Jonathan lantas mendatangi rumah Rebecca setelah mendapatkan informasi dari ibunya. Sepanjang perjalanan dia menggerutu seorang diri. Antara senang, marah, atau pun kecewa bercampur menjadi satu di dalam pikirannya saat ini. Dia senang jika ternyata memang benar berhasil menghamili Rebecca, itu artinya dia masih pria normal. Namun, dia marah dan kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menemukan Rebecca saat itu dan mempercayai anak buahnya begitu saja jika wanita yang dia cari sudah meninggal. Selain itu, Jonathan juga heran kenapa Rebecca tidak datang dan meminta tanggung jawab darinya, padahal keduanya berada di satu kota yang sama untuk waktu yang lama dan dirinya juga bukanlah orang yang bisa diabaikan begitu saja, mengingat posisi keluarganya yang cukup mumpuni, pastilah banyak wanita yang menginginkan tanggung jawab jika berada di posisi Rebecca saat itu.
“Tunggu. Apakah dia pindah kemari karena ingin melupakan malam kelam menyakitkan itu?” ucap Joe bermonolog pada dirinya sendiri, memngingat kembali jika semua itu terjadi di kota lain.
Tidak lama kemudian, mobil hitam yang dia kendarai pun memasuki sebuah pelataran kecil. Hanya sebuah rumah sederhana yang mungkin seluas beberapa kamar di kediamannya. “Apa Mommy yakin dia tinggal di sini?”
Dengan perasaan antara harus yakin dan ragu, Joe melangkah mendekati pintu utama rumah tersebut. Dia mengetuk beberapa kali secara perlahan, tetapi tidak kunjung mendapatkan sahutan, hingga ketika dia berniat berbalik dan hendak pergi. Pintu di belakangnya pun terbuka. “Oh, ada tamu? Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” ucap seorang wanita yang tampak lebih tua dari Jonathan.
“Emth, benarkah ini rumah Rebecca?” tanya Joe sedikit ragu. Takut-takut kalau sampai dia salah mengetuk pintu kali ini.
“Bukan. Ini rumahku. Siapa kau? Kenapa mencari Rebecca?” Dengan kedua tangan yang bersedekap dan tatapan tidak biasa, Luna menelisik pria di depannya dengan seksama. Entah sudah berapa lama rumah tersebut tidak kedatangan tamu. Kenapa pula tiba-tiba saja seseorang datang dan mencari Rebecca. Jangan-jangan dia berniat buruk.
“Aku.” Joe hendak menjawabnya. Namun, lagi-lagi sebuah mobil lainnya berhenti tepat di depan rumah itu.
Seseorang wanita cantik dengan pakaian yang cukup seksi tampak keluar dari kendaraan tersebut, bersama seorang pria yang membuat Luna seketika melebarkan matanya hingga membulat sempurna. “Cedrick,” gumam Luna hampir terjatuh dari posisinya, tetapi dengan sigap Joe menahan wanita itu.
“Kak Luna, siapa yang datang? Kenapa kau lama sekali?” Suara seorang wanita yang tidak lain adalah Rebecca dari dalam rumah sontak membuat Luna dan Joe menoleh ke belakang, sedangkan dua orang yang baru saja datang melangkah semakin dekat.
“Ternyata kau benar-benar tinggal di rumah ini. Dasar munafik! Dulu kau bilang tak sudi lagi menggunakan apapun yang berhubungan dengan Cedrick. Tapi, ternyata kau masih juga tinggal di rumah ini,” ucap seorang wanita yang datang bersama Cedrick dengan nada sinis. Wanita itu tampak bergelayut manja di lengan suaminya. Untuk sejenak Becca mengerutkan dahi, di mana kira-kira dia pernah melihat wanita itu.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Luna dengan nada dingin. Dia berdiri tegap dan berbicara tegas, meskipun mantan suami dan istri barunya datang ke tempat tersebut tanpa di undang setelah sekian lama.
“Aku akan menjual rumah ini. Aku harap kau segera pindah dari sini. Aku akan memberimu waktu satu minggu untuk mengemas barang-barangmu,” ujar Cedrick dengan nada lembut dan jauh berbeda dengan istrinya yang sinis.
“Ini rumahku. Kau sendiri yang memberikannya sebagai kompensasi perceraian kita. Tidak usah berpura-pura lupa,” tegas Luna.
“Rumah ini masih atas nama suamiku. Kau sendiri yang menolaknya saat itu.” sinis istri Cedrick.
Kedua tangan Luna terkepal dengan sangat kuat, bodohnya dia tidak segera mengubah sertifikat hak milik rumah ini dengan namanya setelah perceraian. Sekarang malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Jonathan yang kurang lebih memahami situasi saat ini, lantas mengeluarkan cek dari sakunya. “Aku mungkin orang asing. Tapi, sedikit banyak aku memahami masalah kalian saat ini. Bukankah kau ingin menjual rumah ini?” Dia menandatangani sebuah cek kosong dan menyerahkannya kepada sepasang suami istri yang tiba-tiba saja datang itu. “Anggap saja kami yang membeli rumah ini darimu. Tulislah berapa nominal harga yang kalian inginkan. Tapi, jangan mengganggunya lagi.”
Joe menyerahkan cek itu kepada Cedrcik, tetapi tampaknya pria tersebut hanaya terdiam dan malah menataap Joe dengan rasa penasaran. "Apakah pria ini kekasih Luna?" batin Cedrick.
Melihat kebisuan sang suami, dengan cepat wanita itu meraih cek kertas tersebut dan membolak-balikkannya berulang kali. “Apakah ini asli?”
“Datanglah ke Light Holdings jika pihak bank tidak bisa mencairkan benda itu. Aku yang akan bertanggung jawab,” ucap Joe dengan yakin.
Wanita tersebut lantas berubah ekspresi. Nama Light Holdings tentu saja tidaklah asing di kota ini. Siapa juga yang berani mendatangi gedung itu tanpa tujuan, apalagi undangan. Bisa-bisa nanti hilang di telan bumi tanpa ada siapa pun yang bisa menemukannya. “Baiklah kami permisi dulu.” Dia menarik lengan sang suami yang tampaknya masih enggan meninggalkan tempat tersebut.
Keduanya pun lantas melangkah pergi kembali ke mobilnya, sedangkan Luna serta Becca sontak menoleh tajam ke arah Joe. “Apa yang kau lakukan?” tanya kedua wanita itu serentak.
“Ekhm.” Joe menoleh ke arah Becca. “Bisakah kita berbicara sebentar?”
“Apa yang ingin kau bicarakan? Kenapa tidak bicara sekarang?” tanya Luna dengan cepat.
Joe menghela napas berat. “Apakah Anda ingin melihat kami bercumbu dan melepas rindu di sini? Dasar tidak peka.”
Becca sontak melebarkan matanya hingga membulat sempurnya, sedangkan Luna langsung mendorong tubuh Becca ke arah Joe tanpa ragu. “Pergilah. Jangan mengotori mataku! Aku akan menjaga Ace di dalam.”
Tanpa membuang waktu, Luna kembali masuk ke dalam rumah, sedangkan Becca berusaha tetap tenang menghadapi pria segila Jonathan. “Apa yang ingin Anda bicarakan, Tuan?”
“Kita bicara di mobil.” Joe berbalik dan melangkah menuju mobil, sedangkan Becca masih terdiam di tempatnya, sehingga pria itu pun kembali menghentikan langkah. “Haruskah aku menyeretmu?”
Dengan malas Becca pun mengikuti langkah Joe. Keduanya duduk bersebelahan di dalam mobil tanpa berbicara sepatah kata pun.
“Tidakkah kau ingin mengucapkan terima kasih karena aku sudah membantu kalian?” ujar Joe memecah keheningan.
“Terima kasih. Tapi, maaf. Bukan aku yang memintamu untuk membantu kami, kau sendiri yang berinisiatif dan sok menjadi pahlawan karena memiliki uang,” ucap Becca tak tahu malu. Dalam pikirannya masih mencoba mengingat kembali siapa istri dari mantan suami Luna tadi. Entah mengapa dia merasa tidak asing dengan wajah itu, tetapi di mana dia pernah melihatnya.
“Kalian memang wanita yang kejam. apa yang slah dengan memiliki uang. Uang mungkin tidak bisa membeli segalanya, tapi kau tidak akan bisa menyangkal kalau segala hal di dunia ini memanglah butuh uang." Ekspresi Becca tampak belum berubah, menyebabkan Joe sedikit kewalahan dengan sikap dingin wanita tersebut. "Baiklah kalau begitu jangan salahkan aku jika bertindak kejam juga.”
Kalimat yang keluar dari mulut Joe sontak membuat Becca menatap pria di sampingnya itu. “Apa maksudmu?”
“Seperti yang kau ketahui. Tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Apalagi selembar cek kosong seperti tadi. Entah hanya berapa orang saja yang bisa memilikinya di dunia ini.”
“Lalu.”
“Aku akan menganggap bantuanku tadi sebagai hutang. Tapi aku tidak terima pembayaran dalam bentuk uang.”
“Kau menginginkan tubuhku?” tanya Becca dengan berani.
Suara tawa sontak menggelegar memenuhi ruang dalam mobil itu. Ternyata Becca memiliki tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi terhadap tubuhnya sendiri. “Kau pikir aku pria yang seperti itu?”
“Dari yang aku dengar kau memang seperti itu.”
Jonathan mengangguk kecil. “Ternyata kau juga menyelidiki tentang diriku. Tidak masalah. Tapi maaf harus mengecewakanmu karena aku tidak hanya menginginkan tubuhmu melainkan juga dirimu.”
“Tuan Jonathan yang terhormat. Bukankah sudah aku bilang-”
“Kita akan menikah besok.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments