Bab 18

Leha menyiapkan dirinya. Ia akan mulai lagi bekerja menjadi ojek online. Ia akan kembali mengumpulkan pundi-pundi dalam kantongnya.

Abahnya masih belum kembali. Juga gangguan Udin yang menambahkan satu penawaran untuk Leha, agar memaafkan dirinya.

"Ha! Maafin gue ha, gue salah. Gue tahu. Lu kecewa sama gue, gue tahu. Gue minta maaf banget Ha"

"Ini setoran gue hari ini"

Beberapa lembar uang beragam Udin letakkan pada meja kaca ruang tamu Leha. Leha duduk di depan Udin. Tangannya ia lipat di dada.

"Gue bodoh harusnya gue ngomong ke elu, tapi kejadiannya cepet banget Ha,"

"Tapi kejadiannya tiga bulan sebelon kita pegi Din!"

"Itu lama dan lu kagak bilang apa-apa sama gue. Lu tahu, lu itu nyolong Din namanya!"

"Terus lu bilang kenal itu cewek udeh enam bulan, tapi lu kaga kenalin sama gue, sama Bang Saipul."

"Ape lagi lu kata baru deket-deketnya tiga bulanan, bucin boleh, oon jangan! Bucin kok jadiin elu orang jahat!" Ucapan keras Leha.

"Ratu bilang dia takut ketemu keluarga gue" cicit Udin.

"Halah, Makdikipe! Alasan bae ntu cewek!" Maki Leha.

Leha melirik Udin yang menunduk. Mau tak mau ia merasa iba. Menghela nafas, ia mengatur segala emosi yang membuncang di hatinya.

Udin adalah temannya yang paling setia. Yang selalu ada disampingnya saat suka dan duka. Rasa kecewa tentu masih ada dalam dirinya pada Udin.

"Lu tahu Din untung gue gak dipenjara sama bosnya Rena! Kalau sampe gue bakal nyeret elu sama gue! Enak aje lu disini cinta-cintaan, disana gue merana"

"Tobat lu!"

Sudahlah, tak apa Leha menghiperbola ucapannya. Supaya si Udin tobat.

Lu nggak boleh lemah, Ha! Ini Udin harus nerima kemarahan lu! Gimana dia tega nelantarin lu di sono! Batin Leha berseru.

"Okeh, Gue terima! Satu lagi gue minta lu cariin gue kerjaan! Yang bagus di perusahaan terkenal!"

"Kalo lu nggak bisa, hubungan kite end dimari! Bukan sodaraan lagi tapi peminjem dan pembayar!"

"Bisa! Besok lu gue anter ke perusahaan Rena"

"Kenapa harus perusahaan Rena? Gak! gue kagak mau!"

Tolak Leha. Ya kali ia harus terlibat lagi dengan Isak. Udin memandang lesu.

"Adanya lowongan di perusahaan Rena, kemaren Rena ngehubungin gue, besok jam 8 ada interviuw. Lo kesana, gue anter!"

"Gimana kalo lo coba dulu, Ha? Sambil gue cari lowongan lain buat elu, gimana?"

Kembali Leha menimbang. Ia memang tidak ingin berurusan lagi dengan Isak. Tapi ia masih ingin bertemu dengan Nami juga Sara.

"Oke, anterin gua besok!"

Udin sudah tahu Leha membutuhkan pekerjaan wanita yang ia kenal ini tak mungkin mau menganggur. Udin tersenyum sumringah. Ia lega. Setidaknya Leha menerima penawarannya.

***

"Gue ngojek dulu" pamit Udin pada Leha setelah mengantar dirinya. Ia berdiri di depan lobby Lewi Crop. Perusahaan Isak.

Perasaannya berdebar tak karuan. Leha mengenakan kemeja putih dengan celana bahan berwarna hitam. Sepatu hitam pantofel peninggalan saat dulu ia ikut paskibra semasa SMA. Rapi dan formal.

Dulu ia ikut Paskibra, cita-citanya, ia ingin menjadi salah satu pasukan pengibar bendera di istana. Namun tinggi badan yang tak memadai ia harus tergeser oleh temannya yang lain.

Ya kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Minum susu sudah ia lakukan, main skipping sudah ia lakoni, berenang pun ia jabani. Tapi tingginya stuck di tempat.

Leha menyerah pada hobinya itu. Walau banyak ia menjuarai perlombaan Paskibra tingkat provinsi. Dan sedikit lagi ia bisa mencapai tingkat nasional.

Semua ketangkasan baris-berbaris Leha diatas rata-rata. Lagi-lagi Leha tersandung dengan tinggi badan. Ia harus digantikan oleh sahabatnya. Yang saat ini menjadi artis nasional.

Rumor yang beredar. Banyak siswa ikut dalam paskibra untuk batu loncatan mendapat pekerjaan di ibukota.

Kalau kau beruntung, kau akan di panggil majalah anak muda dan dari situlah awal terbukanya kesempatan.

Banyak artis nasional jebolan dari paskibra nasional pengibar bendera di istana negara.

Leha mematut dirinya di pintu kaca lobby. Rapi dan ia siap.

Leha masuk ke lobby perusahaan milik Isak. Hembusan angin dingin bertiup ke arah Leha. Perusahaan Lewi ini berada di daerah perkantoran ibukota.

Tempat paling macet dan sibuk di jam kerja. Gedung-gedung bertingkat di sekelilingnya. 

"Permisi mbak saya Sholeha, ada janji temu dengan Ibu Rena, sekretaris pak Isak"

"Sebentar ya mbak"

Resepsionis yang bername tag Dewi itu segera mengambil gagang telepon. Leha menatap sekeliling lobby kantor yang terlihat mewah. Lantai marmer yang mengkilap. Juga lalu lalang karyawan kantor.

"Mbak Sholeha, bisa naik ke lantai H 25 disana ibu Rena telah menunggu, silahkan mbak liftnya disebelah kiri"

"Terima kasih mbak"

Leha melangkah ke arah lift berjajar. Ada 6 lift yang saling berhadapan. Leha berdiri di lift dengan tulisan H besar. Ia menunggu di depan lift itu.

Dewi telah memberitahu bagaimana cara untuk menuju ke lantai ruangan Rena.

Ting!

Leha masuk ke dalam. Ia menekan tombol angka 25 dan pintu lift kembali tertutup. Tak lama, pintu kembali terbuka. Memperlihatkan angka 25 di dinding gedung.

Leha keluar. Ia tak mengira bisa secepat itu ia sampai. Kantor yang luar biasa hebat. Leha mencari dimana keberadaan Rena.

Leha mengayunkan kakinya mendekati meja di ujung ruangan. Namun kosong.

Klek!

Sosok perempuan keluar dari pintu kayu kokoh di depan meja itu. Leha mendekat. "Permisi, dengan Ibu Rena?"

"Ah Leha kamu sudah disini, nanti kau tugasnya membersihkan ruangan di lantai khusus ya"

"Mmm … bu Rena—"

"Mbak aja, ha"

"Mbak Rena, saya diterima?" Ia ingat Udin mengatakan interview.

"Iya tapi jadi OB nggak apa-apa kan Ha? Kamu mau kan? Soalnya hanya itu lowongan yang buka, apa si Udin nggak ngomong sama kamu kalau ini lowongan OB?"

"Oh nggak apa Mbak, makasih malah udah diterima, tapi ini beneran mbak Rena? Leha diterima?"

"Iya Ha, nanti kamu ke ruang HRD disana ketemu dengan Bu Narti, dan ini surat kasih ke dia"

Rena memberikan Leha amplop coklat.

"Mbak Rena HRD lantai berapa ya?"

"Lantai G 16"

Ponsel Rena berbunyi.

"Iya pak, semua siap, saya akan menuju ruang rapatnya." Rena menutup sambungannya. Dan berbalik kearah Leha.

"Ayo Ha, kita bareng, aku juga mau ke lantai yang sama"

Leha hanya mengangguk dan mengikuti Rena. Dengan mata menjelajah pada dinding-dinding kantor milik Isak ini.

Tbc.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!