Pagi harinya, Lyodra benar-benar bangun kesiangan. Setelah mencuci wajah dia langsung berlari tunggang langgang ke arah dapur. Namun, laju kakinya melamban ketika dia melihat pintu kamar Aiden terbuka. Menampakkan Lucy yang sedang melumuri tubuh Aiden, entah menggunakan apa.
Gadis itu nampak tertarik. Sehingga dia langsung bersembunyi di balik dinding. Dia menelisik botol berisi cairan aneh itu dengan seksama sambil menyimak obrolan di antara mereka berdua.
"Apa tugas ini juga akan digantikan olehnya?" tanya Lucy dengan nada ketus. Seolah tak suka jika Aiden lebih mengutamakan Lyodra. Sebab dia sudah berada di sisi Aiden untuk seumur hidupnya.
Aiden menggelengkan kepalanya pelan. Tak ingin membuat wanita serigala itu berpikir yang tidak-tidak. "Lakukan saja apa tugasmu sekarang. Jangan bertanya akan hal yang belum pasti!"
Lyodra menajamkan indera penciumannya dengan mengendus-endus, tetapi tidak ada aroma yang menyengat seperti parfum.
Lyodra melihatnya seperti cairan biasa dan entah apa khasiatnya. Dan dari sana dia yakin, bahwa cairan itu khusus dibuat hanya untuk Aiden.
"Aku harus mencari tahu, cairan apa yang digunakan pria itu untuk melumuri tubuhnya, apakah karena cairan itu, orang-orang jadi takut padanya?" gumam Lyodra dengan tatapan serius. Akan tetapi tiba-tiba dia dikagetkan oleh tepukan di bahu.
Puk!
"Astaga!" ceplosnya sambil berjengit. Dia menoleh ke belakang, dan ternyata Prima sudah ada di depan matanya.
"Sedang apa kamu di sini? Ayo bantu kami siapkan sarapan," kata wanita itu. Mengalihkan perhatian Lyodra yang sedang mengintip Aiden dan Lucy.
"I-iya, Bu," jawab Lyodra dengan tergagap. Karena dia belum bisa menormalkan kerja jantungnya.
Lyodra mengekor pada langkah Prima menuju dapur. Di sana beberapa asisten rumah tangga sedang sibuk menyiapkan sarapan. Lyodra langsung menguncir rambutnya tinggi-tinggi, siap untuk membantu.
"Bu, biar aku saja yang menumis bumbu," ucap Lyodra pada salah satu juru masak. Dia mengambil alih pekerjaan, tetapi dia merasa aneh karena tidak ada irisan bawang putih di sana.
"Bu, apa anda melupakan bawang putihnya?" tanya Lyodra.
"Maaf, Lyo. Tuan dan keluarganya tidak suka dengan bawang putih. Jadi segala jenis masakan yang ada di dapur ini, tidak ada yang dicampur dengan bumbu itu," timpal Prima, menjawab pertanyaan Lyodra yang membuat bingung semua orang.
Karena di sini hanya Lyodra yang belum mengetahui perintah dan larangan yang dibuat oleh Aiden untuk para pelayan.
Mendengar jawaban itu, Lyodra mengerutkan dahinya. Namun, pada akhirnya dia pun manggut-manggut. "Oh begitu, baiklah. Aku akan mengingatnya."
"Tidak perlu diingat, karena kami memang sengaja tidak belanja bawang putih," ujar Prima sambil tersenyum.
Sekali lagi Lyodra hanya bisa menganggukkan kepala. Namun, baru saja dia hendak melanjutkan pekerjaannya. Dari arah luar Aiden berteriak memanggil namanya. "Lyo. Lyodra!"
"Aku dipanggil?" Lyodra malah bertanya pada rekan lainnya.
"Tentu saja, bukankah kamu ini pelayan pribadi Tuan? Pergilah, dia pasti membutuhkan sesuatu!" jawab wanita yang ada di sampingnya.
Tanpa membuang waktu Lyodra pun langsung berlari ke arah kamar Aiden. Dia mengurangi kecepatan langkahnya ketika melihat Lucy di ambang pintu.
Lyodra dan Lucy saling tatap sekilas, mereka seperti sedang bermusuhan padahal berkenalan saja belum.
"Ada apa, Tuan?" tanya Lyodra dengan nafas terengah-engah. Dia mengangkat kepala dan dibuat terkejut karena Aiden masih bertelanjang dada.
Mata gadis itu membola, menatap takjub postur tubuh Aiden yang begitu sempurna. Dadanya nampak bidang dengan perut sixpack, cocok sekali untuk cuci mata.
"Ambilkan pakaianku di sana!" titah Aiden sambil menunjuk ke arah lemari. Gadis itu masih tampak melongo, tetapi dia segera menyadarkan dirinya. Ya, dia tidak boleh tergoda.
"Kamu menyuruhku apa, Tuan?" tanya Lyodra, menciptakan helaan nafas yang keluar dari mulut Aiden.
"Aku bilang ambilkan pakaianku, di sana!" cetus pria itu seraya menunjuk lemari dengan tegas.
"Baik, Tuan."
Kini Lyodra menjadi gadis yang patuh, karena selain ingin menyelesaikan misinya, dia juga ingin mendapatkan uang bonus dari Aiden.
Lyodra masuk ke kamar Aiden tanpa ragu, dia langsung membuka lemari dan melihat semua pakaian Aiden yang tidak memiliki warna terang. Semuanya nampak gelap seperti aura rumah ini. Dia terlihat bingung untuk memilih yang mana, karena semuanya terlihat sama saja. Hingga akhirnya dia mengambil satu buah kemeja paling atas.
"Ambil jas yang memiliki kancing berlian!" titah Aiden lagi, dan Lyodra pun membuka lemari yang lain.
Gadis itu kembali melongo karena semua pakaian Aiden benar-benar hanya memiliki satu warna yaitu hitam.
Sepertinya pria ini main dukun, dan salah satu mantranya dia tidak boleh memakai baju berwarna.
"Tuan, apakah tidak ada warna lain?" tanya Lyodra dengan berani, dia ingin mendengar jawaban apa yang keluar dari mulut Aiden.
"Tidak ada. Aku hanya menyukai satu warna di dunia ini," jawab Aiden dengan suara yang terdengar datar. Lyodra pun manggut-manggut, lalu membawa pakaian itu kepada Aiden.
"Ini pakaian anda, Tuan," ucap Lyodra sambil menyerahkan kemeja beserta jas.
"Kau bercanda? Lalu apa gunanya aku menggajimu, kalau tanganmu itu tidak digunakan?" cetus Aiden yang membuat Lyodra menautkan kedua alisnya. Jangan bilang Aiden ingin dia yang memakaikannya.
Aiden mengangguk seolah paham dengan tatapan mata Lyodra. "Pakaikan!"
Sementara gadis itu mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Mau tidak mau akhirnya Lyodra pun melakukan tugas barunya, benar-benar menjadi pelayan pribadi Aiden.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Ita rahmawati
jgn² lucy suka sm aiden
2024-07-15
0
Ney 🐌
🤭🤭
2024-04-02
0
mama yuhu
mayan.. dapat bonus lihat. body mantap 🤭
2023-04-30
0