Setelah pertemuan antara Lyodra dan Lucy. Lyodra mencoba untuk bersikap biasa saja. Dia tidak pernah membuat masalah dengan wanita itu, jadi harusnya dia tidak perlu takut melihat tatapan mata Lucy yang seperti ingin keluar itu.
"Sekarang aku hanya perlu berpikir bagaimana caranya membuktikan kalau dia adalah sosok penghisap darah seperti artikel yang aku baca," gumam Lyodra ketika dia sudah berada di kamarnya.
Gadis itu bersiap-siap untuk tidur dan terus memikirkan cara untuk menjebak Aiden. Dia harus menuntaskan rasa penasarannya, atau dia tidak akan pernah bisa tidur dengan tenang.
Hingga tiba-tiba Lyodra tersenyum tipis, satu ide sudah muncul di kepalanya, dan dia akan merealisasikannya besok. "Kita lihat apa reaksimu."
Dan setelah itu Lyodra pun berbaring di atas ranjangnya. Malam ini dia harus tidur nyenyak, karena besok pagi sebelum semua orang bangun, dia sudah harus berada di dapur.
Hingga tak terasa sang surya menyapa dengan cepat. Tidak ada yang paling semangat kecuali gadis cantik bermata sipit yang tengah asyik memasak.
Ya, pagi-pagi buta Lyodra sudah memakai celemek dan berkutat di dapur. Kali ini dia bangun lebih dulu dari pada semua orang, Prima yang melihat itu lantas mengernyitkan dahi, apalagi tercium aroma ayam panggang yang cukup menggunggah selera.
"Kamu memasak?" tanya Prima sambil menghampiri gadis cantik itu.
Lyodra menoleh dengan uluman senyum manis. Dia menganggukkan kepala sambil berkata. "Benar, aku memasak untuk Tuan. Aku adalah pelayan pribadinya, jadi aku harus memastikan bahwa dia makan dengan baik."
"Tuan menyuruhmu?"
"Tidak, aku berinisiatif sendiri, dan aku yakin dia akan suka. Karena aku dikenal pandai memasak, jadi Bu Prima tenang saja, aku tidak akan membuat Tuan kecewa," jawab Lyodra dengan penuh semangat.
Melihat itu Prima pun akhirnya diam, dia memilih untuk melakukan hal lain, sementara Lyodra sengaja membakar daging ayam itu setengah matang.
Tanpa diketahui siapapun, gadis itu tersenyum licik. Sebentar lagi dia akan melihat pertunjukan yang tidak boleh dilewatkan sedikitpun.
Tak lama dari itu, Lyodra dipanggil oleh Aiden. Gadis cantik itu bergegas mengambil botol ramuan, lalu menemui Aiden di kamarnya. Di sana sudah ada Lucy, tetapi Lyodra seolah tak menganggap keberadaan wanita serigala itu.
"Apakah perlu saya yang mengoleskannya juga, Tuan?" tanya Lyodra, karena dia ingin memastikan sekali lagi tentang tubuh Aiden yang sedingin es.
Namun, hal tersebut justru membuat Lucy merasa tak suka. Dia langsung melayangkan tatapan tak ramah, lalu merebut botol ramuan itu dari tangan Lyodra. "Lakukan saja tugasmu! Jangan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kamu lakukan!" cetus Lucy dengan penuh penekanan.
Lyodra langsung terdiam, sementara Aiden bersikap biasa saja, karena dia tak membela salah satu dari keduanya.
"Siapkan pakaianku saja. Kali ini ambil jubah panjang yang warna hitam," ucap Aiden memberi perintah pada Lyodra, tetapi gadis cantik itu justru mengerutkan pangkal hidungnya.
"Yang warna hitam? Sudah tahu baju miliknya warna hitam semua, tanpa kamu bicara juga aku pasti mengambil jubah itu, memangnya ada warna lain?!" gerutu Lyodra, dia tidak tahu apa yang dia ucapkan mampu didengar oleh Aiden, meskipun suaranya sangat kecil.
Gadis cantik itu meminta izin untuk masuk dengan menghentak-hentakan kakinya, sementara Aiden diam-diam tersenyum tipis. Dan Lucy mampu melihat senyum itu dari balik cermin yang ada di hadapan mereka.
Sial, ada apa dengan Aiden? Batin Lucy.
***
Aiden siap untuk pergi ke perusahaan. Namun, Lyodra menahan pria itu agar sarapan terlebih dahulu. Melihat itu, Lucy semakin tidak suka, karena menganggap bahwa Lyodra sangat lancang.
"Jangan menghalangi kami! Kamu tahu ada banyak pekerjaan yang harus kamu urus?" cetus wanita itu, rasanya ingin mendorong tubuh Lyodra hingga terpental jauh.
"Tapi saya sudah susah payah untuk memasak, Nona. Jadi, saya harap Tuan mau mencicipi masakan saya," balas Lyodra dengan tatapan merayu, menampakkan dua bola yang berbinar-binar. Membuat bibir Aiden kembali berkedut.
Berani sekali dia.
"Memangnya kamu masak apa?" tanya Aiden, dia menarik kursi nampak tertarik untuk mencoba masakan Lyodra. Lucy terperangah, dia hendak memperingati Aiden, tetapi lagi-lagi Lyodra merayu pria itu.
"Ayam panggang. Sebentar saya ambilkan," jawab Lyodra dengan semangat. Lantas setelah itu, dia pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang sudah dia siapkan untuk Aiden.
Tatapan mata juga bibir gadis itu benar-benar penuh tipu muslihat. Bahkan tidak ada yang dapat menghentikan rencananya. Hingga dengan cepat Lyodra menghidangkannya di meja.
"Selamat makan, Tuan," ucap Lyodra sambil tersenyum manis. Dia akan lihat bagaimana reaksi Aiden, pria itu akan marah atau justru memakan masakannya meskipun masih banyak darah di sana, karena dia sengaja memanggangnya tidak terlalu lama.
Dengan senang hati Aiden menerimanya. Lucy ingin menghentikan pria itu, tetapi Aiden justru memakannya dengan lahap. Melihat itu, senyum Lyodra langsung memudar dan berganti wajah terperangah.
Di antara kunyahannya Aiden mengangkat kepala, dan menatap ke arah Lyodra. "Masakanmu tidak buruk. Aku suka."
Glek!
Lyodra langsung menelan ludahnya susah payah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Ita rahmawati
curiga si lucy ada rasa sm aiden deh
2024-07-15
0
Ney 🐌
trik C bozz
2024-04-03
0
Ida Ulfiana
tk kira masakannya d kasih bawang ternyata d panggang gak terlalu matang to
2023-10-16
0