Prima dan Lyodra terus berjalan menyusuri gedung pusat perbelanjaan untuk membeli bahan-bahan pokok. Kini mereka sedang berada di depan freezer untuk berbelanja daging segar, Prima mengambilnya cukup banyak untuk persediaan makanan Lucy dan juga beberapa ekor serigala di rumah tuannya.
"Banyak sekali, Bu, untuk berapa lama?" tanya Lyodra sambil menghitung irisan daging mentah yang masuk ke dalam troli belanja.
"Aku membelinya cukup banyak, karena peliharaan Tuan juga butuh makan," jawab Prima apa adanya. Dan Lucy adalah salah satunya.
Lyodra tampak melongo, ternyata selain hewan peliharaan pria itu tidak wajar, ternyata Aiden juga menghabiskan uang banyak untuk sekedar memberi mereka makan. Ya, tentu Lyodra tahu kalau daging itu termasuk yang paling mahal.
Melihat reaksi Lyodra, diam-diam Prima mengulum senyum tipis. Dia yakin gadis itu sedang menghitung berapa banyak uang yang Aiden keluarkan untuk memelihara serigala di rumahnya.
"Sepertinya lebih dari gajiku sebulan," gumam Lyodra dengan helaan nafas kasar, menyayangkan uang yang habis dengan sia-sia.
Dia kembali mengekor pada Prima sambil mendorong troli belanja. Dan di saat itu Lyodra mulai merasa dirinya sedang diawasi. Lyodra menghentikan langkah. Namun, ketika dia melirik ke sana ke mari, dia tidak melihat sesuatu apapun yang mencurigakan.
Lyodra mencoba menghilangkan pikiran negatifnya, mungkin karena suasana yang cukup ramai, maka dari itu dia merasa sedang ditatap oleh seseorang.
"Ada apa, Lyo?" tanya Prima, karena menyadari langkah Lyodra yang mulai menjauh darinya.
Tak ingin membuat Prima ikut berpikir yang tidak-tidak, Lyodra menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Bu. Lebih baik kita langsung pergi beli sayuran dan buah, supaya cepat pulang."
Prima tak ambil pusing, dia langsung setuju dan mengikuti saran Lyodra. Mereka kembali melanjutkan langkah, hingga akhirnya waktu berbelanja telah selesai.
Namun, sebelum pulang Prima mengajak Lyodra untuk makan siang terlebih dahulu, di salah satu tempat makan yang ada di gedung tersebut.
"Bu, aku ke toilet dulu yah," pamit Lyodra pada Prima dan wanita itu pun langsung mengangguk.
Awalnya gadis cantik itu tak merasa curiga. Karena dia berpikir bahwa tidak akan ada seseorang yang mencelakainya di keramaian seperti ini, apalagi yang mengganggunya adalah sosok yang tak kasat mata.
Hingga dia tiba di toilet, beberapa pintu mengantri dan Lyodra berdiri untuk menunggu giliran. Tak ingin merasa bosan, Lyodra memilih untuk membuka ponselnya, tetapi lagi-lagi dia merasa ada seseorang yang sedang menatap ke arahnya.
Lyodra menoleh dengan cepat, dan yang dia lihat adalah orang-orang yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang sedang bercermin, ada yang sedang membenahi make up. Hingga tak terasa kalau sekarang adalah gilirannya untuk masuk ke dalam toilet.
"Aku berharap sosok yang menghantuiku segera menunjukkan wujud aslinya!" gumam Lyodra karena merasa kesal, dia seperti sedang dipermainkan.
Gadis cantik itu menunaikan hajatnya hingga dia benar-benar merasa lega. Namun, ketika dia membuka pintu, dia tidak melihat siapapun di sana.
Toilet yang dia singgahi tampak lenggang, hingga kini hanya ada dia seorang. Perasaan Lyodra kembali tak enak, dia mengepalkan tangannya yang reflek mengeluarkan keringat dingin.
"Aku tidak boleh takut pada apapun, aku yakin kalung pemberian Kakek bisa melindungiku," gumam Lyodra sambil menggerakkan kakinya untuk melangkah. Namun, dia dibuat terkejut ketika lampu berkedip-kedip, karena terus hidup dan mati secara berkala.
Lyodra tak ingin merasa gentar, tetapi reaksi tubuhnya tak bisa bohong, bulu kuduk Lyodra meremang kala merasakan sesuatu yang dingin di belakang tengkuknya. Gadis itu mulai meraaba leher.
Dan ... Deg!
Gadis cantik itu langsung menahan nafas ketika melihat bayangan seorang pria di depan cermin, sementara lampu tak berhenti untuk berkedip-kedip. Hingga akhirnya padam dengan sempurna.
Namun, tak berapa lama dari itu, lampu kembali menyala dan mengejutkan Lyodra. Karena dia melihat sosok bertaring di belakang tubuhnya melalui cermin di depan sana.
"Arghh!" Gadis cantik itu berteriak kencang, dia langsung berlari terbirit-birit untuk keluar dari toilet, hingga menjadi pusat perhatian semua orang.
Bahkan tanpa sengaja Lyodra menubruk bahu seorang pria asing. Dia terhuyung karena tak dapat menyeimbangkan tubuh, tetapi sebelum jatuh ke lantai, pria itu lebih dulu menangkapnya.
"Maaf, Tuan," ucap Lyodra kembali menegakkan tubuhnya. Dia terlihat masih shock, karena baru saja melihat sosok yang baru pernah dia lihat untuk seumur hidupnya.
"Kau tidak apa-apa, Nona? Wajahmu pucat," tanya pria itu sambil memperhatikan wajah Lyodra.
Gadis itu menggeleng cepat, ingin segera pergi dari sana. "Saya baik-baik saja, Tuan. Kalau begitu permisi."
Karena saking buru-burunya Lyodra tidak sadar, jika pria yang baru saja menolongnya adalah makhluk penghisap darah, dia adalah Edge—pimpinan dari golongan vampir lain. Pria itu merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Aiden tentang Lyodra yang tidak berbahaya. Karena dia merasa, Aiden tengah mengambil keuntungan.
"Aku akan menyingkirkan kalung itu, dan merasakan darahnya yang manis," gumam Edge dengan seringai penuh. Baik dia dan vampir lain tidak bisa asal menggigit Lyodra, karena ada kalung permata yang melingkar di leher gadis cantik itu.
Sementara di sisi lain, Aiden tak berhenti untuk memikirkan Lyodra dan aroma tubuh gadis itu. Seperti sesuatu yang terikat, Aiden ingin terus menempelkan bibirnya di leher Lyodra.
"Dia seperti candu," gumamnya, teringat kejadian tadi pagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Ney Maniez
waduhhhh
2024-04-03
0
mama yuhu
waduhhh...
2023-04-30
2
Aminah Adam
lanjut
2023-03-15
1