Setelah melewati jalanan dengan kanan kirinya hutan, Mereka memasuki sebuah gerbang besar. Pagar kokoh dengan uliran indah.
Memasuki gerbang disambut jalan dengan dengan lampu hias yang remang. Indah.
Isak sampai di depan pintu utama. Sudah ada beberapa mobil disana.
Isak memarkirkan mobilnya. Isak melirik wanita aneh di sampingnya yang tertidur pulas. Kepalanya tidak lagi ditutupi jas. Wajah Leha mendongak dengan mulut menganga.
Ada liur mengalir dari sudut bibirnya. Membuat Isak mengernyit.
"Bangun!"
"Hei! Bangun!"
Isak ingat ia menyimpan sesuatu di bawah kursinya. Benda plastik berwarna hijau dan kuning terang, bentuknya panjang. Terbuat dari plastik.
TOOOEEEETTTT ….
BRAK!
DRUAK!
"AW!"
Leha yang gelagapan mendengar suara melengking yang menyakitkan kupingnya. Ia terperosok masuk ke bawah kursi.
Lalu melonjak hingga kepalanya menatap langit-langit mobil. Wanita itu menunduk memegang kepalanya yang nyut-nyutan.
Kehebohan yang Isak sangka. Ia melirik dengan kernyitan, melihat ringisan Leha, wanita itu masih mengelus kepalanya.
"Bangun!"
Leha menyentak kepalanya ke sumber suara. Matanya menatap nyala pada Isak.
"Bapak!"
"Bapak bisa nggak ngebangunin itu pake cara yang normal!"
"Nggak usah bikin kaget! Bagus cuma kepentok ini! Kalo roh Leha ikutan terbang gimana?"
"Bapak mau tanggung jawab!" Sungut Leha membuat Isak memutar bola matanya. Ia tak merasa salah.
"Saya sudah membangunkanmu" ucapnya dengan barang bukti yang membuat telinga Leha pengang ada ditangannya. Terompet vuvuzela.
"Bapak kok punya Vuvuzela? Dilarang Fifa bawa vuvuzela di stadion tau pak."
"Katanya terlalu berisik, sini … kasih ke saya aja, sini pak!" Mata Leha berbinar ia ingin mencoba meniupnya.
"Buat apa? Kubuang saja" tolak Isak.
"Ish si Bapak sini dulu, nanti saya buangkan, sini!" Keukeuh Leha.
Leha mencoba meraih vuvuzela yang Isak pegang. Namun lelaki itu saat Leha ingin merebutnya ia menjauhkan terompet asal negeri afrika itu.
"Si bapak mah pelit, medit! Nanti kuburannya sempit lho pak!"
Leha mengatakan begitu tapi wanita itu tidak mau mengalah. Ia menunggu kesempatan dan kembali merebutnya, dan lagi-lagi Isak dengan mudah menjauhkan darinya.
Isak sadar ada beberapa mata yang asik melihat kelakuannya juga Leha.
"Tuh lihat Bun, nggak mungkin kalau anakmu itu cuma pura-pura aja, mana ada pasangan pura-pura yang gitu mesra kayak kita dulu"
Nami, Isak Senior juga Sara melihat kelakuan keduannya dari jendela.
"Bunda keluar dulu, jangan sampe si abang khilaf"
"Lha udah bun di pesawat kemarin" ucap Sara mengikuti Nami yang beranjak keluar mansionnya.
"Dasar bapak tukang php! Tukang tipu! Medit juga!" Leha kesal. Keluar semua ejekan untuk Isak.
"Medit? tukang tipu, tukang php? A-apa tukang?!" Isak sampai tak bisa lagi berkata-kata. Wanita tidak tahu diri ini, sembarangan mengatainya.
"Iya bapak!"
Leha melipat tangannya pada dada, ia tak ingin lagi iti si vuvu itu! Ia kesal. Nafasnya tersengal. Lelah juga mencoba merebut terompet yang membuat jidatnya memerah dan benjol.
Tok!tok!tok!
Ketukan di jendela pintu sebelah Isak terdengar.
"HAARGH!"
"AAAK!"
Teriak kedua nya tercekat melihat kepala seseorang yang nongol dengan wajahnya putih.
Isak melonjak dengan menutup wajahnya takut, ia beringsut mendekat kearah Leha, ia tak sadar memeluk erat wanita mungil itu, sedangkan Leha yang memberanikan diri melihat lebih jelas.
"Bunda? Sara?"
"Kalian ini lama banget di dalem mobil, ngapain aja sih!"
Nami berinisiatif membuka pintu anaknya.
"Bapak!" Leha mencoba menepuk tubuh Isak yang bergetar. Ia mencengkram pinggang Leha kencang.
"Bapak! Itu cuma Bunda sama Sara, Lepas pak!"
Leha mencoba mendorong Isak namun lelaki itu lengket sekali menempel pada tubuhnya.
"Astaga Abang! Kamu udah nggak kuat lagi?" Suara familiar membuat pelukannya pada Leha mengendur.
"Bunda?" Ia menengok,
"Aaak … BUNDA!" Suara Isak meninggi.
"Apa sih kok tiba-tiba kamu teriak-teriak sih?"
Nami tak merasa ada yang salah. Ia hanya ingin menegur sang putra yang terlalu lama didalam mobil.
"Bunda maskernya itu!"
Nami meraba wajahnya, ia terkekeh dan melepas masker kainnya.
"Ya kamu lama banget, Bunda mau nyambut mantu bunda nunggunya kelamaan!" Nami tak mau disalahkan.
"Lagian bang, kamu itu masa takutnya sama setan, udah gede juga" omel Nami.
"Mantuu bunda Lehaaa, sini nak turun"
Nami menghampiri Leha. Leha sudah turun dari mobil milik Isak ia melongo melihat istana di depannya ini.
"Mantu bunda selamat datang di rumah keluarga Ibrahim sayang, ayo masuk"
"Ini rumah bunda? Gedong bun, kalah ini kebon rambutannya haji rosidin yang berhektar-hektar itu sama rumah bunda"
"Haji Rosidin?" Kernyitan tak mengerti.
Leha menutup mulutnya, melihat lirikan tajam Isak. Ia ingat kalau dirinya dilarang ngomong sembarangan.
"Hehe ada bun, tetangga Leha di kampung"
Leha terpana pada isi dari rumah gedong,
"Cie si abang lama amat di dalem mobil, tahu lagi kasmaran tapi ati-ati Khilaf. Eh tapi nggak apa sih, Abang bisa nikah duluan"
"Jadi aku nggak usah bikin pelangkah"
Sara menaikkan alisnya. Tak lama toyoran ia dapatkan dari Isak.
***
Leha mengeliat, ia masih mengantuk, semalam ia tak bisa tidur, ia merasa apa yang ia lalui hanyalah mimpi.
Leha meraba, ia menemukan sesuatu yang hangat, ia mendekat dan memeluk guling hangat itu erat.
"Hnmm … " Lenguhan terdengar serak.
Leha membuka kedua matanya. Ia yang tidur miring dihadapkan dengan wajah seorang lelaki. Bukannya menjerit kaget ia merasa ia bermimpi.
Bibir penuh,Hidung bangir, dengan bulu mata yang lentik menutupi mata. Alis tebal membuat Leha iri.
"Tidur aja kamu ganteng"
Leha mengulurkan tangannya, jemarinya meraba bulu mata lentik itu.
Merasa tidurnya terganggu, mata dihadapannya terbuka, disana terlihat bola mata coklat terang manatapnya.
Leha hanya sedikit tersentak, jarinya masih menggantung. Dengan berani dan menganggap ini mimpi, wanita itu mengusap bibir milik lelaki di depannya itu.
"Aw!" Pekikan serak,
"Ini bukan mimpi!"
"AW! Sakit!" Lelaki itu menepuk tangan Leha yang mencubit lengan lelaki itu.
"Bapak!"
"Bapak kenapa ada dikamar Leha?"
Leha menunjuk wajah Isak dengan berani.
"Bapak mau me sum ya?"
Leha beringsut merebut selimut yang Isak kenakan.
Isak memperhatikan sekelilingnya. Ia telah mendapatkan jawabannya. Kantuknya sudah menghilang, ia beranjak dari ranjangnya. Menguap lebar dan mengambil handuk.
Kebiasaan Isak kalau tidur ia selalu shirtless, alias tak suka mengenakan atasan.
"Bapak!" Pekik Leha terkejut melihat bagian atas tubuh Isak yang menggoda dan pernah ia pelototi saat di pesawat waktu itu.
"Bapak mau kemana! harus tanggung jawab!"
"Bapak mengambil kesempatan dalam kesempitan ini nama—"
"Ini kamar saya!"
Isak menggunakan bathrobe yang sengaja tak ia tutup bagian depannya. Melihat itu Leha menatap tajam pada tubuh liat, dan berbentuk itu.
Pipi Leha bersemu. Mendapati Leha yang terpesona dengan tubuhnya Isak iseng ia maju dan terus maju mendekati Leha.
Tubuh Isak terasa memanggil jemarinya untuk menyentuh. Sesaat Leha terlena, ia mengulurkan tangan, lalu untuk sesaat Leha sadar, ia memukul kesal tangan yang terulur ingin merasai, mengelus tubuh liat itu.
Tanpa kesadaran Leha sudah berdiri di depan Isak, wanita itu melipat bibirnya. Nafasnya menderu, pipi memerah.
Kurang sesenti lagi ia bisa meraba perut liat Isak. Deheman membuat wajah wanita itu merenggut, ia menatap Isak.
"Siapa yang terbukti me sum sekarang?"
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Nasnisnus
yuk mariiiii
2023-02-22
1