Lyodra masuk ke dalam rumah Aiden dengan hati yang mantap. Di ambang pintu dia disambut oleh satu orang pelayan wanita yang memiliki usia berkisar empat puluh tahun, Lyodra pun memberi salam dengan menundukkan kepala.
"Perkenalkan Nona, nama saya Prima, saya kepala pelayan di sini," ucap wanita itu, membalas salam Lyodra dengan hangat.
"Aku Lyodra. Panggil saja Lyo, Bu," balas Lyodra dengan senyum mengembang.
"Baiklah, kalau begitu mari biar saya antar ke kamarmu. Tadi siang Tuan sudah memberitahu saya kalau ada pelayan baru yang akan tinggal di rumah ini," ujar Prima sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
Sementara Lyodra mengekor di belakang wanita itu. Dia kembali melihat-lihat apa saja yang dilewatinya, dan dia merasa bahwa aura dingin semakin menyentuh tengkuknya.
Lyodra sedikit terkejut ketika Prima tiba-tiba menghentikan langkah. Dia berjengit dan hampir saja menyentuh punggung wanita itu. "Ma—maaf, Bu." Kata Lyodra dengan terbata.
"Saya adalah orang yang bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh seluruh pelayan di rumah ini. Jadi, mohon kerja samanya ya, Lyo. Jangan sampai kamu membuat ulah. Kalau kamu ingin melakukan sesuatu, tolong izin dulu padaku," jelas Prima dengan mimik wajah yang terlihat serius. Lantas setelah itu, dia membuka satu pintu yang tak jauh dari kamar milik Aiden.
"Ini kamarmu. Malam ini kamu langsung beristirahat saja. Karena kita akan mulai bekerja besok pagi," sambung wanita itu, berharap Lyodra mematuhi semua ucapannya.
"Bu, tapi kan aku masih kuliah. Jadi, sepertinya mulai besok malam aku akan pulang sedikit larut. Tidak apa-apa 'kan?" tanya Lyodra meminta persetujuan. Kalau Prima tidak setuju otomatis dia akan sulit untuk membagi waktu.
Namun, ternyata pikiran Lyodra salah. Prima menganggukkan kepala sambil menepuk salah satu bahu Lyodra. "Tidak masalah. Yang penting kamu hubungi saya. Karena biasanya, penghuni rumah sudah beristirahat semua. Nanti saya yang akan membukakan pintu untuk kamu."
Senyum Lyodra mengembang, dia tidak menyangka ternyata ada seseorang yang bisa dia andalkan di rumah ini. Yah, setidaknya dia bisa menjadikan Prima sebagai teman bicara.
"Terima kasih ya, Bu."
"Sama-sama, silahkan masuk. Tidurlah dengan nyenyak, supaya besok pagi kamu bangun dengan tubuh yang lebih fresh," ucap Prima, dan Lyodra langsung mengangguk patuh.
Dia masuk ke dalam kamarnya tanpa ragu. Membuat seseorang yang tengah berdiri di depan jendela, langsung menyeringai penuh.
Tanpa Lyodra sadari sedari tadi Aiden mendengar percakapan mereka. Vampir tampan itu kian tertarik pada Lyodra, karena gadis itu memiliki keberanian yang tidak bisa diremehkan.
Pintu kamar Aiden tiba-tiba terbuka, menampilkan Prima yang senantiasa memberikan hormat padanya. "Apakah saya perlu mengawasinya, Tuan?"
"Tidak! Dia pelayan pribadiku, jadi dia akan lebih banyak berinteraksi denganku. Itu sudah cukup, dia tidak akan macam-macam," balas Aiden tanpa menoleh ke arah Prima.
Wanita itu pun menganggukkan kepala. Sama seperti Lucy, dia merasa khawatir jika Lyodra akan mengambil keuntungan karena berhasil menjadi pelayan di keluarga vampir.
Namun, selama Aiden tidak memberi perintah, Prima pun tidak bisa bertindak gegabah. Dia akan mengikuti apa kata sang tuan, meski dalam hatinya bertentangan.
"Kalau begitu saya pamit, Tuan," ucap Prima, kembali meninggalkan Aiden sendiri. Sebagai seorang vampir, Aiden tidak pernah tidur. Karena tubuhnya tidak butuh beristirahat layaknya manusia.
Kecuali ada sesuatu yang menyerangnya. Maka Aiden membutuhkan pemulihan dengan meminum banyak darah.
Semalaman pria itu terjaga, hingga tiba-tiba sekelebat bayangan menghampirinya. Dan ternyata bayangan itu adalah milik Kaisar—ayahnya.
Kaisar benar-benar tak berubah, dari dulu hingga sekarang wajah pria itu tak menua sama halnya dengan Aiden. Mereka sama-sama berhenti mengalami perubahan, setelah terlihat seperti manusia yang berusia 25 tahun.
"Ada apa, Dad?" tanya Aiden, dia tahu jika ayahnya datang, maka ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh pria itu.
"Siapa gadis itu? Lucy bilang kau yang memperkerjakannya?" tanya Kaisar dengan tatapan menyelidik. Bola mata yang tampak memerah itu terlihat sangat jelas, karena Kaisar tak memakai kontak lensa.
Aiden menghela nafas, lalu berbalik untuk menatap ayahnya. "Benar. Apakah Daddy juga penasaran dengannya?"
"Tentu saja, dia berhasil membuatmu tertarik. Daddy jadi ingin tahu, apa kelebihannya?"
"Tidak ada. Dia hanya gadis pemberani yang ingin berurusan denganku. Jadi, aku menjadikan dia sebagai pelayan pribadiku," jelas Aiden dengan gamblang.
Kaisar terdiam dengan mata yang menyipit. "Kau memiliki alasan lain, dan Daddy tahu itu."
"Kalau begitu untuk apa Daddy bertanya?"
Mungkin di depan semua orang mereka dikenal sebagai sosok yang irit bicara. Namun, jika sudah berdebat, ayah dan anak ini seperti tak mau kalah.
"Kau membakar perusahaan ayahnya, agar dia datang padamu?" tebak Kaisar. Namun, Aiden tak langsung menjawab. Dia justru mengulurkan tangannya, dengan kekuatan yang ia punya, dia membuka laci kemudian menarik sesuatu dari dalam sana.
Kini satu lembar foto sudah ada di tangan Aiden. Dia menyerahkannya pada Kaisar sambil berkata. "Aku merasa dia istimewa."
Kaisar memperhatikan sosok yang ada di dalam foto tersebut. Di sana ada seorang balita yang sedang digendong oleh kakek tua dan beberapa orang lainnya. Namun, bukan itu fokusnya. Melainkan sesuatu yang melingkar di leher gadis kecil itu. Sebuah kalung dengan permata berwarna merah delima.
Kaisar menoleh ke arah putranya, dan Aiden langsung tersenyum tipis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Ita rahmawati
apakah foto lyo
2024-07-15
0
Ney🐌🍒⃞⃟🦅
itu lyo
2024-04-02
0
Ney Maniez
🤔🤔🤔🤔
2023-05-17
0