Bab 14

Pagi hari suara keramaian di dalam rumah membangunkan Rebecca dari mimpinya. Hal pertama yang dia lihat adalah tubuhnya yang di sentuh oleh beberapa orang wanita yang tidak di kenalnya. “Siapa kalian?” tanya Rebecca sontak duduk dan memeluk tubuhnya sendiri.

“Selamat pagi, Nyonya. Kami tim yang bertugas untuk merias Anda hari ini?” ucap salah seorang wanita dengan ramah.

Becca yang terkejut hampir saja menjatuhkan rahangnya. Apa kegilaan Joe masih berlanjut sampai ke mimpinya. Tidak, tidak, ini pasti cuma mimpi, pikirnya.

Becca mengedarkan pandangan, melihat jam digital di atas meja kecilnya. Waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi, di mana artinya matahari seharusnya masih belum menampakkan sinarnya. Ya ini hanya mimpi, ucap Becca dalam hati.

Namun, apa yang ada dalam pikirannya runtuh sudah, tatkala dia melihat seorang bocah kecil yang tidak lain adalah putranya sendiri sudah mengenakan setelan hitam yang terpasang rapi di tubuhnya. “Mommy, kenapa belum siap?”

“Ace, kenapa kau sudah bangun? Dan kenapa kau memakai pakaian seperti ini?” tanya Becca bingung.

“Ah,tadi Daddy datang. Daddy bilang dia baru saja pulang dari surga dan merindukan kita. Karena itulah, dia mengajak kita berdoa bersama di gereja pagi ini. Kalau tidak nanti Tuhan marah dan memintanya untuk pergi ke surga lagi. Dia sungguh Daddyku ‘kan, Mom. Ayo cepat ganti pakaianmu, Mom. Ace tidak ingin Daddy pergi ke surga lagi. Daddy bilang tidak boleh membuat Tuhan marah kalau Ace ingin Mommy dan Daddy bersama-sama mengantarkan Ace ke sekolah.”

Becca hanya bisa ternganga mendengar celotehan sang anak. Kembali dari surga? Trik apa yang Joe gunakan pada anaknya kali ini.

Dan benar saja, sang pria dengan wajah tak berdosa bersandar begitu saja di ambang pintu menatap Becca yang masih belum selesai persiapannya. “Cepatlah. Kita harus menikah sebelum Ace berangkat sekolah. Apa kau ingin dia membolos hari ini?”

Kerutan di dahi Becca muncul berlapis-lapis tebalnya. Joe memang sangat gila kali ini. “Aku bahkan baru bangun tidur dan belum mandi. Tapi kau seenaknya saja memerintahkan mereka menyentuh tubuhku?” protes Becca. Melihat di mana tim perias itu bahkan menyentuknya tanpa permisi tentu saja membuat Becca marah.

Sayangnya, Joe tampak acuh akan hal itu dan malah membawa Ace ke dalam gendongannya. “Kau tidak perlu mandi. Cukup di poles sedikit juga sudah cantik. Aku lihat tidak ada sisa air liur di sudut bibirmu. Cukup gosok gigi saja. Waktu kita tidak banyak.” kata Joe lantas melangkah ke luar kamar Becca.

“Apa?” Dengan kesal becca menggaruk kepalanya sendiri. “Apa kalian melihat itu? Bagaimana bisa ada seorang pria yang sangat menyebalkan dan tidak bisa di maklumi secara logis pikirannya. Oh my God, aku harap ini benar-benar hanya mimpi.”

“Hei! Kenapa kau belum bersiap juga?” Kini gantian Luna yang berdiri di ambang pintu. Penampilannya sudah berubah menjadi cantik, seolah hanya Becca sendiri yang tidak siap dengan keadaan ini.

“Kenapa kau juga ikut-ikutan?” kesal Becca.

“Apa yang salah memangnya? Lagi pula kau akan menikahi putra salah satu taipan di negeri ini. Kenapa aku tidak boleh ikut-ikutan? Sudah cepat. Kita berangkat tiga puluh menit lagi.” ujar Luna lantas kembali pergi.

“Ada apa dengan orang-orang di rumah ini. Kenapa mereka semua berpihak pada pria gila itu?” gerutu Becca, sedangkan para tim perias tampak melanjutkan tugas mereka.

“Apa Nyonya ingin cuci muka dan gosok gigi terlebih dulu?” tanya seorang wanita memecah pikiran Becca.

“Tidak bisakah aku mandi sebentar?” tanya Becca memelas.

Akan tetapi, wanita tersebut malah menggelengkan kepalanya. “Waktu kita tidak banyak, Nyonya.”

“Kalau begitu, kenapa tidak membangunkanku dari tadi?”

“Kami sudah mencobanya, tapi sepertinya Anda terlalu lelah tadi.”

Memang beberapa hari ini, Becca hanya tidur beberapa waktu di rumah sakit karena menjaga Ace. Mungkin aroma kasur kamar membuatnya terlena untuk sesaat, sampai-sampai tidak menyadari jika orang lain sudah mengusik tidurnya sejak tadi.

“Baiklah, biarkan aku mencuci wajahku sebentar.” Dengan lemas dan pasrah Becca berjalan ke kamar mandi. Kukunya bahkan sudah terlihat cantik, tetapi wajahnya masih saja tetap wajah bantal khas orang bangun tidur. “Bagaimana bisa dia menikahiku dengan cara seperti ini?” gerutu Becca sambil menggosok giginya.

Setelah semua persiapan selesai, Becca dan keluarga kecilnya pergi ke tempat acara akan di selenggarakan. Becca dan Joe berada di dalam satu mobiil, sedangkan anggota keluarga yang lainnya berada di mobil yang lain.

“Kenapa, Tuan melakukan hal ini padaku?” Kesunyian yang awalnya menambah kesan menegangkan di dalam mobil akhirnya terpecah karena Becca yang mengawali obrolan, serta membuka mulutnya. Dia masih belum mengerti, mengapa Joe sampai harus menikahinya dengan paksa seperti ini, hanya karena alasan menginginkannya. Sedangkan keduanya bahkan baru bertemu beberapa hari yang lalu. Namun, tampaknya Joe bertekat, seolah mereka sudah mengenal cukup akrab.

Jonathan yang awalnya fokus pada tablet di tangannya dan tidak memperhatikan Becca pun, kini meletakkan benda pipih tersebut di pahanya. “Bukankah sudah aku katakan, jika aku menginginkanmu. Dan apa yang aku inginkan selalu harus aku dapatkan.”

“Alasan yang konyol. Kau bahkan tahu aku sudah memiliki seorang putra. Mustahil hanya itu alasanmu,” ujar Becca mencoba berpikir logis.

“Apapun alasanku kau akan tahu kelak. Yang jelas hal itu tidak akan merugikan dirimu sama sekali. Sebaliknya, dengan menikahiku, kau bisa berada di bawah perlindunganku selama hidupmu.”

“Aku bukan manusia yang hampir punah, sehingga membutuhkan perlindungan dari orang sepertimu.” Dengan lirih Becca mengatakan hal itu. Dia menoleh dan melihat ke luar kaca mobil itu. Hari masih gelap, tetapi mengapa mimpi ini terasa begitu nyata.

Tanpa terasa rombongan mereka mulai tiba di sebuah gereja. Meskipun terkesan memaksa, tetapi Becca merasakan jantungnya berpacu dengan begitu cepat, sedangkan keluarga Jonathan sudah bersiap menunggu di dalam.

“Pernikahan kita mungkin sederhana, karena hanya di hadiri oleh keluarga. Tapi, jangan harap jika semua ini hanyalah permainan. Karena aku mempersuntingmu dengan sungguh-sungguh dan tidak menerima penolakan.” Joe menekuk lengannya membentuk lingkaran agar tangan Becca bertaut di sana. Keduanya pun melangkah menuju gereja. Para hadirin berdiri melihat sepasang calon suami istri yang mulai melangkah menuju bahtera pernikahan itu.

Sontak pandangan Becca menatap satu sosok yang juga baru saja di kenalnya beberapa waktu yang lalu. “Kau mengenal Jessica?” tanya Becca sangat lirih sambil terus berjalan. Dia melihat wanita itu tersenyum sangat lebar, sedangkan satu wanita lainnya yang berusia tampak lebih tua, dengan wajah datar membuat Becca sedikit menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.

“Jessica?” Joe hanya melirik sekilas adiknya itu dan kembali menatap ke depan. “Dia kembaranku.”

“Shiit!” Ingin sekali Becca mengumpat saat ini. Jadi mereka sejak awal sudah merencanakannya dan memata-matainya tanpa dia sadar. Bodoh sekali Becca percaya begitu saja pada skenario yang di ciptakan dua bersaudara itu.

Terpopuler

Comments

Vyrne S W

Vyrne S W

lanjut thor

2023-02-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!