Pagi hari, Lyodra tidak mendapati Aiden keluar dari kamar ataupun memanggil dirinya. Dia juga sudah mengetuk pintu, tetapi tak ada sahutan apapun, hingga dia memutuskan untuk membukanya tanpa izin.
Kosong, Lyodra tidak melihat siapapun di ruangan itu, atau suara yang menandakan bahwa Aiden ada di dalam sana.
Seperti ada sesuatu yang tidak biasa, pria itu menghilang hingga Lyodra memutuskan untuk mencari keberadaan sang tuan.
"Mungkinkah dia ada di ruangan lain?" gumam Lyodra sambil melangkah menyusuri rumah besar itu. Sementara dari balik pintu kamar lain, ada Kaisar yang memperhatikan gerak-gerik gadis cantik itu.
Kali ini dia tidak akan ikut campur dengan urusan Aiden. Sebab ia yakin, putranya sudah mempertimbangkan apa yang dia lakukan, Aiden tidak akan mungkin membahayakan dirinya sendiri.
Lyodra terus melangkah sambil melirik ke sana ke mari, tetapi dia belum menemukan sosok yang sedari tadi dia cari. Dan di sepanjang langkahnya, Lyodra banyak menemukan ruangan di rumah ini, yang sepertinya tidak digunakan.
Tiba-tiba Lyodra menghentikan laju kakinya, saat ia mendengar suara dari salah satu ruangan itu. Lyodra kembali merasakan keanehan, hingga dia berpindah haluan.
Gadis cantik itu menatap pintu ruangan yang dia curigai, seolah tengah menembus siapa yang ada di dalam sana. Namun, ketika dia ingin mendekat, Lyodra bisa membaca dengan jelas ada larangan yang tertulis.
"Apakah itu semacam ruangan rahasia? Dan apakah dia juga ada di dalam sana?" gumam Lyodra sambil menggenggam tangannya. Sejauh ini dia sudah merasakan banyak hal-hal janggal. Jadi, dia tidak perlu merasa takut.
Tak peduli akan larangan itu, Lyodra berjalan sambil memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatnya. Banyak tanda tanya di otaknya yang ingin dia pecahkan, hingga akhirnya dia tiba di depan ruangan tersebut.
Sebelum membuka pintu, Lyodra lebih dulu mengintip dari lubang kunci. Dan detik selanjutnya dia dapat melihat punggung Aiden, ya, dia mengenali postur tubuh pria itu.
Dia terus memperhatikan apa yang Aiden lakukan di sana, pria itu tampak meminum sesuatu dari gelas kaca, benda cair yang memiliki warna merah.
Lyodra semakin menajamkan penglihatannya, tetapi aksinya tidak bisa selalu mulus, sebab detik selanjutnya tubuh Lyodra ditarik dan dirapatkan ke dinding dengan leher yang tercekik.
"Kau ingin mati?!" sentak Lucy, andai dia sudah tidak memiliki rasa sabar, mungkin dia sudah menghabisi Lyodra saat itu juga.
Ludah Lyodra tercekat dan dia merasa kesulitan untuk bernafas. Sumpah demi apapun, lehernya sangat sakit, tetapi dia tidak bisa melepaskan cengkraman Lucy begitu saja.
"Apakah kau tidak bisa membaca larangan yang tertulis di sana? Apakah orang berpendidikan sepertimu tidak bisa mengerti bahasa manusia? Bodoh!" maki Lucy dengan kekesalan di puncak ubun-ubun, dan Lyodra memahami apa yang membuat wanita itu marah, ya, itu semua karena dia lancang.
Lucy semakin menguatkan cengkramannya, hingga membuat mata Lyodra melotot, namun pada akhirnya pintu ruangan itu terbuka, Aiden keluar dan Lucy langsung melepaskan tangannya dari leher Lyodra.
Lyodra langsung terbatuk-batuk, karena nyaris kehabisan nafas. Sementara Aiden langsung menghampiri Lyodra, dan memeriksa keadaan gadis itu. Aiden menatap nyalang ke arah Lucy, ketika melihat leher Lyodra memerah.
"Apa yang terjadi?" tanya Aiden, menuntut sebuah penjelasan pada Lucy.
Wanita serigala itu melipat kedua tangannya di depan dada. Tidak terima rasanya jika Aiden malah lebih perhatian pada manusia bodoh seperti Lyodra. Padahal sudah jelas, kalau Lyodra yang salah.
"Dia tidak membaca larangan yang ada di pintu, dan hal itu membuatku marah. Sebagai pelayan baru seharusnya dia berhati-hati!" cetus Lucy dengan bola mata yang berapi-api, dia masih bisa menghargai keberadaan Lyodra, karena Aiden menjadikan gadis itu pelayan pribadi.
Namun, dia pun akan merasa sangat benci, ketika Lyodra melakukan kesalahan. Dia yakin, gadis itu bukan tidak membacanya, Lyodra pasti sengaja ingin tahu apa yang dilakukan Aiden di dalam sana.
"Tapi sikapmu berlebihan, Lu," balas Aiden, dari tatapan pria itu Lucy bisa mengerti bahwa Aiden tidak ingin melihat hal seperti ini lagi.
"Kalau begitu buat dia paham, kalau orang yang selalu merasa penasaran dengan urusan orang lain, maka dia dalam bahaya. Kau tidak bisa seenaknya di sini, karena kami memiliki aturan!" ketus Lucy sambil menunjuk wajah Lyodra dengan sengit.
Lantas setelah itu, dia pergi meninggalkan Aiden dan Lyodra. Sementara Lyodra hanya bisa diam saja, dia merasa harus waspada terhadap Lucy, karena sepertinya Lucy sangat membenci kehadirannya.
"Dia seperti itu hanya pada orang yang bersalah. Jadi berhati-hatilah, jangan buat kesalahan jika tidak ingin berurusan dengannya," ucap Aiden, dia tahu Lucy melakukan ini semua karena tidak ingin identitasnya terbongkar di depan Lyodra.
"Ya, Tuan," jawab Lyodra dengan suara lemah.
Sementara Aiden terus menatap leher Lyodra yang memerah. "Apakah itu sangat sakit?"
Lyodra tidak bisa menyembunyikannya, karena cengkraman Lucy memang cukup kuat, akhirnya Lyodra pun menganggukkan kepala.
"Kau akan segera sembuh setelah ini," ujar Aiden lalu memangkas jarak, Lyodra membulatkan kelopak matanya ketika merasakan kecupan-kecupan kecil menyapa lehernya.
Tubuhnya membatu hingga nyaris tak bisa menolak apapun yang Aiden lakukan. Bahkan ia merasa kecupan terakhir Aiden berikan cukup lama, seolah menarik semua rasa sakit yang dia terima.
"Bagaimana?" tanya Aiden setelah selesai melakukan tugasnya, sementara Lyodra hanya mampu bergeming dengan jantung yang berdebar keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Ita rahmawati
modus ap bner ngobatin tuh si aiden 🤣
2024-07-16
0
gian rasyid
haduh ikut jantungan 😵💫😵💫😵💫
2023-08-23
0
Ney Maniez
😲
2023-05-17
0