Pernikahan pun berjalan dengan lancar. Janji suci di pagi buta berhasil mengikat hubungan sepasang suami istri yang baru saja resmi itu. Tidak ada kata-kata romantis, maupun perlakuan istimewa yang menjadikan momen tersebut berbeda dengan pernikahan pada umumnya. Di tambah pasangan tersebut juga sama-sama belum memiliki perasaan selayaknya pria dan wanita yang tengah memadu asmara, menyebabkan tidak adanya hal yang spesial dalam penikahan tersebut. Kecuali, semuanya terjadi secara mendadak dan di pagi buta.
Acara hanya berlangsung sebentar, sesuai dengan tradisi pernikahan di gereja pada umumnya. Setelah itu para keluarga besar Jonathan berkumpul di sebuah ruangan guna berkenalan dengan sang menantu baru keluarga tersebut.
Jonathan dan Becca sebagai pemeran utama duduk bersebelahan, sedangkan Jesslyn dan Nich tampak duduk di seberang mereka dan hanya terhalang oleh sebuah meja.
“Mereka ayah dan ibuku,” ucap Jonathan dengan santai dan terlihat tidak menanggung beban sama sekali.
Becca pun berdiri dari posisinya. Dalam hati wanita tersebut mengumpat kesal dengan tingkah Jonathan. Bagaimana bisa seseorang melakukan perkenalan dengan orang tua setelah menikah, bukan sebelumnya. Padahal jelas-jelas kedua orang tuanya masih ada dan dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apa pun.
Mereka pasti sedang marah dengan tindakan Jonathan yang memilih wanita tanpa memberitahu kepada orang tuanya dulu itu. Di tambah wajah datar Jesslyn yang memang terlihat cukup garang, menjadikan Becca berpikir jika pernikahan ini seharusnya memang tidak pernah terjadi. Apa jadinya kalau mereka tahu pekerjaannya. mungkin Becca akan benar-benar menjadi menantu tidak di anggap seperti di kehidupan sebelumnya.
“Selamat pagi, Tuan, Nyonya. Perkenalkan nama saya Rebecca.” Becca menggaruk tengguknya sendiri yang tidak gatal. Bukan hanya merasa gugup, dia bahkan bingung harus berbicara apa di pertemuan yang canggung ini.
“Jangan terlalu formal. Mereka tidak akan mengigitmu,” ucap Jonathan dengan santai.
Jesslyn sontak berdecih. Jonathan memang terlalu absurd jika memiliki keinginan. Akan tetapi, kali ini sungguh mengherankan bagi Jesslyn, karena putranya menginginkan pernikahan di pagi buta seperti ini. Di saat semua orang seharusnya terlelap dalam mimpi, keluarga mereka malah harus mengetuk pintu gereja guna mengganggu pemuka agama untuk meresmikan pernikahan putra mereka, sedangkan Becca yang melihat ekspresi Jesslyn malah mengira jika dirinya adalah menantu yang tidak diinginkan.
“Duduklah. Panggil kami Daddy dan Mommy seperti halnya Joe,” ujar Nicholas mempersilakan Becca kembali duduk. Dia memahami perasaan Becca saat ini yang terlihat begitu canggung dan menengahi tatapan tajam istri dan putranya.
“Dasar anak tidak punya otak! Apa kau pikir pernikahan itu suatu hal yang main-main, hah?” teriak Jesslyn.
Hal itu tentu saja membuat Becca terkejut semakin menundukkan kepalanya. Habis sudah nyawanya kali ini, ibu mertuanya berbicara seperti singa kelaparan yang murka pada anaknya. “Sial. Seharusnya aku segera melarikan diri sebelum Joe bertingkah segila ini. Sekarang aku malah terjebak,” ucap Becca dalam hati.
“Mom, tidak perlu seserius itu. Lihatlah kau menakuti menantu barumu. Lagi pula kami bisa melakukan resepsi mewah di kemudian hari. Atau bahkan selama sembilan bulan penuh, supaya kau puas, Mom,” jawab Jonathan santai.
Untuk sejenak Jesslyn terdiam dan mulai berpikir. “Bukan ide yang buruk. Baiklah kalau begitu, anggap saja Mommy memaafkanmu kali ini.”
Ingin sekali Becca menjatuhkan rahangnya saat ini juga. Mulut keecilnya ternganga mendengar obrolan ibu dan anak tersebut. Bagaimana bisa sebuah penikahan dilaksanakan sembilan bulan penuh? Apakah mereka pikir pernikahan itu seperti kandungan yang memerlukan waktu panjang dalam prosesnya.
“Becca, maaf kalau Mommy membuatmu terkejut.” Perlahan dengan lembut Jesslyn meraih tangan Becca yang dingin dan menggenggamnya. “Selamat datang di keluarga kami, Sayang. Mulai hari ini, dan seterusnya kau bisa memanggil kami Mommy dan Daddy. Anggap saja kami sebagai orang tuamu sendiri. Tapi, maaf. Mommy harus berbelasungkawa terlebih dahulu karena kau harus memiliki suami yang sedikit menyebalkan seperti Jonathan. Padahal seharusnya kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik di luar sana.”
Becca hanya tersenyum kikuk. Keluarga seperti apa yang di miliki Jonathan. Kini dia memahami dari mana sikap Joe yang sepertinya di luar batas normal manusia. Mungkin hal itu diturunkan temurun dari sang ibu yang tampaknya cukup unik sebagai seorang perempuan. Namaun, tentu saja Becca tidak berani untuk mengutakan pikirannya. “Terima kasih, Nyonya. Eh, Mommy,” kata Becca membetulkan panggilannya.
“Kita sudah berkenalan sebelumnya. Terima kasih sudah membantuku saat itu. Tidak aku sangka sekarang kau malah jadi kakak iparku. Padahal sebenarnya aku ingin menjodohkanmu dengan kakakku yang satunya saja. Tapi kau malah memilih si player ini.” Jessica yang duduk di samping mereka juga memperkenalkan diri sekaligus mengejek Jonathan.
Meskipun Becca curiga jika memang keluarga ini sudah merencanakan skenarionya sejak awal, tetapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Entah sebuah kesialan atau keberuntungan bisa berada di tengah-tengah keluarga yang cukup berpengaruh ini.
Jonathan yang sedari tadi tampak fokus dengan tabletnya kini berdiri dari posisinya dengan ekspresi berbeda. “Kita harus pergi sekarang. Kalian bisa saling berkenalan lagi nanti setelah ini.”
Dengan cepat Joe menarik Becca yang masih duduk, tetapi sesaat kemudian dia berhenti sebentar. “Mommy, aku titip Ace. Luna bias kau ikut dengan kami!”
Luna mengangguk kecil, meskipun dia cukup bingung, tetapi dengan sopan menyerahkan Ace yang tertidur dalam pangkuannya kepada Jesslyn. Dia lantas membungkuk hormat pada keluarga itu, sebelum akhirnya ikut melangkah keluar bersama Becca dan Jonathan.
“Apa yang terjadi?” tanya Becca bingung.
“Kau akan tahu nanti,” kata Joe lantas menutup pintu di sebelah kemudi setelah Becca duduk. Ketiga orang itu lantas pergi menggunakan mobil yang sama. Bukan tanpa alasan Luna menyetujui Jonathan yang meminta izin padanya untuk menikahi Becca. Melainkan, semua itu karena Luna yakin. Jika Jonathan dan keluarganya bisa melindungi Luna lebih baik dari dirinya.
Mobil melaju dengan sangat cepat. Suasana yang sepi membuat mereka bergerak tanpa halangan sama sekalai karena memang hari masih belum pagi dan matahari pun belum menampakkan sinarnya. Dari kejauhan ketika kendaraan semakin dekat dengan area tempat tinggal mereka. Becca melihat kepulan asap serta cahaya kemerahan di atas.
“Oh my God. Apa yang sebenarnya terjadi?” teriak Becca dari dalam mobil ketika mereka tiba di depan rumah.
Namun, ternyata rumah tersebut tengah di lahap si jago merah. Ramai kerumunan orang serta penghuni lainnya yang menyaksikan kejadian tersebut dari kejauhan, sedangkan Joe langsung mengunci otomatis pintu mobil di saat Becca dan Luna hendak keluar dari sana.
“Joe, apa yang kau lakukan?” tanya Becca mencoba membuka pintu di sampingnya.
“Jangan ada satu pun dari kalian yang keluar dari mobil!” ucap Joe menyisir pandangannya ke segala arah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
N⃟ʲᵃᵃ࿐DHE-DHE"OFF🎤🎧
ya ampun baru sadar ternyata ini karya nya kak Audy 😱😱
2023-02-17
1
Anis Sulis
siapa yg bakar rumah yaa.....mantan luna kayaknya yaa....
2023-02-17
2