Bab 10

Keesokan harinya, Jessica yang bersemangat menemui calon kakak iparnya segera membuat jadwal pemeriksaan kandungan ke rumah sakit. Padahal baru beberapa hari yang lalu dia melakukan pemeriksaan. Namun, agar pertemuan mereka terlihat natural, maka Jessi siap melakukan apa pun.

Informasi yang di dapatkan dari anak buah, calon menantu kedua dari keluarga Bannerick saat ini tengah berada di rumah sakit untuk menjaga anaknya, sehingga Becca memang beberapa hari ini tidak ada di rumah, maupun datang bekerja.

“Mommy, yakin dia ada di sini? Siapa yang sakit?” tanya Jessica perlahan duduk di kursi tunggu, berbaur dengan pengunjung rumah sakit lainnya dengan ditemani oleh Jesslyn.

“Maurer bilang anaknya.”

“Dia sudah punya anak? Joe, mengincar istri orang? Oh My God. Dia sepertinya sungguh kehabisan perawan, sampai-sampai harus merebut istri orang. Seharusnya aku meminta bayaran yang lebih tinggi kemarin,” bisik Jessica di samping telinga sang ibu.

“Kau bisa memintanya lagi nanti.”

Tidak lama kemudian, entah apakah Dewi Fortuna sedang berpihak pada mereka atau bagaimana, tetapi Becca secara tidak sengaja melewati keduanya. Dia hendak membayar administrasi karena putranya yang dirawat sudah diizinkan pulang hari ini.

Sepasang ibu dan anak itu hanya diam dan mendengarkan Becca yang tengah berbicara dengan staf rumah sakit, sedangkan Jesslyn tampak mengerutkan dahinya sambil melihat ke arah Becca.

“Apa menurutmu dia sudah punya suami? Dia terlihat lebih muda darimu,” tanya Jesslyn pada putrinya, karena mereka memang tidak menemukan data diri Becca secara lengkap.

“Mom, kalau dia tidak punya suami, bagaimana dia bisa memiliki anak?”

“Tapi, bukankah wajahnya masih terlalu muda untuk memiliki anak. Bisa saja itu anak orang lain. Atau mungkin malah adiknya.” Jesslyn mencoba berpikir menggunakan logika, mengingat dari data yang dia dapat, usia Rebecca bahkan belum genap dua puluh lima tahun. Bagaimana bisa wanita semuda itu sudah memiliki seorang putra yang sudah cukup besar.

“Ah, aku punya ide.” Jessica segera mengambil tasnya yang dibawa sang ibu dan berdiri dari posisinya. “Mommy tunggu aba-abaku saja dan diamlah di sini. Jangan sampai pinggangmu encok karena terlalu banyak keluyuran! Bisa-bisa nanti Daddy marah padaku.”

Tanpa membuang waktu, Jessica melangkah pergi, meninggalkan sang ibu yang mencebik seorang diri di tempat itu. “Cih, kenapa aku memiliki anak yang menyebalkan seperti dia,” ucap Jesslyn bermonolog.

Jessica yang meninggalkan sang ibu lantas perlahan melangkah mendekati Becca yang sudah selesai dengan urusannya. Dia langsung berpura-pura lemas dan hampir saja pingsan tepat di depan Becca.

“Nyonya, kau tidak apa-apa?” tanya Becca yang dengan sigap langsung membantu menahan tubuh yang hampir saja jatuh ke lantai itu.

“Oh, maaf. Aku baik-baik saja.” Jessica berpura-pura hendak kembali melangkah, tetapi lagi-lagi dia juga berpura-pura lemah agar Becca membantunya. “Awh.”

“Awas, hati-hati. Haruskan aku panggilkan perawat? Ke bagian mana kau ingin pergi?” Becca menoleh ke kanan dan kiri, dia hendak memanggil seorang perawat untuk membantu wanita hamil tersebut. Namun, dengan segera Jessica menahan tangannya.

“Tidak usah. Aku sudah di periksa tadi. Dokter bilang hanya perlu istirahat saja setelah pulang nanti.”

“Lalu di mana keluargamu? Aku akan memanggil mereka,” tanya Becca.

“Emth, tadi aku kemari sendirian. Suamiku sedang berada di luar kota dan keluargaku yang lainnya sedang sibuk.”

Mendengar alasan masuk akal yang diberikan Jessica, Becca pun merasakan iba. Dia juga pernah ada di posisi itu, meskipun dulu dia terlihat lebih beruntung dibandingkan wanita yang saat ini di hadapannya, karena sang suami selalu menyempatkan waktu untuk menemaninya pergi ke dokter. “Baiklah. Sebaiknya kau beristirahat dulu. Ruangan putraku tidak jauh dari sini kalau kau berkenan untuk singgah sebentar.”

“Kau sudah memiliki anak,” ucap Jessica berpura-pura menutup mulutnya. “Ya Tuhan. Bagaimana bisa? Kau bahkan masih terlihat seperti anak-anak. Tidak aku sangka ternyata sudah terlebih dahulu menjadi seorang ibu. Skincare apa yang kau gunakan? Kenapa kau awet muda sekali. Lihat diriku! Aku bahkan baru hamil lima bulan, tapi keriput sudah menyebar luas di seluruh wajahku.”

Meskipun baru bertemu dan bersikap sok akrab, nyatanya Becca tersenyum kecil melihat aura ceria yang terpancar dalam diri wanita hamil tersebut. Dia memapah Jessi ke ruang perawatan sang putra dan membantunya duduk di sofa. “Istirahatlah di sini sebentar. Panggil aku jika memerlukan sesuatu. Aku harus membereskan barang-barang putraku terlebih dahulu karena dia sudah diizinkan pulang hari ini. Oh iya, namaku Rebecca kau bisa memanggilku Becca.”

Jessica hanya mengangguk kecil. “Aku Jessica.” Dia melihat sosok anak laki-laki yang bermain dengan mobil-mobilan di atas ranjang kamar tersebut. Anak itu sejenak melihat ke arah Jessica, lalu dia turun dan menghampirinya, sedangkan Becca tampak mulai membereskan pakaian sang putra dan memasukkanya ke dalam tas.

“Aunty, apakah di dalam sini ada adiknya?” tanya bocah itu sambil menunjuk perut Jessi.

“Iya. Siapa namamu? Kau pandai sekali bisa tahu kalau di dalam sini ada adiknya.” ujar Jessica sambil mengusap lembut rambut Ace.

“Ace, Ace Dilamo. Teman-teman Ace di sekolah semuanya memiliki adik. Mereka bilang adiknya masih ada di dalam perut Mommy, dan ada juga yang sudah keluar. Tapi, ketika Ace bertanya, apa adik Ace ada di dalam perut Mommya. Mommy bilang adik Ace belum ada.”

Kalimat polos yang keluar dari mulut Ace membuat Jessica merasa bahagia. Dia mengacak-acak rambut bocah kecil itu dan bertanya, “Apa Ace juga ingin adik?”

Dengan cepat Ace mengangguk, sedangkan Jessica tampak mendekatkan diri dan berbisik di telinga kecil itu. “Kalau begitu, mintalah Daddymu untuk menyuntik Mommy nanti malam.”

“Tapi, Ace tidak punya Daddy.” Tanpa sadar bocah kecil tersebut menundukkan kepalanya.

Becca yang mendengar pembicaraan sang putra langsung mendekati mereka dan mengusap lembut rambut bahu sang putra.

“Ace, bukankah sudah Mommy katakan jika Ace masih memiliki Mommy di sini? Ace boleh menganggap Mommy sebagai Daddy sekali. Bukankah Ace bilang tidak ingin membuat Daddy di surga sedih?”

Dengan lesu Ace menganggukkan kepalanya, sedangkan Becca dengan lembut memeluk tubuh mungil sang putra. Sementara itu, Jessica merasa bersalah, karena dirinyalah bocah kecil tersebut harus terluka hatinya.

“Sekarang Ace bersiap-siap. Kita akan pulang hari ini,” kata Becca setelah merasakan putranya sudah tenang.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu jika ….” Jessica yang merasa bersalah tertunduk lesu, tetapi dengan segera Rebecca tersenyum padanya.

“Sudahlah tidak apa-apa. Lagi pula beberapa hari ini Ace memang sedikit sensitif jika berbicara tentang seorang ayah. Maklum yang namanya anak kecil, dia pasti merasa sedikit iri dengan teman-temannya yang dekat dengan orang tua mereka.”

“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau suamimu, sudah—"

Terpopuler

Comments

Vyrne S W

Vyrne S W

ace minta deddy baru kmommymu

2023-02-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!