Bab 9

Jonathan kembali ke rumah dalam keadaan acak-acakan, sungguh jauh berbeda dari biasanya. Dengan dasi yang tidak lagi terpasang rapi, dan beberapa kancing kemeja yang sudah terbuka serta jas yang di letakkan di bahu menambahkan kesan berantakan pada penampilannya kali ini. Bukan hanya dibuat pusing karena masalah perusahaan, tetapi juga masalah wanita.

Berhari-hari sudah dia berusaha menemui Becca, sayangnya tidak ada satu pun akses yang masuk yang dia dapatkan kali ini. Wanita itu bahkan tidak datang bekerja beberapa hari iini, membuatnya berpikir jika Rebecca sengaja menghindarinya. Nomor telepon yang diberikan oleh mami panti pijat yang dia dapatkan dengan merogoh kocek yang cukup mahal pun tampaknya tidak aktif, seolah wanita tersebut menghilang begitu saja di telan bumi hanya dalam hitungan hari.

Di dalam kediaman, duo Jessi yang tengah asyik menonton televisi tampak heran melihat kedatangan Jonathan yang tidak seperti biasanya.

“Joe, kau waras?” tanya Jesslyn langsung.

Jonathan menghela napas kasar. Dia yang awalnya hendak bergerak menaiki tangga pun mengurungkan niatnya dan langsung meletakkan diri di sofa, tepat di samping sang adik yang kini tengah mengandung. Dia mengambil toples camilan yang kini di pegang Jessica dengan paksa, hingga wanita tersebut mencebikkan bibirnya.

“Hei! Itu milikku!” teriak Jessica merebut kembali makanannya.

Jonathan hanya mencebikkan bibir untuk sejenak, dia masih belum menjawab pertanyaan sang ibu yang kini menatap tajam ke arahnya. Memang sudah menjadi hal biasanya bagi mereka tiga bersaudara, jika ada suatu masalah maka sang ibulah yang pertama kali akan tahu gerak gerik perubahan dalam diri anak-anak mereka.

“Perempuan lagi?” tanya Jesslyn menebak isi pikiran putranya.

Jonathan hanya mengangguk kecil, ibunya memanglah sosok yang tidak bisa di tipu walau sedikit pun. Jadi, percuma saja jika berbohong atau menyembunyikan sesuatu darinya, hanya akan membawa petaka di kemudian hari.

“Kenapa kau tidak ada habisnya bermain-main dengan perempuan, Joe? Tidakkah kau lelah celup sana-sini?” sindir Jessica.

“Mulutmu itu!” Jonatahan yang kesal sontak menyentil dahi Jessica, adiknya itu memang mulut pedasnya ridak ada obat. “Aku ini kakakmu. Tidak bisakah kau memanggilku kakak juga?”

“Kau, tidak pantas di panggil kakak. Lagi pula kita terlahir hanya berjarak lima menit.”

“Sudah-sudah. Jangan berdebat!” kata Jesslyn menengahi perdebatan kedua anaknya. “Wanita mana lagi yang ingin kau singkirkan?” tanya Jessi serius.

Jonathan berpindah posisi duduk tepat di samping ibunya. Dia merangkul tangan yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih sayang dan juga pelajaran hidup. Memang hal biasa bagi Jonathan, jika kerepotan berurusan dengan wanita yang melekat layaknya lem lalat padanya, maka sang ibu pasti akan turun tangan. Dan tanpa membuang waktu, semuanya beres begitu saja.

“Kali ini aku bukan ingin menyingkirkan wanita, Mom. Tapi, aku ingin dia menjadi milikku.”

Jesslyn sontak menoleh ke Jessica, sedangkan Jessica malah tersedak makanannya sendiri mendengar penuturan sang kakak. “Kau bercanda? Wanita malang mana yang kau inginkan kali ini?” Tanya Jessica.

“Benar kata adikmu. Apa kau sedang demam, Son?” Jesslyn meletakkan punggung tangannya di dahi sang anak sambil menggeleng kecil. “Tidak panas.”

“Ish. Kenapa kalian malah mengejekku? Bukankah Mommy juga ingin punya menantu?” tanya Jonathan.

“Iya. Tapi entahlah ….”

“Rasanya sangat aneh ketika kalimat itu keluar dari mulutmu, Joe. Apa seorang Jonathan sudah kehilangan pesonanya, sampai-sampai Mommy harus turun tangan hanya untuk membuatmu memilikinya?”

“Betul sekali,” kata Jesslyn cepat, membenarkan ucapan putrinya.

“Ish. Kalian ini sama saja! Percuma aku berbicara panjang lebar sejak tadi, jika hasilnya hanya akan mendapatkan ejekan seperti ini. Lebih baik aku pergi saja.” Jonathan yang merajuk hendak beranjak. Namun dengan cepat Jessica berbicara.

“Belikan aku Supercar terbaru yang aku inginkan itu. Maka aku dan Mommy akan membantumu.”

“Jangan bercanda! Mereka hanya mengeluarkan dua unit di dunia dan kau tahu sendiri satunya milik pangeran Virab dan satunya lagi milik Claretta. Minta yang lainnya saja, akan aku turuti hari ini juga.” kata Jonathan mencoba bernegosiasi dengan adiknya.

“Tidak. Anakku hanya menginginkan itu,” ucap Jessica sambil mengelus perutnya.

Jonathan menatap ke arah sang ibu. Namun, tampaknya tidak ada gunanya sebab wanita itu hanya mengendikkan bahu. Pertanda jika tidak ada cara lain selain menyetujui permintaan adiknya.

“Deal atau tidak sama sekali,” kata Jessica memaksa sambil mengulurkan tangannya.

Mau tidak mau Joe pun menyetujui permintaan adiknya dengan terpaksa. Jessica lantas menarik tangan sang ibu dan beranjak dari posisinya. “Ayo, Mom! Kita cari tahu siapa calon iparku!”

Jessica dan Jessyln bersemangat menuju ruangan tempat di mana informasi tersedia, sedangkan Jonathan memilih pergi ke kamarnya dengan perasaan lega. “Semoga Mommy bisa membawanya padaku.”

Sejenak Joe menatap ke arah si Johny. “Apa kau benar-benar hanya bisa berdiri saat di sentuh wanita itu?”

Terpopuler

Comments

Anis Sulis

Anis Sulis

lucu mom sama adek nya Joe......kayak biro jodoh....

2023-02-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!