"Jangan lari!"
Beberapa pria berpakaian serba hitam, diikuti seorang wanita, tampak tengah berjalan cepat memburu sesosok wanita lainnya. Pandangan dan langkah mereka berpencar ke segala arah, agar tidak sampai kehilangan jejak. Meskipun sedang berbadan dua, ternyata tidak membuat mereka mudah menangkap wanita tersebut.
"Kau harus kuat, Nak," ucap wanita hamil yang tengah dikejar segerombolan orang dengan napas terengah-engah sembari mengelus perutnya yang sudah sangat membuncit. Sementara itu, tangan satunya digunakan sebagai tumpuan pada tembok di sepanjang gang-gang kecil yang ditelusurinya.
Tangan dan kaki wanita tersebut semakin bergetar seiring dengan rasa nyeri luar biasa yang semakin menjalar ke seluruh tubuh hingga tembus ke ubun-ubun kepala. Sesekali dia berhenti sembari memejamkan mata, sekadar ingin meredam rasa sakit di area inti tubuhnya, serta mengumpulkan sisa tenaga dan juga keberanian yang dia punya untuk tetap melangkah meski bahaya tengah mengejar persis di belakangnya.
"Aku tidak kuat berjalan lagi. Sebaiknya aku bersembunyi. Mereka tidak boleh menemukanku." Wanita itu bermonolog sambil menoleh ke kanan dan kiri. Napasnya semakin terasa berat. Namun, tidak ada seorang pun yang bisa dimintai tolong saat itu.
Wajahnya yang pucat pasi berkeringat dingin tertutup cahaya remang dan sunyi malam itu. Wanita tersebut duduk di sebuah sudut menahan sekuat tenaga kesadarannya agar tetap pada tempatnya. "Aku tidak boleh menyerah begitu saja," batinnya dengan segunung buliran hangat yang sudah terbendung di pelupuk mata.
Remuk redam sudah rasanya seluruh tulang di tubuhnya. Dia menekuk kedua lutut dan sedikit membukanya. Sesuatu yang mendesak di perut sejak tadi menyiksa, kini sudah terasa semakin ingin keluar dari tempatnya.
Darah segar pun mulai mengalir sejak tadi secara perlahan. Seluruh tulangnya serasa dipatahkan secara bersamaan saat itu juga.
Dia memejamkan mata, menahan semua rasa tersebut seorang diri. Saat seperti ini, seharusnya dia berada rumah sakit dan menyambut perjuangan melahirkan sang buah hati bersama suaminya.
Namun, sepertinya takdir berkehendak lain. Sang janin tampaknya sudah tidak sabar untuk melihat dunia luar dan keluar dari zona nyaman, meskipun saat ini mereka tengah dalam pengejaran orang lain.
Wanita tersebut meringis kesakitan, tanpa bimbingan, sesekali dia mulai menghirup oksigen dan mengembuskannya perlahan.
"Kau harus kuat, Nak. Kita tidak boleh menyerah," gumam wanita tersebut memberikan semangat pada diri sendiri dan bayinya yang masih di dalam.
Kenyataan jika dirinya hendak dipisahkan dengan sang buah hati, menyebabkan dia nekat melarikan diri.
Tak kuasa lagi menahan semua rasa itu. Wanita tersebut mulai menumpukkan kekuatan di perutnya. Dia berusaha mengejan, dan mendorong sang bayi yang masih berada di dalam kandungan agar segera keluar.
Sesaat dia berhenti untuk mengambil napas, kemudian kembali mengigit pakaiannya sendiri dengan kedua tangan yang mengepal kuat seolah seluruh tubuhnya sedang berjuang bersama demi satu tujuan, tetapi tanpa bimbingan. Hingga tidak lama kemudian, sesuatu terasa berhasil keluar dari inti tubuh wanita tersebut dan tidak butuh waktu terdengarlah tangis seorang bayi.
Baru hendak bernapas lega, meskipun tubuhnya terasa terkoyak, suara tangisan bayi tersebut berhasil mengundang orang-orang yang mengejar mereka.
"Jadi kau sudah melahirkan? Hebat juga masih bisa bertahan meskipun tanpa bantuan," sindir seorang wanita pemimpin segerombolan orang itu. "Ambil bayinya!" Perintah wanita itu pada anak buahnya.
"Tapi, Nyonya—" Melihat bayi yang masih berlumuran darah dan tali pusat yang masih terhubung dengan ibunya. Tentu saja pria itu merasa sedikit ngeri, tetapi tatapan tajam wanita di sampingnya, terasa lebih mengerikan.
"Jangan ambil bayiku!" ucap wanita tersebut dengan susah payah. Habis sudah tenaganya untuk berjuang sendirian, tidak menyangka malah akan ditemukan dengan begitu mudahnya.
"Pergi saja kau ke alam baka! Tenang saja, aku akan merawatnya dengan sangat baik." Setelah mengucapkan hal itu, wanita tersebut meraih pistol milik anak buahnya. Dia dengan tega menembak seorang ibu yang baru saja melahirkan anaknya tersebut dan meninggalkannya begitu saja.
"Aku tidak boleh mati seperti ini," batin wanita yang terluka menatap nanar orang-orang yang mengambil buah hatinya, di sisa kesadaran yang dia miliki. Hingga akhirnya tubuh wanita tersebut terkulai lemas tidak berdaya, dengan nyawa yang tidak lagi terselamatkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments