Becca dan Jonathan saling menatap untuk beberapa saat.
“Katakan apalagi yang kau inginkan?” tanya Jonathan.
Becca kembali terdiam kala itu. “Jika kelak kau sudah tidak membutuhkan aku lagi. Sebaiknya kau berbicara langsung, aku akan pergi dengan sadar diri.” Setelah mengatakan hal itu, tanpa ragu Becca membubuhkan tanda tangannya di atas materai bertuliskan namanya tersebut.
Sementara itu, Jonathan masih diam sambil melihat rambut Becca yang berkibar terkena semilir angin. “Mungkin bukan aku yang tidak membutuhkanmu, tapi sebaliknya. Apalagi setelah kau mengetahui siapa aku yang sebenarnya.” batin Joe.
Salah satu kesalahan fatal yang pernah dia lakukan bukanlah melenyapkan seseorang. Melainkan merampas harga diri seorang wanita di saat seharusnya dia bisa menjadi penyelamat bagi wanita tersebut. Sayang, sepertinya dia terlalu lama menyadari jika apa yang dia cari masih berada di dunia ini dan membesarkan seorang malaikat kecil seorang diri. Di saat seharusnya dia mendapatkan perlindungan dari Jonathan.
Setelah perjanjian itu selesai di tanda tangani. Keduanya pun mengganti pakaiannya masing-masing dan keluar menemui keluarga lainnya yang berada di rumah tersebut. Kebetulan Luna, Jessica, Jesslyn, dan Ace tampak sedang berkumpul bersama di sebuah ruangan dengan asyik. Luna yang memang mudah berbaur sepertinya lebih cepat akrab pada keluarga itu di bandingkan dengan Becca.
“Untuk sementara kita tinggal di sini terlebih dahulu, sampai kondisinya aman, termasuk Luna,” ucap Jonathan sambil meletakkan bokongnya di atas sofa.
“Apa? Aku bisa tinggal sendiri,” kata Luna.
“Di mana?” tanya Joe datar.
“Aku bisa menginap di rumah temanku.”
Becca berdecih tanpa sadar. Mereka hidup bersama sela bertahun-tahun ini, jadi bagaimana mungkin dia tidak memahami sosok Luna yang hampir sama dengan dirinya. Sama-sama tidak memiliki teman. Di tambah kini mereka ibaratnya tidak memiliki uang atau apa pun itu. Karena semua itu lenyap termakan api.
Namun, tentu saja pemikiran Luna berbeda. Bagaimana bisa dia menumpang hidup pada keluarga Jonathan, sedangkan dirinya hanyalah orang asing yang tidak memiliki status apa pun di sini. Dia tidak ingin menjadi duri di sini, dan tetap menjalin hubungan baik tanpa harus merusak kebahagiaan orang lain di dalamnya.
“Lebih baik saat ini kau tinggal di rumah ini terlebih dahulu. Di sini lebih aman di bandingkan dengan tempat lainnya. Kau boleh keluar dan menikmati hidupmu sendiri nanti setelah semuanya lebih baik,” ujar Joe.
“Tapi.” Luna masih berusaha untuk menolak.
“Sudahlah. Jangan sungkan! Lagi pula banyak kamar kosong yang tersedia di rumah ini dan banyak juga pria single yang menjadi anak buahku. Mana tahu nantinya ada satu yang cocok dan menarik perhatianmu,” ucap Jesslyn menggoda Luna. “Tenang saja, mereka bukan orang yang kekurangan, meskipun bekerja untuk keluarga kami. Karena aku sendiri yang akan menjamin kebutuhan kalian tercukupi. Apalagi kalau sampai menikah.”
“Sudahlah. lagi pula, aku tidak menerima penolakan! Dan untuk sementara, Ace bisa home schooling terlebih dahulu. Nanti Jessica akan mencarikan guru terbaik untuknya,” kata Joe kembali memberikan putusan.
“Hei! Jangan lupa bayaran tugasku kemarin belum kau bayar ya!” ujar Jessica.
“Tenang saja. Suamimu pasti akan mendapatkan apa yang istrinya inginkan. Apalagi kau sedang mengidam.” Joe berdiri dari posisinya saat itu. “Bisa kalian ikut aku?” ajaknya pada Becca dan Luna.
Keduanya mengangguk patuh. Mereka bergerak menuju sebuah tempat yang cukup jauh dan terpisah dari kediaman tersebut. Bahkan untuk sampai ke tujuan, mereka perlu menaiki buggy car. Sepanjang perjalanan Becca dan Luna tidak bisa untuk tidak kagum pada kediaman keluarga Jonathan. Siapa yang tidak ingin kaya dan memiliki rumah mewah, tentu semua orang menginginkannya. Akan tetapi, dengan kediaman sebesar ini, entah berapa banyak aset yang keluarga tersebut miliki dan hal apa yang tidak bisa orang luar lihat tentang keluarga ini, pastilah banyak sisi gelapnya. Pantas saja keluarga mereka cukup berpengaruh di keluarga ini.
“Apa kalian akan selamanya tinggal di sini?” tanya Becca akhirnya memecah keheningan kala itu.
Sekilas Joe menoleh sambil mengemudi, dia sendiri belum pernah berpikir akan bagaimana ke depannya. “Terserah Becca. Kalau dia merasa tidak nyaman tinggal di sini. Maka kami akan pindah ke tempat yang sesuai dengan keinginannya. Aku tidak masalah. Tapi, itu hanya bisa terjadi nanti, setelah situasi lebih kondusif. Karena aku masih harus bekerja dan tidak setiap saat bisa mengawasi kalian. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi, sedangkan keamanan di rumah ini, tidak perlu kalian pertanyakan lagi.”
“Syukurlah kalau kau memiliki pemikiran seperti itu. Keluargamu mungkin baik, dan aku memang merasakan mereka sangat baik. Tapi, sebisa mungkin, sebagai sepasang suami istri, bertingkah adil pada ibu dan istrimu. Kalian juga pasti butuh privasi dan saat-saat di mana hanya ada kalian di sana dan tidak ingin orang lain tahu akan hal itu.” Setelah mengatakan hal tersebut, kendaraan tampak mulai berhenti di sebuah pelataran yang tampak seperti gudang. "Bukan bermaksud menggurui. Hanya saja, aku menganggap Becca seperti adikku sendiri. aku tidak akan rela jika kau menyakitinya meskipun hanya seujung kuku."
“Terima kasih atas nasehatmu. Sepertinya kau memiliki saat-saat yang sulit di masa lalu. tapi tenang saja, aku bisa menjamin Becca tidak akan mengalami nasib yang sama di sini,” ujar Joe lantas berjalan terlebih dahulu di ikuti oleh kedua wanita tersebut. “Ayo kita masuk!”
Tentu saja Luna pernah merasakannya. Dia bisa di titik seperti sekarang karena masa lalu. Saat di mana sang suami tidak dapat menyeimbangkan antara istri dan ibunya. Sehingga terjadilah pergolakan batin yang terlalu lama di pendam dan akhirnya malah menjadikan suatu kebencian yang cukup besar dalam diri Luna. Terlebih lagi tuntutan serta sindiran yang di lontarkan sang ibu mertua akibat pernikahan mereka yang berjalan cukup lama, tetapi tidak kunjung memperoleh keturunan. Hingga akhinya, Luna pun memilih mundur dan mencari kebahagiaannya sendiri. Namun, dia tidak ingin Becca kelak memiliki nasib yang serupa dengannya.
Tidak berapa lama, mereka tiba di sebuah ruangan, dengan seorang pria yang kedua tangannya terikat ke atas, begitu pula sebaliknya dengan kakinya. Tubuh bagian atas pria tersebut tidak mengenakan pakaian, sehingga terlihat dengan jelas warna merah yang terlukis di kulitnya, akibat tubuh penuh dengan luka. Entah berapa garis cambuk yang dia terima. Bukan hanya berhasil mengoyak kulitnya. Namun, juga seakan mematahkan tulangnyasaat itu juga.
“Siapa dia?” tanya Becca, sedangkan Luna tampak menutup mulut melihat kondisi pria tersebut.
“Orang yang membakar rumah kalian.”
“Ampun, Tuan. Saya mohon jangan siksa saya lagi. Saya hanyalah orang suruhan yang menjalankan tugas."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Vyrne S W
kira² sip y pa org yg mau membunuh becca dl
2023-02-26
1
N⃟ʲᵃᵃ࿐DHE-DHE"OFF🎤🎧
hayo kira kira sapa yg jadi dalang pembakaran rumah Luna
2023-02-20
1