Bab 9. Botol Ramuan

"Bereskan semuanya. Aku tidak ingin melihat kamarku berantakan!" titah Aiden pada Lyodra.

"Iya, Tuan," jawab Lyodra patuh.

Setelah selesai berpakaian. Akhirnya pria itu keluar dari kamar, dia dan seluruh keluarga memang masih mampu memakan makanan manusia. Namun, tidak banyak. Bahkan setiap bulannya mereka semua membutuhkan penawar berupa ramuan yang dibuat oleh Kibrit—kakek Aiden—yang selama ini tinggal di tengah hutan.

Setelah kepergian Aiden. Lyodra pun mulai membereskan tempat tidur pria itu. Namun, tidak ada bekas sprei berantakan atau bantal yang berpindah dari tempatnya.

"Sebenarnya dia tidur atau tidak sih? Apanya yang harus dibereskan?" gerutu Lyodra sambil melirik keluar kamar, takut jika Aiden mendengar ucapannya.

Namun, tiba-tiba Lyodra memiliki ide bagus. Karena Aiden tidak ada, dia bisa leluasa untuk mencari tahu apa saja yang pria itu simpan di dalam kamar, termasuk ramuan yang baru saja dioleskan oleh Lucy.

Lyodra mencari botol ramuan tersebut. Dia melihat-lihat di antara banyaknya barang-barang milik pria itu. Dan ternyata Lucy menyimpannya di bawah.

"Wah, akhirnya aku menemukanmu," gumam Lyodra sambil memegang botol dengan gambar kelelawar. Membuat gadis itu berpikir bahwa Aiden menyukai hewan tersebut. "Binatang peliharaannya juga aneh, jadi aku tidak perlu terkejut."

Gadis itu kembali melihat-lihat berharap menemukan sesuatu yang mencurigakan dan bisa dia gunakan sebagai petunjuk. Namun, tiba-tiba Prima datang dan mengagetkannya. "Lyo!"

"Astaga, Bu! Kalau datang itu minimal ketuk pintu dulu, Ibu benar-benar mengejutkanku," ujar Lyodra sambil menarik nafas dan membuangnya secara perlahan.

Namun, bukannya meminta maaf, Prima justru menyampaikan amanat dari tuannya. "Kamu disuruh mengembalikan botol ramuan yang dipakai Tuan tadi pagi. Karena mulai sekarang, kamu yang akan mengambil dan menaruhnya."

"Benarkah?"

"Lyo, jangan terlalu banyak bertanya, kerjakan saja apa yang diperintahkan Tuan kepadamu," balas Prima, karena Lyodra terlalu banyak bicara.

Tanpa menunggu jawaban gadis itu, Prima pun mengajak Lyodra untuk pergi ke ruangan yang dimaksud. "Keluarlah, aku akan menunjukkan di mana letak ruangan itu. Sekarang itu semua menjadi bagianmu."

Prima memimpin di depan, sementara Lyodra mengekor dengan bibir yang mencebik. Mereka melewati meja makan, tetapi Lyodra tidak melihat satu pun orang duduk di sana. Apakah Aiden dan keluarganya tidak sarapan, lalu untuk apa mereka memasak?

"Bu Prim!" panggil Lyodra, membuat wanita itu menghentikan langkah, dia menoleh dan melihat Lyodra yang tampak kebingungan.

"Ada apalagi, Lyo?"

"Bu, ke mana Tuan dan keluarganya? Bukankah seharusnya mereka sarapan?" tanya Lyodra dengan kening yang mengeryit. Dia selalu memprotes sesuatu yang menurutnya tidak wajar.

"Mereka akan makan kalau mereka sudah lapar. Sementara Tuan langsung berangkat ke perusahaan," jawab Prima.

"Lalu untuk apa kita memasak sebanyak itu?"

"Tentu saja untuk para pekerja di rumah ini, Lyo. Kamu adalah pelayan baru, jadi kamu belum paham dengan kebiasaan mereka," jelas Prima, yang entah kenapa tidak bisa dicerna oleh otak Lyodra. Namun, sepertinya dia tidak boleh terlalu menggebu-gebu untuk bertanya, karena Prima bisa curiga.

"Maaf, Bu, aku hanya merasa aneh saja," ucap Lyodra dengan menundukkan kepala, menunjukkan rasa bersalahnya.

"Tidak apa-apa, tapi lain kali jaga bicaramu. Nanti Tuan bisa marah."

Lyodra langsung mengangguk, lalu mereka melanjutkan langkah. Hingga kini mereka tiba di salah satu ruangan, tempat penyimpanan ramuan. Ketika pintu terbuka, Lyodra nyaris tak bisa melihat apa-apa, karena ruangan itu sangat gelap.

Akan tetapi Prima langsung menyalakan saklar lampu. Hingga terlihat banyak sekali botol-botol yang berjajar.

"Kalau kamu dipanggil Tuan di pagi hari, kamu harus ambil botol yang berjajar di sebelah kiri. Karena kamu harus paham dengan apa yang Tuan minta, tanpa menunggu dia bicara. Pagi ini kamu masih selamat, karena Tuan tidak marah ketika pelayan lain yang menggantikanmu, jadi jangan ulangi. Jangan banyak begadang!" jelas Prima dengan gamblang, sambil menasehati Lyodra.

Gadis itu ingin membela diri, karena semalam dia bukan sengaja ingin begadang, tapi dia memang tidak bisa tidur gara-gara lolongan serigala yang ada di sebelah kamarnya.

Namun, sebelum Lyodra bertanya, Prima kembali bicara. "Nah, kalau botolnya sudah kosong, kamu taruh di sebelah kanan. Mengerti?"

"Mengerti, Bu," jawab Lyodra dengan cepat.

"Ya sudah, kamu taruh sana. Aku harus kembali ke depan," ujar Prima, lalu meninggalkan Lyodra sendiri di ruangan ini. Gadis cantik itu berjalan ke arah rak yang ada di sebelah kanan. Lalu menaruh botol kosong yang ada di tangannya.

Setelah melakukan tugasnya, Lyodra ingin segera meninggalkan ruangan itu, tetapi rasa penasaran lebih mendominasi. Dia ingin tahu cairan apa sebenarnya yang ada di dalam botol itu.

Dia melirik keluar, memastikan bahwa Prima sudah pergi jauh. Lantas setelah itu, Lyodra berjalan ke arah rak botol yang masih terisi penuh. Gadis itu membukanya dengan ragu, lalu mencoba menghirup aromanya.

Lyodra langsung merasa mual, hingga dia menutup mulutnya. "Huwek, seperti bau bangkai!" ucap Lyodra, lalu cepat-cepat menutupnya kembali. Namun, dia merasa aneh, sebab dia tidak mencium bau apapun di tubuh Aiden, padahal mereka sempat berdekatan.

"Cih, pasti dugaanku benar, dia main dukun!"

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

dukun 🤦‍♀️🤦‍♀️🤣🤣

2024-07-15

0

Ney 🐌

Ney 🐌

dukun😲🤭😄😄😄

2024-04-03

0

Ney Maniez

Ney Maniez

😂😂😂😂😂

2023-05-17

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Jangan Menyesal!
2 Bab 2. Jangan Halangi Aku
3 Bab 3. Menjadi Pelayan
4 Bab 4. Dua Kali Lipat
5 Bab 5. Aku Pasti Bisa
6 Bab 6. Dia Istimewa
7 Bab 7. Frustasi
8 Bab 8. Tugas Baru
9 Bab 9. Botol Ramuan
10 Bab 10. Bagaimana Kalau Benar?
11 Bab 11. Aku Suka
12 Bab 12. Kalung Permata
13 Bab 13. Milik Aiden
14 Bab 14. Sosok Pengganggu
15 Bab 15. Kau Akan Segera Sembuh
16 Bab 16. Tidak Memiliki Tetangga
17 Bab 17. Dia Seperti Candu
18 Bab 18. Dasar Lemah
19 Bab 19. Lehermu Jadi Lebih Cantik
20 Bab 20. Benar-benar Masih Ada
21 Bab 21. Diserang
22 Bab 22. Berbohong
23 Bab 23. Bagaimana Kalau Begini?
24 Bab 24. Aku Setuju
25 Bab 25. Meninggalkan Rumah
26 Bab 26. Bimbang
27 Bab 27. Dia Telah Kembali
28 Bab 28. Tidak Akan Selamat
29 Bab 29. Itukan Yang Kau Mau?
30 Bab 30. Maafkan Aku Daddy
31 Bab 31. Tidak Ada Bayangan
32 Bab 32. Bulan Purnama
33 Bab 33. Panggilan Dari Jayden
34 Bab 34. Sebuah Gedung
35 Bab 35. Anggap Aku Sebagai Musuh
36 Bab 36. Pengkhianatan
37 Bab 37. Aiden, Kembali!
38 Bab 38. Kita Berbeda
39 Bab 39. Tidak Bisa
40 Bab 40. Matre Sejak Lahir
41 Bab 41. Tidak Bersalah Sepenuhnya
42 Bab 42. Tanganmu Nakal
43 My Beautiful Police by Lunoxs
44 Bab 43. Ayah Mertua
45 Bab 44. Menjenguk Jayden
46 Bab 45. Purnama Tiba
47 Bab 46. Menghancurkan Kalung
48 Bab 47. Jiwanya Hilang
49 Bab 48. Buka Matamu!
50 Bab 49. Menjadi Manusia
51 Bab 50. Bayi Manusia
52 New Novel
53 New Novel
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Bab 1. Jangan Menyesal!
2
Bab 2. Jangan Halangi Aku
3
Bab 3. Menjadi Pelayan
4
Bab 4. Dua Kali Lipat
5
Bab 5. Aku Pasti Bisa
6
Bab 6. Dia Istimewa
7
Bab 7. Frustasi
8
Bab 8. Tugas Baru
9
Bab 9. Botol Ramuan
10
Bab 10. Bagaimana Kalau Benar?
11
Bab 11. Aku Suka
12
Bab 12. Kalung Permata
13
Bab 13. Milik Aiden
14
Bab 14. Sosok Pengganggu
15
Bab 15. Kau Akan Segera Sembuh
16
Bab 16. Tidak Memiliki Tetangga
17
Bab 17. Dia Seperti Candu
18
Bab 18. Dasar Lemah
19
Bab 19. Lehermu Jadi Lebih Cantik
20
Bab 20. Benar-benar Masih Ada
21
Bab 21. Diserang
22
Bab 22. Berbohong
23
Bab 23. Bagaimana Kalau Begini?
24
Bab 24. Aku Setuju
25
Bab 25. Meninggalkan Rumah
26
Bab 26. Bimbang
27
Bab 27. Dia Telah Kembali
28
Bab 28. Tidak Akan Selamat
29
Bab 29. Itukan Yang Kau Mau?
30
Bab 30. Maafkan Aku Daddy
31
Bab 31. Tidak Ada Bayangan
32
Bab 32. Bulan Purnama
33
Bab 33. Panggilan Dari Jayden
34
Bab 34. Sebuah Gedung
35
Bab 35. Anggap Aku Sebagai Musuh
36
Bab 36. Pengkhianatan
37
Bab 37. Aiden, Kembali!
38
Bab 38. Kita Berbeda
39
Bab 39. Tidak Bisa
40
Bab 40. Matre Sejak Lahir
41
Bab 41. Tidak Bersalah Sepenuhnya
42
Bab 42. Tanganmu Nakal
43
My Beautiful Police by Lunoxs
44
Bab 43. Ayah Mertua
45
Bab 44. Menjenguk Jayden
46
Bab 45. Purnama Tiba
47
Bab 46. Menghancurkan Kalung
48
Bab 47. Jiwanya Hilang
49
Bab 48. Buka Matamu!
50
Bab 49. Menjadi Manusia
51
Bab 50. Bayi Manusia
52
New Novel
53
New Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!