ipar!"
Leha meraih tas kertas itu dan merangkulnya, lalu membawanya masuk ke dalam apartemen wanita itu lupa mempersilahkan keempat tamunya masuk.
"Makan! Makan! Makan!" Leha bersenandung.
"Siapa?"
Isak menatap Leha yang masuk seorang diri.
"Hah! Bunda dan Soulmate, Sara dan belahan jiwanya."
"Mana?"
"Itu"
Leha menengok, astaga! Leha menepuk jidatnya. Ia lupa kata sandinya.
Kembali ia menuju pintu, Leha membuka pintu dengan menunduk hormat.
"Silakan masuk, Yang mulia Raja, Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Putri bungsu dan Pangeran dari Timur Tengah"
"Terima kasih, Putri dari Asia Tenggara"
Tawa terbahak mereka di depan pintu, Isak memutar bola matanya, mengapa keluarganya menjadi ikutan sinting. Bahaya virus Leha telah menyebar.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments