"Akh, shhit! You're a good girl." Seorang pria menggeliat kepuasan, setelah cairan putih kental berhasil menyembur keluar dari tempat persembunyiannya. Dia memejamkan mata untuk waktu yang cukup lama, sedangkan wanita di hadapan yang baru selesai menjalankan tugas hanya mengusap tangan kotornya dengan handuk putih.
Wajah wanita itu tak menunjukkan ekspresi sama sekali. Dingin, seolah apa yang dia kerjakan barusan bukanlah apa-apa baginya. Hanya sebuah rutinitas membosankan, layaknya mencuci piring kotor, yang tidak pernah ada habisnya setiap hari.
"Kau yakin tidak ingin merasakan kenikmatan yang sama?" Suara bariton sang pria, dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun, di atas ranjang dengan tatapan genit hanya mendapatkan lirikan sinis dari wanita yang baru saja selesai menjalankan tugasnya. "Aku tidak keberatan jika memang kau ingin dipuaskan," bisiknya di telinga sang wanita.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut wanita itu. Dia sudah terbiasa mendengar rayuan maut dari para pelanggan seperti itu. Akan tetapi, wanita tersebut memilih tetap melanjutkan tugasnya dengan menata kembali wadah minyak yang tadi digunakan untuk memijat, serta beberapa perlengkapan lainnya.
Namun, di saat tangan sang pria dengan nakal berusaha memegang pundaknya. Secepat kilat wanita itu menahannya. "Silakan bersihkan diri Anda dan lekas pergilah!"
Sejenak wanita itu melirik kejantanan pria yang masih tegak, meskipun baru saja berhasil ditaklukkan dengan tangan sang wanita. Sebuah seringai miring terukir seketika, lalu tatapannya beralih pada wajah sang pria yang bisa dibilang masih muda tersebut. "Aku tidak berniat mencicipi barang Anda yang kecil itu. Jadi, simpan saja tawaran Anda untuk perempuan lainnya!" ucapnya mengempaskan tangan yang berniat hendak menyentuhnya.
"Cih, dasar wanita tidak tahu diuntung! Kau pikir dirimu masih punya harga diri di sini!" Dengan kesal pria itu lantas meraih bathdrobe yang diletakkan di tempatnya. Dia berjalan ke ruang ganti sambil terus mengumpat kesal, pada wanita yang memang pada dasarnya terkenal dingin di tempat tersebut.
Sesaat setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian lengkap, pria itu lantas mengeluarkan segepok uang dan melemparkannya pada wanita yang masih dengan santainya merapikan ruangan. "Kalian sama saja dengan pelacur! Untuk apa berpura-pura suci." Dia lantas melangkah keluar, dan menutup pintu ruangan dengan cukup keras.
Dalam hatinya merasa kesal. Selama ini, semua wanita selalu bertekuk lutut di bawah kungkungannya. Namun, dengan lancangnya seorang wanita yang hanya bekerja sebagai terapi menghinanya untuk pertama kali. "Lihat saja nanti! Aku pasti akan membalas penghinaan mu hari ini, dengan mendesah di bawah tubuhku," batin pria itu.
Sementara itu, wanita tersebut masih di ruangan memungut uang dengan wajah datar. Baginya, setiap penghinaan dari pria seperti tadi sudah biasa dia dapatkan. Mereka hanyalah para pria yang mencari kepuasan dengan menginjak-injak harga diri seorang wanita. Tidak lebih baik dari seekor anjing yang kencing di jalanan lalu pergi tanpa bercebok.
Lima tahun sudah berlalu dengan begitu cepat. Kini, Rebecca bekerja sebagai terapi pijat erotis. Pekerjaan yang menuntut Becca bersikap layaknya seorang tukang pijat plus-plus dan tidak jauh berbeda dengan wanita yang menjual diri. Meskipun sangat sulit pada awalnya, tetapi tuntutan biaya hidup serta keinginan yang kuat untuk memberikan kehidupan yang layak pada putranya, menyebabkan Becca tetap menjalani pekerjaan tersebut.
Awalnya, tempat pijat tersebut memang diperuntukkan bagi para lelaki yang memiliki masalah akan seksualitas dan ejakulasi dini. Namun, banyak yang merambat, serta memanfaatkan momen dengan bersedia membayar lebih jika sang terapis mau memuaskan hasrat mereka hingga berakhir bersetubuh.
Mungkin hal itu dilakukan oleh terapis lain. Namun, tidak dengan Rebecca. Wanita berwajah dingin tersebut memungut satu per satu lembaran uang hasil kerjanya tanpa perasaan, apalagi berpikir ulang untuk menjual diri. Jika tawaran tadi didapatkan oleh rekan-rekan yang lain. Pastinya mereka akan berjingkrak dan dengan senang hati melayani pria tadi.
Sayangnya, meskipun memiliki pekerjaan yang kotor. Becca tidak berniat untuk menjual satu-satunya harga diri yang dimiliki sebagai seorang wanita. Dia sendiri sejujurnya masih trauma dengan masa lalu, apalagi setelah melewati satu kali kematian dan Tuhan masih memberikannya kesempatan kedua dengan hidup di tubuh Stefany. Meskipun masih belum tahu apa yang sesungguhnya Tuhan rencanakan. Akan tetapi, dia telah bersumpah setelah menjadi seorang ibu, tidak akan membiarkan orang lain mengusiknya dengan begitu mudah, seperti sebelumnya. Dia hanya ingin bekerja sebagaimana mestinya dan membesarkan sang putra dengan baik tanpa kurang suatu apa pun, dan akan membalas mereka yang menyakitinya nanti.
Rebecca mengganti pakaian putih tipis bak saringan tahu setelah jam kerjanya habis. Tidak lupa dia mencuci tangan dan menggosok gigi hingga puas sebelum keluar dari tempat itu. Baginya dua anggota tubuh tersebut merupakan anugerah paling kotor yang Tuhan berikan. Tempat di mana dia harus memuaskan para pelanggan dan menyingkirkan rasa jijik setiap hari karena hal itu. Awalnya trauma akan masa lalu membuatnya enggan untuk menerima pekerjaan ini. Namun, tuntutan biaya hidup serta ketidak inginan Becca untuk terus menjadi beban bagi Luna membuatnya sadar. Hidup dalam trauma bukanlah sebuah pilihan. Dia harus terus menatap masa depan. Lagi pula untuk apa malu, di sini tidak ada satu pun orang yang mengenal siapa dirinya kecuali, Luna.
Bersama rekan-rekan kerja lainnya Becca keluar dari tempat tersebut. "Becca, kau yakin tidak ingin bergabung bersama kami?" tanya seorang wanita cantik dengan pakaian seksi melekat di tubuhnya.
"Tidak, kalian pergi saja! Aku hanya ingin pulang." Lagi-lagi Becca menolak ajakan mereka untuk bersenang-senang di klub malam. Padahal bayaran mereka setiap harinya bukanlah jumlah yang sedikit, tetapi Becca tidak pernah memiliki keinginan untuk menghamburkan seperti rekan-rekan kerja lainnya. Dia hanya ingin mengumpulkan uang demi masa depan sang putra, agar tidak merasakan kasarnya hidup seperti dirinya.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan. Kau memang membosankan, Ca," ucap seorang wanita lainnya.
Rebecca hanya bisa tersenyum kecut. Baginya menghilangkan lelah cukup dengan bertemu sang pujaan hati di rumah. Tidak perlu lah sampai menghamburkan uang di klub malam, apalagi hanya untuk menenggak minuman beralkohol yang hanya akan merusak tubuhnya. Dia masih ingin memiliki umur panjang hingga bisa melihat Ace tumbuh dewasa dengan baik.
"Kau sudah pulang?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Vyrne S W
hmmm bru paham aq lanjut thor
2023-02-25
1