Lyodra keluar dari rumah untuk buang sampah, tetapi karena suasana masih cukup pagi dan tugasnya melayani Aiden sudah selesai. Dia pun memilih untuk berjalan-jalan sebentar.
Dia melewati beberapa rumah di samping rumah Aiden. Dan ternyata dia baru sadar, bahwa dia tidak memiliki tetangga dekat, semua rumah itu kosong, hingga rumah ke sepuluh, baru ada penghuninya.
Lyodra langsung menganga dengan keringat kecil yang jatuh dari pelipis, karena dia berjalan cukup jauh dengan terik matahari yang mulai menyapa kulitnya.
"Astaga, apakah dia semenyeramkan itu, sampai tidak ada yang mau menjadi tetangganya?" tanya Lyodra pada dirinya sendiri, sesuatu yang masih dia pertanyakan terus-menerus karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Pantas saja mereka tidak terganggu dengan suara lolongan serigala, ternyata jaraknya memang sejauh ini," ucap Lyodra lagi, dia menatap satu persatu rumah kosong itu, hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali, tetapi sebelum itu ada seorang wanita yang memanggilnya, membuat dia urung untuk melangkah.
"Tunggu!"
Lyodra menoleh dan mendapati sosok wanita yang memiliki usia sebaya dengan Prima tengah berjalan ke arahnya. "Apakah Nona tinggal di sekitar sini?" Tanya wanita itu.
Kening Lyodra sedikit mengernyit, lalu dia pun menganggukkan kepala. "Benar, ada apa, Nyonya?"
"Di mana, Nona? Setahu saya, tidak ada yang mau tinggal di dekat rumah ujung sana," ucap wanita itu sambil menunjuk rumah Aiden, tatapan matanya nampak sangat serius, seolah tengah menasehati Lyodra agar pindah rumah saja. Padahal sebenarnya gadis itu tinggal satu atap dengan Aiden.
"Maksudnya yang paling besar itu, Nyonya?" tanya Lyodra memastikan, dan wanita itu langsung mengangguk tanpa ragu.
"Benar, banyak yang bilang aura di rumah itu menyeramkan. Jadi jangan sampai rumah Nona terkena aura gelapnya, bisa-bisa banyak hantu yang akan datang ke rumah Nona," ujar wanita itu kembali memberikan peringatan pada Lyodra, tetapi bagaimana bisa dia pergi begitu saja, sementara dia memiliki kontrak kerja dengan Aiden.
"Apakah itu alasan kalian mengucilkan rumah itu?"
"Maaf, Nona, tapi kami cari aman. Dan sebaiknya anda juga."
"Ya, terima kasih atas sarannya, Nyonya. Saya akan pertimbangkan," jawab Lyodra, tanpa berkata yang sebenarnya.
Wanita itu tersenyum lalu menepuk bahu Lyodra beberapa kali. "Segeralah pindah, sebelum terlambat."
Lyodra mengangguk kecil, lalu dia pun pamit untuk pulang. Sepanjang jalan dia kembali menggerutu sendirian, karena rumor dan juga hal-hal janggal terus menghampirinya.
"Benarkah yang menggangguku itu hantu?"
***
Karena bahan-bahan makanan di dapur sudah hampir habis, Prima memutuskan untuk pergi berbelanja, tetapi pada saat tiba di ambang pintu, dia bertemu dengan Lyodra, dan gadis itu memaksa ingin ikut. Tak dapat menolak, akhirnya mereka pergi bersama.
Ketika mereka berada di perjalanan, Lyodra kembali teringat dengan pembicaraannya bersama wanita tadi, hingga akhirnya dia mengajak Prima mengobrol. "Sudah berapa lama Bu Prima bekerja di sana?"
Satu buah pertanyaan itu berhasil membuat Prima menoleh. Sebelum menjawab Prima mengulum senyum, karena Lyodra memang gadis yang selalu ingin tahu apapun yang ada di rumah itu. Dia yakin Aiden memperkejakannya bukan tanpa sebab.
"Semenjak keluarga itu pindah ke negara ini," jawab Prima apa adanya. Karena sebenarnya dia dan keluarganya sudah turun temurun melayani keluarga vampir. Mereka terus mengikuti ke manapun Aiden pergi, hingga entah sudah generasi ke berapa.
Lyodra tampak manggut-manggut, dia juga jadi penasaran, kenapa Prima bekerja tanpa merasa terganggu dengan semua kebiasaan aneh Aiden dan keluarganya.
"Tadi aku sempat berjalan-jalan di sekitar komplek, ternyata kita tidak memiliki tetangga ya, Bu. Ada yang bilang, katanya rumah Tuan itu menyeramkan, apakah Bu Prima setuju?" ujar Lyodra, dia ingin terus mengorek informasi, siapa tahu Prima mengetahui sesuatu.
Namun, reaksi Prima di luar dugaan, karena wanita itu justru terkekeh kecil, seolah Lyodra baru saja memberikan sebuah lelucon padanya.
"Semua itu tidak benar, Lyo. Mereka bukan takut karena rumah Tuan menyeramkan, tapi karena peliharaannya. Kamu sudah tahu 'kan kalau Tuan memelihara beberapa ekor serigala?"
Benar, mungkinkah karena itu salah satu alasannya. Lagi pula kenapa Aiden tidak memelihara hewan yang umum dipelihara saja?
"Tapi apakah Bu Prima tidak merasakan apapun?"
Prima langsung menggelengkan kepala. Sekarang dia mulai mengerti kenapa Aiden membiarkan gadis itu berada di sisinya, ya, karena hanya Lyodra, seseorang yang begitu berani memasuki kawasan makhluk penghisap darah.
Dia benar-benar tidak mundur, meskipun sudah merasakan banyak keanehan di rumah Tuan. Aku harap dia akan bertahan sampai akhir.
Hingga tak terasa mereka pun tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota itu. Ketika Lyodra turun, semua pasang mata yang tersembunyi seolah sudah menyambutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Fitri Fitri melay
lanjut thor...ceritabya mulai menarik
2023-04-11
2
Aminah Adam
lanjut..
2023-03-15
0
HNF G
hayo looo... awas diculik vampir lain
2023-03-10
0