Lyodra kembali menemui Prima yang sudah duduk di salah satu tempat makan. Namun, sekarang wanita itu tidak sendirian, Lyodra membulatkan matanya dengan nafas yang masih terengah ketika melihat Aiden.
Akan tetapi entah kenapa saat melihat pria itu datang, Lyodra merasa lebih aman. Ya, seperti yang dijanjikan Aiden padanya.
"Kenapa dia bisa ada di sini?" gumam Lyodra sambil terus memperhatikan Aiden yang duduk dengan tenang. Baru saja dia hendak melangkah, Aiden tampak mengangkat kepala, hingga tatapan mereka bertemu.
Aiden menyapa Lyodra dengan mengangkat tangan, gadis cantik itu mengangguk sekilas, lalu berjalan mendekat. Ketika Lyodra sampai di meja, Aiden langsung menarik kursi agar Lyodra duduk di sampingnya.
Pria tampan itu sudah menahan diri untuk tetap berada di perusahaan, tetapi ternyata tidak bisa. Selain tentang dirinya yang mulai terobsesi pada Lyodra, dia juga khawatir Lyodra mendapat serangan dadakan dari vampir lain.
Tanpa banyak bicara Lyodra langsung duduk di sana. Diam-diam dia melirik ke kanan dan ke kiri, tetapi tak melihat keberadaan Lucy, biasanya wanita itu akan mengikuti ke manapun tuannya pergi.
"Lucy ada di perusahaan," kata Aiden, seolah mampu membaca pikiran Lyodra. Hingga membuat gadis itu terlihat kikuk.
"Maaf, Tuan," balas Lyodra lalu menggigit bibir, karena Aiden berhasil menebak tepat sasaran.
Aiden memperhatikan wajah Lyodra yang tampak pias, dan dia yakin ada sesuatu yang terjadi sebelum dia datang.
Sepertinya para vampir itu kembali menyerang gadis ini. Batin Aiden, dia melirik ke arah kalung permata yang senantiasa melingkar di leher Lyodra, andai kalung itu dilepas, maka nyawa gadis itu dalam bahaya, dia akan terus diburu karena para vampir sudah tahu siapa pemilik kalung tersebut.
"Wajahmu terlihat pucat, kau sakit?" tanya Aiden basa-basi, dia ingin mendengar apa jawaban gadis cantik ini.
Lyodra terdiam sesaat, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Mungkin saya hanya kelelahan karena harus mengelilingi gedung besar ini."
Prima hanya mampu menyimak obrolan dua orang yang ada di hadapannya, sementara pesanan mereka belum juga datang, karena tempat makan itu memang cukup ramai.
Tiba-tiba Aiden mengangkat tangan, lalu menangkup salah satu pipi Lyodra, hingga membuat jantung gadis itu kembali mendapatkan serangan.
"Aku akan mengantar kalian pulang. Setelah itu beristirahatlah dengan baik. Aku bukan tipe orang yang menyiksa para pekerja," ucap Aiden dengan suaranya yang terdengar pelan dan berat.
Seperti terhipnotis gadis itu hanya bisa mengangguk, membuat Aiden menarik salah satu sudut bibirnya. Lalu detik selanjutnya, makanan mereka datang, tetapi Aiden hanya duduk sambil memperhatikan Lyodra.
"Anda tidak ikut makan, Tuan?" tanya Lyodra dan Aiden langsung menggelengkan kepala.
"Aku sudah makan. Nikmati saja makanan milikmu," balas pria itu lalu mengusap bibir Lyodra menggunakan ibu jarinya.
Lyodra terpaku dengan semua sikap manis yang Aiden berikan. Kenapa dia malah melihat sisi lain dari pria itu? Bukankah seharusnya Aiden bersikap acuh tak acuh, dan membuat dia semakin membenci pria itu.
Ah, pusing sekali. Kenapa hatiku selalu mudah meleleh karena uang dan pria tampan? Benci, benci, benci ... dasar lemah!
Lyodra merutuk dirinya sendiri, dan hal tersebut membuat Aiden merasa lucu. Dia mengalihkan pandangan dengan bibir yang berkedut.
***
Aiden benar-benar berencana mengantar Lyodra dan Prima sampai rumah. Namun, bukan menggunakan mobilnya, karena dia datang dengan melesatkan diri. Pria tampan itu duduk di belakang bersama Lyodra, sementara Prima duduk di samping supir.
Lyodra dan Aiden sama-sama terdiam, hingga ponsel milik Lyodra bergetar, tanda bahwa ada panggilan masuk yang ternyata dari David.
Lyodra melirik ke arah Aiden sekilas, takut jika sang ayah ingin berbicara macam-macam, sementara dia sedang bersama Aiden.
"Angkatlah, ayahmu pasti menunggu," cetus Aiden dengan seringai kecil, Lyodra pasti berpikir bahwa Aiden belum tahu siapa ayahnya.
Lyodra nyengir kuda, dan dia langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya. "Halo, Dad, ada apa?" Sapa Lyodra lebih dulu.
"Halo, Lyo, Sekarang kamu pasti sedang beristirahat 'kan? Apakah kamu sudah makan, Nak?" balas David sambil melayangkan pertanyaan.
"Sudah, Dad. Tumben Daddy menghubungiku apa ada sesuatu yang serius? Bagaimana dengan nenek, apakah dia sehat?"
Sebelum menjawab, pria paruh baya yang ada di seberang sana mengulum senyum, karena dia sedang merasa bahagia. "Tidak ada apa-apa, Lyo. Daddy hanya ingin memberitahumu, kalau Daddy sudah diterima kerja di sebuah perusahaan besar, posisi Daddy juga lumayan."
Mendengar itu, Lyodra ikut merasa senang dengan matanya yang berbinar-binar. "Benarkah?"
"Iya, Nak. Kalau sudah lancar, nanti kamu keluar saja dari pekerjaanmu itu, Daddy akan membiayai kuliahmu lagi dan kehidupan kita," ujar David dengan senyum mengembang. Namun, Lyodra malah melirik ke arah Aiden, sangat disayangkan kalau dia keluar dari pekerjaannya yang sangat menguntungkan.
"Nanti kita bicara lagi, Dad. Sekarang aku harus kembali bekerja," ucap Lyodra dan David pun mengerti itu. Akhirnya panggilan terputus, bersama kepala Aiden yang tiba-tiba jatuh di bahu Lyodra.
"Aku mengantuk, biarkan aku tidur sebentar," gumam pria itu, yang membuat Lyodra tak bisa berkutik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Ney Maniez
modussss,, ktny gk tidurr, 🤭🤭
2024-04-03
0
Ney Maniez
syukaaaa😍🤭
2024-04-03
0
Ida Ulfiana
udah mulai modus ya km ai
2023-10-16
0