"Bereskan semuanya. Aku tidak ingin melihat kamarku berantakan!" titah Aiden pada Lyodra.
"Iya, Tuan," jawab Lyodra patuh.
Setelah selesai berpakaian. Akhirnya pria itu keluar dari kamar, dia dan seluruh keluarga memang masih mampu memakan makanan manusia. Namun, tidak banyak. Bahkan setiap bulannya mereka semua membutuhkan penawar berupa ramuan yang dibuat oleh Kibrit—kakek Aiden—yang selama ini tinggal di tengah hutan.
Setelah kepergian Aiden. Lyodra pun mulai membereskan tempat tidur pria itu. Namun, tidak ada bekas sprei berantakan atau bantal yang berpindah dari tempatnya.
"Sebenarnya dia tidur atau tidak sih? Apanya yang harus dibereskan?" gerutu Lyodra sambil melirik keluar kamar, takut jika Aiden mendengar ucapannya.
Namun, tiba-tiba Lyodra memiliki ide bagus. Karena Aiden tidak ada, dia bisa leluasa untuk mencari tahu apa saja yang pria itu simpan di dalam kamar, termasuk ramuan yang baru saja dioleskan oleh Lucy.
Lyodra mencari botol ramuan tersebut. Dia melihat-lihat di antara banyaknya barang-barang milik pria itu. Dan ternyata Lucy menyimpannya di bawah.
"Wah, akhirnya aku menemukanmu," gumam Lyodra sambil memegang botol dengan gambar kelelawar. Membuat gadis itu berpikir bahwa Aiden menyukai hewan tersebut. "Binatang peliharaannya juga aneh, jadi aku tidak perlu terkejut."
Gadis itu kembali melihat-lihat berharap menemukan sesuatu yang mencurigakan dan bisa dia gunakan sebagai petunjuk. Namun, tiba-tiba Prima datang dan mengagetkannya. "Lyo!"
"Astaga, Bu! Kalau datang itu minimal ketuk pintu dulu, Ibu benar-benar mengejutkanku," ujar Lyodra sambil menarik nafas dan membuangnya secara perlahan.
Namun, bukannya meminta maaf, Prima justru menyampaikan amanat dari tuannya. "Kamu disuruh mengembalikan botol ramuan yang dipakai Tuan tadi pagi. Karena mulai sekarang, kamu yang akan mengambil dan menaruhnya."
"Benarkah?"
"Lyo, jangan terlalu banyak bertanya, kerjakan saja apa yang diperintahkan Tuan kepadamu," balas Prima, karena Lyodra terlalu banyak bicara.
Tanpa menunggu jawaban gadis itu, Prima pun mengajak Lyodra untuk pergi ke ruangan yang dimaksud. "Keluarlah, aku akan menunjukkan di mana letak ruangan itu. Sekarang itu semua menjadi bagianmu."
Prima memimpin di depan, sementara Lyodra mengekor dengan bibir yang mencebik. Mereka melewati meja makan, tetapi Lyodra tidak melihat satu pun orang duduk di sana. Apakah Aiden dan keluarganya tidak sarapan, lalu untuk apa mereka memasak?
"Bu Prim!" panggil Lyodra, membuat wanita itu menghentikan langkah, dia menoleh dan melihat Lyodra yang tampak kebingungan.
"Ada apalagi, Lyo?"
"Bu, ke mana Tuan dan keluarganya? Bukankah seharusnya mereka sarapan?" tanya Lyodra dengan kening yang mengeryit. Dia selalu memprotes sesuatu yang menurutnya tidak wajar.
"Mereka akan makan kalau mereka sudah lapar. Sementara Tuan langsung berangkat ke perusahaan," jawab Prima.
"Lalu untuk apa kita memasak sebanyak itu?"
"Tentu saja untuk para pekerja di rumah ini, Lyo. Kamu adalah pelayan baru, jadi kamu belum paham dengan kebiasaan mereka," jelas Prima, yang entah kenapa tidak bisa dicerna oleh otak Lyodra. Namun, sepertinya dia tidak boleh terlalu menggebu-gebu untuk bertanya, karena Prima bisa curiga.
"Maaf, Bu, aku hanya merasa aneh saja," ucap Lyodra dengan menundukkan kepala, menunjukkan rasa bersalahnya.
"Tidak apa-apa, tapi lain kali jaga bicaramu. Nanti Tuan bisa marah."
Lyodra langsung mengangguk, lalu mereka melanjutkan langkah. Hingga kini mereka tiba di salah satu ruangan, tempat penyimpanan ramuan. Ketika pintu terbuka, Lyodra nyaris tak bisa melihat apa-apa, karena ruangan itu sangat gelap.
Akan tetapi Prima langsung menyalakan saklar lampu. Hingga terlihat banyak sekali botol-botol yang berjajar.
"Kalau kamu dipanggil Tuan di pagi hari, kamu harus ambil botol yang berjajar di sebelah kiri. Karena kamu harus paham dengan apa yang Tuan minta, tanpa menunggu dia bicara. Pagi ini kamu masih selamat, karena Tuan tidak marah ketika pelayan lain yang menggantikanmu, jadi jangan ulangi. Jangan banyak begadang!" jelas Prima dengan gamblang, sambil menasehati Lyodra.
Gadis itu ingin membela diri, karena semalam dia bukan sengaja ingin begadang, tapi dia memang tidak bisa tidur gara-gara lolongan serigala yang ada di sebelah kamarnya.
Namun, sebelum Lyodra bertanya, Prima kembali bicara. "Nah, kalau botolnya sudah kosong, kamu taruh di sebelah kanan. Mengerti?"
"Mengerti, Bu," jawab Lyodra dengan cepat.
"Ya sudah, kamu taruh sana. Aku harus kembali ke depan," ujar Prima, lalu meninggalkan Lyodra sendiri di ruangan ini. Gadis cantik itu berjalan ke arah rak yang ada di sebelah kanan. Lalu menaruh botol kosong yang ada di tangannya.
Setelah melakukan tugasnya, Lyodra ingin segera meninggalkan ruangan itu, tetapi rasa penasaran lebih mendominasi. Dia ingin tahu cairan apa sebenarnya yang ada di dalam botol itu.
Dia melirik keluar, memastikan bahwa Prima sudah pergi jauh. Lantas setelah itu, Lyodra berjalan ke arah rak botol yang masih terisi penuh. Gadis itu membukanya dengan ragu, lalu mencoba menghirup aromanya.
Lyodra langsung merasa mual, hingga dia menutup mulutnya. "Huwek, seperti bau bangkai!" ucap Lyodra, lalu cepat-cepat menutupnya kembali. Namun, dia merasa aneh, sebab dia tidak mencium bau apapun di tubuh Aiden, padahal mereka sempat berdekatan.
"Cih, pasti dugaanku benar, dia main dukun!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Ita rahmawati
dukun 🤦♀️🤦♀️🤣🤣
2024-07-15
0
Ney 🐌
dukun😲🤭😄😄😄
2024-04-03
0
Ney Maniez
😂😂😂😂😂
2023-05-17
1