Bukan hal yang sulit bagi Joe menemukan tempat kerja wanita yang kini diincarnya. Dengan koneksi dan pengaruh keluarganya, hanya butuh satu kedipan mata untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Kedatangan pria itu, tentu saja disambut dengan hangat oleh mami pemilik panti pijat. Biasanya hanya mereka hanya kedatangan pria tua dari kalangan orang kaya. Hanya sedikit populasi kaum muda yang mampu membayar jasa di tempat pijat miliknya.
Namun, kini kembali tempatnya didatangi oleh seorang konglomerat ternama. Tentu saja, Mami tidak akan melewatkan kesempatan begitu saja.
Joe duduk di sebuah sofa sambil mengamati sekitar. Cerutu di tangan dihisapnya perlahan. "Sepertinya aku tak perlu mengenalkan diri, apalagi berbasa-basi. Keluarkan semua pegawaimu!"
"Tuan, jika Anda ingin memilih mereka. Anda bisa melihatnya terlebih dahulu melalui katalog. Karena masing-masing pekerja kami hari ini juga sudah di booking oleh beberapa tamu yang lain sebelumnya," ucap Mami dengan nada mendayu-dayu.
Dengan santai Joe mengeluarkan sebuah cek kosong dari sakunya dan meletakkan di hadapan Mami. "Apa ini cukup?"
Tentu saja senyum mengembang di wajah wanita paruh baya setengah tua itu. Siapa yang tidak girang mendapatkan bayaran di mana dia dapat mengisi sendiri nominalnya. "Panggilkan semua terapis di sini!" Perintah Mami pada salah seorang asistennya.
Tidak perlu waktu lama. Beberapa wanita berjalan memasuki ruangan tempat di mana Mami dan Jonathan berada. Mereka sudah mengganti pakaian dari kaos biasa, menjadi seragam yang tampak begitu seksi. Berbekal rok sejengkal dan atasan one shoulder off sebatas pusar, serta berbahan setipis saringan tahu, sungguh menampakkan kacamata berenda juga segitiga bermuda yang terpampang nyata dari luarnya.
Disuguhkan dengan pemandangan seperti itu, tentu lelaki mana yang tidak akan bergairah. Sayangnya tidak dengan Joe, penyakitnya ternyata terlalu parah, meskipun para wanita tersebut sudah seperti hampir tanpa busana di depannya, adiknya tetap tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan.
Sejenak kedua mata Joe memicing, melihat di mana Rebecca berdiri dengan wajah dingin, tanpa terasa jantung Joe berdebar cukup kencang. Entah pertanda apakah itu, dia sendiri tidak memercayai cinta pada pandangan pertama. “Anjing gila, akhirnya aku menemukanmu,” batinnya menyeringai puas.
Sementara itu, di samping Rebecca ada pula wanita yang tidak kalah menggoda—Celine. Tampaknya keduanya merupakan primadona di panti pijat itu. Tatapannya dalam mencoba memikat Joe terasa begitu profesional. Berbeda dengan Becca, yang lebih menimbulkan rasa penasaran.
"Aku mau dia!" tunjuk Joe pada wanita di samping Becca yang langsung begitu girang. Namun, sedetik kemudian berubah ekspresi. "Dan dia," tunjuknya lagi pada Becca.
"Tuan, Anda ingin memesan dua terapis sekaligus?" tanya Mami memastikan.
"Kenapa? Apa ada aturan untuk itu?" Bagi para wanita yang tahu bagaimana sifat Joe tentu saja akan menganggap itu sebagai hal yang wajar. Dia terkenal dengan watak playboy dan suka bermain-main bersama wanita. Sudah pasti satu saja tidak akan cukup nantinya. Atau mungkin dia memang menyukai sensasi bermain beramai-ramai.
“Bak belatung yang mengerumuni bangkai,” batin Becca, melirik sinis Joe.
"Tidak, hanya saja." Mami memberikan isyarat genit, sebagai tanda jika Jonathan harus merogoh kocek lebih dalam nantinya.
Tentu uang bukanlah masalah bagi Joe. Dia hanya penasaran kenapa Johny begitu bereaksi melihat Becca saat gadis itu menggigitnya lima tahun yang lalu, akankah reaksinya akan sama seperti sebelumnya dan mungkinkah bukan hanya Becca, yang bisa membuatnya bersemangat. Karena itulah, Joe memilih dua wanita sekaligus. "Kau bebas menulis berapa pun yang kau inginkan dengan itu."
"Baiklah, Tuan. Mereka milikmu hari ini. Bawa Tuan Joe ke ruangan 333," perintah Mami pada Celine, terapis yang menjadi saingan Becca.
"Baik, Mami."
Ketiga orang lantas bergerak menuju ruangan yang dimaksud. Celine membantu Joe untuk mengganti pakaian, sedangkan Becca menyalakan beberapa lilin beraroma terapi di beberapa sudut.
Awalnya Becca memang risih dengan pakaian yang dikenakan saat ini. Namun, seiring berjalannya waktu dia pun terbiasa. Lagi pula apa yang harus membuatnya malu, keadaanlah yang memaksanya menjadi seperti sekarang. Sebuah pekerjaan menjijikkan yang telah dia lakukan lebih dari dua tahun lamanya.
Bagi Becca, pekerjaan ini lebih baik daripada menjual diri. Akan tetapi, bagi orang lain di luaran sana, tentu saja apa yang dia kerjakan tidak jauh berbeda dengan gundik di rumah bordil.
Dua orang wanita melayani Joe sekaligus. Celine melenggak-lenggokkan tubuh dengan begitu menggoda. Bahkan tak jarang menumpahkan minyak secara sengaja ke tubuhnya sendiri demi merangsang Joe yang hanya terdiam sambil memejamkan mata sejak tadi. Sementara itu, Becca hanya fokus memijat betis dan bagian tubuh lain Joe tanpa ekspresi. Masih sama seperti sebelumnya, tanpa berniat sedikit pun untuk menggoda atau merayu pria yang kini menjadi raja di ruangan itu.
Seluruh anggota tubuh Joe di jamah oleh tangan kedua wanita itu. Adiknya seakan memberikan reaksi, tetapi tatapan Joe tidak beralih dari Becca. "Kau!" Tunjuk Joe pada Celine. "Ambil bonusmu di saku kanan jasku tadi."
"Baik, Tuan." Dengan sedikit kesal Celine mengangguk. Dua jam lamanya dia dan Rebecca melayani Joe. Namun, pria itu seolah tidak berniat meminta servis lebih padanya. Padahal dia sudah sangat berharap tadi, dengan segala gerakan erotisme yang menggoda. Selama ini tidak ada satu pun pelanggan yang mampu menolak pesonanya. Akan tetapi, sekarang Celine malah diusir secara halus. Mungkinkah Joe ingin diberikan servis lebih oleh Becca, pikir Celine.
"Sialan!" umpat Celine di ruang ganti.
Sementara itu, Becca yang ditinggalkan bersama Joe tidak berniat melirik pria yang masih tidak berbusana itu sama sekali. Dia lebih memilih membereskan peralatan dibandingkan dengan menggoda pelanggan.
"Berapa hargamu?" tanya Joe tanpa melirik sambil mengenakan bathrobe putih guna menutup tubuh.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Becca Hingga sebuah kartu nama pun di sodorkan padanya yang tengah melipat handuk. "Hubungi aku jika membutuhkan bantuan atau berubah pikiran.”
Sontak Becca bergeming, sedangkan Joe lantas melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Apa yang baru saja dia bicarakan? Dia pikir aku pelacur?" batin Becca dengan deru napas memburu, seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
Dua jam memijat tanpa henti bukanlah hal yang bisa menjadi sebuah kebiasaan. Rasa lelah dan pegal tentu saja bisa Becca rasakan. Jika saja jemarinya bisa protes, mungkin mereka sudah murka setiap kali habis bekerja. Akan tetapi, bayaran yang dia terima cukup sepadan karena meskipun Mami termasuk memerasnya, wanita itu masih memberikan tujuh puluh lima persen hasil kinerja Becca.
Rebecca menghela napas panjang, melihat foto balita mungil di layar depan ponselnya. Sang pengobat rindu di kala lelah melanda, hati, jiwa, dan pikirannya. Namun, belum sempat senyum di wajah Stefany mengembang sempurna, sebuah telepon dari mami mengubah segalanya.
"Ya," jawab Becca dengan malas.
"Cepat datang ke ruanganku sekarang!" Tanpa menunggu jawaban Becca, wanita setengah bau tanah itu mematikan sambungan teleponnya. Sepertinya niat Becca untuk meluruskan kaki di tempat istirahat harus sirna sudah. Mami pasti menyuruhnya bekerja rodi layaknya pekerja di zaman penjajahan dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Vyrne S W
smg joe bisa membantumu
2023-02-25
0