Di sisi lain, Jesslyn yang di tinggalkan seorang diri oleh putrinya di ruang tunggu, menerima panggilan telepon dari anak buahnya. Dia segera meletakkan ponsel tersebut di samping telinga dan mendengarkan penjelasan dengan seksama. “Kau yakin?” tanyanya memastikan. “Pastikan kalian menggali lebih banyak informasi lagi. Dan jangan sampai orang lain tahu tentang masalah ini."
Setelah menyampaikan perintah, Jesslyn mematikan sambungan telepon. Dia kembali mengawasi situasi, hingga tidak lama kemudian, Jessica tampak bergerak melangkah keluar bersama Rebecca dan putranya.
Dengan sadar Jessica mengedipkan satu matanya kepada sang ibu, sebagai pertanda jika rencana mereka sudah berjalan dengan lancar. Tinggal melakukan rancangan selanjutnya. Jessica bergerak kembali ke kediaman bersama Rebecca menggunakan taksi, sedangkan Jesslyn tampak memilih mengemudi seorang diri menuju Light Holdings, setelah memastikan keamanan putrinya.
Tanpa membuang waktu, setibanya dia di gedung Light Holdings, Jesslyn memasuki ruangan putranya dengan wajah yang merah padam.
“Mom.” Jonathan yang terkejut dengan kehadiran sang ibu lantas menghentikan aktivitasnya. Baru pertama kali ini dia melihat ekspresi tidak mengenakkan dari sang ibu. Pria tersebut lantas mengisyaratkan pada anak buahnya untuk pergi membubarkan diri terlebih dahulu. “Kita lanjutkan nanti. Kalian boleh pergi.”
Semua karyawan yang berada di ruangan tersebut pun mulai melangkah keluar, dan membungkuk hormat terlebih dahulu kepada Jesslyn.
Semua orang tentu tahu, Jayden mengambil alih Bannerick Grup, Jonathan mengurus Light Holdings, sedangkan Jessica tinggal menikmati hasil kerja keras orang tua serta suaminya yang perusahaannya sudah Menyebar di mana-mana.
Setelah semua karyawan itu keluar, Joe melangkah mendekati sang ibu yang duduk dan masih juga belum membuka mulutnya. Meskipun Jesslyn terbiasa berisik dan cerewet, tetapi jika dia datang dan terus diam membisu seperti ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. “Apa ada sesuatu yang mengganggumu, Mom?” tanya Joe perlahan.
Jesslyn menoleh dengan tajam, tatapan mematikan dia layangkan kepada Jonathan. Dia menampar pipi sang putra dengan sangat keras dan wajah merah padam yang membara dengan kemepul asap di otaknya. “Dasar pria brengseek!”
“Mom, apa salahku.” Jonathan yang tidak mengetahui apa kesalahannya kali ini tentu saja kebingungan dengan sikap sang ibu. Baru kali ini Jesslyn marah sampai seperti ini. Meskipun tidak lagi muda, nyatanya kekuatan jesslyn dalam menyiksa tidak pernah surut dalam meninggalkan rasa sakit.
“Kau benar-benar tidak tahu, atau berpura-pura tidak tahu?” tanya Jessi tegas.
“Maksud Mommy.” Sambil menyusap pipinya yang terasa panas, Jonathan mulai berpikir keras. Apa kira-kira kesalahannya pagi ini, sampai-sampai ibunya datang dalam kondisi murka. Mustahil bukan kalau ibunya hamil lagi dan menjadi labil serta tidak mudah di tebak seperti adiknya.
Dengan cepat Jonathan menggeleng membayangkan hal itu. Sudah cukup memiliki adik yang menyebalkan sperti Jesslyn. Jangan sampai bertambah lagi.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Jesslyn menatap heran ke arah Jonathan.
“Tidak, Mom. Tapi, aku sungguh tidak mengerti apa yang membuat Mommy murka sepagi ini.”
Jesslyn mencebikkan bibir. Semua lelaki memang sama saja, tidak peka akan perasaan wanita, sehingga dia harus menjelaskan apa alasan setiap hal yang dia lakukan. “Kau! Sejak kapan kau mengenal Rebecca?”
“Kenapa Mommy menanyakan hal itu?”
“Aku bertanya untuk mendapatkan jawabanmu. Bukan untuk mendapatkan pertanyaan balik!”
Jonathan menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. BAru kali ini sang ibu berbicara begitu tegas padanya. Mungkinkah ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita yang kini diinginkannya. Atau karena sang ibu mengetahui pekerjaan Becca yang tidak biasa.
“Itu.” Dengan ragu Jonathan berbicara, dia menggaruk tengkuknya sendiri yang tidak terasa gatal sambil terus berusaha membaca pikiran ibunya.
“Apa kau sudah menemukan wanita yang kau nodai lima tahun yang lalu?”
Sontak Jonathan membelalakkan matanya hingga membulat sempurna. “BAgaimana Mommy bisa tahu.”
Untuk pertama kalinya, lima tahun yang lalu Jonathan berhasil menegakkan keadilan milikinya dalam kondisi tidak sadar. Namun, dia mendapatkan informasi jika wanita malang itu sudah tewas akibat kekerasan yang dialaminya, di tambah apa yang dia lakukan malam itu. Karena tidak ingin aibnya di ketahui oleh orang lain, Jonathan pun merahasiakan hal tersebut dari orang lain, termasuk keluarganya. Namun, dia tidak menyangka jika ternyata sang ibu tetap bisa mengetahui rahasia yang dipendamnya selama ini.
“Kau pikir Mommy ini bodoh? Mommy diam bukan berarti tidak tahu apa yang kau lakukan di luar sana Joe! Tapi, apakah Mommy pernah mengajarkan kepadamu untuk tidak bertanggung jawab.”
“Tapi, tapi dia sudah meninggal. Jadi, apa hubungannya hal itu dengan Becca?”
Dengan kasar Jesslyn menendang tubuh sang putra yang kini berada di sampingnya. Jonathan sampai terjengkang akibat tindakan brutal sang ibu. “Dasar anak bodoh! Bagaimana bisa aku memiliki anak sepertimu.”
“Mom, apa Mommy masih wanita? Kenapa kasar sekali?” Jonathan merengek kesal. “Bagaimana bisa Daddy jatuh cinta pada perempuan terlalu tangguh sepertimu. Dia pasti seringkali babak belur kalau bermain ranjang denganmu.”
“Dasar anak kurang ajar!” Jesslyn yang kesal hendak meraih tubuh sang putra dan kembali memukulinya. Namun, dengan cepat Jonathan menahannya.
“Mom. Sudah, Mom. Aku mengaku salah. Nanti encokmu kumat kalau marah-marah terus. Lebih baik kita bicarakan semua ini baik-baik.” Dengan perlahan Jonathan membawa sang ibu ke sofa agar kembali tenang. “Tarik napas dalam-dalam, lalu buang,” ucap Joe berusaha menenangkan ibunya. “Jadi bagaimana?”
“Kau sudah memeriksa siapa Becca?”
Dengan sedikit ragu, Jonathan menggeleng kecil. Di antara ketiga bersaudara itu, dialah orang yang selalu meremehkan keadaan dan enggan mengurusi hal-hal kecil yang menurutnya tidak terlalu penting, seperti asal-usul seseorang.
Jesslyn sontak menepuk dahi putranya itu. “Dia wanita yang kau cari-cari itu.”
“Apa?” Jonathan yang terkejut beranjak dari posisinya. Dia berdiri sambil memegang dahinya yang sakit. “Bagaimana bisa? Bukankah wanita itu sudah meninggal.”
“Dia mengubah identitasnya. Mommy, tidak mau tahu. Pokoknya bagaimana pun caranya. Mommy mau kau menikahinya dengan segera dan membawanya pulang ke keluarga kita. Bagaimana bisa kau membiarkan wanita semuda itu mengurus anak seorang diri dan masih harus bekerja keras. Pantas saja dia rela melakukan pekerjaan apa pun demi menghidupi putranya.”
“Putra? Dia sudah punya anak? Apakah itu anakku?”
Jesslyn hanya mengendikkan bahunya sambil mencebik. Jonathan yang merasa bingung sekaligus bahagia merasa otaknya kosong seketika itu juga.”Apa ini artinya aku sudah menjadi seorang ayah. Aku harus menikahinya sekarang.”
Jonathan lantas melangkah ke luar ruangan, meninggalkan sang ibu yang tersenyum puas setelah berhasil menyadarkan anaknya. “Mereka selalu saja melupakan aku. Dasar anak-anak kurang ajar,” gerutu Jesslyn. Lantas menyandarkan tubuhnya di sofa karena mulai merasa ngantuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments