“Ampun, Tuan. Saya mohon jangan siksa saya lagi. Saya hanyalah orang suruhan yang menjalankan tugas.”
“Diam!”
“Akh!”
Sebuah cambukan dari seorang anak buah kepada pria tersebut, sontak membuat Becca maupun Luna berteriak sambil menutup kedua matanya. Biasanya mereka hanya melihat adegan penyiksaan dalam sebuah drama. Namun, kali ini mereka berkesempatan untuk melihatnya secara langsung. Entah berapa banyak penyiksaan yang sudah pria itu alami, tetapi setiap orang yang ada di sana seolah tidak memiliki simpati sama sekali. Termasuk Joe yang terlihat masih santai di samping Becca, tanpa memperlihatkan keterkejutannya.
“Sengaja aku memperlihatkan semua ini pada kalian. Berhubung kalian sudah menjadi bagian dari kami, cobalah untuk terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Dan seperti yang aku katakan sebelumnya, jika apa yang kami lakukan bertentangan dengan kalian. Sebaiknya kalian tetap bertingkah seolah buta dan bisu. Karena jika apa yang terjadi di sini bisa sampai keluar. Maka di sanalah posisi kalian. Aku tidak akan bertoleransi.” Sejenak Joe mendekati Becca lebih dekati lagi. “Meskipun kau adalah istriku.”
“Kau berniat mengancam kami?” tanya Becca.
“Tidak. Aku hanya memperingatkan.” jawab Joe santai.
“Siapa yang mengirimnya?” tanya Luna mulai memberanikan diri untuk bertanya. Lagi pula sebelumnya dia sudah mencari tahu seperti apa keluarga Bannerick yang sesungguhnya, memang benar seperti yang di rumorkan. Jadi, dia tidak perlu merisaukan hal-hal yang sesungguhnya sudah biasa bagi orang luar, karena memang begitu kenyataannya.
“Kau bisa menanyakannya sendiri.” Joe dengan santainya mengambil sebatang rokok di sakunya. Dia membakar benda tersebut tepat di sebelah Becca dan mengepulkan asapnya ke wajah wanita yang kini berstatus istrinya itu.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Luna.
Orang itu terdiam sejenak, menahan rasa sakit. Akan tetapi, dengan segera anak buah Joe kembali mencambuk tubuhnya yang hanya tersisa kulit saja itu. “Jawab!”
“Flower. Nyonya Flower.” jawab orang itu dengan cepat.
Luna yang geram mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Untuk apa wanita itu kembali mencari masalah dengannya, padahal dia sama sekali tidak menganggu mereka lagi. “Wanita itu.”
Tidak lama kemudian, seorang pria tampan lainnya datang dan memasuki ruangan tersebut.
“Kau sudah mendapatkannya?” tanya Joe pada pria yang tidak lain adalah Rey.
Rey menggeleng kecil. “Mereka cukup mahir menyembunyikan diri. Tapi aku curiga mereka berasal dari salah satu anggota mafia rival kita.”
“Kenapa kalian para wanita bisa menjadi incaran orang-orang berbahaya seperti itu?” ujar Joe heran.
Baik Becca maupun Luna tidak menjawab sama sekali. Mereka pun tidak tahu harus menjawab apa karena juga tidak mengerti mengapa mereka sampai mengincar nyawa.
“Bisakah kau berikan dia padaku?” tanya Luna.
“Kak Luna.” panggil Becca sambil menggenggam tangan wanita itu.
“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Joe.
“Menyelesaikan apa yang tidak pernah aku mulai,” ucap Luna dengan tatapan berbeda.
Joe mangangguk paham. Lagi pula di sini Lunalah yang terluka, bukan masalah jika harus melepaskan orang itu. Lagi pula tampaknya orang yang membayar pria tersebut tidak terlalu berbahaya. “Baiklah.” Joe lantas mengisyaratkan pada anak buahnya untuk membebaskan orang tersebut. “Biarkan anak buahku yang mendampingimu.”
Luna mengiyakan ucapan Joe. Namun, Rey tampak menyela. “Biar aku saja. Diriku lebih bermanfaat di bandingkan dengan para anak buahnya. Aku lebih multitalent.”
“Dasar player, tidak bisakah kau mengabaikan janda sebentar saja,” sindir Joe.
“Tidak. Mereka adalah makhluk paling rapuh di dunia ini. Jadi aku harus menjadi penyelamat bagi mereka,” kata Rey.
Luna dan Rey pergi dengan membawa sang penjahat, sedangkan Becca masih berada di sana bersama dengan Joe.
“Apakah keluargamu terbiasa dengan hal seperti ini?” tanya Becca penasaran.
“Seperti yang kau lihat. Kami ini cukup di kenal dalam kalangan bisnis. Banyak musuh bertebaran di mana-mana, sedangkan kita tidak dapat mengharapkan para penegak hukum di negara ini. Mereka dapat dengan mudah menjual hukum. Jadi, terkadang kami menggunakan cara sendiri untuk mengatasi masalah seperti ini.” Joe menatap Becca dengan seksama dan sedikit membungkukkan tubuhnya, karena Becca memiliki tinggi yang lebih rendah darinya. “Apa kau takut?”
Becca terdiam. Dia menatap lekat iris mata hazel Joe. Sebuah tatapan yang mangingatkannya akan seseorang. Joe tampak hampir serupa dengan orang itu, mungkin kehidupan mereka juga kurang lebih sama. Di mana artinya Becca juga harus berhati-hati dalam bertindak dan tetap waspada setiap saat. “Tidak.”
“Masih ada beberapa orang lainnya yang mengawasi kalian sebelumnya. Tapi, mereka bukan bagian dari pria itu. Apa kau memiliki musuh yang lain?”
Becca menggeleng kecil, haruskah dia mengatakan yang sesungguhnya. Bodoh, mana ada orang yang akan percaya.
Di sisi lain, Luna dan Rey mendatangi kediaman Cedrick. “Apa kau ingin aku temani?” tanya Rey melihat Luna tampak gugup sebelum keluar dari mobil.
“Tidak. Aku akan ke sana sendiri dulu. Biarkan dia juga di sini dulu.” ucap Luna.
“Baiklah. Tunggu sebentar.” Tanpa permisi rey mengambil ponsel dari tangan Luna dan menghubungi nomornya sendiri saat itu. “Jangan di matikan! Aku akan membantumu di saat kau memerlukan bantuan.”
“Terima kasih.” Luna keluar dari mobil. Dia menatap sebuah kediaman mewah yang kini berada di depannya dengan perasaan tidak karuan. Sejenak Luna mengambil napas dalam-dalam. Dia harus kuat, mereka sendiri yang mengusiknya terlebih dahulu, dan sekarang Luna tidak boleh tinggal diam.
Setelah memberanikan diri, Luna melangkah dengan pasti. Dia sedikit mendongakkan kepalanya demi meyakinkan diri jika dia bisa menghadapi mereka kali ini.
Perlahan tangan Luna bergerak mengetuk pintu. Tak berapa lama tampak seseorang dari dalam mulai membukanya.
“Nyonya.” Seorang pelayan menutup mulutnya, dia tidak percaya dengan siapa yang baru saja mengunjungi kediaman tersebut setelah sekian lama.
Akan tetapi, suara seorang wanita lainnya dari dalam membuyarkan lamunan pelayan itu.
“Siapa yang datang?” tanya seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu dari Cedrik, mantan mertua Luna.
“Kenapa kau kemari? Bukankah sebelumnya kau sudah bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di rumah ini lagi?” tanya wanita itu sinis. “Kau mau menggoda putraku lagi?”
Sejak awal penikahan Cedrik dan Luna memang tidak pernah di restui oleh keluarganya. Selain dikarenakan status Luna yang rendah, juga disebabkan asal usulnya yang mereka anggap tidak jelas dan tidak selevel dengan mereka.
Karena itulah, dengan berbagai cara sang ibu mertua berusaha memisahkan Cedrick dan Luna. Namun, ternyata cinta mereka tidak sedalam itu, sehingga akhirnya berakhir di meja persidangan.
“Aku tidak akan mengusik kalian. Jika kau tidak mengusikku terlebih dahulu.” Tanpa permisi Luna dengan berani mendorong tubuh sang mantan mertua yang menghalangi jalannya. Dia melangkah dengan pasti semakin dalam sambil berteriak memanggil rivalnya. “Flower! Keluar kau!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Vyrne S W
hmmmm lanjut thor....
2023-02-26
0