Seorang wanita di atas ranjang seketika duduk dari posisinya. Dia menghirup napas panjang dengan kedua mata yang terbuka lebar. Dia meraba seluruh tubuhnya sendiri. Tidak ada luka tembak, tidak ada perut buncit seperti sebelumnya. "Apa yang terjadi padaku," gumamnya bingung.
"Kau sudah sadar?" tanya seorang wanita lain memasuki kamar tempat dia di rawat.
Malam itu, apa yang terjadi dengan gadis malang korban pemerkaosan, di saksikan oleh seorang wanita lainnya. Meskipun kehadirannya sangat terlambat karena tersangkanya sudah pergi, tetapi wanita tersebut memilih untuk membantu korban, dibandingkan dengan mengejar pelaku.
Melihat sang gadis sudah terkapar tidak berdaya dan segera membutuhkan pertolongan medis. Wanita tersebut lantas membawa sang gadis ke rumah sakit. Kondisi sang gadis yang terluka parah, menyebabkan dia tidak sadarkan diri selama tiga hari. Namun, hal yang tidak dia ketahui, meskipun tubuh gadis itu masih ada, tetapi jiwa di dalamnya bukanlah lagi milik gadis itu.
"Di mana aku?" tanya sang gadis bingung. Sebelumnya dia sedang melahirkan sang buah hati di sebuah gang gelap. Kenapa kini jadi di kamar rumah sakit.
"Kau di rumah sakit. Aku yang membawamu kemari malam itu. Namaku Luna. Ngomong-ngomong siapa namamu? Aku tidak menemukan identitas apa pun di tubuhmu, jadi aku kesulitan menghubungi keluargamu."
"Rebecca," jawabnya lirih. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. Sesaat kemudian, Rebecca memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri dengan sangat hebat. Dia meringis kesakitan di kala sebuah memori tiba-tiba menghantam ingatannya.
Gadis yang bernasib malang tersebut sebelumnya bernama Stefany sedangkan Rebecca merupakan jiwa baru yang masuk ke dalam tubuhnya, entah bagaimana caranya. Namun, kejadian yang dialami oleh Stefany terakhir kali, kini kembali menyapa dalam ingatan Becca.
"Kau kenapa?" Melihat Becca yang kesakitan, wanita penyelamat lantas mencoba menenangkan. Dia menekan tombol interkom agar tenaga medis segera datang.
"Tunggu, ingatan siapa ini?" Batin Rebecca setelah rasa sakitnya sedikit mereda. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. Hingga akhirnya menatap sosok di pantulan kaca di sampingnya. Kedua tangan Becca meraba wajahnya sendiri, seolah tak percaya dengan apa yang di alami. "Ini aku? Aku masih hidup? Apa ini semua hanya mimpi? Tapi, wajah siapa ini?” Batinnya.
Sejenak Becca terdiam. Dia mulai mencerna apa yang tengah terjadi saat ini. "Tunggu, tanggal berapa sekarang?"
"Tanggal sembilan, bulan dua belas," jawab Luna.
"Tanggal sembilan? Bukankah itu saat di mana aku dibunuh?" Batin Becca. Dia melihat waktu yang tertera di jam dinding, hampir pukul sembilan malam. Itu artinya saat ini dirinya seharusnya tengah melarikan diri dari kejaran wanita gila itu.
"Aku harus pergi!" Dengan tergesa-gesa, Becca menyibakkan selimut yang menutup tubuh dan mencabut jarum infus yang masih melekat di pergelangan tangannya. Dia segera berlari keluar, meninggalkan Luna yang juga bingung seorang diri. Lebih baik memikirkan situasi membingungkan ini nanti. Dia tidak ingin buah hatinya jatuh ke tangan wanita lintah darat itu, seperti apa yang dia alami terakhir kali.
Becca berlari menuju gang di mana dirinya berada saat itu. Meskipun tidak yakin apakah yang dia alami saat ini benar-benar nyata. Namun, dia sungguh berharap jika Tuhan memang masih memberikan kesempatan kedua untuknya. Meskipun dengan cara yang tidak bisa dipercaya oleh akal pikiran manusia.
Beruntung rumah sakit tempat dia di rawat sebelumnya tidak begitu jauh dari lokasi. Dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut jalan dengan napas yang terengah-engah. Ternyata benar, sosok dirinya yang masih hidup saat itu masih berada di sana, seperti sebelumnya.
Becca segera berlari mendekati wanita hamil yang tidak lain adalah dirinya sendiri sebelum mati. "Kau masih hidup?" tanya Becca.
Wanita di hadapannya sontak terkejut dengan kehadiran gadis di depannya. "Siapa kau?" tanyanya sedikit takut.
"Tenang saja. Aku bukan orang jahat. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Darah segar mulai mengalir di antara kedua kaki wanita itu.
Becca hendak menyelamatkan wanita yang tak lain adalah dirinya sendiri itu. Namun, dia malah menolaknya, dengan menahan tangan Becca. Apa yang ada di dalam sudah tidak memiliki waktu untuk pergi lebih jauh dan ingin segera keluar.
"Sudah tidak ada waktu lagi. Mereka bisa menemukanku nanti."
“Tapi-” Memang benar apa yang wanita itu katakan. Akan tetapi, jika tetap di sini tentu saja hanya kematian yang akan terjadi. Sama seperti sebelumnya.
"Isshh." Wanita itu mendesis kesakitan. Dia memegang tangan Becca dengan sangat kuat sambil mengejan, mencoba mengeluarkan bayi dalam perutnya saat itu juga.
Tidak butuh waktu lama, sang buah hati pun terlahir ke dunia dengan tangisan yang kuat seperti apa yang di alami Becca sebelumnya.
“Aku mohon jagalah bayiku! Jangan sampai mereka membawanya pergi. Rawatlah dia dengan baik,” ucap wanita itu setelah melahirkan anaknya.
Meskipun dia tidak mengenal siapa gadis yang ada di hadapannya saat ini. Namun, hal itu mungkin lebih baik di bandingkan dengan membiarkan bayinya tetap di sini bersamanya.
Bagaimana pun juga. Bayi itu juga anak dari Rebecca, meskipun tubuh dalam dirinya sudah berubah dan entah milik siapa. Akan tetapi, kasih sayang seorang ibu yang menantikan buah hatinya tentu saja masih sama seperti sebelumnya.
“Cepat pergi! Sebelum mereka segera datang.” Wanita tersebut segera mendorong tubuh Becca agar segera menjauh. Dalam hati, tentu saja Becca sangat bingung. Dia ingin menyelamatkan keduanya. Sayang, dia tidak boleh tamak, sepertinya dia hanya bisa menyelamatkan anaknya saja.
Hingga tidak lama kemudian, suara langkah kaki di kejauhan mulai terdengar, membuat Becca segera mengambil keputusan.
“Aku akan menjaganya dengan baik, seperti anakku sendiri.” Setelah mengatakan hal itu, Becca mendekap bayi dalam pelukannya dengan sangat erat. Dia mulai melangkah pergi. Sekali dia menoleh ke belakang. Mungkin takdirnya untuk mati malam ini memang tidak dapat di ubah, tapi setidaknya dia berhasil membawa sang buah hati bersamanya dan tidak jatuh ke tangan mereka.
Becca segera berlari menyusuri gang kecil menjauh dari lokasi untuk bersembunyi. Rasa penasaran membuat langkahnya terhenti dan bersembunyi di kegelapan. Hingga tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki beberapa orang seperti mendekati wanita itu seperti sebelumnya.
"Apa yang kalian inginkan?" Suara teriakan wanita itu masih terdengar jelas di telinga Becca. Dia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, bersamaan jantung yang berdetak tidak karuan bak baru saja menaiki wahana ekstrem di taman hiburan yang dia suka. Dialah yang berada di posisi itu sebelumnya. Namun, masih saja penasaran dengan apa yang kan terjadi selanjutnya.
"Oh, sepertinya baru saja melahirkan bayimu! Di mana kau menyembunyikan dia?” Suara seorang wanita terdengar begitu jelas di telinga Becca. Namun, tampaknya ibu dari bayi tersebut tidak menjawab sama sekali hingga membuat mereka semakin murka. “Wanita sialan! Pergilah ke alam baka." Tanpa aba-aba wanita yang baru datang tersebut mengeluarkan pistol dari belakang dan menarik pelatuknya tepat di kepala ibu sang bayi tersebut, hingga membuatnya tewas seketika.
Suara keras tembakan membuat bayi di tangan Becca terkejut dan langsung menangis cukup kuat. Hal itu, tentu saja membuat mereka menyadari jika apa yang dicari masih berada di sekitar sini.
"Cepat cari bocah itu sampai dapat!"
Becca tidak kalah terkejutnya dengan situasi yang terjadi sekarang, nyawa mereka dalam bahaya jika tidak segera pergi. "Sstt, tenanglah, Sayang! Jangan menangis! Kita harus segera pergi dari sini. Mama masih bersamamu."
Dengan perasaan takut, Becca segera berlari, menjauh dari kegelapan menyusuri gang kecil. Dia berlari sambil mendekap erat bayi itu dalam pelukannya. Dia terus melangkah mencoba mencari tempat yang ramai untuk menyamarkan keberadaannya. Sayangnya, suara tembakan melesat tepat di dinding sampingnya membuat Becca mengumpat kesal. "Sial!"
Mereka berhasil menyusul di belakang Becca dengan menodongkan senjata api yang terus mengarah kepadanya. "Hei berhenti!"
Segerombolan orang itu terus mengejar langkah Becca, hingga membuat wanita tersebut selalu berbelok di jalan kecil lain demi menghindari tembakan yang bertubi-tubi melesat ke arahnya. Dia terus berlari dengan napas yang terengah-engah. Beruntungnya sang bayi seperti mengetahui jika nyawa mereka sedang dalam bahaya sehingga dia terdiam dan tidak menangis lagi.
"Hei berhenti!"
Suara teriakan dan juga tembakan mereka dari belakang tidak membuat Becca menghentikan langkahnya.
"Tenang, Sayang. Kita tidak akan mati hari ini." Becca terus berlari sambil menendang benda apa pun di depannya ke belakang untuk menghalangi langkah mereka dan menggunakan barang apa pun demi menghalau musuh di belakang. Hingga tidak lama kemudian, Becca melihat seorang pria tampak masuk ke sebuah mobil hitam, dan dia pun langsung ikut masuk begitu saja. “Tuan, aku mohon berikan aku tumpangan! Mereka hendak merampokku,” ucap Becca mencoba mencari alasan.
Pria di kursi kemudi tampak mengernyitkan dahi melihat wanita yang berlumuran darah, dengan lancang duduk di sampingnya begitu saja. Namun, ketika dia menoleh ke arah spion dan melihat beberapa pria yang sepertinya mengejarnya, pria itu pun mulai menyalakan mesin dan bergerak menjauh dari lokasi tanpa banyak bertanya.
Sesekali Becca menoleh ke belakang, dia bernapas lega di saat masih ada orang baik yang mau menolongnya dari mara bahaya. “Terima kasih,” ucap Becca sambil membungkukkan tubuh di saat pria itu menghentikan laju kendaraannya.
Namun, di saat Becca hendak membuka pintu, pria tersebut malah menahan tangannya. “Siapa bilang kau boleh pergi?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Vyrne S W
lanjut thor
2023-02-25
0
Putri Ilham
masih bingung aku...
ku ulangi baca lagi
2023-02-11
1
Anis Sulis
kayaknya menarik thor ceritanya....kutunggu Up selanjutnya
2023-02-07
1