"Tolong ini, ini dan ini" ucap Nami, ia menghampiri Leha yang ternganga masuk ke dalam toko barang mahal. Pelayannya pun mengenakan setelan jas juga sarung tangan.
Menyambut Nami, Sara dan dirinya begitu ramah, layaknya mereka seorang keluarga kerajaan.
Sangat berbeda saat dirinya dulu menjadi spg di itc, ia hanya menggunakan kaos dan celana jeans.
Bahkan tak jarang suara Leha habis karena berteriak untuk memanggil pelanggan.
"Masuk kak, dilihat lihat dulu barangnya, kalau berminat"
"Ayo kak masuk, ini ada lejing Ascantik, kerudung Syaruni, ini ada hijab syar'i ricis, daster Prili, kolor Aliandio ayo sini kak tinggal pilih"
Semua sangat berbeda,
"Leha, cobalah"
Leha hanya manut, ia masih tak menyangka akan mencoba baju dari merek terkenal ini, dengan takut ia mengikuti mbak-mbak bule cantik yang menunjukkan ruangan ganti.
Ia melihat gaun-gaun yang di gantung. Leha mencobanya satu persatu. Ia hanya bersama dengan Nami di toko ini, sedangkan Sara, ia akan menyusul katanya.
Nami hanya mengangguk apapun yang Leha kenakan, tubuhnya memang tak setinggi model tapi sangat proporsional dengan lekukan dan tonjolan yang pas.
Mungkin bisa dibilang Leha memiliki body goals. Bekerja serabutan, sehari ia bisa memiliki 3 sampai 5 pekerjaan. Membuat dirinya tak perlu meluangkan waktu untuk berolahraga.
"Saya ambil semua"
Nami menyerahkan kartu hitamnya pada kasir. Leha ingin menolak, Namun ia ingat pasan Isak, "Terima apapun yang Bunda kasih"
Walau tak enak ia harus menerimanya. Kalau tak enak kasih kucing Ha! Dewi jalangnya mengomentari pikirannya.
"Bun sudah jam segini, ayo kembali ke hotel. kalau telat nanti soulmate bunda ngambek" Sara datang dengan paper bag, di tangan kanan kirinya.
Kembali ke Hotel. Disana tim make up telah menunggu kedatangan mereka.
Leha langsung diseret beberapa wanita masuk dalam kamar.
"Eh, Bun …"
"Tenang aja ya sayang, kamu akan jadi yang paling tercantik di gala dinner nanti" ucap Nami dari luar.
Ia pun telah masuk ke kamarnya siap untuk didandani.
Para wanita sibuk berdandan begitu pun para lelaki yang sudah siap dengan taksedonya masing-masing. Mereka menunggu wanita-wanita mereka selesai.
***
Lobby hotel berbintang, banyak orang berkumpul, wartawan berjejer dengan garis yang membatasi mereka. Karpet merah menanti.
Sebuah Limosin hitam terparkir di depan lobby. Wartawan siap membidik kamera mereka. Keluarga Ibrahim. Isak senior turun, lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan juga gagah itu menunggu kekasih hatinya untuk turun.
Ia mengulurkan tangannya pada Nami. Walau telah berumur namun keromantisan keduanya bak pasangan baru. Hangat dan manis.
Lalu si anak sulung. Yang kemudian ia melakukan hal yang sama seperti ayahnya, mengulurkan tangannya pada seorang wanita mungil, Wartawan penasaran siapa wanita yang digandeng si anak sulung. Wartawan terus membidik pasangan Isak dan Leha. Mereka tampak serasi.
Senyuman bahagia Isak saat menggandeng Leha tertangkap kamera wartawan. Teriakkan wartawan yang mempertanyakan siapa Leha, tak mendapatkan sedikitpun jawaban dari pihak keluarga Ibrahim.
Menyusul kemudian Sara dengan tunangan dan terakhir, ada Nalen yang datang seorang diri. Jepretan wartawan tak kalah banyaknya dibanding Isak.
Kedua pangeran keluarga Ibrahim memang menyita perhatian. Banyak pengusaha kelas atas mengincar mereka berdua untuk dijadikan mereka menantu.
Dan para wartawan tidak akan melewatkan kedua pangeran Ibrahim itu, mereka tidak ingin ketinggalan mengambil gambar keduannya untuk kepentingan surat kabar mereka.
Leha yang gugup menjadi semakin gugup, namun Isak mengeratkan genggamannya, membuat Leha fokus pada genggaman Isak.
Leha mengenakan gaun perpaduan warna hitam dan biru gelap. Isak menggunakan pakaian serba hitam dengan dasi panjang tipis berwarna biru gelap.
Leha mengenakan wig, rambutnya dibuat panjang coklat gelap, bergelombang. Sangat cantik. Pipi tembamnya yang merona menambah kecantikannya.
Isak bahkan harus berdehem berkali-kali untuk menyadarkan dirinya sendiri.
"Tak usah gugup ada aku" bisik Isak. Leha terlalu gugup ia tak menyangka gala dinner yang Sara ceritakan akan sehebat dan sebesar ini.
Isak menggandeng Leha menuju ballroom mereka berjalan duduk di meja mereka. Disana sudah ramai para pemain bola.
Suasana ramai, setiap tim memiliki perwakilan sepuluh orang pemain. Dan saat Leha mencari sang idola Leha bisa melihat Naymar duduk tak jauh darinya.
Rasanya sesak karena kegirangan bisa Leha rasakan. Ia megenggam tangan Isak erat.
"Kamu kenapa?" Tanya Isak.
"I-itu … i-itu Neymar?"
Tanpa malu Leha menunjuk ke arah Neymar yang sedang tersenyum memperlihatkan gigi putih rapinya. Senyuman ala pasta gigi itu. Senyuman yang bisa membius Leha.
Isak mengikuti arah telunjuk Leha. Melihat ke tempat Neymar berada.
"Iya itu Neymar, kenapa?"
"Aku fans, aku fansnya!" Ucapnya keras.
"Astaga! Tuhan my husband kita ketemu! My hubby!" Racuan Leha dengannmata yang berkaca.
Isak merasakan adanya firasat tak enak. Melihat reaksi Leha, mata wanita itu mulai berkaca.
"Jangan buat malu! Berhenti menangis, Aku akan mengajakmu menemuinya"
"Benarkah?"
"Benarkah?"
Leha menarik kerah jas Isak. Air matanya kembali mengalir, benar-benar ia sangat bahagia.
"Lepas!" Bisiknya saat melihat beberapa orang memperhatikan mereka.
Leha menutup wajahnya. Ia terharu tapi mendengarkan peringatan Isak ia menahan tangisannya.
Leha menghirup kembali ingusnya. Menahan segala keharuannya.
***
Acara gala dinner menuju akhir dan banyak dari mereka telah kembali, salah satunya sang idola, Neymar tak lagi terlihat batang hidungnya.
Leha merengut. Isak menipunya. Lelaki itu membohonginya. Neymar telah kembali ke hotelnya tanpa Isak mempertemukan mereka.
Ia mengikuti langkah lebar Isak. Lelaki itu ingin cepat pulang untuk menghindari kejaran wartawan. Leha melangkah menghentak keras lantai terdengar ketukan sepatu hak tingginya yang menghantam lantai keras.
Tentu saja Isak tidak peduli. Itu bukan salahnya kan? jika Neymar kembali lebih dulu ke hotel. Ia pun tak perlu merepotkan diri menahan pesepakbola itu hanya untuk wanita yang baru ia kenal beberapa jam saja. Isak bersyukur karena itu.
"Dasar kang tipu!" Runtuknya.
"Kang PeHaPe!" Gerutunya lagi.
DUG!
Jpret! Jpret! Jpret!
Leha memundurkan tubuhnya. Ia menatap kesal punggung Isak yang berhenti mendadak.
"Ia tak sadar tubuhnya sebesar raksasa!" Gerutunya. Ia mengelus dahinya yang lumayan sakit itu.
"Tuan Isak Junior, siapa wanita yang kau gandeng saat ini?"
"Tuan Isak, apa itu tunangan anda?"
"Apa itu pacar baru anda?"
"Tuan Isak wanita cantik yang ada di belakang anda benarkah kekasih anda?"
"Boleh perkenalkan pada kami kekasih baru Anda Tuan Isak?"
Jpret! Jpret! Jpret!
Leha mengintip, dari balik tubuh Isak. Mendengar suara keributan dalam bahasa arab, membuat Leha ingin mengatakan Amin di setiap wartawan itu berbicara.
Bukan orang ngaji Ha! Batin dewinya memperingatkan Leha.
Entah mengapa kebiasaan orang negara +62 seperti dirinya ini setiap mendengar alunan arab berkumandan, jiwa-jiwa mengamini itu terpanggil. Mengherankan.
Jpret! Jpret! Jpret!
Leha menghalau kilatan lampu kamera juga lampu tembak dari yang wartawan itu miliki. Benar-benar niat sekali wartawan-wartawan ini.
"Tetap di dekatku"
Isak merengkuh tubuh mungil Leha dan melindungi dari jepretan para Wartawan. Leha diseret ke arah sebuah mobil hitam, dengan cekatan Isak melepaskan jasnya, ia membukakan pintu mobil dan mendorong pelan tubuh Leha memasuki mobil tersebut.
Saat Isak akan menutup pintu mobil. Ia mendekat pada Leha.
"Tutupi wajahmu dengan itu" kepala Isak menghentak ke arah jas yang ada dipangkuan Leha.
"Tutupi sekarang!" Debuman pintu tertutup.
Leha merenggut lebih manyun. Ia mengikuti perintah Isak, menutupi kepalanya dengan jas milik lelaki itu. Bahkan tubuhnya ia buat merosot kebawah.
"Sejelek itukah diriku?" Gerutuannya.
Leha merasakan kursi kemudi sampingnya telah terisi orang. Leha mengintip, sosok Isak sedang menyetir dengan satu tangan.
Lelaki itu menggulung kemejanya memperlihatkan lengan yang kokoh. Leha meneguk salivanya. Ia bisa melihat urat yang menyembul pada punggung tangannya.
Lelaki itu masih fokus pada jalanan. Tangan kanannya berpindah ke perseneling, ia memindahkan benda itu dengan tangan kiri yang sibuk memutar stir.
Mata Leha menatap terpesona dengan mulut menganga. Belum lagi kembali dengan tangan kirinya Isak mengendurkan dasinya. Sosok seksi itu ikut turun naik menggoda Leha untuk mengecupnya.
Sungguh seksi ciptaanmu ini ya Lord! Batin Ja lang Leha berteriak meronta ingin menyentuh adam apel milik Isak yang ikut naik turun.
"Kuatkan hambamu yang mupeng ini Ya Lord!" lirihnya. Lagi! Leha tak sadar menyuarakan ucapan hatinya.
Isak melirik kelakuan wanita aneh di kursi sebelahnya.
"Jangan mengotori mobilku dengan liur mu! Aku tak ingin membasuh kursi mobilku dengan tanah dan air hingga tujuh kali!"
Sentakan itu menyadarkan Leha. Ia mencoba mengintip ke belakang mobil Isak, mencari apa wartawan itu membuntuti mereka.
"Memangnya aku anjing apa!" Kembali Leha menggerutu.
Ia tak menemukan penguntit. Leha bernafas lega. Ia kembali duduk dengan normal. Dan saat ia akan membuka jas yang menutupi kepalanya.
Tangan Isak menghentikannya.
"Jangan!"
"Jalanan ini banyak cctv! Nanti lepas jika aku suruh!" Leha hanya melirik kesal pada Isak. Ia melipat tangannya didada.
Tanpa Leha ketahui Isak menaikkan sudut bibirnya. Ia menemukan mainan baru.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Aerik_chan
Mungkin juga aku begitu kalo ketemu idolaku... dah gulung2 auto salto
#Kekasih Sementara,
2023-02-15
0